<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949</id><updated>2011-11-03T00:37:51.752-07:00</updated><title type='text'>MEKA</title><subtitle type='html'>Dibaca meke lafal 'e' sama dengan 'e' pada kata 'seperti'. Meka berarti cermin. Cermin bersifat memantulkan. Seandainya orang mempunyai sifat meka maka apa yang tampak pada luar seseorang haruslah sama dengan yang di dalam. Inilah sifat selaras...</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>39</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-3882519945723175353</id><published>2011-08-17T22:58:00.000-07:00</published><updated>2011-08-18T00:13:00.706-07:00</updated><title type='text'>Bhatara Bhatari Yang Disungsung</title><content type='html'>Pinisepuh adalah Guru Suci/Wikan yang mendapat pencerahan dari lahir yang telah dijelaskan dalam kisah Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian mengangkat saya sebagai salah satu murid utama. Hal ini bermula pada tahun 2009, setelah saya disembuhkan oleh Pinisepuh yang akhirnya nyungsung Ida Bhatara Lingsir Pasek Gelgel. Melalui bimbingan Pinisepuh, saya dititipkan untuk belajar sastra kepada sesuhunan yang saya sebut sekarang sebagai Hyang Maha Guru Bhatara Agung Mpu Kuturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahun 2009, sebelum mewinten sebagai pemangku, saya sudah mendapat amanah untuk melakukan Surya Sewana setiap pagi, di mana dalam aturan sastra hanya Sulinggih yang sudah medwijati yang boleh melakukan Surya Sewana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu Purnama, tahun 2009 mendapat restu dari Ida Bhatara Lingsir Hyang Pasupati atau Sang Hyang Paramaciwa melalui Pinisepuh dan mendapat paica pusaka Genetri yang tedun dari angkasa disaksikan Jero Sandat istri saya dan Ibu Marna yaitu salah satu pengayah di Puri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu malam dalam meditasi, menyaksikan sinar kuning emas dengan mata bhatin, sangat menarik dan akhirnya secara tidak sengaja telah masuk/tersedot  ke dalam sinar tersebut. Setelah beberapa saat, Ida Bhatarai Ratu Niang Sakti menarik tangan saya keluar dari pusaran sinar tersebut seraya berkata: "Belum saatnya cening masuk ke sini". Kurang lebih demikian sabda Ida Bhatari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, Pinisepuh datang secara gaib dalam meditasi mengantarkan Ida Bhatari Durga dengan perwujudannya yang sangat seram. Tetapi Ida kemudian bersabda, diantaranya yang masih ingat: "... mulai sekarang ke pura manapun cening tangkil jangan takut, Nira melindungi...", besok saat bangun pagi, di cermin tampak wajah saya bersinar kuning tipis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendapat restu dari Ida di atas, banyak Ida Bhatara yang akhirnya juga merestui. Yang saya anggap merestui yaitu karena Ida sudah pernah 'ngeraosin'/bersabda atau beberapa kali ngeraosin'. Saat ini Sesuhunan yang saya sungsung adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Ida Bhatara Lingsir Hyang Pasupati/Hyang Paramasiwa (mepaica Genetri)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Bhatari Durga&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Sang Hyang Sabdapalon/Hyang Sadasiwa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Mpu Kuturan (nedunang Amanah untuk menulis Ilmu Sangkan Paraning Dumadi/Rahasia Leluhur mencapai Moksha, buku sedang ditulis)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Mpu Bharadah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Mpu Gnijaya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Dalem Sidakarya&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Bhatara Lingsir Kawitan Pasek Gelgel&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Ratu Gede Dalem Ped&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sang Ayu Mas Ajeg Bumi (Sakti dari Ratu Gede Dalem Ped)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Dalem Sida Karya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Bhatari Ratu Niang Suwabawa (Dewa Ayu Mas Melanting)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ratu Peranda Sakti Wau Rauh&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Bhatara Indra&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Bhatari Ratu Mas Magelung/Ibu Indraswari (Sakti dari Hyang Wisesa/Jayasabha)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ibu Dewi Yulan Manifestasi dari Ida Bhatari Ratu Mas Magelung&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ibu Dewi Maheswari/Sakti dari Ida Prabu Jayabaya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ibu Dewi Kwan Im (mepaica Uang Kepeng Simbol Feng Shui)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Ratu Subandar (mepaica Tongkat Rejeki)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Dewa Bumi (Nedunang Amanah untuk menulis Ilmu Kaweruh Astha Bumi yaitu pengetahuan 8 arah yang membuat masnusia hidupnya gemah limpah loh jinawi, menunggu waktu untuk menulis).&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Dewa Kwankong&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Dewa Ganesha&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Naga Basuki&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ibu Dewi Rohini (Goa Lawah)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Bhatari Hyang Giriputri&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Bhatari Ratu Niang Ayu (Okan Ida Ratu Niang Sakti ring Pura Dalem Pengembak Sanur)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Ratu Bagus Ketut (Dewa Rare Angon)&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sebenarnya di hampir setiap pura yang dikunjungi mendapat restu dengan selalu memberi pesan, agar selalu menuntun umat agar rajin ngaturang bakti, memuja para Leluhur atau manifestasi-manifestasi Tuhan/Siwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tahap-tahap awal, tidak mempercayai bahwa sudah mendapat anugrah mampu mendengar pawisik Ida di bhatin hingga diberi kesempatan untuk menjadi semacam Balian di Puri selama enam bulan pada tahun 2010. Setiap yang tangkil, membawa pejati dan setelah dilukat, orang yang sakit mendapat petunjuk yang tertentu, dan yang masih lekat dalam ingatan adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Ibu dari Tabanan datang dan mengeluh bahwa sudah lama sakit dan sudah ke dokter atau ke balian, tetapi sakitnya tidak kunjung sembuh. Setelah melukat, salah satu Ida Bhatara, karena belum bisa melihat, belum tahu Ida mana yang ngeraosin, dan ternyata Ibu tersebut sakit dikarenakan pernah keguguran tetapi tidak melakukan upacara tertentu. Karena tidak PD, ia kalau benar begitu pikir saya  waktu itu, akhirnya saya bertanya: "Ibu sudah punya anak?" Ibu itu menjawab sudah. "Waktu punya anak lancar?". Anak pertama saya keguguran pada umur tujuh bulan dan tidak ada upacara apa-apa, katanya. Ibu tersebut akhirnya sembuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu lagi yang berkesan dalam ingatan, seorang bapak datang menyeret-nyeret kakinya dan tampak sakit sekali. Setelah pelukatan, mendapat raos: "Ning, Nira Ratu Niang, Ia ngelinggihang Nira tapi sing seken...", masih dengan keraguan saya bertanya: "Pak punya warung ya?", "Ndak...", jawabnya. waduh!! malu saya. Pada umumnya yang ngelinggihang Ida Bhatari Ratu Niang Sakti adalah yang punya warung atau usaha. Bapak ini pensiunan! "Katanya Bapak pernah ngelinggihang Ratu Niang Sakti tapi tidak diperlakukan dengan benar.", harap-harap cemas akhirnya Ia menjawab: "Oh iya dulu saya punya warung betutu, tapi tutup, sekarang dikontrakkan kepada londry." Akhirnya, saya jujur katakan, saya ini pemangku baru dan tidak ngerti hal banten lalu disarankan untuk bertanya ke Grya Anyar Tanah Kilap, Perhyangan Ida. Untuk saat sekarang ngaku agem/janji saja dulu mau urus, kata saya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya, saking gembiranya, Bapak tersebut datang sama keluarganya dan sudah berjalan dengan normal seraya tersenyum. Saat ini, karena sudah sembuh, satu keluarga menjadi pengayah di Puri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pengalaman seperti di atas pada saat-saat latihan komunikasi. Setelah dianggap lulus oleh Pinisepuh, saya tidak lagi boleh melakukan kegiatan sebagai balian dan meneropong. Dalam amanah Pinisepuh mengatakan bahwa pada Jaman Kali, manusia harus menghindari tenung sebab akan mengganggu alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-3882519945723175353?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/3882519945723175353/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2011/08/bhatara-bhatari-yang-disungsung.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/3882519945723175353'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/3882519945723175353'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2011/08/bhatara-bhatari-yang-disungsung.html' title='Bhatara Bhatari Yang Disungsung'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-5243616952273172001</id><published>2011-08-17T22:18:00.000-07:00</published><updated>2011-09-14T21:52:50.060-07:00</updated><title type='text'>Meditasi Brahma Chakra</title><content type='html'>Blog Spiritual ini dikelola oleh&lt;br /&gt;PURI AGUNG DHARMA GIRI UTAMA&lt;br /&gt;Jl. Tegal Harum No. 14, Biaung Chandra Asri, Denpasar Bali&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bawah naungan Pinisepuh/Guru Suci, keturunan Majapahit dari Trah Prabu Jayasabha&lt;br /&gt;&lt;span class="text_exposed_show"&gt;&lt;br /&gt;Kami  mengajarkan Meditasi anugrah dari Hyang Maha Guru Bhatara Agung Mpu  Kuturan yang disebut Meditasi Brahma Chakra, bagian dari Ilmu Sangkan  Paraning Dumadi (Rahasia Leluhur Mencapai Moksha).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukunya sedang  ditulis oleh Jero Mangku Pasek Mukti Murwo Kuncoro, di mana atas Restu  Hyang Maha Guru, Mangku Mukti telah menerima anugrah Kesidhian Dewata  untuk dapat berkomunikasi dengan Hyang Maha Guru Bhatara Agung Mpu  Kuturan dan menjalankan amanah-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi masyarakat luas yang  ingin meningkatkan diri sebagai Spiritualis sejati silahkan berkunjung  ke Puri Agung Dharma Giri Utama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagian awal dari Ilmu Sangkan Paraning Dumadi telah dipraktekkan dan para murid telah banyak terbuka inti daripada chakra Sahasrara (mahkota). Terbukanya inti chakra Sahasrara akan membesarkan jalur sinar suci Antahkarana. Jalur sinar suci Antahkarana terletak di nadi Utama Shusumna. Shusumna adalah jalur Ibu Dewi Kundalini pada saat kebangkitannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya inisiasi yang dilakukan dengan iklan oleh praktisi meditasi agar HEBOH yang berembel-embel membangkitkan Kundalini adalah inisiasi inti chakra Sahasrara. Sebab dalam aturan niskala hanya yang pencerahan sempurna yang mampu melakukan pembangkitan Kundalini. Inipun kalau nadi Shusumna sudah besar. Dan yang sudah bangkit Kundalini-nya/pencerahan sempurna tidak akan melakukan pembangkitan Kundalini orang lain secara sembarangan sebab harus ada kebijaksanaan khusus. Orang dengan pencerahan sempurna sudah mewarisi kebijaksanaan para Dewata Agung. Paham dengan karma manusia dan sedang menunggu saat yang tepat untuk moksha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Kundalini akan bangkit dengan sendirinya apabila semua jalur dan chakra sudah siap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersama Ilmu Sangkan Paraning Dumadi telah pula diturunkan simbol Surya Sudhanalaya sebagai penyerap Prana yang besar dan pelindung dari gangguan black magic serta mahluk gaib negatif yang dipakai sehari-hari. Sebab praktisi/spiritualis yang telah meningkat memancarkan energi sehingga kerap mendapat gangguan dari praktisi black magic, mungkin melakukan semacam tes. Sedang gangguan mahluk gaib biasanya karena mereka terganggu dengan energi yang dipancarkan atau bahkan ingin mendapat pertolongan dari pelaku spiritual untuk tujuan peningkatan tertentu dari mahluk tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk membesarkan inti chakra Sahasrara, dalam Ilmu Sangkan Paraning Dumadi dilakukan dengan restu Guru/inisiasi dan latihan meditasi Brahma Chakra pembangkitan jalur Antahkarana. Guru yang sudah mampu merestui adalah yang sudah mendapat amanah dari Dewata. Dalam hal ini dari Hyang Maha Guru Bhatara Agung Mpu Kuturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simbol Surya Sudhanalaya bisa dibeli di Puri Agung Dharma Giri Utama.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-5243616952273172001?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/5243616952273172001/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2011/08/meditasi-brahma-chakra.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/5243616952273172001'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/5243616952273172001'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2011/08/meditasi-brahma-chakra.html' title='Meditasi Brahma Chakra'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-8501127708285912537</id><published>2010-02-02T18:55:00.000-08:00</published><updated>2010-02-02T18:57:19.552-08:00</updated><title type='text'>Canang Sari Jelih</title><content type='html'>Om Swastyastu,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah di mana nama ‘&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Canang Sari Jelih&lt;/span&gt;’ kami peroleh, sehingga istilah atau penamaan ini kami pakai sehari-hari. Kalau ada yang kebetulan memahami penamaan ini mohon urung pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum saya ceritakan mengenai Canang Sari Jelih, adalah satu dua orang yang mengusulkan hal-hal yang berhubungan Kepemangkuan, misalnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Bagaimana meningkatkan pemahaman Weda kepada Jero Pemangku.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Apakah Jero Mangku sudah mempunyai Askes?&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ada yang menyarankan agar Jero Pemangku mendapat pelatihan ulang agar bisa melantunkan Tri Sandya dengan hafal dan benar.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Juga ada pula yang mengusulkan agar di Pura ada tempat untuk ‘curhat’.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Banyak saran yang masuk dan semuanya tentu bertujuan meningkatkan banyak hal yang memang sebenarnya positif. Forum ini hanyalah bisa menyikapi saja dan sejujurnya tidak ada actions yang bisa dilakukan secara massal dan serempak. Tetapi setidaknya kita sudah tahu hal-hal demikian banyak yang setuju yang penting dengan tujuan meningkatkan kemampuan Jero Mangku baik dalam tugas maupun kesejahteraannya. Walau masih berupa wacana bagi kita di forum ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekedar berbagi kepada kawan-kawan umat sedharma apa yang sudah Paguyuban Dharma Giri Utama sebagai team HD lakukan selama ini dan tentu banyak umat sedharma juga yang sudah melakukannya. Dalam persembahyangan ke pura mana saja, kita selalu menghaturkan sedikit rupiah pada banten yang disebut sesari. Berapapun sesari tersebut tentulah sangat berarti bagi pura tersebut. Sesari ini kemudian diambil oleh pengayah pura untuk dikumpulkan. Di luar sesari juga telah disiapkan ‘genah dana punia’. Semua rupiah tersebut tentulah sangat berguna untuk biaya perawatan pura tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dari kita pernah bertanya: “Berapa besar nantinya Jero Pemangku akan menikmati rupiah tersebut?”. Melihat pengabdiannya yang sungguh berat, terkadang kami sering membicarakan ini di lingkungan Paguyuban. Sungguh asik dan menyenangkan kita datang, duduk sembahyang, nunas tirta lalu pulang dan bergembira karena sudah tangkil di pura. Sementara Jero Mangku, dengan pakaiannya yang kadang sudah kumal karena usia, kembali duduk menghantarkan yadnya pemedek lain. Betapa miris hati kami menyaksikan hal demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Paguyuban sangat sering mengunjungi pura, nurani kami terenyuh menyaksikan kondisi demikian sehingga saat ini kami menghaturkan Canang Sari Jelih ke hadapan Jero Pemangku yang memuput yadnya saat kebaktian tersebut. Canang Sari Jelih ini kami sertakan juga sejumlah kecil rupiah dengan harapan bahwa sesari tersebut adalah hak pribadi dari Jero Pemangku. Entah ini dibenarkan atau sudah ada aturannya, sejujurnya kami tidak mengetahui. Namun atas dasar kasih sayang kami begitu saja melakukannya. Mudah-mudahan kami mengetuk hati umat sedharma sekalian untuk memulai melakukan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Haturan Canang Sari Jelih&lt;/span&gt; dan tidak menjadikan hal-hal seperti ini jadi polemik dan masalah di masa-masa yang akan datang. Sekecil apapun rupiah yang kita haturkan tentulah menjadi sangat berguna bagi Beliau para pengabdi Tuhan seperti Jero Pemangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Silahkan umat sedharma urung pendapat, tambah dan kurangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suksma&lt;br /&gt;Om Shanti Shanti Shanti Om....&lt;br /&gt;MS&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-8501127708285912537?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/8501127708285912537/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2010/02/canang-sari-jelih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/8501127708285912537'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/8501127708285912537'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2010/02/canang-sari-jelih.html' title='Canang Sari Jelih'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-7233283068951295869</id><published>2010-01-24T21:54:00.000-08:00</published><updated>2010-01-24T22:03:06.133-08:00</updated><title type='text'>Cerita Singkat Semar</title><content type='html'>Semar adalah punakawan dari Ida Bhatara Hyang Siwa Pasupati, yang diciptakan pada jaman Pandawa. Hyang Siwa Pasupati mempunyai 4 punakawan yaitu Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. Semar di Bali dikenal bernama Tualen, Petruk adalah merdah, Gareng adalah Sangut dan Bagong adalah Delem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Panca Pandawa mengasingkan diri ke alas, alas yang dicapai adalah alas Jawa, karena diceritakan pada saat itu semua pulau masih bersatu. Bukti dari Panca Pandawa datang ke alas Jawa yaitu Bima kawin dengan seorang raksasa bernama Diyah Dimbi dan lahirlah Gatot Kaca. Juga Arjuna bertapa di gunung yang sekarang dikenal dengan gunung Arjuna di Jawa, serta karena pada saat itu banyak sekali raksasa-raksasa yang mengganggu Arjuna dalam tapanya, maka diturunkanlah 4 punakawan oleh Ida Bhatara Hyang Siwa Pasupati untuk menjaga Arjuna. Dalam pertapaannya Arjuna diberi sebuah panah sakti oleh Hyang Siwa Pasupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak dapat dipungkiri bahwa dari kisah Arjuna bersemedi di tanah Jawa kemudian muncul Semar di dunia ini sebagai pamong para raja-raja atau pemimpin seluruh dunia. Semar kemudian diberi gelar Sada Siwa oleh Hyang Siwa Pasupati, atau dalam Hindu Dharma dikenal juga sebagai Sang Hyang Ismaya dan Manik Maya. Sebutan Beliau yang lain adalah Sabda Palon.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semar adalah juga merupakan Dewa yang mengatasi semua Dewa dan Dewa yang menjelma menjadi manusia. Semar juga kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatrya utama lainnya yang tidak terkalahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semar merupakan pamong yang &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;sepi ing pamrih, rame ing ngawe&lt;/span&gt;. Sepi akan maksud, rajin dalam bekerja. Semar mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Hyang Widi demi kesejahteraan umat manusia di jagat raya ini. Beliau seorang punakawan yang disegani dan disenangi oleh banyak raja dan para Dewata. Beliau berpenampilan sederhana sebagaimana rakyat biasa, walau sebagai abdi raja karena Beliau adalah pelayan umat manusia untuk mencapai keadilan dan kebenaran di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau di Nusantara adalah sebagai Dang Hyang-nya Nusantara (nenek moyang Nusantara). Beliau berumur jutaan tahun dan hidup abadi atau moksa. Sekali beliau tidur adalah 500 tahun lamanya dan setiap Beliau terbangun pasti ada suatu kerajaan atau keyakinan yang sedang berselisih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau juga sebagai lurah karang dempel. Karang artinya gersang, dempel artinya keteguhan jiwa. Rambut beliau menguncung, rambutnya memberi tahukan kepada umat manusia; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;akuning sang kuncung&lt;/span&gt; artinya adalah, akulah sebagai kepribadian pelayan umat manusia. Kain beliau bernama &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;parangkusumorojo&lt;/span&gt; yang artinya perwujudan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;dewonggowantah&lt;/span&gt;. Dewonggowantah artinya, menuntun umat manusia agar mencapai &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;memayuhayuning bawono&lt;/span&gt; yang artinya, terjadinya keadilan dan kebenaran di muka bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi sesunguhnya Semar itu hampir sama tugasnya dengan Ibu Dewi Kwan Im, yaitu bilamana umat manusia belum mencapai kebahagaian maka Beliau tidak akan pergi ke alam nirwana atau alam Siwa Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semar mengatakan kepada saya bahwa Beliau-lah yang bertugas memberikan ilmu pengetahuan kepada umat manusia agar umat manusia terlepas dari segala penderitaan dan mencapai moksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semar berkata; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur kamurkan mardik, &lt;/span&gt;yang artinya, merdekanya jiwa dan sukma. Jadi umat manusia dituntun oleh Beliau agar terlepas dari segala penderitaan dan mencapai moksa. Semar sebagai pralambang ngelmu gaib atau simbulnya alam gaib. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kasampurnaning pati&lt;/span&gt;. Beliau tidak akan pernah mati karena Beliau sudah mencapai kesempurnaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi singkat cerita Hyang Semar atau nenek moyang Nusantara atau Dhang Hyang-nya Nusantara adalah yang mengemban tugas untuk mempersatukan umat dari masalah-masalah kerohanian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;Om wilaheng astu namo sidyam, luputo salah lan sandi luputo denane tawang towang jagat dewa bhotoro jagat hyang pramuditya bhuwana langgeng rahayu rahayu rahayu sagung dumadi.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-7233283068951295869?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/7233283068951295869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2010/01/cerita-singkat-semar.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/7233283068951295869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/7233283068951295869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2010/01/cerita-singkat-semar.html' title='Cerita Singkat Semar'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-6908876765821285626</id><published>2010-01-20T17:37:00.000-08:00</published><updated>2010-01-20T17:49:17.564-08:00</updated><title type='text'>Bhisama Leluhur Majapahit - Yadnya di Besakih</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Gaweakna yajna aneng bhasakih, ersyaning tapakan bhatara wawu dateng saking wilwatikta majapahit. yan sira lupa bhakti ring manira kadi kocaping prakempa ametu satengahing mulih warsaning bhuwana rwa. yan sire neher bhakti, wetu 150 warna, warsa ning yusaning bhuwana rwa, mwa akadi nguni, tan hana alanya. yan teher tan tihana mwah segara mabuat, kumedeng tangbhwana rwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya :&lt;br /&gt;Laksanakanlah yadnya di Besakih, di bagian timur laut di tempat pertama kali Bhatara dari Wilwatikta Majapahit menginjakkan kaki. Jika kalian melupakan yadnya sebagaimana terdapat dalam lontar prekempa ini, umur manusia tidak akan panjang, jika kalian selalu beryadnya umur manusia bisa mencapai 150 tahun, sesuai dengan usia biasanya, bahkan tetap seperti sedia kala tidak akan terjadi bencana. Jika selamanya tidak melaksanakan yadnya, orang tidak akan mengenal tata krama, akan terjadilah badai laut yang akan menghancurkan gunung Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya kepada Ida Mpu Kuturan, kenapa kita harus beryadnya dan kenapa bumi ini harus marah kepada umat manusia. Terus terang saya sangatlah sedih sebagai pelindung umat manusia karena sedemikian besar pengetahuan saya di dunia ini tapi tetaplah tiada artinya. Karena begitu banyaknya para Dewata yang saya kenal, tapi tidak ada satu pun para Dewata yang mau menyadarkan umat manusia untuk beryadnya dan menghentikan bumi ini untuk marah kepada umat manusia. Sungguh saya teramat sedih hati mendengar kehendak langit yang begitu sangat marah kepada umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ida Mpu Kuturan berbicara; Ada yang saling melengkapi dan ada yang saling menghancurkan. Ida Mpu Kuturan juga mengatakan kepada saya tujuan orang melaksanakan yadnya adalah mengangkat derajat makhluk alam semesta agar menghasilkan manusia-manusia sejati melalui jnana yadnya, bukan untuk memenuhi keinginan pribadi yang terbatas. Tujuan yadnya untuk kepentingan seluruh makhluk, bukan untuk kepentingan individu manusianya. Yadnya adalah akar paling mendasar bagi makhluk alam semesta. Yadnya adalah berarti pengorbanan. Prinsip mulia dari pelaksanaan yadnya adalah tidak mementingkan diri sendiri dan melayaninya dengan kasih sayang. Hal terpenting dari kata kunci sebuah yadnya yang terlupakan saat ini adalah pelayanan dan kasih sayang. Lewat pengorbanan yang timbul dari tali kasih, dasarnya adalah pelayanan. Semua bentuk yadnya pada intinya adalah pengorbanan secara fisik dan mental. Dengan kata lain yadnya itu adalah bentuk kebahagian spiritual yang membuang semua buah karma masa lalu. Sekian yang saya beritahukan kepada umat manusia agar ingat selalu pesan-pesan beliau. Rahayu rahayu rahayu, sagung dumadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Pinisepuh Agung Yudistira&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-6908876765821285626?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/6908876765821285626/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2010/01/bhisama-leluhur-majapahit-mengenai.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/6908876765821285626'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/6908876765821285626'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2010/01/bhisama-leluhur-majapahit-mengenai.html' title='Bhisama Leluhur Majapahit - Yadnya di Besakih'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-6950334654984566916</id><published>2010-01-20T17:29:00.000-08:00</published><updated>2010-01-20T17:43:52.892-08:00</updated><title type='text'>Sejarah Ciwa Budha di Bali</title><content type='html'>Di Bali Siwa, Budha dan Waisnawa dilebur menjadi agama Hindu Dharma yang ada sekarang di Bali oleh Mpu Kuturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara sejarah keagamaan orang Bali sama dengan orang Tibet. Sebelum masuk agama Budha orang Tibet memiliki agama Bon. Agama Budha dan Bon, akhirnya menyatu seperti Siwa Budha di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyatuan itu terjadi pada masa pemerintahan raja suami istri Gunaprya Dharmapatni/ Udayana Warmadewa yang bertahta di Bali. Pada masa itu penduduk pulau Bali adalah mayoritas orang Bali Aga/ orang Bali asli, selanjutnya pendatang dari Jawa disebut orang Bali. Jadi ada orang Bali Aga dan orang Bali. Banyak sekali sekte-sekte yang ada pada saat itu yang dalam pelaksanaan pemujaan terdapat perbedaan-perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan  itu akhirnya menimbulkan pertentangan antara satu sekte dengan sekte yang lainnya sehingga menyebabkan timbulnya ketegangan dan sengketa di dalam tubuh masyarakat Bali aga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat yang membawa dampak negatif pada hampir seluruh aspek kehidupan bermasyarakat. akibat yang bersifat negatif ini bukan saja menimpa desa bersangkutan, tetapi meluas sampai pada pemerintahan kerajaan sehingga roda pemerintahan menjadi kurang lancar dan terganggu. Dalam kondisi seperti itu, Raja Gunaprya Dharmapatni/ Udayana Warmadewa perlu mendatangkan rohaniawan dari Jawa Timur. Kemudian sepakat untuk mendatangkan Panca Dewata ini atau lima orang Brahmana suci keturunan Hyang Bhatara Guru Geni Jaya Sakti atau Hyang Geni Jaya, yaitu: Mpu Semeru, Mpu Gni Jaya, Mpu Ghana, Mpu Kuturan dan Mpu Bradah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima Brahmana ini lazim disebut Panca Dewata, Panca Tirta, Panca Pandita karena Beliau telah melaksanakan upacara wijati yaitu menjalankan dharma kebrahmanan. Dari kelima Mpu di atas Mpu kuturan adalah yang paling berjasa dalam menata pemerintahan pulau Bali pada khususnya dan Nusantara pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang adanya Mpu Kuturan di Bali dapat di ketahui dari 7 prasasti peninggalan purbakala, dimana disebutkan bahwa Mpu kuturan di Bali berpangkat Senopati dan prasasti itu kini berada di:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Di desa Srai, kecamatan Kintamani.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di desa Batur, kecamatan Kintamani&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di desa Sambiran, kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di desa Bbatuan, kecamatan Sukawati&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di desa Ujung, Kabupaten Karangasem&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di desa Kehen Bangli, Kabupaten Bangli&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Di desa Buahan, Kecamatan Kintamani. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Sekian banyaknya prasasti sebagai fakta sejarah yang mencantumkan nama Mpu Kuturan sebagai senopati di Bali. Dalam isi prasasti-prasasti tersebut adalah sabda raja-raja yang berkuasa pada saat itu dan memberi tahukan kepada masyarakat luas bahwa Ida Mpu Kuturan adalah yang berjasa di bumi Bali ini dalam mempersatukan sekte-sekte yang ada di Bali. Raja-raja yangg bertahta di Bali pada saat itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Raja Gunaprya Dharmapatni/ Udayana Warmadewa yang menerbitkan prasasti pertama dan kedua.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sri Adnyadani yang menerbitkan prasasti ketiga&lt;/li&gt;&lt;li&gt;-    Sri Dharmawangsa Wardhana Marakatopangkaja Stano Tunggadewa, yang menerbitkan prasasti keempat sampai ketujuh.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Ida Mpu Kuturan mengatakan kepada saya ada 3 sebab Beliau menetap di Bali.&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Memenuhi permintaan raja suami istri yang disebut di atas, yang memerlukan keahlian Beliau dalam bidang adat dan agama, untuk merehabilitasi dan mestabilisasi timbulnya ketegangan-ketegangan dalam tubuh masyarakat Bali Aga.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Karena bertentangan dengan istri Beliau yang menguasai black magic dan oleh sebab itu istri Beliau ditinggalkan di Jawa yang kemudian dijuluki Walu Nateng Girah atau Rangda Nateng Girah (jandanya raja girah)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sebagai bhiksuka atau sanyasa, Beliau lebih mengutamakan ajaran dharma dari pada kepentingan pribadi.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Kesempatan yang baik itu Beliau pergunakan untuk datang ke Bali, juga karena dorongan kewajiban menyebarkan dharma. Selain menjadi senopati, Beliau juga diangkat sebagai Ketua Majelis dan diberi gelar; Pakira kiran i jero makabehan. Dalam suatu rapat majelis yang diadakan di bataanyar yang dihadiri oleh unsur tiga kekuatan pada saat itu yaitu:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Dari pihak Budha diwakili oleh Mpu Kuturan yang juga sebagai ketua sidang&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari pihak Siwa diwakili oleh pemuka Siwa dari Jawa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dari pihak 6 sekte yang pemukanya adalah orang Bali Aga.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Dalam rapat majelis tersebut Mpu Kuturan membahas bagaimana menyederhanakan keagamaan di Bali yang terdiri dari berbagai aliran. Tatkala itu, semua hadirin setuju untuk menegakkan paham Tri Murti untuk menjadi inti keagamaan di Bali dan layak dianggap sebagai perwujudan atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.&lt;br /&gt;Kesepakatan yang tercapai pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah kerajaan, di mana ditetapkan bahwa semua aliran di Bali ditampung dalam satu wadah yang disebut Siwa Budha sebagai persenyawaan Siwa dan Budha. Semenjak itu penganut Siwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya masing-masing yang bernama:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-    Pura Desa Bale Agung untuk memuja kemuliaan Bhatara Brahma.&lt;br /&gt;-    Pura Puseh untuk memuja kemuliaan Bhatara Wisnu.&lt;br /&gt;-    Pura Dalem untuk memuja kemuliaan Bhatari Siwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga pura tersebut disebut pura Khayangan Tiga yang menjadi lambang persatuan umat Siwa Budha di Bali. Dalam samuan tiga juga dilahirkan suatu organisasi desa pakraman yang lebih dikenal sebagai desa adat dan sejak saat itu berbagai perubahan diciptakan oleh Mpu Kuturan, baik dalam bidang politik, sosial dan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mpu kuturan berkata kepada saya di Bali, salah satu nama Tuhan adalah Sang Hyang Mbang atau Mahasunyi yang dalam agama Budha ada istilah Sunyata. Tahun baru di Bali (hari raya nyepi) dirayakan dengan sunyi (sunyata). Di Bali selatan, ada pura Sakenan, sementara Sakenan berasal dari kata Sakyamuni/ Buddha. Sakyamuni nama asli Sidartha Gautama. Jadi kebanyakan konsep-konsep pemujaan di Bali diambil dari Budha. Suatu contoh, bentuk meru, Mpu Kuturan mengambilnya dari bentuk pagoda Cina yang umum sebagai bentuk bangunan pemujaan agama Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Ida Mpu Kuturan sendiri menjelaskan bahwa konsep padmasana diambil dari Buddha Mahayana, padmasana berarti padma: bunga padma, sana: sikap duduk. Jadi padmasana berarti duduk di atas bunga padma. Sang Budha-lah yang duduk di atas bunga padma karena sang Budha adalah Awatara Wisnu yang sempurna dan yang tidak membunuh. Yang hanya memberikan kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Kenapa harus Sang Budha ? Karena di Nusantara ini konteksnya adalah Siwa Budha, Jadi Budha bisa juga diartikan sebagai ibu/predhana.jadi pada hakekatnya Siwa Budha adalah: Sama satu manunggal.&lt;br /&gt;Ida Mpu Kuturan memberikan sebuah bait suci dimana kegaiban dan keajaiban adalah sifat wujud Tuhan yang kasat mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ya iku senguh tanakku sira ta nunggalaken bhuwana ngarania, nihan ta upamanta sira waneh, kalinganya kadyangganing manuk sang manon, mur tan pahelar, meleset tan pacikara, manon ndatanpamata, mangrengo tan patalingan, mangambu tan pagrana, magamelan tan patangan, lumaku tan pasuku, rumasa rasa tan paiden tan paparus ya jana prawriti, tatan panak yaya wrddhi, tan paweteng yaya membekan, tatan pecangkem yaya amangan, tatan pailat yaya mangrasani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya:&lt;br /&gt;Tuhan bagaikan burung terbang dengan tiada bersayap, kian kemari dengan tiada berkepala, melihat tiada dengan bermata, mendengar dengan tiada bertelinga, membaui dengan tiada berhidung, memegang dengan tiada bertangan, bergerak dengan tiada berkaki, merasakan rasa dengan tiada berperasaan, melahirkan dengan tiada bertanda jantan atau betina, tiada bermulut namun ia dapat menikmati, tidak berlidah tetapi dapat merasakan.&lt;br /&gt;Jadi semua sifat Tuhan tiada batasnya.&lt;br /&gt;Om santi santi santi om.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sumber: Pinisepuh Agung&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-6950334654984566916?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/6950334654984566916/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2010/01/sejarah-ciwa-budha-di-bali.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/6950334654984566916'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/6950334654984566916'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2010/01/sejarah-ciwa-budha-di-bali.html' title='Sejarah Ciwa Budha di Bali'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-7059587207601525554</id><published>2009-12-18T00:56:00.000-08:00</published><updated>2009-12-18T00:58:40.858-08:00</updated><title type='text'>Kalki Awatara</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family: verdana;"&gt;Hikmah dari cerita Sang Budha Gautama agar manusia menyadari hakekat kehidupan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budha adalah perwujudan Awatara Wisnu yang kesembilan dan di antara perwujudan awatara Wisnu awatara Budha adalah yang sempurna di mana umat manusia diajarkan tentang dharma dan kebahagiaan yang mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di jaman kerajaan Kapilavastu dengan rajanya Suddhodana dan ratunya Mahamaya. Di mana sang ratu kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan yang mereka beri nama Siddhartha, akan tetapi sungguhlah sayang tujuh hari kemudian, sang ratu Mahamaya meninggal dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang Rsi bijaksana/penasehat raja pada saat itu yang bernama Kala Devala memberi tahu sang raja bahwa ketika pangeran Siddhartha beranjak dewasa ia akan melihat hal-hal yang akan membuatnya sedih dan pergi menuju hutan. Mendengar hal itu raja tidak memperbolehkan Siddhartha untuk pergi melewati gerbang istana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siddhartha merupakan anak pintar, berbahagia dan juga amat penyayang serta lembut. Pada suatu hari Siddhartha dan sepupunya Devadatta sedang berjalan-jalan. Devadatta tiba-tiba melihat seekor angsa dan memanahnya sehingga angsa tersebut terjatuh. Siddhartha amat terkejut melihat burung yang terluka tersebut, Devadatta bersikeras untuk memiliki burung angsa tersebut karena ia yang memanahnya. Akan tetapi Siddharta mengatakan itu adalah miliknya. Akhirnya mereka pergi ke Rsi Kala Devala sang penasehat raja di mana kemudian Rsi itu mengatakan angsa tersebut menjadi milik orang yang menyelamatkannya bukan orang yang berusaha membunuhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siddhartha tumbuh dewasa dan menjadi seorang pria muda. Raja Suddhodana menikahkannya dengan seorang putri cantik yang bernama Yashodhara. Raja berharap agar Siddhartha tidak akan pernah meninggalkan istana. Tapi Siddhartha tidak merasa bahagia di dalam istana. Ia memerintahkan pelayannya yang setia Channa untuk menemaninya berjalan-jalan keluar istana. Dalam perjalanannya Siddhartha melihat orang yang sudah tua yang bungkuk dimana Siddhartha tidak pernah melihatnya di dalam istana. Melihat orang yang sedang sakit keras dan melihat orang meninggal. Siddartha menyadari bahwa ayahnya mengungkungnya di dalam istana, untuk melindunginya agar ia tidak melihat hal-hal semacam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siddartha keluar lagi dan kali ini ia melihat seorang pria dengan kepala gundul. Ia bertanya pada pelayannya dan pelayannya berkata itu adalah seorang bijak yang meninggalkan segalanya serta pergi ke hutan untuk mencari kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan Siddharta berpikir untuk meninggalkan Istana dan mencari kebahagiaan. Akhirnya pada suatu malam, ketika istri dan anaknya Rahula sedang tertidur, Siddartha bersama pelayannya yang setia Channa dengan diam-diam pergi meninggalkan istana. Mereka menyeberangi sungai Anoma, disana Siddartha melepaskan jubah kerajaanya dan memberikannya kepada Channa untuk mengembalikannya ke istana. Kemudian Siddartha menggunakan jubah oranye serta memotong rambut panjangnya. Siddartha pergi menemui satu guru ke guru  yang lain menanyakan; Apakah Anda tahu jalan untuk mencapai kebahagian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi tidak ada seorang pun bisa memberitahunya. Akhirnya ia duduk di bawah pohon Bodhi dan berusaha menemukan jawabannya sendiri. Beberapa hari kemudian ia menjadi seorang yang bijak dan orang-orang menyebutnya Gautama Budha. Budha mencintai seluruh binatang dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Dewa Siwa menguji Sang Budha karena Siwa tahu Awatara ini yang akan membawa umat dunia untuk mencari jalan kebahagian karena mempunyai jiwa kasih sayang terhadap semua makhluk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Siwa mengirim binatang buas yaitu gajah liar dan harimau liar nan ganas. Tetapi yang terjadi pada binatang-binatang tersebut setelah melihat cahaya kasih sayang yang dipancarkan oleh Sang Budha binatang-binatang tersebut langsung tunduk hormat dan bersimpuh di bawah kaki Sang Budha. Akhirnya Sang Budha mempunyai pengikut yang sangat banyak dan pengikutnya tinggal di dalam sebuah grup yang di sebut Sangha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Budha mengajarkan bahwa seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan dengan merasa puas akan apa yang dimilikinya dan menunjukkan kasih sayang pada semua mahluk. Pada akhirnya di sebuah tempat yang bernama Kusinara, Sang Budha berbaring di bawah pohon Sala dan menghembuskan nafasnya yang terakhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sesuai petunjuk dari Sakyamuni yang diperoleh oleh Ida Mpu Kuturan, Sang Budha Gautama akan bereinkarnasi kembali karena di jaman Kali Sang Budha akan berkhotbah kembali sebagai Awatara yang terakhir agar dunia ini bisa tentram dan damai. Dengan alasan tersebut Sang Budha tidak moksha atau kembali ke Nirwana di jaman itu karena Sang Budha akan bereinkarnasi kembali dengan Awataranya yang terakhir yaitu Kalki Awatara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber&lt;/span&gt;: Komunikasi Pinisepuh dengan Ida Bhatara Mpu Kuturan&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-7059587207601525554?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/7059587207601525554/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/12/kalki-awatara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/7059587207601525554'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/7059587207601525554'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/12/kalki-awatara.html' title='Kalki Awatara'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-1706021231808341770</id><published>2009-12-09T23:13:00.000-08:00</published><updated>2009-12-09T23:33:45.324-08:00</updated><title type='text'>Sejarah Ciwa Budha di Nusantara</title><content type='html'>Awal mula perpaduan agama Ciwa Budha tidak lepas dari sejarah kerajaan Mataram  kuno yang terdiri dari dua dinasti, yakni kerajaan Sanjaya dan kerajaan Syailendara . Kerajaan Sanjaya yang bercorak Hindu didirikan oleh Raja Sanjaya. Beberapa saat kemudian, kerajaan Syailendra yang bercorak Budha Mahayana didirikan oleh Raja Bhanu. Kedua raja ini berkuasa berdampingan secara damai. Nama Mataram sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis di masa Raja Balitung.&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;&lt;br /&gt;Raja Syailendara &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Raja Syailendra  berasal dari daratan Indocina (sekarang Thailand dan Kamboja). Pada awal era Mataram kuno, raja Syailendra cukup dominan dibanding Raja Sanjaya. Pada masa pemerintahan Raja Indra, Syailendra mengadakan ekspedisi perdagangan ke Sriwijaya. Beliau juga melakukan perkawinan politik: Puteranya yang bernama Samaratungga, dinikahkan dengan putri raja Sriwijaya yaitu Dewi Tara. Kemudian Raja Syailendra menyerang dan mengalahkan Chenlan (Kamboja) dan sempat berkuasa disana selama beberapa tahun. Peninggalan terbesar Raja Syailendra adalah Candi Borobudur yang selesai dibangun pada pemerintahan Raja Samaratungga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Raja Sanjaya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kerajaan Sanjaya didirikan oleh Raja Sanjaya/Rakeyan Jamri/Prabu Harisdama, cicit Wretikandayun, Raja kerajaan Galuh  pertama. Pada saat menjadi penguasa kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan kemudian setelah menguasai kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya. Ibu dari Sanjaya adalah Sahana, cucu Maharani Sima dari Kalingga di Jepara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayahanda dari Sanjaya adalah Bratasena/Sena/Sanna, raja Galuh ketiga. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putra bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua. Sena dilengserkan dari  tahta kerajaan Galuh oleh Purbasora.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Purbasora dan Sena adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah. Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan, Pusat kerajaan Sunda dan meminta pertolongan kepada raja Tarusbawa. Ironis sekali, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan kerajaan Galuh dari Tarumanegara, sehingga kerajaan Tarumanegara terpecah menjadi dua kerajaan yaitu Sunda dan kerajaan Galuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sanjaya yang merupakan penerus kerajaan Galuh yang sah, menyerang kerajaan Galuh  dengan bantuan Tarusbawa untuk melengserkan Purbasora. Setelah itu Sanjaya menjadi raja di kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh, sehingga bekas kerajaan Tarumanegara dapat disatukan lagi dalam satu kerajaan yaitu kerajaan Sunda Galuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai ahli waris Kalingga, Sanjaya kemudian menjadi penguasa Kalingga utara yang disebut Mataram, dengan kata lain, Sanjaya adalah penguasa Sunda Galuh dan Kalingga/Mataram  (Hindu). Dalam masa itu dan masa-masa selanjutnya telah terbentuk semacam ikatan politik (seperti saat Majapahit mempersatukan Nusantara).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuasaan di Jawa Barat kemudian diserahkan kepada putera Sanjaya dari Tejakencana, putri raja Tarusbawa dari kerajaan Sunda yaitu Tamperan atau Rakeyan Panaraban. Sedangkan penerus Sanjaya di kerajaan Mataram adalah Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dari  Sudiwara, puteri Dewasinga raja Kalingga selatan/Bumi Sambara. Jadi Rakai Panangkaran dan Rakeyan Panaraban/Tamperan adalah saudara seayah tapi lain ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemimpin Mataram selanjutnya adalah, Rakai Panunggalan, Rakai Warak dan Rakai Garung. Rakai Garung mempunyai anak yaitu Rakai Pikatan. Rakai Pikatan yaitu menjadi pangeran kerajaan Sanjaya, menikah dengan  putri raja Samaratungga yaitu Pramodhawardhani. Sejak itu pengaruh kerajaan Sanjaya yang bercorak Hindu mulai menggantikan menjadi agama Budha dan menjadikan penyatuaan Ciwa Budha. Rakai Pikatan bahkan menyerang raja Balaputradewa (putera Samaratungga dan Dewi Tara) dari kerajaan Syailendari dan berakhir ditandai dengan larinya Balaputradewa ke Sriwijaya. Karena Balaputradewa tidak menyetujui konsep tentang pemahaman Ciwa Budha tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian raja Tulodong adalah yang mendirikan Candi Prambanan. Merupakan komplek candi Hindu terbesar di Asia Ttenggara. Pada masa ini ditulis sastra Ramayana dalam bahasa kawi.&lt;br /&gt;Pada Jaman pemerintahan raja Kertanagara, raja Singasari terakhir, penyatuan Ciwa dan Budha karena toleransinya yang sangat besar dan juga alasan yang bersifat politik, yaitu untuk memperkuat diri dalam menghadapi musuh dari Kubilai Khan. untuk mempertemukan kedua agama itu, Kertanagara membuat Candi Ciwa Budha yaitu candi Ciwa di Prigen dan Candi Singasari di dekat kota Malang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembaruan Ciwa Budha pada jaman Majapahit antara lain terlihat pada cara mendharmakan raja dan keluarganya yang wafat pada 2 candi yang berbeda sifat keagamaannya. Hal ini dapat dilihat pada raja Majapahit yaitu Kertarajasa yang didharmakan di candi Sumberjati (Simping Blitar) sebagai wujud Ciwa (Ciwawimbha) dan di Antahpura sebagai Budha. Hal ini memperlihatkan suatu kepercayaan dimana kenyataan tertinggi dalam agama Ciwa maupun Budha tidak berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agama Ciwa yang berkembang dan dipeluk oleh raja-raja Majapahit adalah Ciwa Siddhanta yang mulai berkembang di Jawa Timur pada masa kerajaan Mataram. Ajaran agama ini sangat dipengaruhi oleh Saiwa Upanisad, Wedanta dan Samkya. Kenyataan tertinggi agama ini disebut &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Parama Ciwa &lt;/span&gt;&lt;span&gt;yang disamakan dengan suku kata suci&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt; OM.&lt;/span&gt; Dalam pakem berikutnya dikenalkan pengertian sebagai berikut oleh Ida Mpu Kuturan:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Parama Ciwa yang bersifat tak terwujud ( niskala)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sada Ciwa yang bersifat berwujud-tak terwujud (sanakala-niskala)&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ciwa yang bersifat berwujud (skala)&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Selain agama Ciwa Siddhanta dikenal pula aliran Ciwa Bhairawa yang muncul pada pemerintahan Jayabaya. Agama ini adalah aliran yang memuja Ciwa sebagai Bhairawa. Raja-raja Majapahit pada umumnya beragama Ciwa Siddhanta kecuali Tribuwana Tungadewi (raja Majapahit ke 3) yang beragama Budha Mahayana. Walaupun begitu agama Ciwa dan Budha   tetap menjadi agama resmi kerajaan dan pada akhirnya dijadikan satu yaitu Ciwa Budha. Pada masa pemerintahan Raden Wijaya (Kertarajasa) ada 2 pejabat tinggi Ciwa dan Budha, yaitu Dharmadyaksa Ring Kasaiwan dan Dharmadyaksa Ring Kasogatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu terdapat pula para agamawan yang mempunyai peranan penting di lingkungan istana yang disebut Tripaksa yaitu Rsi-Saiwa-Sogata berkelompok 3 dan berkelompok 4 disebut catur Dwija yaitu Mahabrahmana (Wipra) – Rsi – Saiwa – Sogata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak banyak yang mengetahui bahwa saat itu masyarakat Majapahit sudah amat bahagia gemah limpah loh jinawi. Hindu sendiri dari tiga agama besar, Brahma, Wisnu, Ciwa, lalu ada Budha Tantrayana dan Saiwa Bhairawa serta semua ajaran tersebut dijadikan satu dalam wadah spiritual yaitu Ciwa Budha. Semua mendapat tempat di Majapahit tanpa di-diskriminasi.&lt;br /&gt;Penganut animisme juga banyak dan oleh pemeluk ajaran yang lain, mereka tidak dianggap kafir sebab inilah agama asli nenek moyang. Kerajaan besar ini sangatlah toleran terhadap aliran kepercayaaan karena Majapahit belajar dari kekonyolan kerajaan terdahulu. Pelajaran dari masa lalu adalah yang membuat Majapahit menjadi kerajaan besar, terbuka dan toleran terhadap semua ideologi, bahkan terhadap ajaran yang amat baru dan aneh pun Majapahit sangat toleran, padahal di dalam kerajaan sudah ada pakem yaitu Ciwa Budha tetapi sungguh luar biasa tolerannya terhadap keyakinan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari kita bangsa Indonesia yang katanya sudah maju, berpikir yang sangat positif bahwa tidak ada suatu keyakinan yang membenarkan dirinya yang paling benar, karena di setiap keyakinan ada Tuhan dan di setiap keyakinan Tuhan, ada kebenaran dan ada kesalahan. Jadi semua yang benar maupun yang salah sudah dikehendaki oleh Tuhan itu sendiri. Jadi janganlah saling mendiskriminasikan ajaran/agama orang lain. Kita hidup dalam wadah spiritual Ciwa Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Note&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;Kata agama dipakai untuk memudahkan pengertian. Sebenarnya saat tersebut kata agama belum dikenal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber&lt;/span&gt;: Pinisepuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;akan datang: sejarah Ciwa Budha di Bali...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-1706021231808341770?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/1706021231808341770/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/12/sejarah-ciwa-budha-di-nusantara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/1706021231808341770'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/1706021231808341770'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/12/sejarah-ciwa-budha-di-nusantara.html' title='Sejarah Ciwa Budha di Nusantara'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-8935052509097346614</id><published>2009-12-05T00:13:00.001-08:00</published><updated>2009-12-05T20:59:06.885-08:00</updated><title type='text'>Karya Para Mpu Nusantara</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Beberapa Mpu di Nusantara dan Karyanya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mpu Gandring (warga Pande),&lt;br /&gt;Mpu Gnijaya (warga Pasek),&lt;br /&gt;Mpu Bradah (warga Brahmana, Treh Dalem),&lt;br /&gt;Mpu Tantular (kekawin Sutasoma)&lt;br /&gt;Mpu Sedah/Mpu Panuluh (kekawin Bharatayuda),&lt;br /&gt;Mpu Tanakung (kekawin Siwa Ratri Kalpa),&lt;br /&gt;Mpu Kanwa (kekawin Arjuna Wiwaha),&lt;br /&gt;Mpu Prapanca (kekawin Negara Kertagama)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Karya Mpu Kuturan Dalam Menata Perhyangan di Bali Dwipa&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mpu Kuturan adalah seorang pendeta suci dari warih Ida Bhatara Hyang Genijaya yaitu cucu dari Ida Bhatara Lingsir Hyang Pasupati saking Giri Mahameru (Jambu Dwipa).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Karya Mpu Kuturan di Bali:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Konsep Siwa Budha&lt;br /&gt;Konsep Tri Murti&lt;br /&gt;Tripurusha&lt;br /&gt;Padma Tiga di Penataran Besakih&lt;br /&gt;Kahyangan Tiga (Pura Desa, Dalem, Puseh)&lt;br /&gt;Meru&lt;br /&gt;Gedong&lt;br /&gt;Konseptor seni arsitektur Bali&lt;br /&gt;Konsep Menjangan Seluwang (konsep ini ada di lontar Kusumadewa)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Beberapa jenis padma menurut lokasinya, yaitu: &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Timur (padmakencana),&lt;br /&gt;Selatan (padmasana),&lt;br /&gt;Barat (padmasari),&lt;br /&gt;Utara (padmalingga),&lt;br /&gt;Tengah (padmakurung),&lt;br /&gt;Tenggara (padma astadana),&lt;br /&gt;Barat Daya (padmanoja),&lt;br /&gt;Barat laut (padma karo),&lt;br /&gt;Timurlaut (padmasaji)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa jenis candi yaitu candi ibu, candi tikus, candi bajang ratu, candi raden wijaya, candi semar, candi arjuna, candi bimasena, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Salah satu lontar Bali sendiri mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sira empu Kuturan, ingaranan empu Raja Kertha, mahyunta anggawe perhyangan kabeh sane ke gawe wit Majapahit, kaunggahan ring Bali kabeh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ida empukuturan, bergelar Mpu Raja Kertha, membawa konsep-konsep perhyangan yang dibawanya dari majapahit, yang diletakkan di seluruh pulau bali.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pada intinya semua tata letak, konsep, keyakinan maupun budaya, sastra, dll., kebanyakan dibuat oleh Mpu Kuturan, karena itu pulau Bali dikenal dengan pulau seribu pura. Karena karya-karyanya yang banyak, Mpu Kuturan mendapat gelar begitu banyaknya dari masayarakat maupun dari kerajaan. Yang sering dikenal di Bali yaitu Dhang Hyang Dwi Jendra yang berarti ‘pandita raja’. Setelah Mpu Kuturan moksha di Sila Yukti, kemudian karya-karya beliau digali lagi pada masanya Dang Hyang Niratha (Ida Pedanda Sakti Wau Rauh). Akhirnya karena jasanya bisa menentramkan umat Bali pada saat itu, Beliau, Dang Hyang Niratha, juga diberi gelar Dang Hyang Dwi Jendra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;note&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;Yang mendapat gelar Dhang Hyang Dwi Jendra adalah:&lt;br /&gt;1. Rsi Markandheya&lt;br /&gt;2. Mpu Kuturan&lt;br /&gt;3. Dhang Hyang Niratha&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mpu kuturan moksa di Sila Yukti. Sila berarti; ajeg, teguh, kuat, paham dalam kehidupan ini dengan cara menegakkan dharma. Yukti berarti; benar-benar terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep tersebut diambil dari Siwa Budha. Budha berarti; budi pekerti, tatwa, susila, dharma, dll. Siwa berarti Tuhan itu sendiri. Jadi sebelum badan ini bersatu pada alam Siwa temui dulu Tuhan di dalam diri setiap manusia atau capailah dharma tersebut, baru manusia bisa mencapai alam Siwa dan menyatu pada Siwa atau moksha. Kalau Sila atau Budha kita sudah kuat, teguh, ajeg dengan cara menjalankan dharma, pasti benar-benar terjadi yang namanya menyatu pada alam Siwa tersebut. Jadi demikian pokok dasar pengertian dari Siwa Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bukti dalam sastra adalah: &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;Siwa tidak mengakui Budha bukan Siwa. Budha tidak mau mengakui Siwa bukan Budha. Bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakekatnya Siwa Budha itu satu tidak bisa dipisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Ida Mpu Kuturan kepada saya pada beberapa waktu lalu adalah; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Jagalah karya-karya Beliau, jangan sampai orang Bali lupa dan meninggalkannya, karena dari karya Beliau tersirat ilmu-ilmu kasunyatan yang akan mengantar umat Bali pada khususnya untuk mencapai alam Siwa Budha. Agar Bali menjadi pusat dunia dalam waktu dekat ini.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu pesan singkat Beliau agar budaya Bali selalu senantiasa dilestarikan agar umat dunia bisa banyak belajar dari kedamaian Siwa Budha di Bali yang berdasarkan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Weda dan Karya Mpu Nusantara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Weda dibuat berdasarkan perenungan-perenungan dari orang-orang suci di India. Kekawin dan Lontar di Nusantara ini dibuat oleh perenungan-perenungan para mpu kita, jadi banggakanlah karya para mpu kita yang sangat luar biasa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apapun karya yang bisa membantu umat agar bisa lebih mengerti memahami konsep Tuhan itu maka karya itu akan masuk ke dalam Weda, karena Weda berarti juga connect (terhubung) dengan Tuhan itu sendiri. Weda tidak akan pernah habis semasih bumi ini terus berputar. Jadi pemahaman tentang Weda sangatlah luas, karena Weda terus berkolaborasi tergantung pada jamannya. Semoga pemahaman ini berguna dan lebih mengerti tentang karya-karya mpu serta Weda itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber&lt;/span&gt;: Komunikasi Pinisepuh pada bulan November 2009 dengan Ida Bhtarara Mpu Kuturan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-8935052509097346614?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/8935052509097346614/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/12/karya-para-mpu-nusantara.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/8935052509097346614'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/8935052509097346614'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/12/karya-para-mpu-nusantara.html' title='Karya Para Mpu Nusantara'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-1469607085933383855</id><published>2009-12-03T01:19:00.000-08:00</published><updated>2009-12-03T01:25:53.910-08:00</updated><title type='text'>Sejarah Weda Di Indonesia</title><content type='html'>Ada tujuh maha rsi yaitu; Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista dan Kanwa. Para Rsi inilah yang menerima wahyu Weda di India. Mereka mengembangkan agama Hindu masing-masing menurut bagian-bagian Weda tertentu. Kemudian para pengikutnya mengembangkan ajaran yang diterima dari guru mereka sehingga lama kelamaan terbentuklah sekte-sekte yang jumlahnya ratusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekte Siwa Sidhanta dipimpin oleh Maha Rsi Agastya, kemudian disebarkan ke Indonesia. Di Indonesia seorang Maha Rsi pengembang sekte ini yang berasal dari pesraman Agastya Madyapradesh dikenal dengan berbagai nama antara lain : Kumbhayoni, Hari Candana, Kalasaja dan Trinawindu. Trinawindu di Bali disebut dengan Bhatara Guru, tapi ini hanya sebuah gelar Rsi Agastya di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ajaran Siwa Sidhanta mempunyai ciri-ciri khas yang berbeda dengan sekte Siwa yang lain. Sidhanta yang artinya kesimpulan sehingga Siwa Sidhanta artinya kesimpulan dari Siwaisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa di buat kesimpulan ajaran Siwa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Maha Rsi Agastya merasa sangat sulit untuk menyampaikan pemahaman kepada para pengikutnya tentang ajaran Siwa yang mencakup bidang sangat luas sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu bagi penganut Siwa, kitab suci Weda pun hanya pokok-pokok atau inti-intinya saja yang dipelajari, dan kitab suci Weda pun dinamai Weda sirah oleh penganut Siwaisme. Weda sirah, atau sirah artinya kepala atau pokok-pokok jadi hanya inti-inti dari Weda saja yang dipelajari, karena kitab suci Weda sangatlah luas. Jadi pengetahuan tentang Weda hanya inti-intinya saja yang dipelajari umat Hindu dunia, karena seperti cerita di atas Maha Rsi Agastya sangatlah sulit untuk memberikan pengetahuan Weda itu karena mencakup bidang yang sangat luas sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu murid Maha Rsi Agastya adalah Maha Rsi Markandeya yang membawa ajaran Weda/Siwa di Indonesia. Pada saat ke Indonesia Maha Rsi Markandeya mendapatkan pencerahan di gunung Di Hyang (sekarang disebut dengan gunung Dieng) di gunung Dieng Beliau Rsi Markandeya mendapatkan pawisik agar membuat pelinggih di Tohlangkir (sekarang disebut Besakih) dan harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur emas, perak, tembaga, besi dan permata mirah delima.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah itu Maha Rsi Markandeya menetap di Taro (Tegal Lalang, Gianyar). Dari pencerahan-pencerahan yang di dapat di gunung Dieng dan di Tohlangkir (Besakih) beliau memantapkan ajaran Siwa kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya Sewana, Bebali (banten) dan pecaruan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali dan ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali. Daerah tempat tinggal Beliau dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa menurut petunjuk-petunjuk maha Rsi Markandeya yang menggunakan bebali atau banten. Karena sedemikian luasnya isi dari Weda dan terbentur bahasa dari mantram-mantram Weda maka diciptakanlah banten sebagai simbolisme dari mantram-mantram yang ada dalam Weda. Sebagai contoh:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banten Daksina adalah simbolis dari Mantram Gayatri, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Bhur Bhuvah Svah&lt;br /&gt;Tat Savitur varenyam&lt;br /&gt;Bhargo devasya dimahi&lt;br /&gt;Dhiyo yo nah pracodayat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu janganlah fanatik dengan berpatokan kepada kitab Weda saja, karena Weda sendiri pengertiannya sangat luas. Ajaran Rsi Markandeya kemudian disempurnakan lagi oleh Ida Mpu Kuturan, karena di jaman Rsi Markandeya keberadaan sekte-sekte jumlahnya sangat banyak dan dari sekte-sekte tersebut selalu ada saja yang dipertentangkan dan pada akhirnya timbul dampak-dampak yang negatif di Bali. Ida Mpu Kuturan yang pada saat itu ajarannya adalah Budha Mahayana dipilih oleh raja Udayana untuk mempersatukan sekte-sekte karena dipercaya ajaran Budha adalah yang bisa mempersatukan sekte-sekte tersebut selain Ida Mpu Kuturan juga ahli di bidang politik, sastra, filsafat, arsitek, spiritual, seni, dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi pesan Ida Mpu Kuturan kepada saya janganlah pernah berhenti berjuang untuk mempersatukan umat dalam perbedaan keyakinan melalui ajaran Budha, karena ajaran Budha yang bisa menengahi masalah-masalah keyakinan di muka bumi ini, karena ajarannya mengajarkan kita untuk bijak dalam melakukan tindakan dan mengedepankan ajaran budi luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian itulah pesan  Beliau Ida Mpu Kuturan yang sudah meraga/berwujud Sang Budha Amitofo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber&lt;/span&gt;: Pinisepuh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-1469607085933383855?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/1469607085933383855/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/12/sejarah-weda-di-indonesia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/1469607085933383855'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/1469607085933383855'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/12/sejarah-weda-di-indonesia.html' title='Sejarah Weda Di Indonesia'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-1421349898008053027</id><published>2009-11-29T07:17:00.000-08:00</published><updated>2009-11-29T07:20:35.993-08:00</updated><title type='text'>Konsep tujuan akhir kehidupan</title><content type='html'>Ada keadaan dimana tidak ada tanah, tidak ada air, tidak ada api, tidak ada udara, tidak ada dasar yang terdiri dari ketidak terbatasan kesadaran, tidak ada dasar dari kekosongan, tidak ada dasar yang terdiri dari bukan presepsi dan tidak bukan presepsi, tidak ada dunia ini atau dunia lain ataupun dua dunia itu, tidak ada matahari atau rembulan, di sini saya katakan tidak ada kedatangan, tidak ada kepergian, tidak ada yang tertinggal, tidak ada kematian, tidak ada kemunculan, tidak terpancang, tidak dapat di gerakkan, tidak mempunyai penyangga, inilah akhir dari penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang tidak terpengaruh sulit untuk diketahui, kebenaran tidak mudah dilihat, nafsu keinginan akan ditembus oleh orang yang tahu, tidak ada penghalang bagi orang yang melihat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, yang mutlak. Jika seandainya saja tidak ada sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, yang mutlak, maka tidak akan ada jalan keluar kebebasan kelahiran, penjelmaan, pembentukan, kemunculan dari sebab yang lalu, tetapi karena ada sesuatu yang tidak dilahirkan, tidak menjelma, tidak tercipta, yang mutlak, maka ada jalan keluar kebebasan kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi yang ditopang, ada ketidakstabilan, bagi yang tidak ditopang, tidak ada ketidak stabilan.  Bila tidak ada ketidakstabilan ada ketenangan, tidak ada sikap takluk, bila tidak ada sikap takluk tidak ada datang dan pergi, dan bila tidak ada datang dan pergi tidak ada kematian dan kemunculan, bila tidak ada kematian dan kemunculan, tidak ada disini atau diluar sana, ataupun di antara keduanya. Inilah akhir dari penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budha mengajarkan bahwa tujuan dari pembebasan adalah mencapai Nibana. Arti dari Nibana dalam sanskerta : Nirvana Nir : nis, tidak ada, lenyap atau habis, dan va :meniup.&lt;br /&gt;Jadi arti dari nibana/nirvana adalah  suatu keadaan atau kondisi padamnya nafsu keinginan dan bukan merupakan alam atau tempat Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Budha berbicara kepada saya, bahwa semua yang diperbuat dan dialami seseorang pada masa sekarang, baik hal yang baik maupun buruk,  bukan merupakan kehendak Tuhan, yang mengakibatkan seseorang tidak memiliki kehendak bebas, hanya akan menjadi boneka yang tidak bisa membebaskan diri dari penderitaan dan akan menjadi seseorang yang tidak memiliki kewaspadaan dan pengendalian diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan saya membuat suatu pertanyaan seperti puisi kepada sang Budha:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mata, seseorang dapat melihat pandangan memilukan, mengapa Brahma itu tidak menciptakan secara baik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kekuatannya demikian tak terbatas, mengapa tangannya begitu jarang memberkati?&lt;br /&gt;Mengapa dia tidak memberi kebahagiaan semata?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kejahatan, kebohongan dan ketidaktahuan merajalela?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa memenangkan kapalsuan, sedangkan kebenaran dan keadilan gagal?&lt;br /&gt;Saya menganggap, Brahma adalah ketidak adilan yang membuat dunia yang diatur keliru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Budha bersabda, sesuai dengan benih yang kita tabur, begitulah buah yang akan kita petik. Pembuat kebajikan akan memperoleh kebahagian dan pembuat kejahatan akan memperoleh penderitaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang Budha juga berkata, setiap individu memungkinkan untuk mencapai pencerahan. Pertapa tidak serta merta disebut sebagai Brahmana dan gembala tidak dapat diartikan sudra, namun ia yang mempelajari dengan tekun ajaran Dharma adalah kaum Brahmana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah pitutur-pitutur dari sang Budha kepada saya agar seseorang yang membaca pencerahan ini, lebih mengerti tentang dharma itu sendiri. Jadi mencapai pembebasan dari penderitaan adalah merupakan usaha diri sendiri bukan karena pemberian Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om Nama Siwa Budha Ya Namah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber&lt;/span&gt;: Pinisepuh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-1421349898008053027?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/1421349898008053027/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/konsep-tujuan-akhir-kehidupan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/1421349898008053027'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/1421349898008053027'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/konsep-tujuan-akhir-kehidupan.html' title='Konsep tujuan akhir kehidupan'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-1077650895553446650</id><published>2009-11-24T20:36:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T20:43:04.738-08:00</updated><title type='text'>Avalokitesvara</title><content type='html'>&lt;span style="font-family: verdana;font-size:130%;" &gt;MENYIBAK JATI DIRI DAN KEMASYURAN AVALOKITESVARA&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Om mani padme hum, begitulah mantra Avalokitesvara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebutan Avalokitesvara diyakini telah terjadi sejak abad ke-2 sebelum masehi yakni pada naskah-naskah awal Mahavastu yang di dalamnya terdapat dua kotbah yang menyebut Avalokita. Penyebutan ini diperjelas dengan naskah-naskah Mahayana yang mana belakangan telah memberi status tinggi kepada Avalokitesvara dibanding Bodisatva yang lain. Bahkan pada Amit Ayurdhana Sutra, Avalokitesvara disebutnya putra Budha. Di Indonesia ajaran Tantra ditemukan di Palembang (Sumatra) sekitar abad ke-7 dengan ditemukannya prasasti yang menyebutkan doa kepada Manjusri dan Avalokitesvara,juga beberapa arca yang ditemukan pada abad ke-8. Dan pada masa kejayaan kerajaan Sriwijaya (abad ke-11) sang raja telah mendirikan candi sebagai penghormatan kepada sang Budha dan Bodhisatva Avalokitesvara. Dituangkan dalam bentuk Padmapani dan Vajrapani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam perwujudan Avalokitesvara ada 33 perwujudan Avalokitesvara yang dimuliakan dunia. Di dalam 33 perwujudan Avalokitesvara lebih condong ke ibuannya yang dimuliakan karena lebih pada memberikan kasih sayang (karuna Budha), di Bali sendiri Avalokitesvara dikenal dengan banyak nama dan banyak perwujudan seperti dalam konteks Hindu Avalokitesvara adalah manivestasi dari Ciwa Parwati sebagai pelindung jagat raya dan di simbulkan sebagai Dewi Tangan Seribu (Durga) karena Avalokitesvara berwujud Yin (feminin) dan Yang (maskulin), atau tidak laki tidak perempuan. Dalam Hindu dikenal dengan ‘ana tan hana (hara hari)’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada agama Budha sering disebut Guanyin, Kwan Im. Di Batur Bali, Avalokitesvara dikenal sebagai Bhatari Batur (Hyang Dewi Dhanu) di Besakih Avalokitesvara dikenal dengan Ida Bhatari Ratu Mas Magelung karena rambut beliau selalu digelung. Gelar Ratu Mas Magelung diberikan oleh para mpu dan raja-raja Majapahit pada jaman itu, termasuk Mpu Kuturan sendiri menyebutkan Avalokitesvara adalah perwujudan Ciwa Budha yang pada saat itu, Mpu Kuturan sendiri sebagai baktanya yang bisa mencapai moksa karena Mpu Kuturan sudah memahami tentang ajaran Tantra yang tiada tandingnya pada masa itu dan barangkali juga masa ini.&lt;br /&gt;Di Gunung Agung sendiri Avalokitesvara juga sering dikenal dengan Hyang Tatagatha sebagai penguasa alam tertinggi, karena di Bali Gunung Agung dikenal sebagai gunung tertinggi. Avalokitesvara mendapat gelar juga oleh Hyang pasupati (Bhatara siwa) dari Mahameru sebagai Hyang Giri putri penguasa goa, gunung, bukit, danau, laut dan hutan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hyang artinya (Raja) Giri (gunung) Putri (putra/anak), karena Avalokitesvara dipercayai sebagai anak dari raja penguasa alam semesta (Hyang Pasupati/Ciwa). Jadi pada hakekatnya semuanya sama karena Avalokitesvara sendiri disimbulkan sebagai Ciwa Budha tidak terwujud. Juga Ciwa Pasupati adalah Ciwa Nata Raja, maka semuanya adalah sama. Antara Ciwa Budha semua dilebur menjadi satu karena tiada yang tertinggi dan tiada yang sama. Semua berbeda dan dilebur menjadi satu yaitu Hyang tunggal/Hyang Widi Wasa (Hyang Acintya) dengan konsep Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mandruwa, dari segala perbedaan semuanya dilebur menjadi satu, yaitu satu tujuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan tidak pernah membeda-bedakan umatnya. Semuanya sama dan satu, isi adalah kosong dan kosong adalah isi. Jadi di dalam diri mausia penuh dengan kekosongan jika tidak pernah memahami sesuatu hal dengan bijak dan tidak pernah mengisi kekosongan tersebut. Tuntutlah ilmu setinggi-tingginya agar dari kekosongan tersebut manusia mendapat pencerahan yang abadi karena semasih bumi berputar ilmu pengetahuan akan terus berputar, maka karena itu berbahagialah manusia yang mampu untuk memberikan pencerahan kepada manusia yang lain, karena sesama manusia harus saling menutupi kekosongan yang ada di dalam diri. Dengan demikian akan mencapai kesempurnaan di dalam diri manusia dan diluar manusia sehingga suatu saat dapat mencapai keadaan ‘gemah limpah loh jinawi’ dan dunia akan selalu aman serta bahagia karena manusia sudah bisa saling mensyukuri juga saling membantu di dalam kekosongan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;33 perwujudan Avalokitesvara:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.   Nathadeva-lokesvaranatha,&lt;br /&gt;2.   Karuna Budha, Simhala-Dvipe Arogya-Sala Lokanatha,&lt;br /&gt;3.   Lokesvara Khmer,&lt;br /&gt;4.   Padmapani,&lt;br /&gt;5.   Vajrapani,s&lt;br /&gt;6.   Imhanada Avalokitesvara,&lt;br /&gt;7.   Sadhanamala Avalokitesvara,&lt;br /&gt;8.   SadaksariAvalokitesvara,&lt;br /&gt;9.   Khasarpana Avalokitesvara,&lt;br /&gt;10. Halahala Avalokitesvara,&lt;br /&gt;11. Padmanarttesvara,&lt;br /&gt;12. Harihariharivahana,&lt;br /&gt;13. Trailokyavasankara,&lt;br /&gt;14. Rakta,&lt;br /&gt;15. Mayajalakrama,&lt;br /&gt;16. Nilakantha,&lt;br /&gt;17. Sugatisamdarsana,&lt;br /&gt;18. Pretasamtarpita,&lt;br /&gt;19. Sukhavati,&lt;br /&gt;20. Vajraharma,&lt;br /&gt;21. Dabei guanshiyin,&lt;br /&gt;22. Daci guanshiyin,&lt;br /&gt;23. Shizi wuwei guanshiyin,&lt;br /&gt;24. Dakuang puzhao guanshiyin,&lt;br /&gt;25. Tianren zangfu guanshiyin,&lt;br /&gt;26. Dafan shenyuan guanshiyin,&lt;br /&gt;27. Sansian huangsheng,&lt;br /&gt;28. Bodhisattva aksyamati,&lt;br /&gt;29. Prayeka budha,&lt;br /&gt;30. Sravaka,&lt;br /&gt;31. Vaisravana,&lt;br /&gt;32. Vajradhara,&lt;br /&gt;33. Geli Guanyin, Guanyin Yangliu, Yeyi Guanyin, Yanming Guanyin, Shiyao Guanyin, A-nou             Guanyin, Longtou Guanyin, Simhakridita Avalokitesvara, Shizi Youxi Guanyin, Yulan                   Guanyin, Nengjing guanyin, Yiye Guanyin, Zhongbao Guanyin, Guanyinmu, Malangfu                     Guanyin, Yankuang Guanyin, Dewang Guanyin, Sansui Guanyin, Yiru Guanyin, Lianwo                 Guanyin, Ekadasamukha Avalokitesvara, Shinyimian Guanyin, Sasrabhuja Avalokitesvara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber&lt;/span&gt;: Pinisepuh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-1077650895553446650?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/1077650895553446650/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/avalokitesvara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/1077650895553446650'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/1077650895553446650'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/avalokitesvara.html' title='Avalokitesvara'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-2202438802336520892</id><published>2009-11-21T00:52:00.000-08:00</published><updated>2009-11-21T00:57:41.199-08:00</updated><title type='text'>Awatara</title><content type='html'>AWATARA, HYANG WIDHI TURUN UNTUK MENEGAKKAN AJARAN DHARMA&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hyang Widhi turun ke dunia dengan mengambil salah satu bentuk sesuai dengan keadaan alam, dengan perbuatan dan ajaran sucinya memberikan tuntunan untuk membebaskan umat manusia dari kesengsaraan yang diakibatkan oleh kegelapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada 10 (sepuluh) Awatara Wisnu (sifat Hyang Widhi sebagai pemelihara alam):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Matsya awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai ikan besar yang menyelamatkan manusia pertama dari tenggelam saat dunia dilanda banjir.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kurma awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai kura-kura besar yang menumpu dunia agar selamat dari bahaya terbenam saat pemutaran gunung Mandara di lautan susu oleh para Dewa untuk mencari tirta amerta.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Waraha awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai badak agung yang mengait dunia agar selamat dari bahaya tenggelam.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Nara Simbha awatara Hyang Widhi turun sebagai manusia berkepala singa yang membasmi kekejaman raja Hyarania kasipu yang sangat jahat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Wamana awatara yaitu Hyang Widhi turun kedunia sebagai orang kerdil berpengetahuan tinggi dan mulia dalam mengalahkan maha raja Bali yang sombong dan ingin menguasai dunia serta menginjak-injak dharma.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Paracu Rama awatara Hyang Widhi turun sebagai Rama paracu yaitu Rama bersanjata kapak yang membasmi para ksatrya yang menyeleweng dari ajaran dharma.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Rama awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai sang Rama putra raja Dasa Rata dari Ayodya untuk menghancurkan kejahatan dan kelaliman yang ditimbulkan oleh raksasa Rahwana dari negara Alengka.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Krisna awatara Hyang Widhi turun sebagai Sri Krisna raja Dwarawati untuk membasmi raja Kangsa Jarasanda dan membantu Pandawa untuk menegakkan keadilan dengan membasmi Kurawa yang menginjak-injak dharma.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Budha awatara yaitu Hyang Widhi turun sebagai putra raja Sododana di Kapilavastu India dengan nama Sidharta Gautama yang berarti telah mencapai kesadaran yang sempurna. Budha Gautama menyebarkan ajaran Budha dengan tujuan menuntun umat manusia mencapai kesadaran, penerangan yang sempurna atau nirwana.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kalki awatara yaitu penjelamaan Hyang Widhi yang terakhir yang akan turun untuk membasmi penghinaan-penghinaan, pertentangan-pertentangan agama akibat penyelewengan umat manusia dari ajaran dharma.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Sumber: Pinisepuh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-2202438802336520892?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/2202438802336520892/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/awatara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/2202438802336520892'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/2202438802336520892'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/awatara.html' title='Awatara'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-740442279069059407</id><published>2009-11-18T03:07:00.000-08:00</published><updated>2009-11-18T22:12:57.855-08:00</updated><title type='text'>Durga Dewi 2 - Moksha</title><content type='html'>Dasar-dasar paham Tantra timbul sebelum bangsa Arya datang di India dan merupakan kepercayaan India kuno. Pada peradaban lembah sungai Sindhu, dasar-dasar paham Tantra ini telah terlihat, yaitu dalam bentuk pemujaan Dewi Ibu atau Dewi Kemakmuran. Pada salah satu sloka lagu pujaan, sakti digambarkan sebagai penjelmaan kekuatan, penyokong alam semesta, sehingga dengan demikian ‘Saktiisme” sama dengan ‘Kalaisme’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara konsepsi dewi dari dewi itu munculah saktiisme, yaitu suatu paham yang mengkhususkan pemujaan kepada sakti, yang merupakan suatu kekuatan dari para dewa. Pemuja sakti ini disebut dengan sakta atau sekte. Turunnya Dewi Durga  ke bumi pada jaman kali untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran moral dan prilaku. Dalam masa peperangan antara suku bangsa arya dan non arya, lahirlah seorang Agung bernama Sadashiva, artinya dia yang selalu terserap dalam kesadaran dan dia yang bersumpah satu-satunya, dengan kehadirannya bahwa misinya hanyalah untuk memajukan kesejahteraan menyeluruh semua kehidupan. Sadashiva dikenal juga sebagai Shiva, adalah seorang guru rohani yang istimewa. Meskipun ajaran Tantra sudah dipraktekan sejak sebelum kelahirannya, namun beliaulah yang pertama kali mengungkapkan perkara rohani secara sistimatis bagi umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan saja Beliau adalah seorang guru spiritual, namun Beliau juga pelopor sistim musik dan tari-tarian. Oleh karena itu Beliau terkadang dikenal pula sebagai Nataraja (Tuhan penata tari). Sumbangan terbesar dari Shiva adalah pada kelahiran peradaban yang baru, juga pengenalan konsep dharma. Dharma adalah suatu kata sangsekerta yang berarti; sifat dari sananya, milik sesuatu hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang menjadi sifat alamiah dan kekhasan manusia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shiva menerangkan, bahwa manusia selalu menginginkan lebih, lebih daripada kenikmatan yang diperoleh dari kepuasan indrawi. Beliau mengatakan bahwa manusia berbeda dengan tanaman dan binatang karena apa yang sangat diinginkan oleh manusia adalah kedamaian mutlak. Itu adalah tujuan manusia, dan ajaran Shiva ditujukan untuk memberdayakan manusia untuk mencapai tujuan itu. Ajaran Shiva disampaikan dari mulut ke mulut, dan baru dikemudian waktu dituliskan ke dalam bentuk buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri Shiva adalah Parvati, sering bertanya pada Beliau mengenai berbagai pengetahuan rohani. Shiva memberikan jawabannya sebagian dalam buku-buku kuno dan itu telah hilang serta sebagian lagi ada di dalam dharma itu sendiri sehingga nilai kebenaran yang ada dalam dharma disebut dengan dharma tanpa sastra.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam ajaran Tantra satra, salah satu unsur utama dalam Tantra adalah hubungan guru dan murid. Guru adalah, atau berarti seseorang yang dapat menyingkirkan kegelapan dan Shiva menjelaskan bahwa agar diperolehnya keberhasilan rohani harus ada guru yang baik dan murid yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shiva menjelaskan, bahwa ada tiga jenis guru:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, adalah guru yang memberikan sedikit pengetahuan namun tidak menindak lanjuti pengajarannya. Jadi sang guru pergi dan meninggalkan sang murid. Kedua, adalah sang guru mengajarkan dan mengarahkan para muridnya sebentar namun tidak selama masa yang diperlukan si murid untuk mencapai tujuan akhir. Ketiga, dalam ajaran Tantra, guru ini adalah guru terbaik yang memberikan pengajaran dan kemudian mengupayakan terus menerus agar si murid mengikuti semua petunjuk dan sampai menyadari tujuan akhir kesempurnaan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciri guru yang istimewa menurut petunjuk yang saya peroleh dari dewa Shiva adalah: Guru yang tenang, dapat mengendalikan pikirannya, rendah hati dan berpakain sederhana, dia memperoleh penghidupannya secara layak dan berkeluarga. Dia ahli dalam filsafat metafisik dan matang dalam seni meditasi. Dia juga tahu praktek teori pengajaran meditasi. Dia mencintai dan menuntun para muridnya. Guru yang seperti demikian disebut atau akan diberi gelar oleh Shiva yaitu; Mahakoala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun meskipun ada seorang guru yang hebat, tetap saja harus ada yang dapat menyerap pelajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Shiva mengatakan kepada saya, ada tiga jenis murid:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama seorang murid yang berlaku baik di depan gurunya, namun begitu gurunya pergi, murid itu tidak melanjutkan latihannya dan tidak dapat menerapkan pelajarannya dalam kesehariannya. Yang kedua, murid seperti ini adalah yang tekun saat kehadiran gurunya namun perlahan-lahan akan berkurang bahkan meninggalkan latihannya sama sekali. Dan yang ketiga, adalah murid yang paling mulia dan sempurna yang dikatakan oleh Dewa Shiva, murid seperti ini, tekun berlatih di hadirat gurunya dan terus tekun biarpun secara fisik terpisah jauh dari gurunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hubungan antara guru dan murid sangatlah penting dan merupakan ciri kunci dalam mencapai moksha atau kesempurnaan. Jalan rohani sering disamakan dengan sisi tajam pisau cukur. Mudah sekali keluar dari jalur dan dengan demikian memang sulit memperoleh pembebasan. Sang guru selalu hadir untuk mencintai dan menuntun si murid pada setiap tahap upayanya untuk mencapai kesempurnaan atau moksha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada empat jenis moksha yang diharapkan dalam setiap bentuk jalan rohani atau jalan spiritual:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Samipya moksha&lt;/span&gt; yaitu kebebasan yang dicapai pada saat semasih hidup yang dibantu oleh para rsi atau sang guru dan mampu memberikan pencerahan itu kepada umat lainnya dan mampu menerima petunjuk-petunjuk, wahyu, atau pawisik dari Tuhan dalam segala bentuk perwujudannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sadarmmya moksha&lt;/span&gt; yaitu kebebasan yang diperoleh dari kelahirannya kembali atau reinkarnasi dari para Dewata atau Awatara wisnu seperti Awatara Krisnha, Awatara Budha Gautama,  dan lain lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karma mukti&lt;/span&gt; yaitu kebebasan yang dicapai oleh Atman itu sendiri yang telah berada dalam posisi hampir sama dengan Samipya dan Sadarmmya moksha tetapi belum dapat bersatu dengan Tuhan dalam arti belum menerima petunjuk-petunjuk, wahyu atau pawisik. Cara ini biasanya dilakukan dengan cara menggumpulkan karma-karma positip dan tekun mejalankan dharma serta tekun menjalankan meditasi dan yoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Purna mukti&lt;/span&gt; yaitu kebebasan yang tertinggi dan sempurna sehingga dapat menyatu dengan Tuhan. Dalam tahapan Purna Mukti, ada tiga jenis moksha, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nista moksha&lt;/span&gt;, yaitu seseorang tahu kapan akan meninggal dunia sesuai dengan                         aturan langit atau aturan maha suci.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Madya moks&lt;/span&gt;a, yaitu badan kita bersatu dengan Tuhan/Brahman tetapi masih                             menyisakan pakaian dan atribut-atribut lainnya yang berunsur duniawi.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Utama moksha&lt;/span&gt;, yaitu moksha yang paling sempurna dalam tahapan moksha yaitu                     bersatunya kita dengan Tuhan/Brahman dari badan sampai pakaian yang digunakan                     oleh yang mengalami moksha.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;                 &lt;br /&gt;Dalam kesempatan berbeda Pinisepuh juga menjelaskan bahwa kejadian Utama Moksha adalah kejadian semesta. Saat mana seseorang mengalami moksha utama maka semua komponen alam menjadi aktif. Akan ada hujan mendadak dari terang menjadi mendung yang sangat pekat dan gelap. Petir dan halilintar bergemuruh dan bersahut-sahutan. Angin bertiup sangat kencang bagai badai yang sangat hebat. Pertanda alam ini adalah sangatlah khas dan tidak menjadikan bencana bagi umat manusia namun bagi manusia wikan akan sangat paham dan berkata: “Ada seseorang tengah mencapai kesempurnaan dalam hidupnya dan menyatu dengan Brahman. Ada seseorang yang mengalami Moksha”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kesempatan lainnya juga saya bertanya kepada Pinisepuh, bagaimana sebenarnya proses moksha utama tersebut. Diterangkan bahwa, proses moksha yang diketahui adalah seseorang dalam meditasinya akan mengalami tubuh yang mengecil dan terus mengecil sampai badan kasar dari manusia tersebut hilang dari pandangan mata biasa. Namun diceritakan pula bahwa, jaman dahulu ada banyak juga dari aliran kiri  yang mencapai tingkatan tinggi dalam pengetahuannya melakukan meditasi dan mencapai moksha. Tetapi dari aliran kiri, pada proses pengecilan raga ada yang gagal menyatu dengan Brahman. Pada proses moksha tersebut berhenti pada ukuran tubuh tertentu, seperti yang pernah saya lihat di pameran yaitu sepanjang lebih kurang 10 centimeter. Badan kasar atau raga menjadi berwarna hitam. Jaman sekarang banyak terdengar istilah seperti ‘Jenglot’ atau sebagian dikenal juga dengan nama ‘Bhatara Karang’. Sebenarnya, Jenglot dan Bhatara Karang adalah manusia yang gagal dalam proses mencapai moksha. Dipercaya juga kalau benar cara memperlakukan Jenglot ini, maka akan bisa melindungi yang memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kepada ajaran Tantra, bahwa dalam Tantra dinyatakan, menghadapi kemelutnya hidup di jaman kali yuga ini adalah dengan memprioritaskan pemujaan sakti sebagai manifestasi Tuhan. Sakti adalah Tuhan. Karena pada jaman kali ini semakin kuat sinergi antara guna rajas dan guna tamas. Hal ini menyebabkan manusia itu hidup dengan gaya ingin hidup enak dan bersenang-senang, tetapi dengan bermalas-malasan. Dalam Tantra mengajarkan hidup enak itu baik tapi jangan seenaknya. Capailah hidup enak dengan cara bekerja keras. Seseorang bisa bekerja keras apabila potensi yang ada dalam dirinya benar-benar bangkit. Dewi Durga  adalah simbul semua kekuatan penciptaan. Kekuatan gabungan akan muncul jika kekuatan jahat mengancam keberadaan ciptaan-Nya. Jadi Dewi Durga akan menghancurkan ketidakharmonisan atau kejahatan serta akan menciptakan kembali keadaan yang harmoni karena keberadaan Dewi Durga  adalah untuk menciptakan dharma.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi petunjuk-petunjuk yang saya peroleh hanya sebatas menuntun dan memperingatkan umat manusia agar tetap ingat dan tetap melaksanakan ajaran dharma karena beliau Sang Hyang Sadashiva sudah menjelaskan kepada saya bahwasanya di jaman Kali Yuga ini, manusia sudah melupakan sifat dharma di dalam kehidupan kesehariannya. Sebagai contoh, di dalam dharma, dijelaskan ada tiga dasar dharma dalam kehidupan manusia yang harus dilaksanakan, yaitu : Filsafat, Etika dan Ritual. Jaman sekarang, manusia sudah banyak melupakan tiga dasar dharma itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber&lt;/span&gt;: Pinisepuh Agung&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-740442279069059407?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/740442279069059407/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/durga-dewi-2-moksha.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/740442279069059407'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/740442279069059407'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/durga-dewi-2-moksha.html' title='Durga Dewi 2 - Moksha'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-6713870118293147482</id><published>2009-11-15T23:26:00.001-08:00</published><updated>2009-11-24T13:25:25.010-08:00</updated><title type='text'>Durga Dewi 1 - Trisakti</title><content type='html'>Idha Bhatari Durga adalah perwujudan dewi kasih sayang yang melindungi alam semesta. Idha Bhatari Durga adalah perpaduan Siwa-Parwati, akan tetapi lebih condong menonjolkan sifat keibuannya atau kewanitaanya yang diperlihatkan, karena hanya ibu yang dapat memberikan kasih sayang kepada seluruh alam semesta ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran ibu di dalam kehidupan sehari-sehari sangatlah penting karena dalam tatanan kehidupan keluarga dan dalam kehidupan manusia, ibu adalah segala-galanya. Karena sosok wanita adalah sedemikian mulianya dalam tatanan manusia dan juga alam Dewa sehingga Shakti daripada para Dewa adalah istri dari para Dewa itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh:&lt;br /&gt;1. Sakti dari pada Dewa Brahma adalah Dewi Saraswati&lt;br /&gt;2. Sakti dari pada Dewa Wisnu adalah Dewi Laksmi&lt;br /&gt;3. Sakti dari pada Dewa Siwa adalah Dewi Parwati/Dewi Uma&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sakti-sakti para Dewa itu di atas disebut dengan Tri Sakti. Mengapa harus istri-istri para Dewa disebut sakti karena sakti yang paling tinggi atau yang paling mulia di alam semesta ini adalah kasih sayang. Karena kasih sayanglah alam semesta ini dapat terjaga dari kemurkaan dan ego dari energi-energi negatif alam semesta. Ketiga Dewi atau Sakti dari tiga Dewa atau Trimurti disebut Trisakti atau Gayatri Dewi, karena Sakti atau ketiga Dewi adalah yang memegang dan menguasai ketiga alam semesta, yaitu; Bhur, Bhuwah, Swah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasaan alam:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Bhur, dikuasai oleh Dewi Parwati yang disimbolkan sebagai Dewi yang menguasai budaya dan kesenian.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bwah, dikuasai oleh Dewi Laksmi yang disimbolkan sebagai Dewi yang menguasai hal-hal yang berhubungan dengan kesuburan.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Swah, dikuasai oleh Dewi Saraswati yang disimbolkan sebagai Dewi yang menguasai hal-hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peran Gayatri Dewi dalam kehidupan manusia dan alam semesta ini sangatlah penting oleh karena itu para Dewi ini harus sangat dihormati dan disembah karena para Dewi inilah yang menyeimbangkan alam semesta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, khususnya di Bali kata ‘sakti’ diidentikan dengan yang berbau mistik atau mejik atau seseorang yang mempunyai kemampuan mistik disebut sebagai ‘sakti’. Padahal dalam sastra dan kitab sutra mengatakan, sakti adalah ilmu pengetahuan yang paling tinggi dan sakti yang paling tinggi dan yang paling mulia adalah kasih sayang. Maka pada hakikatnya, kita sebagai manusia agar bisa memberikan kasih sayang kepada umat manusia lainnya dan juga alam semesta ini agar mendapat kedamaian dan ketentraman di bumi. Kita sebagai umat manusia hendaklah bisa berpikir positip selalu karena dari berpikir positip, kita, manusia, bisa memberikan kasih sayang kepada seluruh alam semesta ini. Pencerahan ini adalah sangatlah penting untuk umat, karena sesungguhnya Idha Bhatari Durga Dewi adalah yangg melindungi kita dari kematian dan kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perwujudan Idha Bhatari Durga adalah kesempurnaan perwujudan kasih sayang karena dari perwujudan Gayatri Dewi atau perpaduan ketiga Dewi (Sakti). Perwujudan Idha Bhatari Durga adalah yang paling sempurna, karena mempunyai kewenangan melindungi marcapada dari segala marabahaya dan kematian. Idha Bhatari Durga salahsatunya diwujudkan sebagai Dewi yang sangat cantik bernama Dewi Bertangan Seribu serta duduk di atas Singa. Di Bali, perwujudan tersebut dikenal dengan sebutan Dewi Durga Nawa Ratri, yaitu kemenangan dharma melawan adharma, yang dalam tatanan hari suci sering disebut dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Pada hari raya tersebut Dewi Durga Nawa Ratri sedang memenangkan dharma atau kebaikan dari sifat adharma atau kejahatan yang terjadi di alam semesta ini. Dan tepat di Hari Raya Kuningan adalah hari kebahagian untuk alam semesta karena Idha Bhatari Durga Dewi sedang turun ke bumi untuk melindungi para umatnya yang berbakti kepada Beliau serta menganugrahkan kasih sayang kepada seluruh alam mercapada dan isinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idha Bhatari Durga disebut juga sebagai Candi, dari sinilah pada mulanya timbul istilah Candi (Candikagrha) untuk menamai bangunan suci sebagai tempat memuja para Dewa dan roh yang dianggap suci. Serta, peran Idha Bhatari Durga dalam menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran baik moral dan perilaku disebut dengan KALIMOSADA (kali-Maha-Husada) yang artinya Dewi Durga adalah obat yang paling mujarab dalam Zaman kekacuan moral, pikiran dan perilaku. Misi Beliau turun ke bumi disebut KALIKA DHARMA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewi Durga dalam ajaran Tantra adalah Ibu kebajikan, dipuja tidak saja oleh para Dewa tetapi juga Iblis dan Setan. Sedangkan pada kisah Ramayana, juga diceritakan bahwa Rama memuja Dewi Durga untuk dapat membunuh Rahwana. Kemudian dalam kisah besar Mahabrata, Kresna memuja Dewi Durga untuk dapat mengalahkan Kurawa. Sedangkan Dewa Wisnu sendiri memuja Dewi Durga sebagai Yoga Maya-nya Wisnu. Dewi Durga juga dipercaya sebagai Mahamaya, akar sebab dan bentuk dunia, serta dalam Durga Saptathi, Durga memiliki 108 nama yang diyakini sebagai Ibu Pencipta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;bersambung... Durga Dewi 2 - Moksha&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-6713870118293147482?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/6713870118293147482/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/durga-dewi-1-trisakti.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/6713870118293147482'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/6713870118293147482'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/durga-dewi-1-trisakti.html' title='Durga Dewi 1 - Trisakti'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-7409800431671954994</id><published>2009-11-07T01:39:00.000-08:00</published><updated>2009-11-07T01:40:09.742-08:00</updated><title type='text'>Ida Bhatara Jogor Manik</title><content type='html'>Di Nusa Penida ada sebuah pura dengan nama pura Puncak Mundhi dan yang berstana adalah Ratu Ayu sebutan dari Ibu Durga Dewi yang menguasai kematian. Di sebelah pura Puncak Mundhi adalah pura Dalem yang bernama Pura Dalen Kerangkeng. Menurut Pinisepuh, Pura Dalem Kerangkeng adalah semacam penjara atau kerangkeng yang diperuntukkan bagi roh-roh manusia yang semasa hidupnya melakukan kejahatan atau untuk manusia yang berbuat jahat melebihi dari jahatnya para bebutan-bebutan atau buta kala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang melinggih di pura Dalem Kerangkeng adalah Ida Bhatara Jogor Manik. Ida mempunyai alat yang super canggih yang tidak dimiliki oleh manusia. Ida bisa melihat siapa dan dimana manusia itu berada serta apa yang dilakukannya. Ida Bhatara Jogor Manik juga adalah yang bertugas mencatat kapan waktu kematian seseorang di muka bumi ini. Dalam melaksanakan tatanan kewenangannya, Ida mempunyai empat pengawal yang akan bertugas menjemput dan mengantar roh-roh manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ida Bhatara jogor manik juga berstana di pura Dalem Puri, Besakih. Karena Ida mengetahui perbuatan-perbuatan manusia semasa hidup di bumi dan apabila waktu hidup dulu pernah membuat kejahatan melibihi kejamnya para bebutan-bebutan yang dikuasai oleh Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling maka roh manusia tersebut dari pura Dalem Puri langsung di antar ke pura Dalem Kerangkeng untuk menjalani sebuah hukuman tergantung dari berapa besar karma buruk yang diperbuat semasa hidupnya. Kalau roh manusia sudah sampai masuk ke dalam pura Dalem Kerangkeng maka manusia tersebut akan sulit untuk bereinkarnasi atau lahir kembali ke dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga pengetahuan ini tidak menjadi polemik, karena Sang Hyang Widhi Wasa dalam agama Hindu menurunkan berbagai macam manifestasi dan bermacam tugas jadi hormati dan hargailah Beliau sebagai penguasa kematian di jagat raya ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-7409800431671954994?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/7409800431671954994/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/ida-bhatara-jogor-manik.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/7409800431671954994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/7409800431671954994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/ida-bhatara-jogor-manik.html' title='Ida Bhatara Jogor Manik'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-1916095736393646381</id><published>2009-11-07T01:33:00.000-08:00</published><updated>2009-11-24T13:16:50.962-08:00</updated><title type='text'>Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling</title><content type='html'>Dari perkawinan I Renggan dengan Ni Merahim, lahirlah dua orang anak, satu laki-laki, yang satunya adalah perempuan. Yang laki-laki bernama I Gede Mecaling dan yang perempuan di beri nama Ni Tole, dan Ni Tole kemudian menjadi permaisuri Dalem Sawang yang menjadi raja di Nusa Penida. Sedang I Gede Mecaling mempunyai seorang istri yang bernama Sang Ayu Mas Rajeg Bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Gede Mecaling sangat senang melakukan tapa brata yoga semadhi di Ped, pengastawaanya ditujukan kepada Ida Bhatara Ciwa dan karena ketekunannya Ida Bhatara Ciwa berkenan turun ke bumi untuk memberikan panugrahan berupa Kanda Sanga. Kemudian, setelah mendapat panugrahan kanda sanga phisik I Gede Mecaling menjadi berubah. Badannya menjadi besar, mukanya menjadi menyeramkan, taringnya menjadi panjang, suaranya menggetarkan seisi jagat raya. Sedemikian hebat dan sangat menyeramkan, maka seketika itu juga jagat raya menjadi guncang. Kegaduhan, ketakutan, kengerian yang disebabkan oleh rupa, bentuk dan suara yang meraung-raung siang dan malam dari I Gede Mecaling membuat gempar di mercapada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dan mendengar yang demikian, para dewa pun ikut menjadi bingung karena tidak ada satu orang pun yang bisa menandingi kesaktian I Gede Mecaling. Bahkan sesungguhnya para dewa tidak ada yang bisa menandingi, tidak ada yang bisa mengalahkan kesaktian I Gede Mecaling yang bersumber pada kedua taringnya yang telah dianugrahkan oleh Ida Bhatara Ciwa. Akhirnya turunlah Ida Bhatara Indra untuk berusaha memotong taring I Gede Mecaling. Setelah taring I Gede Mecaling berhasil dipotong barulah I Gede Mecaling berhenti menggemparkan jagat raya. Setelah itu I Gede Mecaling kembali melakukan tapa brata yoga semadhi, pengastawanya di tujukan kepada Ida Bhatara Rudra dan Ida Bhatara Rudra pun berkenan turun ke bumi untuk memberikan panugrahan kepada I Gede Mecaling berupa panca taksu, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.  Taksu balian,&lt;br /&gt;2.  Taksu penolak grubug,&lt;br /&gt;3.  Taksu kemeranan,&lt;br /&gt;4.  Taksu kesaktian,&lt;br /&gt;5.  Taksu penggeger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Gede Mecaling menjadi raja setelah Dalem Sawang wafat karena berperang dengan Dalem Dukut. Dengan demikian I Gede Mecaling memimpin semua wong samar dan bebutan-bebutan yang ada di bumi. Juga pada akhirnya I Gede Mecaling diberi wewenang oleh Ida Bhatari Durga Dewi untuk mencabut nyawa manusia yang ada di bumi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I Gede Mecaling juga diberikan wewenang sebagai penguasa samudra. Karena menguasai samudra sering juga disebut Ratu Gede Samudra. Gelar I Gede Mecaling yang diberikan oleh Ibu Durga Dewi yaitu Papak Poleng dan permaisurinya Sang Ayu Mas Rajeg Bumi diberi gelar Papak Selem. I Gede Mecaling moksha di Ped dan istrinya moksha di Bias Muntig. Keduanya sekarang sebagai penguasa di bumi Nusa Penida dan mendapat wewenang sebagai penguasa kematian. Maka bagi umat yang ingin umurnya panjang, sehat, selamat dan lain-lain memohonlah kepada Beliau I Gede Mecaling yang akhirnya bergelar Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi karena sering ke Bali dan bertemu dengan Ida Bhatari Ratu Niang Sakti, akhirnya Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped juga menjadi Pengabih Ida Bhatari Ratu Niang Sakti. Tidak dapat dijelaskan pada tulisan ini alasan-alasan yang lebih khusus karena etika suci.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-1916095736393646381?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/1916095736393646381/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/ida-bhatara-ratu-gede-mas-mecaling.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/1916095736393646381'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/1916095736393646381'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/ida-bhatara-ratu-gede-mas-mecaling.html' title='Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-9099679116759890420</id><published>2009-11-07T01:28:00.000-08:00</published><updated>2009-11-08T07:18:19.894-08:00</updated><title type='text'>Silsilah Nusa Penida</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/Svbg3r09VuI/AAAAAAAAACs/yQ0z_fw-zS4/s1600-h/silsilah+nusa.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 343px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/Svbg3r09VuI/AAAAAAAAACs/yQ0z_fw-zS4/s400/silsilah+nusa.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5401752050339763938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ki Dukuh Jumpungan &gt;Melinggih: Pura Pucak Mundi &gt;Gelar: Bhatara Siwa&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ni Luh Puri &gt;Melinggih: Goa giri putri, Pura Batu Melawang dan Pura Pucak Mundi &gt;Gelar: Durga Dewi, Dewi Parwati, dll.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dewi Rohini &gt;Melinggih: Pura Goa Lawah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;I Merja &gt;Melinggih: Batu Bueya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ni Luna &gt;Melinggih: Pura Batu Banglas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;I Renggan &gt;Pura Bakung &gt;Gelar: Ratu Gede Pengrurah&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ni Merahim &gt;Melinggih: Pura Dalem Bungkut&lt;/li&gt;&lt;li&gt;I Mecaling &gt;Melinggih: Pura Dalem Ped &gt;Gelar: Papak Poleng, Ratu Gede Samudra, Ratu Gede Mas Mecaling&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sang Ayu Mas Rajeg Bumi &gt;Melinggih: Pura Dalem Bias Muntig &gt;Gelar: Papak Selem&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ni Tole &gt;Melinggih: Pura Penataran Agung, Padang bai &gt;Gelar: Ratu Ayu Mas Maketel&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dalem Sawang &gt;Melinggih: Pura Penataran Agung Padang Soma&lt;/li&gt;&lt;li&gt;I Gotra &gt;Melinggih: Pura Manik Mas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ni Lumi &gt;Melinggih: Pura Manik Mas&lt;/li&gt;&lt;li&gt;I Undur &gt;Melinggih: Pura Buhu&lt;/li&gt;&lt;li&gt;I Darmain &gt;Melinggih: Pura Sakenan &gt;Gelar: Papak Selem&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ni Diah Ranggaeni &gt;Melinggih: Pura Sakenan &gt;Gelar: Papak Selem&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ni Luh Nanda &gt;Melinggih: Pura Penida &gt;Gelar: Mas Manik Maketel&lt;/li&gt;&lt;li&gt;I Bangsul &gt;Melinggih: Perempatan bingin Lembongan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ni Ratmaya &gt;Melinggih: Pura Ancak Sari&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Dewi Rohini &gt;Melinggih: Pura Goa Lawah&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;br /&gt;Di Nusa Penida, masih banyak yang melinggih, diantaranya adalah:&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;Ida Bhatara Jogor Manik&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Bhatari Ratu Niang Sakti&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ida Bhatara Ratu Bagus Ketut&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ratu Gede Dalem Bungkut&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-9099679116759890420?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/9099679116759890420/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/silsilah-nusa-penida.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/9099679116759890420'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/9099679116759890420'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/11/silsilah-nusa-penida.html' title='Silsilah Nusa Penida'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/Svbg3r09VuI/AAAAAAAAACs/yQ0z_fw-zS4/s72-c/silsilah+nusa.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-5998129757060119311</id><published>2009-10-27T18:24:00.000-07:00</published><updated>2010-05-15T04:33:59.231-07:00</updated><title type='text'>Kisah Dalem</title><content type='html'>Kisah ini menceritakan konsep kehidupan manusia dan prilaku persembahyangan sehari-hari serta adanya konsep Dalem dalam tatanan kehidupan manusia. Perenungan dan komunikasi yang diterima oleh Pinisepuh adalah sangat rumit untuk dijelaskan dan penyajian ini disederhanakan untuk memudahkan pemahaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Kisah Dewata Nawasanga&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ida Bhatara Lingsir Hyang Pasupati atau Acintya atau Hyang Tunggal serta sebutan Hyang Widhi yang lain --&gt;  dikenal juga dengan Ardhanareswari atau Ciwa Budha atau dwi tunggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari dwi tunggal kemudian tercipta Trimurti yaitu: Hyang Gnijaya (Brahma), Dewi Dhanu (Wisnu) dan Ida Putranjaya (Ciwa). Trimurti ini adalah Leluhur manusia Bali (mengingat Trimurti ini berstana di Bali).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Trimurti kemudian berkembang kehidupan manusia di Bali oleh karena Hyang Gnijaya yang berstana di Lempuynag Luhur menurunkan Panca Tirtha atau Panca Dewata yaitu: Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan dan Mpu Bradah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dari keturunan Mpu Bradah yang melanjutkan konsep Ciwa Budha yang telah digubah dan diciptakan oleh Mpu Kuturan adalah Ida Pedanda Sakti Wau Rauh atau Dhang Hyang Niratha yang kemudian menyusun konsep Dewata Nawasanga yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wisnu – penguasa arah utara – Pura Batur&lt;br /&gt;Sambhu – penguasa arah timur laut – Pura Besakih&lt;br /&gt;Iswara – penguasa arah timur – Pura Lempuyang.&lt;br /&gt;Maheswara – penguasa arah tenggara – Pura Goa Lawah.&lt;br /&gt;Brahma – penguasa arah selatan – Pura Andakasa.&lt;br /&gt;Rudra – penguasa arah barat daya – Pura Uluwatu.&lt;br /&gt;Mahadewa – penguasa arah barat – Pura Batukaru.&lt;br /&gt;Sangkara – penguasa arah barat laut – Pura Puncak Mangu.&lt;br /&gt;Siwa – penguasa arah tengah – Pura Besakih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konsep Dewata Nawasanga ini adalah merupakan konsep pemujaan yang tertinggi dalam tatanan atau prilaku persembahyangan pada kehidupan sehari-hari. Tetapi konsep ini lebih diarahkan secara umum hanya dalam hal bagaimana manusia menjalani kehidupannya agar mendapat restu pada semua bidang seperti hubungan kemasyarakatan atau pergaulan sosial, pencapaian-pencapaian kekayaan, kebendaan, hal-hal yang berbau materi dan kemakmuran, serta semua yang berhubungan dengan keduniawian, keselamatan manusia secara umum atau yang bersifat alam skala atau nyata pada kehidupan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kisah Dalem&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain yaitu di Nusa Penida, Hyang Pasupati kemudian menciptakan konsep pengaturan alam niskala manusia yang berhubungan dengan nyawa, kematian, kesehatan, sakit, obat, hidup setelah mati, penguasaan buta kala, wong gamang, wong samar dan lain-lain. Konsep inilah yang kita kenal sebagai Dalem. Atau sederhananya keseharian manusia dinamakan sebagai di luar diri manusia atau bisa dikatakan sebagai skala, sedang niskala dari manusia itu adanya di dalam atau Dalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menegaskan konsep skala dan niskala, Ida Mpu Kuturan telah membuat satu karya yang disebut Triloka yaitu Pura Dalem, Pura Desa dan Pura Puseh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pura Dalem adalah konsep pemujaan yang berhubungan dengan niskala manusia atau yang berada di dalam, sedang Pura Desa dan Puseh adalah konsep yang disebut sebagai di luar atau yang berhubungan dengan keseharian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Proses penciptaan konsep Dalem ini dimulai dengan turunnya Ida Bhatara Hyang Pasupati dengan wujud Siwa dan menitis kepada manusia yang bernama Ki Dukuh Jumpungan serta turunnya Dewi Parwati dengan menitis kepada Ni Luh Puri yang merupakan istri dari Ki Dukuh Jumpungan. Keturunan dari Siwa-Parwati ini disebut dengan Dalem serta pada saat yang sama diakui pula bahwa siapapun yang mempunyai garis keturunan dari Ida Bhatara Siwa adalah dikatakan sebagai keturunan Dalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, salah satu dari keturunan Dalem yang sangat berjasa dalam mengembangkan konsep Dewata Nawasanga adalah Ratu Gede Dalem Ped yang menjadi raja pada masanya setelah Dalem Sawang wafat. Dewata Nawasanga ini dikembangkan lagi menjadi yang disebut dengan Dasa Mantra yang sangat terkenal, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang atau sering juga disingkat menjadi Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya. Dasa Mantra ini adalah pengayatan atau pengastawaan kepada Ida Bhatara Siwa atau Dalem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian keturunan dari Mpu Soma Kepakisan yaitu Sri Aji Dalem Kresnha Kepakisan yang disebut-sebut sebagai yang mempunyai darah Satria dan darah Dalem atau sering dikenal sebagai keturunan Satria Dalem pada saat sebagai Raja Klungkung mengembangkan lagi konsep yang mencirikan keturunan Satria Dalem. Pengembangan tersebut datang dari konsep Dewata Nawasanga ditambahkan dengan konsep Trimurti. Ciri-ciri dapat ditemukan pada keberadaan meru tumpang sebelas di suatu pura atau Merajan Agung suatu puri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang aneh dari konsep ini, sepanjang pengamatan seputar puri-puri, yang mempunyai meru tumpang sebelas di Merajan Agung ini hanya ditemukan di Jeroan Agung Pengastulan, Seririt, Buleleng yaitu asal dari Pinisepuh Agung Yudistira. Ada satu puri pada masa lalu mencoba membangun dan mendirikan meru tumpang sebelas tetapi setelah jadi disambar petir. Kemudian diketahui bahwa tidak boleh mendirikan meru tumpang sebelas kalau bukan dari keturunan Satria Dalem yang sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti yang diketahui oleh umum bahwa yang berstana dan yang paling berwenang dalam konsep Dalem adalah Dewi Durga atau Ida Bhatari Durga. Penyatuan dari Siwa-Parwati adalah Dewi Durga. Konsep Dalem lebih mengedepankan sosok seorang wanita atau Ibu karena Ibu adalah sosok yang dianggap lebih penyayang, sangat adil sehingga setiap permintaan dari anak akan bisa dikabulkan serta mempunyai sifat welas asih dan sifat welas asih ini adalah sifat Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menjalankan kewenangan dan tata laksana Dalem, Ida Bhatari Durga mempunyai pengabih utama adalah Ratu Gede Dalem Ped atau Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling, Ida Bhatari Ratu Mas Maketel (adik dari Ratu Gede Dalem Ped), Ida Bhatara Ratu Bagus Ketut dan Ida Bhatara Jogor Manik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wewenang Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling adalah diantaranya mencabut nyawa manusia. Wewenang dari Ida Bhatari Ratu Ayu Mas Maketel adalah memberi restu kepada yang mengejar ilmu hitam seperti ilmu leak/liak (linggih ulian aksara) dan ilmu pengiwa. Wewenang dari Ida Bhatara Ratu Bagus Ketut adalah sebagai Dewa Rare Angon dan juga mencabut nyawa anak-anak. Wewenang dari Ida Bhatara Jogor Manik adalah yang menentukan waktu kematian dan menempatkan roh di mana menetap nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian pengetahuan ini saya ceritakan dengan sangat singkat dari penuturan Pinisepuh dengan harapan umat Ciwa Budha paham sejatinya tatanan dan konsep pemujaan di Dalem yang telah disusun oleh Beliau Ida Mpu Kuturan pada karya nyata yaitu konsep Triloka. Dengan pengetahuan ini kita menjadi tahu bahwa, misalnya kalau memohon keselamatan dan umur panjang untuk anak-anak mestilah ‘ngayat’ Ida Bhatara Ratu Bagus Ketut, dan lain lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam artikel lain akan lebih dijelaskan lagi mengenai Beliau-Beliau Ida Bhatara yang berwenang dalam konsep Dalem ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Catatan&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;Ida Bhatara Jogor Manik dan Ida Bhatara Ratu Bagus Ketut adalah Bhatara yang benar-benar hanya terwujud di Niskala dan tidak pernah menitis kepada manusia. Juga, pada kenyataan kehidupan manusia, semua Ida Bhatara memiliki kemampuan Trimurti dalam arti sempit yaitu kita boleh memohon apa saja kepada Ida yang mana saja. Dua konsep ini hanyalah memberi pengetahuan bagaimana sebenarnya kehidupan manusia ini diatur oleh alam niskala.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-5998129757060119311?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/5998129757060119311/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/10/kisah-dalem.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/5998129757060119311'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/5998129757060119311'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/10/kisah-dalem.html' title='Kisah Dalem'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-5330560678969755385</id><published>2009-10-22T21:17:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T22:35:33.565-07:00</updated><title type='text'>Bhisama Ida Bhatara Gunung Agung</title><content type='html'>Bhisama ini di tulis untuk mengingatkan kepada warih-warih dari Ida Bhatara Hyang Pasupati yang ada di Bali agar tetap menjaga banten sebagai upacara yadnya dan tetap menjaga upacara Panca Wali Krama di Besakih agar Bali tetap di jaga oleh para Dewata.&lt;br /&gt;Isi daripada Bhisama tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hana ling Bhatara Putranjaya ring Basukih, uduh sang Aji Bali, prayatna sira ngemit praja mandala. Bakti ring sang sarwa dewa ring negara krama. Yan hana wwang ring panegara krama kena cukilan daki, gring tan wenang sinambat reh jadma kena sapadrawaning Dewata. Aywa ring desa pakraman genahning. Yan sang ratu tan mituhu ring pawarahku, Aku mulih ring Mahameru ring Jawi, angadagakan sasab merana ring sarwa jagat. Mangkana ling bhatara mungguing Widhi Sastra.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mwah yan sira punggawa ratu ring Bali Rajya yang sira nora ngawe pada tawur agung ring panguluning jagat ring Basukih. Ngalimang tahun panca wali krama, wastu gumi nira kali tan pegat idepku anaut uriping manusa angadakang gring tatumpur sasab merana tekaning dipania majengilan ring kadang tunggalannia masatru-satru lawan kadangnia yadian hana mangarcana aku, tan mantuk Aku maring basukih, Aku matilar maring giri Bali mantuk ring giri Mahameru. Tan kayun malih kasungsung dening manusa loka, apan manusa loka apa jadma sang kala katung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arti dari Bhisama:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;Nira Bhatara Putranjaya di Besakih, yang menjaga bumi Bali, yang menjaga jagat Bali. Kalau berbakti masalah-masalah kenegaraan berbaktilah kepada-Ku. Kalau negara kena kekotoran seperti grubug, sakit, kena susah atau kena masalah-masalah seperti tersebut berarti manusia kurang bakti kepada Nira Bhatara Putranjaya. Nira, Bhatara Putranjaya juga ada di desa Pekraman. Siapapun pemimpin Bali yang tidak mendengarkan arah-arah,  Nira, Bhatara Putranjaya akan kembali ke Mahameru di Jawa. Kemudian jagat Bali akan merana, baik manusia yang tidak salah apalagi yang salah semua akan kena akibatnya. Ini semua sudah ada di dalam Widhi Sastra.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153); font-weight: bold;"&gt;Siapapun pemimpin atau wakil-wakil Bali yang mau membuat upakara Tawur Agung, bebantenan, mecaru di Besakih setiap lima tahun sekali atau Manca Wali Krama di bumi Bali, maka Nira Bhatara Putranjaya tidak akan pernah berhenti menjaga kehidupan manusia dari sakit, hidup merana  dan bencana. Menjaga bumi Bali ini dari musuh-musuh manusia, segala bencana atau musibah. Nira Bhatara Putranjaya yang berwenang menjaga gumi Bali dan tidak akan pergi meninggalkan Bali. Tetapi manakala semua upakara, yadnya,  Tawur Agung serta bebantenan tidak dilaksanakan lagi di Bali, Nira Bhatara Gunung Agung akan kembali ke Mahameru. Tidak akan mau lagi disungsung oleh manusia. Maka semua manusia di Bali akan dimakan sang kala Katung.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sumber Dharma tanpa sastra&lt;/span&gt;: dari perenungan dan komunikasi Pinisepuh dengan Ida Bhatara Gunung Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh mengatakan, kita di Bali kepercayaan atau ajaran adalah berasaskan sastra yang digubah atau disempurnakan dari kitab Weda (Hindu) dan kitab Sutra (Budha). Ajaran-ajaran ini digubah oleh para Mpu-mpu kita yang sangat sakti menjadi Ciwa Budha serta sudah terbukti di Bali, Beliau-beliau banyak yang menjadi moksha. Bukankah moksha ini yang dikejar dalam melakukan olah spiritual dan merupakan bagian paling tinggi dari mempercayai Panca Sradha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Panca Sradha:&lt;br /&gt;1.    Brahman:  Keyakinan terhadap adanya buana agung&lt;br /&gt;2.    Atman: Keyakinan terhadap buana alit&lt;br /&gt;3.    Karmaphala: Keyakinan pada hukum sebab akibat&lt;br /&gt;4.    Samsara: Keyakinan pada kelahiran kembali atau reinkarnasi&lt;br /&gt;5.    Moksha: Keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dalam proses pencapaian itu, khususnya di alam Bali sudah ada Widhi Sastra yang harus dipenuhi salah satunya yaitu adanya persembahan-persembahan yadnya dengan banten,  tujuannya tak lain adalah untuk menjaga keseimbangan alam Niskala itu sendiri. Kalau alam Niskala sudah seimbang maka pencapaian spiritual yang tertinggi pun mendapat restu. Maka dari itu, salah satu kesadaran yang harus dipupuk oleh setiap individu terutama umat Hindu Dharma di Bali adalah menjaga dan melaksanakan Bhisama Ida Bhatara Gunung Agung. Dunia boleh modern tetapi prilaku spiritual di Bali tetap diatur oleh Bhisama Ida Bhatara. Kalau ditinggalkan hancurlah bumi Bali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Seruan bagi pelaku spiritual&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain adanya Bhisama Ida Bhatara Gunung Agung untuk umat Bali pada umumnya, masih ada Bhisama Ida Bhatara yang melinggih di Pura Lempuyang Luhur bagi umat secara khusus, yang mengejar pencerahan dalam spiritual. Silahkan dibaca &lt;a href="http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/bisama-ida-betara.html"&gt;Bhisama Ida Bhatara Lempuyang Luhur&lt;/a&gt; agar usaha Anda tidak sia-sia melakoni spiritual atau menjadi penekun spiritual dengan tujuan untuk mencapai pencerahan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-5330560678969755385?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/5330560678969755385/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/10/bhisama-ida-bhatara-gunung-agung.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/5330560678969755385'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/5330560678969755385'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/10/bhisama-ida-bhatara-gunung-agung.html' title='Bhisama Ida Bhatara Gunung Agung'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-3190752125616351326</id><published>2009-09-29T17:31:00.000-07:00</published><updated>2009-10-18T01:35:33.974-07:00</updated><title type='text'>Pinisepuh 9 - Selesai</title><content type='html'>Seri Pinisepuh saya tulis untuk menggambarkan kenyataan yang tengah dilakoni oleh Pinisepuh sebagai abdi dari kerajaan Majapahit atau sebagai pejuang kebangkitan Ciwa Buhda, atau sebagai abdi dari Ida Bhatara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan ini bukan bertujuan untuk memamerkan semua yang ada pada diri Pinisepuh, bahkan awalnya Pinisepuh tidak mau untuk dibuatkan kisah seperti ini. Tetapi sebagai umat, saya mengajak Anda untuk sama-sama memahami bahwa di tengah situasi seperti ini Beliau Ida Bhatara telah memberi seorang Pinisepuh yang merupakan salah satu yang akan memberi peringatan-peringatan akan terjadinya sesuatu di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah sebelum flu Babi muncul Pinisepuh memberitahu bahwa akan ada penyakit baru masuk ke Dunia. Kemudian untuk pertama kali dalam pengalaman Pinisepuh, petapakan Tapel Ida Dalem Sidakarya ‘ngamedalang’  Paica Tirta dan mesti disiratkan ke halaman rumah masing-masing agar selamat dari marabahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi dengan bekal kemampuan sebanyak yang dimiliki oleh Pinisepuh, dalam benak saya menduga-duga, pastilah ada suatu peristiwa sangat besar akan terjadi di Nusantara pada masa-masa yang akan datang. Sehingga seorang pejuang seperti Pinisepuh harus dipersiapkan dengan berbagai kemampuan. Namun menurut Pinisepuh, Ia bukanlah satu-satunya yang dipersiapkan dan mendapat restu. Banyak yang sudah mendapat restu tetapi mereka masih bersembunyi dan pada saatnya akan muncul di tengah-tengah masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Orang-orang sakti dan misteri Satrio Piningit&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pinisepuh, selain dirinya ada orang-orang lainnya dipersiapkan untuk kebangkitan Ciwa Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka-mereka yang dipersiapkan tersebut adalah orang-orang sakti dengan kemampuan bisa mengendalikan alam. Jumlahnya juga cukup banyak dan tersebar di seluruh wilayah Bali dan Nusantara. Mereka adalah pelaku-pelaku spiritual yang telah mendapat pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedemikian hebatnya cerita orang-orang sakti tersebut dan sampai mampu mengendalikan alam. Dan kalau itu benar berarti akan sungguh-sungguh ada kejadian yang sangat dahsyat suatu hari nanti. Apakah ada hubungannya dengan kebangkitan Ciwa Budha seperti yang telah disebut-sebutkan dari cerita Sabdapalon dan Nayo Genggong atau Sang Hyang Ismaya? Atau kita mengenalnya sebagai Tualen dan Merdah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang sakti tersebut bisa mengendalikan alam. “Apakah semacam bisa nerang hujan, Gung?”. Tanya saya suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nerang hujan itu bukan mengendalikan alam. Lebih daripada itu kata Pinisepuh. Mereka sudah punya tugas masing-masing. Seperti saya harus mengajak umat dari sekarang agar lebih rajin bersembahyang memuja Leluhur dan menjaga budaya ini agar lestari. Mengembangkan dan menjelaskan lagi dengan benar tentang Ciwa Budha kepada yang belum paham. Tujuan dari ini semua yaitu agar terbebas dari sortir alam nantinya, entah kapan karena masih dirahasiakan, tetapi katanya saat itu sudah dekat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak jelas siapa yang merahasiakan. Ida Bhatara yang merahasiakan atau Pinisepuh yang merahasiakan kepada saya. Tentu ini termasuk yang ada dalam ‘perjanjian suci’ yang tidak boleh dibongkar rahasianya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian dalam satu kesempatan saya bertanya: “Kalau benar ada sortir alam, bagaimana untuk bisa lolos dari sortir tersebut?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buatlah karma baik sebanyak-banyaknya agar bebas dari sortir alam, susah diceritakan kenapa ada sortir alam tetapi percayalah Leluhur tidak pernah bohong. Itu kata Pinisepuh. Lalu apakah hanya umat Ciwa Budha yang diselamatkan? Lantas yang lain bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya sabarlah, kita tunggu saat itu. Agar bisa menyaksikan saat itu mulailah mendekatkan diri kepada Ida Bhatara. Lakukan meditasi agar mendapat sinar dari para Leluhur”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah ini bisa gawat, pikir saya. Berarti orang-orang selain Ciwa Budha bakal celaka ya? Kalau merujuk cerita Sabda Palon ya begitu, hanya yang berbudhi (budha) yang masih tinggal. Yang lain diapakan? Atau manusia yang ngakunya saja Ciwa Budha tetapi tidak punya budhi apakah juga akan tidak selamat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu apa tugas dari orang-orang sakti tersebut?”, tanya saya suatu hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya tentu mereka akan menjaga dan juga menyelamatkan yang perlu diselamatkan karena nanti bumi nunsantara ini akan bergejolak. Berbagai bencana telah diciptakan, berbagai sakit telah disebarkan dan berbagai cara pemusnahan manusia yang berkhianat pada Ciwa Budha sudah disiapkan dan akan dilaksanakan bilamana waktunya tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu apakah ini berarti umat selain Ciwa Budha akan musnah?”, tanya saya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak seperti demikian. Banyak dari mereka selamat. Mereka tetap dengan keyakinannya tetapi juga akan mempunyai budi pekerti dan mempercayai adanya Leluhur serta Budaya yang harus dijunjung demi kebangkitan Bangsa dan Budaya sendiri. Lama-lama mereka akan sadar bahwa tidak ada paham atau kepercayaan di dunia yang mengantarkan manusianya mencapai moksha selain Ciwa Budha. Demikian pula dengan manusia di Bali walau masyarakat Ciwa Budha tetapi hatinya tidak berbudhi akan mengalami keadaan yang adil pada saatnya tiba. Saya tidak mengatakan mereka dimusnahkan karena bukan tugas saya mengatakan itu tetapi saya meyakini satu kebangkitan yang menyeluruh dan tentulah sangat adil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apakah saat itu juga akan ada Satrio Piningit seperti yang telah diceritkan dari jaman dulu atau apakah Satrio Piningit benar-benar ada nanti pada saatnya tiba?”, rasa penasaran saya terus menggebu ingin mengetahui banyak hal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya. Satrio Piningit benar-benar ada. Ia adalah seorang sakti yang bebas dari teluh dan trangjana. Tidak dapat disakiti oleh kekuatan apapun. Ia adalah yang mewakili sifat &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kedharmaan&lt;/span&gt;. Tidak pengiwa dan tidak panengen. Berada di tengah-tengah. Kedatangan Satrio piningit akan membawa sebuah pedang yang seharusnya berpasangan dengan keris. Saat itu Ia muncul cuma membawa pedang dan akan datang ke seseorang yang sangat penting di Nusantara dan menanyakan pasangan pedang tersebut yaitu berupa keris. Orang penting yang menyimpan keris pasangan dari pedang yang dibawa Satrio Piningit tersebut akan mengenali Satrio Piningit itu asli apa palsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satrio Piningit muncul sebagai Panglima atau sebagai pemimpin yang berkuasa saat itu. Ia adalah yang disebut Ratu Adil. Dengan munculnya Ratu Adil, Niskala beserta orang-orang sakti di Nusantara seperti mendapat komando dan akan mengerti skenario apa yang akan terjadi berikutnya pada Nusantara. Seperti sudah merupakan rentetan satu kejadian, maka dengan kemunculan Satrio Piningit inilah akan menyempurnakan kejadian-kejadian di Nusantara. Susah untuk dijelaskan lebih jauh karena terbentur etika suci. Tetapi, situasi nanti benar-benar akan berubah seratus delapan puluh derajat. Perubahan ini pertanda zaman Kali Yuga segera berlalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih penasaran dengan orang-orang sakti tersebut saya bertanya kembali: “Oh ya Gung, apa Agung saling kenal dengan orang-orang sakti yang diceritakan tersebut?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka semua tidak saling kenal termasuk mereka juga tidak mengenal saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tapi kenapa Agung tahu mereka ada. Berarti Agung tahu mereka itu ada di mana?”, tanya saya yang tidak bisa ‘ngerem’ untuk terus bertanya mendengar cerita tentang mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh tersenyum dengan pertanyaan saya. Ia tahu kalau saya tentu bercanda dengan pertanyaan ini. Tetapi Pinisepuh menjawab juga. Saya menceritakan tentang mereka sudah tentu saya tahu siapa mereka. Sudah jangan tanya itu lagi. Tunggu saja saat-saat itu. Tetapi sebenarnya, jangan hanya menunggu Ida Sabdapalon bekerja sendiri. Ikut juga berjuang agar kebangkitan ini lebih cepat terjadinya. Misalnya dengan cara lebih rajin melakukan kegiatan spiritual. Dengungkan keberadaan konsep pemujaan Ciwa Budha. Karena belakangan ini orang-orang sudah beralih ke ajaran Sekte. Mereka tidak salah karena yang disembah adalah manifestasi Ida juga. Tetapi kembali kepada Bisama Ida Bhatara Gunung Agung; Jangan sampai masyarakat Bali meninggalkan ‘banten’ sebagai sarana upacara agar tidak ikut celaka di kemudian hari, manakala peristiwa besar kebangkitan Ciwa Budha terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pinisepuh, sepertinya peristiwa kebangkitan ini sudah sangat dekat. Sudah ada kasak-kusuk. Tanda-tandanya adalah bencana-bencana yang terus terjadi. Seperti yang diungkapkan oleh Ida Sabdapalon bahwa kembalinya Ida akan membawa banyak musibah. Salah satunya adalah bencana alam yang akan menrenggut umat manusia yang kukuh tidak percaya kepada Leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan ada semacam sortir manusia dengan berbagai cara di Nusantara seperti bencana alam dan musibah. Yang tidak kena musibah bencana alam, mereka akan dimasuki oleh roh-roh korban kekejaman masa lalu yang menyebabkan mereka saling bunuh-membunuh antar saudara sendiri. Ya, mereka yang mengkhianati Ciwa Budha akan saling bunuh membunuh. Sedang yang lolos dari sortir kekejaman di atas maka berikutnya akan ada pakeblug atau gerubug. Ada penyebaran penyakit menular yang sangat dahsyat. Sekarang tertular nanti sore meninggal. Tetapi yang kembali ke jalan Ciwa Budha dan percaya dengan keberadaan Leluhur akan selamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau demikian adanya bukankah ini namanya balas dendam? Hanya sifat Ciwa yang menghacurkan yang berjalan? Lalu di mana letak welas asih Budha yang punya sifat dharma?”, tanya saya menggali lebih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ida Sabdapalon adalah pada tingkatan Sadaciwa. Sedang manusia suci yang moksha saja diberi kemampuan mencipta, melindungi dan menghancurkan. Bukankah yang selamat adalah bagi mereka yang sadar bahwa Nusantara ini dulunya adalah orang-orang yang berbudi? Juga sudah diungkapkan dalam sastra Sabdapalon yang akan kembali dalam 500 tahun. Mestinya mereka sadar akan peringatan itu. Jangan setelah terjadi musibah dan bencana baru mempertanyakan sifat welas asihnya. Ini namanya sifat manusia yang mau menang sendiri!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Berakhirnya Kali Yuga&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;“Lalu apa yang terjadi setelah Nusantara ini kembali menjadi Ciwa Budha?”, tanya saya lagi suatu hari pada Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat tersebut, zaman Kali Yuga sudah berakhir. Slogan ‘gemah ripah loh jinawi’ berangsur-angsur akan benar-benar dinikmati oleh umat Ciwa Budha di Nusantara. Akan ada era baru bagi peradaban manusia. Manusia akan terus ber-evolusi dan Nusantara sedang mengalami era spiritual. Spiritual akan menjadi sesuatu yang sangat berharga akan tetapi mempunyai sifat yang lebih pribadi. Tidak seperti pada era Kali Yuga dimana peningkatan spiritual sedemikian cepat agar yang mencapai pencerahan membantu yang lain agar juga mencapai pencerahan. Saat itu manusia sudah hampir semua mengalami pencerahan seperti orang-orang indigo yang kita kenal sekarang. Tapi itu masih lama, yang terpenting kejarlah yang terdekat dulu, yaitu usahakan selamat dari sortir alam ini dahulu. Tingkatkan kebaktian. Pujalah Ciwa Budha. Setidaknya ada 3 hal penting dalam melakukan pemujaan kepada Ciwa Budha, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;•    Melakukan Yadnya dengan sarana banten&lt;br /&gt;•    Memohon kepada Ida Bhatara&lt;br /&gt;•    Meningkatkan budhi pekerti di dalam diri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kisah Pinisepuh ini saya susun atas perkenan dan cerita Pinisepuh sendiri, serta teman-teman anggota Paguyuban Dharma Giri Utama yang sudah lebih dulu bergabung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pak Puh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jauh hari sebelum mengenal Pinisepuh, dari sisi berbeda saya bertemu dengan seseorang di Jawa, yang bisa menceritakan kejadian yang sama dan menguatkan cerita seperti yang diceritakan oleh Pinisepuh. Yaitu tentang bangkitnya Ciwa Budha. Orang sana juga menyebutnya pak Puh atau singkatan dari ‘sepuh’, sepuh artinya dituakan. Pak Puh yang ini umurnya juga sangat muda dan Ia adalah seseorang yang ada hubungan dengan raja-raja dari Kutai, Kalimantan, yang menganut Hindu Kaharingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Puh juga mengenal orang-orang sakti dengan kemampuan mengendalikan alam. Pak Puh mengatakan mereka bersaudara sebanyak 12 orang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah suatu kebetulan atau memang sudah diatur saya mendapat hubungan aneh dengan orang yang mengenal orang-orang sakti seperti tersebut. Suatu ketika di daerah Gianyar, Bali, saya bertemu dengan seorang teman yang wikan dan pernah didatangi orang yang bisa terbang. Karena saya lebih dulu mendengar tentang cerita orang terbang dari pak Puh, teman dari Gianyar ini saya pertemukan dengan pak Puh. Teman ini menceritakan ciri-ciri orang terbang tersebut. Kemudian diketahui bahwa orang terbang ini adalah disebut sebagai Panglima... tidak boleh diceritakan sebutannya. Dalam pertemuan itu juga terkuak cerita-cerita seru bahwa salah satu saudara orang sakti tersebut juga berada di Banten, Jabar, dan kalau berkunjung ke Pak Puh datang dengan cara terbang. Ini diceritakan oleh salah satu murid dari pak Puh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita yang lain yaitu, salah satu orang sakti yang menguasai roh-roh gentayangan atau jin yang berada di Alas Purwo Banyuwangi akan membuka kunci pintu setan dan jin tersebut bila saatnya tiba. Lalu setelah waktunya tiba mereka diperintahkan untuk melakukan tugasnya yaitu memasuki manusia-manusia pengkhinat Hindu agar saling bunuh-membunuh antar saudara mereka sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang sakti yang lain adalah yang menguasai penyakit. Bila saatnya tiba orang sakti ini akan menyebarkan penyakit ke seantero Nusantara. Bukan saja di Nusantara tetapi juga dunia! Penyakit yang akan disebarkan adalah penyakit menular yang sangat dahsyat yaitu, kalau sekarang tertular dalam waktu 4 jam akan mangalami kematian atau pagi sakit sore akan meninggal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mempunyai cerita yang sama dari dua sumber berbeda adalah memberi keyakinan kepada saya bahwa memang sebentar lagi Nusantara ini akan berubah karena Ciwa Budha akan bangkit kembali di Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kisah aneh pak Puh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah seorang murid pak Puh yang juga saksi dari keanehan ini menceritakan suatu kejadian yang tidak terlupakan karena ceritanya sangat aneh dan tidak masuk akal kepada saya. Nama murid ini adalah Kento dan sering dipanggil Tole Kento. Tetapi dalam sehari-hari dipanggil Ten, oleh pak Puh. Ten adalah sebutan untuk remaja usia kawin atau Ten itu maksudnya ‘manten’ atau artinya kawin. Jadi dalam pandangan pak Puh, Tole Kento ini masihlah sangat muda. Tetapi kenyataan sebenarnya pak Puh yang tampak lebih muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Puh sebenarnya adalah orang Jawa karena lahir dari orang tua Jawa dan suku Jawa. Lahirnya juga di Jawa, tetapi untuk beberapa lama pak Puh tinggal di Kalimantan dan beristrikan seorang wanita dari suku Dayak yang menganut Hindu Kaharingan. Pada tahun 2007 yang lalu Tole Kento diajak pergi ke Kalimantan oleh pak Puh. Di Kalimantan, Tole Kento diajak jalan-jalan di Samarinda, dan juga di pedalaman Kalimantan. Pada suatu hari diajak mampir ke rumah seorang ibu. Ibu tersebut menceritakan bahwa pak Puh adalah salah satu anak laki-lakinya yang merantau ke Jawa. Tentu saja Tole Kento merasa aneh karena Ia tahu benar bahwa pak Puh adalah orang Jawa. Ibu itu menyodorkan sebuah photo tua cetakan tahun 1970, dan yang membuat kaget Tole Kento, Ibu tersebut berphoto dengan pak Puh. Wajah pak Puh di photo tersebut adalah persis wajah pak Puh sekarang ini (maksudnya tahun 2007) tidak lebih muda. Padahal kenyataannya sekarang saja umurnya baru 30 tahun.  Tole Kento dibuat pusing dengan cerita aneh tersebut. Memendam yang Ia tahu tentang pak Puh sebagai orang Jawa karena rasanya tidak mungkin memperdebatkan hal tesebut dengan Ibu, karena ada bukti photo dan cerita-cerita yang mendukung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun terakhir, bulan Maret lalu adalah pertemuan saya terakhir dengan mereka, karena mereka kembali ke Kalimantan dan sekarang saya kehilangan kontak. Tetapi sebelum berpisah saya mendapat cerita, yaitu Nusantara ibaratnya sudah dibuat peta ulang. Pada saatnya tiba beberapa daerah akan hilang dan tenggelam. Nusantara akan hancur dulu sebelum kembali menjadi Nusantara yang ‘gemah ripah loh jinawi’. Orang-orang sakti sudah bersiap-siap, sepertinya waktu kebangkitan jaman Hindu sudah dekat. Mereka tidak menyebut Ciwa Budha tetapi Hindu. Kata pak Puh, untuk memenangi situasi ini haruslah lebih serius menjalani sembahyang. Menyembah Hyang atau Leluhur. Agar bisa menyaksikan orang-orang yang menyebut Hindu sirik habis dihancurkan bencana, musibah, merana, sakit dan yang tersisa akan dimakan jin dan setan alas Purwo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi demikian cerita pak Puh tentang Nusantara ini jauh hari sebelum saya bertemu dengan Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya menemukan pak Puh tidak sengaja karena urusan barang antik dan dengan jalan cerita yang sangat ruwet serta berbelit-belit. Entah bagaimana kejadiannya, saya lupa tetapi pada akhirnya tertuntun sampai ke rumah pak Puh. Saat pertama kali bertemu dengan pak Puh, Ia sudah tersenyum dan langsung mengatakan bahwa saya tidak cocok bekerja barang antik atau pusaka. Sebenarnya bukan saya yang mencari barang pusaka atau barang antik tapi seorang teman dan saat itu saya mengantar teman ini berkeliling Jawa Timur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan kedua saya dengan pak Puh, Ia meminta saya menunjukkan kedua tangan saya dan menyuruh pula membuka topi. Ia bertanya, siapa yang membuat rajah di tangan dan di dahi saya. Tentu saja saya kaget sekali. Ini mengingatkan saya ke masa lalu yang terus didera sakit-sakitan non medis oleh perbuatan orang lain. Saat itu Bapak seorang teman yang ngiring Sesuhunan begitu kasihan melihat kondisi saya. Bapak tersebut kemudian menggurat-guratkan jari seperti orang menulis di kedua tangan dan dahi saya. Sebenarnya yang dipakai menulis adalah ujung jari telunjuk tangan kanan saja dan ternyata sampai sekarang masih berbekas di sana dan tampak oleh mata batin atau mata ketiga. Dan saat itu pak Puh telah melihat masa lalu saya. Ya, paling tidak itulah dasar saya menilai pak Puh adalah orang yang waskita. Tetapi sayang kontak telah putus sehingga tidak bisa mendapat petunjuk selanjutnya tentang kebangkitan Hindu atau Ciwa Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, bagi pembaca tulisan saya, saya mohon untuk lebih giat memuja Ciwa Budha. Seandainya semua yang saya ungkapkan benar, yaitu proses kebangkitan yang sedemikian menakutkan, semoga dengan makin dekat dengan Ida Bhatara kita dilindungi. Ajaklah juga semua anggota keluarga Anda untuk lebih giat memuja Ida.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kisah Pinisepuh selesai sampai di sini. Terpujilah nama Ida Sang Hyang Widi Wasa, dan bersinarlah semua manifestasi Beliau serta menyinari umatnya yang rajin memuja. Saya sebagai mesengger mohon maaf kalau terjadi kesalahan dalam penyampaian. Tidak ada yang dilebihkan tetapi banyak yang dikurangi isinya. Seperti biasa ada yang tidak mungkin diceritakan di sini karena perlu kedewasaan dan pengalaman spiritual yang cukup untuk memahami, juga terbentur adanya ‘perjanjian suci’ yang harus ditaati. Untuk hal lainnya, kalau dibuat vulgar tentu akan menimbulkan reaksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terimakasih&lt;br /&gt;Om Shanti Shanti Shanti Om...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SELESAI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-3190752125616351326?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/3190752125616351326/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-9-selesai.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/3190752125616351326'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/3190752125616351326'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-9-selesai.html' title='Pinisepuh 9 - Selesai'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-8514458222478149728</id><published>2009-09-29T17:30:00.000-07:00</published><updated>2009-10-07T21:01:14.366-07:00</updated><title type='text'>Pinisepuh 8 - Colek pamor</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Catatan kecil bersama Pinisepuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Colek Pamor&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari saya juga pernah bertanya dengan cara apa sebenarnya Beliau Ida Bhatara melindungi umatnya kalau terjadi hal-hal yang buruk. Misalnya gempa, tsunami, penyakit dan lain-lainnya. Tentu pertanyaan ini seperti sikap yang untung-untungan. Bukan maksud untuk tidak mempercayai Ida Bhatara bahwa sebenarnya Beliau telah melakukan perlindungan kepada umatnya dalam berbagai cara. Terbukti dari pengalaman orang-orang yang menceritakan keajaiban. Misalnya seorang bartender yang bertugas pada saat bom Bali di Sc Club Kuta, bartender ini tiba-tiba saja berada tertelungkup di jalan. Padahal seingat Dia, saat itu sedang bertugas melayani tamu-tamu club. Kemudian yang Dia tahu dan ingat adalah berada tertelungkup di jalan dan selamat dari maut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu pengalaman dari teman kita dr Muda Agung Nova Mahendra, yang suatu waktu melintas di jalan Prof Ida Bagus Mantra, pagi hari pulang dari sehabis tugas jaga di RS Sanglah, mengalami tabrakan dengan sebuah mobil. Melihat kondisi kendaraan yang terpelanting pastilah kejadiannya sangat buruk. Tetapi yang diingat oleh Agung Nova, dirinya merasakan sesosok mahluk hitam dan besar mendekap serta memeluknya sehingga Ia terselamatkan dari kecelakaan. Satu keajaiban Ia tidak mengalami luka sedikitpun. Belakangan diketahui Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped yang telah menyelamatkannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat banyak kejadian yang diceritakan orang-orang di Bali. Keajaiban kerap dinikmati langsung oleh orang-orang tertentu. Apakah orang tersebut termasuk orang pilihan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya pada suatu kesempatan Pinisepuh menceritakan bahwa suatu waktu di Nusantara terjadi peristiwa tsunami yang memporak-porandakan Aceh dan sekitarnya. Peristiwa bencana alam terus berlanjut sampai akhir tahun dan terus terjadi  sampai tahun 2005.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian pada bulan Pebruari 2005 terjadi kehebohan di Bali dan sekitarnya. Mungkin Anda masih ingat dengan peristiwa COLEK PAMOR yang heboh di Bali. Sebenarnya menurut Pinisepuh ini adalah pekerjaan Ida Bhatara yang melindungi umatnya agar selamat dari semacam bahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ida Bhatara siapa Agung, tanya saya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang kenyataannya sampai dengan sekarang pihak Polisi tidak berhasil untuk menyelidiki. Tentu saja tidak berhasil menyelidiki karena pelakunya menurut Pinisepuh adalah Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling atau Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped beserta dengan ancangan Beliau yang menyebar di seluruh Bali. Tetapi sebenarnya termasuk di Banyuwangi ditemukan colek pamor tersebut menurut cerita teman Hindu yang ada di Banyuwangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang saat itu ada yang menceritakan bahwa mereka melihat sinar terbang ke gigi empas di pura, kemudian gigi empas itu menyala dan setelah redup itu adalah colek pamor. Ada juga seorang ibu yang bisa melihat alam gaib menceritakan ada segerombolan orang gaib berjalan di daerah Singaraja yang kerjaannya membuat colek pamor. Itulah kisah yang pernah diceritakan. Kalau tidak dilakukan oleh ‘gaib’ mana mungkin ruang suci seseorang yang terkunci juga kena colek pamor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini satu kenyataan bahwa, Ida Bhatara benar-benar melindungi umatnya dari bahaya-bahaya alam yang besar. Untuk itulah Pinisepuh selalu memberi tahu kami bahwa jangan sekali-sekali lalai dengan kewajiban sebagai umat Ciwa Budha. Apalagi sampai meninggalkan Budaya yang nota bene diciptakan untuk menjaga agar Bali tetap sebagai pusat Niskala di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingatlah dengan Bisama Bhatara Gunung Agung:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Manakala manusia Bali tidak lagi membuat Banten sebagai sarana persembahan kepada Para Dewata, maka Nira, Bhatara Gunung Agung akan kembali ke Mahameru. Sebagai ciri Nira kembali ke Mahameru..., adalah hancurnya Bali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih kurang seperti ini Bisama Ida Bhatara Gunung Agung. Bisama ini sudah ada sejak ratusan tahun silam dan belum pernah berani ada yang melanggar. Ini menurut penuturan para Sulinggih dan Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pura Kerangkeng&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari saya juga pernah diceritakan dengan keberadaan Pura Kerangkeng di Nusa Penida. Di dalam Pura Kerangkeng adalah tempat-tempat orang yang mempunyai karma buruk dan akan sangat susah untuk dapat terlahir kembali sebagai manusia kalau sudah dijebloskan ke Pura Kerangkeng tersebut. Di sanalah hukum penyiksaan sedang berlangsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh menceritakan bagaimana di dalam pura tersebut yang tidak mungkin saya ceritakan di sini. Manusia dari seluruh dunia, dari berbagai bangsa dan ras manusia,  berada di sana untuk menjalani hukuman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa orang seluruh dunia berada di sana? Tanya saya. Karena Bali adalah pusat Niskala. Ibarat roda pemerintahan, semua alam niskala, diatur dari Bali, kata Pinisepuh. Dan suatu saat nanti, orang seluruh dunia akan memandang Bali dengan berbeda karena saat itu Bali sebagai mercusuar Spiritual di dunia. Semua akan menggali dan belajar dari Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mengejar harta dan pencerahan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh pernah menceritakan kepada saya bahwa seorang manusia yang punya karma baik setelah meninggal melinggih sebagai Leluhur di Kawitan, lalu Beliau Leluhur tersebut memiliki kemampuan melindungi ‘sentana’ atau anak cucunya dari alam Leluhur. Tingkatan ini saja kalau bisa dicapai dalam kelahiran sekarang sudah sangat baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita hidup di jaman kali, harus juga sadar diri, hanya dengan waktu satu atau dua jam meditasi sehari ingin mencapai tingkatan sangat tinggi yaitu mencapai keberadaan menyatu dengan Sang Hyang Widi. Moksha. Itu tidak cukup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Yogi yang bertapa puluhan tahun saja belum tentu mencapai moksha pada kehidupannya yang sekarang. Memang karma berbeda untuk setiap manusia. Apakah dalam hidup sekarang ini sudah mengalami pencerahan? Misalnya sebatas melihat energi atau aura? Kalau sudah barangkali itu karma bagus yang harus ditingkatkan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada gambar Orang Suci, di sekitar kepalanya dikitari oleh sinar kuning keemasan. Manusia yang mengalami pencerahan juga akan mempunyai sinar itu kalau dilihat oleh yang telah mengalami pencerahan. Sinar itu tampak di sekitar mata ketiga dan juga di belakang kepala yang bersumber dari yang disebut dengan Pineal atau cupu manik. Kalau kedua sinar ini tampak pada seseorang maka demikianlah orang-orang suci yang mengalami pencerahan tingkat tinggi dan mungkin suatu pertanda akan mencapai Moksha. Besar sinar tergantung dari pencapaian spiritualnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mencapai pencerahan memerlukan keseriusan saat melakoni kegiatan spiritual. Sembahyang adalah salah satu bhakti guna pencapaian restu dari Leluhur. Lakukanlah berbagai meditasi dan yoga. Perbaiki tingkah laku agar Budhi pekerti hidup dalam diri. Kembangkan sikap tulus,  ikhlas dan welas asih dalam keseharian. Kata-kata ini tidak cukup untuk menjelaskan tetapi memulai adalah lebih penting daripada hanya tahu teori. Carilah guru yang tepat untuk membimbing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu sebelum bertemu Pinisepuh kebaktian saya selalu kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa, langsung. Tidak salah, tetapi sebelum mencapai Tuhan, restu Leluhur harus di dapat terlebih dulu, kata Pinisepuh. Karena yang terdekat adalah Beliau-beliau. Tetapi manusia sekarang yang dikejar adalah harta. Bagaimana bisa melakukan spiritual yang cepat mendapat pencerahan? Suatu hari Pinisepuh bertanya hal ini kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya menyadari suatu realita kehidupan, bahwa saya hidup di dunia saat ini utamanya adalah mengejar harta lalu spiritual. Mengapa tidak memulai yang sederhana dulu dengan memuja Ida Bhatara Ratu Niang Sakti atau Ida Bhatari Ratu Mas Melanting agar direstui dalam mencari kekayaan? Karena Beliau adalah salah satu dari sekian banyak Ida Bhatara yang menguasai bidang ekonomi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian saya dan istri melakoni yang dikatakan Pinisepuh. Mendak Daksina ke ajeng Ida Bhatari Ratu Niang Sakti di Pura Grya Anyar Tanah Kilap untuk warung istri yang kian hari tambah beruntung. Tetapi saya sendiri sangat suka dengan patung Budha Tertawa, hingga membuat usaha Galeri berkonsep Budha yang mana Beliau adalah Ida Ratu Syahbandar yang merupakan juga penguasa kemakmuran dan menjadi favorit saya. Akhirnya saya mendapat petunjuk melalui Pinisepuh dari Ida Bhatari Ratu Mas Magelung untuk melinggihkan pelinggih Ratu Syahbandar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena merasa diperhatikan oleh Ida Bhatari Ratu Mas Magelung, dalam mengejar spiritual saya memohon dan berdo'a kepada Ida. Kemudian juga berkembang karena beberapa do’a terjawab, Ida Bhatari Ratu Niang Sakti dan Ida Mpu Kuturan juga akhirnya menjadi Favorit dalam setiap kebaktian dan meditasi. Berikutnya Ibu Dewi Kwan Im juga merupakan pavorit saya karena suatu alasan sangat penting dalam hidup saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah saya menjalani keseharian juga menjalani spiritual dengan cara yang menyenangkan yaitu merubah persepsi pencarian saya terhadap Tuhan dengan berbagai penjelasan Pinisepuh yang gamblang. Dapatkan restu Leluhur terlebih dahulu sebelum menuju Tuhan. Leluhur yang masih hidup adalah orang tua. Akhirnya saya diminta untuk meminta maaf kepada orang tua atas kesalahan-kesalahan yang dibuat. Saya melakukannya beberapa  bulan lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemajuan spiritual saya meningkat tajam setelah bertemu dengan Pinisepuh. Kemajuan saya ukur dengan terbukanya penglihatan mata lahir karena mata batin sudah terbuka duluan, karena pengalaman terakhir saya adalah keterkejutan yang sangat sampai mobil saya rem mendadak ketika melihat ada sebersit cahaya menghadang kami di perempatan pantai Klotok, pada perjalanan pulang dari tangkil di Puri Klungkung. Saya telah melihat kereta kuda kencana melaju secepat sinar di alam niskala datang dari arah pantai Klotok. “Apa Gung?”, tanya saya. Itulah kendaraan di niskala kata Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak pengalaman lain yang luarbiasa tetapi tidak boleh diceritakan sembarangan. Akhirnya saya menyadari, meningkatkan spiritual akan banyak mengurangi masalah dan salah satunya yaitu masalah kesehatan. Sebab syarat utama mencapai spiritual adalah sehat. Yoga dalam spiritual berfungsi diantaranya untuk meningkatkan kesehatan. Kami dilatih oleh Pinisepuh beberapa gerakan Yoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kehidupan Pinisepuh yang membimbing orang-orang dengan sabar dan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Bersambung...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain Pinisepuh ada orang-orang sakti lainnya dengan kemampuan mengendalikan alam dipersiapkan untuk kebangkitan Ciwa Budha&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-8514458222478149728?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/8514458222478149728/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-8-colek-pamor.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/8514458222478149728'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/8514458222478149728'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-8-colek-pamor.html' title='Pinisepuh 8 - Colek pamor'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-163500428986957202</id><published>2009-09-27T18:56:00.000-07:00</published><updated>2009-09-29T18:22:39.714-07:00</updated><title type='text'>Pinisepuh 7 – Di tes di Nusa</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ida Bhatara melakukan test kepada Pinisepuh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai manusia terpilih haruslah siap dengan berbagai resiko kehidupan. Menjalani hidup yang penuh dengan pengabdian kepada masyarakat banyak. Mempertaruhkan nyawa demi menolong orang yang sakit mejik. Akan tetapi jauh hari sebelum semua pengetahuan suci perihal Ida Bhatara dipahami, banyak sekali kejadian dan godaan-godaan yang datang silih berganti dialami oleh Pinisepuh. Kata Pinisepuh itulah imunisasi kepada tubuh dan mental agar siap menghadapi segala apa yang akan dialami sebagai seorang pelaku spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu ketika, Pinisepuh mendapat satu petunjuk untuk lunga ngiringan “Ida Bhatara Lingsir’, Petapakan Puri Klungkung tangkil ke Nusa di Pura Dalem Ped pada Piodalan Agung. Pinisepuh datang bersama rombongan Puri serta beberapa murid dari Paguyuban Dharma Giri Utama yang sudah mempunyai mental-mental pemberani menghadapi gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, rombongan sudah sampai di kawasan Pura. Karena membawa Petapakan, rombongan mendapat tempat duduk di depan. Pinisepuh mengambil tempat duduk dekat dengan para Dasaran dan Sadeg yang jumlahnya ratusan. Menurut taksiran pemedek yang hadir saat itu adalah lebih dari 1000 orang karena areal tempat penuh oleh umat dari berbagai pelosok Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kerauhan masal di Pura&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya upacara nganteb sudah selesai pada malam tersebut. Tiba-tiba seorang Jero Dasaran yang kemudian diketahui adalah bernama Jero Sekar yang nyungsung Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped kerauhan. Ia menunjuk-nunjuk Pinisepuh. Ngeraos, karena agak jauh Pinisepuh tidak begitu jelas mendengar. Tetapi menurut yang lain itu adalah raos yang memberi tahu bahwa Pinisepuh haruslah selalu ‘seleg’ atau rajin dengan setiap tugas dan petunjuk. Janganlah pernah nantang-nantang Leak karena Leak adalah panjak dari Ida juga. Kira-kira seperti itulah raos Ida memberi nasehat kepada Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua mata memandang Pinisepuh. Beberapa orang tampak memandang Pinisepuh dengan sinis serta berbisik-bisik: “Sebel-sebel kok tangkil ke Pura”, hanya itu yang sempat terdengar oleh Pinisepuh. Dan orang lain yang mendengar tentu merespon sangat negatif. Menyalahkan Pinisepuh yang duduk saja dengan tenang. Kemudian seorang lagi Mangku kerauhan. Mangku ini adalah seorang Mangku Dalem dari Tabanan yang nyungsung Hyang Giri Putri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana semakin seru saja di Pura. Mangku Dalem yang kerauhan juga memandang ke arah Pinisepuh. Ia berkata: “Cening de ngambul, Ida mula keto, ....” kira-kira seperti itu yang Pinisepuh dengar karena suasana sangat ramai saat itu. Tetapi yang aneh bahwa sebenarnya percakapan ini hanya dimengerti oleh Pinisepuh dan Jero-jero yang kerauhan saja. Sedang bagi yang hadir di sana menangkap seolah-olah Pinisepuh ada salah sama Beliau Ida Bhatara di Nusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh memang tidak dikenal luas oleh para Jero Dasaran dan Jero Balian yang hadir. Yang mengetahui Pinisepuh hanya segelintir orang saja pada saat itu dan tentu tahu arah percakapan dari Jero-jero yang kerauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya yang terjadi adalah nasehat-nasehat umum yang diberikan oleh Ida kepada Pinisepuh. Tetapi Ida yang lain semacam ‘ngapul apulin’ atau menenangkan agar Pinisepuh jangan terlalu berpikir lain atas ‘raos’ dari Ida yang lainnya. Ida yang satu menasehati dan Ida yang lainnya membela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata orang-orang masih tertuju kepada Pinisepuh yang sejak Ida kerauhan terus memandang Pinisepuh dan memberi nasehat kepada Pinisepuh. Sebenarnya menurut Pinisepuh, kejadian ini adalah salah satu maksud dari Ida Bhatara bahwa Beliau ingin menunjukkan kepada seluruh yang hadir bahwa inilah Pinisepuh Agung Yudistira, salah satu dari Panjak Ida yang ngayah dengan tulus untuk Leluhur yang melinggih di Bumi Nusantara, demi kebangkitan Ciwa Budha di Nusantara. Ida Bhatara memang tidak mungkin memberi tahu secara vulgar atau terang-terangan siapa sejatinya Pinisepuh karena ada aturannya secara Niskala. Namun, sebenarnya bahwa setiap orang yang mengabdi tulus pastilah derajatnya akan diangkat oleh Ida Bhatara. Dan Pinisepuh merasakan bahwa derajatnya sedang diangkat dihadapan lebih dari seribu orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jero-jero yang kerauhan masih juga memberi petunjuk raos kepada Pinisepuh. Tak berapa lama kemudian, salah satu Jero Sadeg dari Badung juga kerauhan. Jero sadeg ini kerauhan Ida Bhatari Ratu Niang Sakti. Ciri-ciri Ida Bhatari Ratu Niang Sakti kerauhan adalah diawali dengan nyanyian atau kidung yang sangat indah. Selalu ingin memberi bukti kepada umatnya bahwa Beliaulah yang hadir saat itu. Setelah itu kembali Jero yang kerauhan ini memandang Pinisepuh yang duduk dengan tenang. Tentu saja Pinisepuh duduk tenang karena Beliau Ida Bhatari Ratu Niang Sakti yang selalu membimbing dan memberi petunjuk kepada Pinisepuh setiap hari. Ibaratnya, Ida Bhatari Ratu Niang Sakti adalah gurunya Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana memang semakin heboh. Bisik-bisik menjadi aneh dan menimbulkan pertanyaan di kalangan yang hadir terutama Jero Dasaran dan Jero Sadeg. Sekarang mereka menjadi bingung dan mungkin bertanya dalam hati siapa sebenarnya Pinisepuh Agung Yudistira. Hal ini tentu beralasan karena ada kerauhan yang terjadi di Pura Dalem Ped, seharusnya raos adalah untuk membahas umat dan kejadian skala niskala di Nusa dan Bali, ini malah hanya membahas Pinisepuh, yang saat itu tampak sebagai remaja biasa saja. Namun, sekali lagi Pinisepuh yakin sekali bahwa Ida sedang mengangkat derajatnya di hadapan para Dasaran dan Sadeg yang jumlahnya ratusan tentu kepada umat yang hadir juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tengah-tengah situasi heboh tersebut, tiba-tiba seorang anak kecil, kira-kira umur lima tahun berdiri. Ia berjalan kedepan menuju Jero-jero yang sedang kerauhan. Tentu saja ini sangat menarik perhatian yang hadir dan suasana menjadi sangat riuh menuding-nuding anak kecil yang sedang berjalan dengan tenangnya ke depan. Sesampai di depan dekat Jero-jero yang kerauhan, Ia tersenyum sangat lugu tanpa merasa salah sama sekali. Tak seorangpun berani berdiri untuk mengambil anak kecil tersebut. Suasana sudah seperti diskenario. Tiba-tiba tangannya yang mungil melambai ke atas seolah sedang menari dan menarik selendang ke udara. Sreeeettt........ Begitu tangannya yang kecil mungil sampai di udara, wow.... kehebohan sangat luar biasa terjadi. Kira-kira dari 1000 orang yang hadir, 800 orang semua kerauhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana sangat mencekam. Suara anjing yang meraung ‘ngulun’ terdengar di mana-mana. Orang-orang yang kerauhan ada yang menari-nari. Ada yang bicara-bicara saja. Ada yang duduk menginjak-injak tanah. Atau bermacam-macam tipe kerauhan telah terjadi dan susah untuk diceritakan dan benar-benar sangat menakutkan karena kerauhan ini benar-benar masal. Sedang yang tidak kerauhan berlarian, mungkin semacam menyelamatkan diri. Sungguh kejadian yang heboh dan pertama kali dalam sejarah ada kerauahan masal di Pura Dalem Ped ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jero mangku di jaba pura kerauhan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh cuek dengan situasi kerauhan tersebut dan malah pergi ke ‘jaba’ Pura. Mencari sebuah warung dan duduk di sana. Memesan Mi instan karena suasana cukup dingin dan perut juga lapar. Di sana juga sudah duduk beberapa orang dan seorang pemangku. Mereka tampak tidak tahu apa yang terjadi di ‘Jeroan’ Pura. Mereka ini menunggu giliran untuk mebakti pada gelombang berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mi yang dipesan Pinisepuh sudah siap untuk dinikmati. Tetapi Jero Mangku yang sedang makan di warung tersebut tiba-tiba kerauhan. Orang-orang panik dengan situasi tersebut. Tetapi Pinisepuh cuek dan santai saja menikmati mi yang dipesannya. Kemudian Jero Mangku yang kerauhan tersebut memanggil Pinisepuh yang serta merta memandang Jero Mangku tersebut sembari asik menikmati mi. Kemudian Pinisepuh mendengar raos dari Jero Mangku yang kerauhan tersebut agar Petapakan Ida Bhatara Lingsir juga harus lunga ke Pura Dalem Penida. Dan setelah dijawab, “ya”, Jero Mangku tersebut sadar dari kerauhannya dan tentu saja kaget mendapatkan dirinya berdiri dan jauh dari tempat duduknya barusan menikmati makan  serta Ia bertanya kepada rekan-rekannya apa yang terjadi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lama kemudian, suasana di Jeroan sudah reda. Semua sudah muspa dan sudah selesai. Anak-anak Paguyuban mencari Pinisepuh di luar. Sedang rombongan dari Puri tetap di dalam ngemitin Ida Bhatara Lingsir. Sambil menunggu hari esok melanjutkan petunjuk tangkil ke Pura Dalem Penida, Pinisepuh mengajak murid-muridnya ke pelinggih kepuh kembar dan yang melinggih di sana adalah Ida Bhatara Dalem Bungkut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kain terbang di kepuh kembar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suasana di sana sangatlah gelap dan mencekam. Anak-anak walaupun sudah pemberani masih tidak berani jauh-jauh dari Pinisepuh. Apalagi saat ini adalah Piodalan Agung. Tentu semua dasaran, sadeg dan balian yang mempelajari aliran hitam juga banyak hadir di Pulau ini. Memohon berkat kepada Ida Ratu Ayu Mas Maketel sebagai semacam tangan kanan dari Ida Bhatari Durga Dewi. Tentu para pelaku pengiwa juga akan hadir di Pulau ini. Mungkin kalau diibaratkan sebagai cerita silat, semua perguruan dari berbagai aliran sedang menuju ke Pulau atau Nusa ini. Para murid yang baru belajar sampai kepada pendekar papan atas pastilah juga sudah hadir di Nusa ini. Tentulah situasi sangat gawat dari sisi gaibnya. Mungkin saja ada kejadian coba mencoba dan tes mengetes antar pendekar. Sangat mungkin seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sampai di kepuh kembar, Pinisepuh dan murid-muridnya duduk di suatu tempat. Tiba-tiba dari depan muncul selembar kain putih yang cukup panjang terbang. Yang menakutkan kain tersebut terbang dan menyambar-nyambar rombongan kecil ini. Semua menjadi panik kecuali Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rupa-rupanya seperti dalam cerita silat bahwa ada pendekar yang sedang unjuk gigi dan menantang Pinisepuh. Pinisepuh berdiri dan memandang kain putih yang terbang menyambar-nyambar tersebut. Kemudian Pinusepuh berteriak dengan lantang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ne amah, pilihin nenenan murid wake...” Pinisepuh menunjuk murid-muridnya dan tentu saja semua anak-anak menjadi takut. Sementara kain tersebut masih terus terbang dan menyambar-nyambar rombongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Amen sajan wanen, amah ne murid wake....”, sambil menunjuk salah seorang murid. Tentu saja murid yang ditunjuk tersebut mohon kepada Pinsepuh dengan kata; jangan... jangan... Gung. Jangan Gung... dengan penuh ketakutan. Sementara itu kain tersebut masih saja terbang dan menyambar-nyambar walau tidak terlalu dekat tetapi benar-benar membuat bulu kuduk berdiri dan keringat dingin keluar. Sudah tentu jantung berdebar-debar dengan keras takut tidak karuan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ilmu hitam, pencapaian yang sangat tinggi adalah apabila bisa berubah menjadi kain ini. Dan ternyata hari ini, Pinisepuh beserta murid-muridnya melihat dan mengalami sendiri fakta bahwa mereka sedang diganggu oleh ilmu hitam tingkat tinggi. Semua murid memandang Pinisepuh, apakah guru mereka mampu mengatasi masalah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Pinisepuh diam sejenak dan terus memandang kain putih tersebut yang sekarang berposisi terbang tapi berdiam dan tidak menyambar-nyambar lagi. Akhirnya Pinisepuh menuding kain putih tersebut dengan telunjuk tangan kanan. Kain putih tersebut kemudian bergetar dan terbang berbalik seperti melarikan diri. Kabur dari hadapan Pinisepuh Agung Yudistira. Semua anak-anak berdekat-dekatan di sekitar Pinisepuh. Tidak ada yang berani berkomentar tentang kejadian yang sangat menakutkan barusan. Pinisepuh juga tidak berkata apa-apa tentang kejadian tadi. Kemudian mereka diajak sembahyang di pelinggih Ida Bhatara Dalem Bungkut memohon keselamatan selama berada di Nusa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sebenarnya kejadian tersebut tidak pernah diceritakan lagi kepada anak-anak Paguyuban. Akhirnya belakangan saya tahu bahwa Pinisepuh sedang di tes oleh Ida. Sebenarnya Kain Terbang itu adalah ‘Kekereb Jagat’ Ida Bhatara Dalem Bungkut. Sebagai contoh, Kekereb adalah kain yang menjulur dari rong pelinggih yang tinggi misalnya dari rong Padamasana terurai ke bawah hingga menyentuh tanah. Orang yang bisa menjelma menjadi kekereb jagat adalah tentu orang yang sangat sakti. Pinisepuh sudah mengungguli keilmuan itu, dan Pinisepuh mengakui dengan segala kerendahan hatinya bahwa kemampuan itu merupakan pemberian, dipinjamkan kepadanya oleh Ida Bhatara. Pengalaman tadi itu merupakan suatu tes bagi Pinisepuh apakah Pinisepuh memang benar-benar sudah bisa menggunakan dan mengendalikan ilmu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 102, 102);"&gt;Bersambung...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Siapa di balik Misteri Colek Pamor yang menghebohkan Bali beberapa tahun silam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-163500428986957202?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/163500428986957202/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-7-di-tes-di-nusa.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/163500428986957202'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/163500428986957202'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-7-di-tes-di-nusa.html' title='Pinisepuh 7 – Di tes di Nusa'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-5664802964653418986</id><published>2009-09-23T02:19:00.000-07:00</published><updated>2009-09-23T02:23:05.150-07:00</updated><title type='text'>Pinisepuh 6 – Menggembleng Murid</title><content type='html'>Perjalanan Pinisepuh sehubungan niskala sangat banyak sekali kalau diceritakan. Dari yang sederhana sampai yang susah untuk dicerna oleh akal pikiran. Pada masa lalu, Pinisepuh juga pernah sebagai team Majalah Bali Aga untuk menelusuri lokasi gaib di suatu daerah. Waktu itu mungkin umurnya masih 17 tahunan karena masih SMA. Tugasnya adalah memberi pengetahuan siapa dan apa yang melinggih di suatu tempat. Terkadang membuat photo penampakkan dengan kamera yang sudah ditransfer energi oleh Pinisepuh. Tentu sebatas yang diijinkan oleh alam gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah dalam acara khusus yaitu meliput acara Merehnya Jero Mangku Teja menjadi Leak, Pinisepuh yang bertugas untuk melindungi kru Majalah Bali Aga agar selamat. Karena pada saat mereh, energi akan sangat dahsyat dan bisa membuat orang yang menyaksikan mengalami kematian. Memang kenyataannya, pada saat kejadian sedang mereh jadi Leak, lensa kamera kru pada pecah sehingga tidak bisa mengabadikan peristiwa tersebut. Para kru menjerit-jerit terutama yang wanita, mereka sangat ketakutan. Ada kamera yang bertahan dan mengambil gambar-gambar tersebut akan tetapi tidak tampak kejadian merehnya. Tetapi yang tampak adalah Jero Mangku Teja yang asli atau mentahnya. Inilah salah satu kegiatan Pinisepuh di masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkadang untuk memberi pengetahuan dan pengalaman kepada murid-murid yang sudah dianggap patut mendapat bimbingan khusus, Pinisepuh membantu membuka sedikit penglihatan mata ketiga pada suatu tempat tertentu. Akan tetapi murid yang sombong dan mengaku berani pernah diajak ke kuburan, di tinggal dalam sebuah pagar gaib dan diwanti-wanti untuk tidak melewati batas pagar tersebut. Kemudian mata ketiga dari murid tersebut dibuka untuk kurun waktu tertentu sehingga apapun yang ada di kuburan tersebut dapat tampak oleh murid yang sombong ini. Tentu saja yang terjadi adalah rasa ketakutan yang sangat hebat dan luarbiasa. Menjerit-jerit memalukan dan tidak sesuai dengan ucapannya yang sombong sok berani selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini semacam pelajaran bagi murid yang lain bahwa pencerahan itu memerlukan moral yang tinggi salah satunya adalah tidak berlaku sombong dan juga keberanian yang super. Karena yang akan dilihat dan dihadapi sangat bervariasi kalau sudah berurusan dengan hal-hal yang berbau gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Minta diajari kesaktian&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Juga pernah suatu ketika seorang murid ibaratnya ngemis-ngemis untuk diajari kesaktian. Pinisepuh memberi satu syarat kepada murid tersebut yaitu, galilah lobang sedalam satu meter dan selebar satu meter keliling di Sanggah Merajan. Murid tersebut tanpa ba bi bu lagi langsung melaksanakan niatnya menggali lobang tersebut dan setelah selesai melapor kepada Pinisepuh. Pinisepuh bertanya kepada murid tersebut, untuk apa lobang tersebut. Itu kan atas suruhan Pinisepuh kata murid tersebut. Tetapi kenapa kamu tidak tanya dulu untuk apa lobang tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh juga menjelaskan bahwa yang mendapat pencerahan walau sebatas kesaktian dari Ida Bhatara haruslah juga bukan orang yang terlalu ‘Oon”. Karena berbahaya kalau dikuasai oleh orang yang tidak cukup pintar. Tetapi Ida Bhatara juga mencari orang yang tidak perlu terlalu pintar tetapi orang yang tulus dan welas asih, kata Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mahluk gaib pelindung pusaka galak-galak&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Begitulah pengalaman dalam perjalanan Pinisepuh mengajari murid-murid Paguyuban. Banyak hal yang terjadi. Sampai suatu saat saya juga diajak ke satu tempat di wilayah Sanur. Saya diwanti-wanti jangan mencoba melihat dengan mata batin karena mahluk gaib di sini adalah mahluk ganas dan galak-galak. Kami masuk ke dalam hutan Bakau yang rimbun. Memang sangat menyeramkan suasananya. Sampai di suatu tempat saya mulai merasakan panas dari berbagai sudut tubuh. Tubuh saya sudah sangat sensitif seperti sensor. Dari depan dari belakang dan semua arah rasanya ada mahluk. Kuping kiri dan kuping kanan terasa sangat panas. Nafas rasanya sesak dan jantung melemah serta tenaga bagai dikuras. Lemas tak berdaya. Karena sudah sering mengalami hal begini, dilatih oleh Pinisepuh, saya berusaha menekan rasa takut. Karena memang tujuan mahluk ini untuk membuat manusia ketakutan agar pergi dari kawasan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya kepada Pinisepuh kenapa ada tempat dengan mahluk gaib yang galak dan ada yang tidak. Menurut Pinisepuh itu karena mahluk tersebut sedang melindungi atau menjaga sesuatu di daerah tersebut. Mungkin yang dilindungi adalah semacam Pusaka daerah tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mahluk gaib tertentu mempunyai kemampuan untuk menutup jalan skala kalau memang diperlukan sehingga manusia yang tidak mempunyai bekal ilmu dan hanya mengandalkan penglihatan mata batin saja sangat berbahaya berada dikawasan seperti itu apalagi mencoba untuk melihat mereka. Mereka tidak suka ada manusia yang mengetahui keberadaan mereka di suatu tempat. Bisa-bisa mereka menutup jalan skala atau penampakan alam nyata. Dengan ditutupnya jalan skala oleh mahluk gaib maka yang kelihatan adalah hanya alam mereka saja. Maka manusia tersebut tidak dapat pulang ke alam nyata kalau tidak mempunyai kemampuan mengendalikan alam gaib. Itu satu alasan kenapa Pinisepuh terkadang tidak mengijinkan saya melihat dengan mata batin karena mahluk tersebut sebenarnya tidak ingin keberadaannya diketahui manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu ketika, diceritakan oleh Pak Ngurah salah satu Anggota Paguyuban bahwa Pinisepuh mengajak beberapa muridnya untuk menjalani Hari Raya Nyepi di salah satu Goa di pantai Balangan. Pak Ngurah pada sore hari mengalami kejadian bahwa Ia tidak bisa menemukan tangga yang dipakai untuk turun dari atas ke arah Pantai. Tadinya Ia melihat bahwa tangga tersebut memang di sana tetapi beberapa waktu kemudian menghilang. Situasinya seperti tidak berbeda jauh dari alam nyatanya. Beberapa masih tampak sama dengan alam nyata dan sebagian yang penting untuk manusia hilang atau tidak tampak. Pikiran Pak Ngurah menjadi kacau dan takut. Takutnya kira-kira sama dengan yang saya alami yaitu jantung melemah dan tenaga seperti disedot. Tetapi beruntung Pinisepuh berada disampingnya dan memberi tahu bahwa satu mahluk gaib berusaha menutupi tempat tersebut. Akhirnya dengan memohon bahwa tujuan mereka di sana adalah untuk menjalani Hari Raya Nyepi saja, maka suasana kembali normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi murid Paguyuban yang sudah terbuka sedikit-sedikit penglihtannya perlu untuk dihadapkan pada pengalaman rasa ketakutan seperti itu tetapi harus mendapat bimbingan dari Pinisepuh. Pengalaman tersebut ibaratnya hanya memberi semacam imunisasi rasa takut kepada tubuh sehingga suatu saat tubuh mampu mengelola dan mengolah energi yang berasal dari mahluk gaib dan menjadi bekal untuk bertahan dari mahluk yang jahat baik yang berasal dari alam sekitar juga yang berasal dari niat buruk seseorang. Sungguh pengalaman yang sangat mengesankan karena meningkatkan sensitifitas tubuh terhadap mahluk gaib yang galak atau mungkin jahat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin Anda termasuk beruntung mengalami proses pencerahan yang sederhana. Atau sudah anugrah dari lahir. Tetapi bagi yang mengejar pencerahan dengan praktek-praktek spiritual akan melewati berbagai rintangan yang mau tidak mau harus dilewati. Dan bagi yang tidak mempunyai pembimbing, biasanya mentok sampai tingkat tertentu. Sama halnya dengan saya dulu yang sangat sulit melewati masa gangguan penglihatan batin. Bagaimana tidak?, kalau yang hadir dalam penglihatan batin itu adalah yang menyeramkan. Dengan bimbingan Pinisepuh saya melewati tingkatan ini dan terus melaju. Itulah pentingnya seorang guru dalam mencapai tingkatan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada tingkatan melawan rasa takut biasanya seseorang mundur melakukan kegiatan spiritual. Berhenti meditasi seperti yang pernah terjadi dengan saya. Namun setelah tingkatan rasa takut dilewati dan mata batin sudah terbuka, maka meditasi menjadi hampa. Dengan kata lain, karena spiritual sudah meningkat maka meditasi tidak lagi merasakan sensasi. Sensasi biasanya terjadi di cakra Mata ke Tiga yaitu mata ketiga terasa bergerak-gerak terkadang ada gerakan seperti berputar. Atau cakra Mahkota juga terasa berputar-putar atau angin seperti meniup-niup. Badan terasa dingin. Setiap orang merasakan sensasi berbeda tergantung dari kepekaan seseorang. Seperti kata Pinisepuh, setelah sensasi itu hilang penekun spiritual merasa bingung dengan kemajuan meditasi yang dilakukan. Pada saat inilah, diperlukan seorang pembimbing yang mengerti hakekat spiritual sesungguhnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Membuktikan kemajuan meditasi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya suatu hari bertanya kepada Pinsepuh bagaimana membuktikan kemajuan spiritual yang dialami seseorang. Apakah ada metodenya? Pinisepuh mengatakan sulit untuk membuktikan karena ini sifatnya sangat rahasia bagi orang bersangkutan. Kalaupun diberitahu mungkin seseorang tersebut sulit menerima penjelasan karena sepihak. Akhirnya Pinisepuh mempunyai akal bahwa, pada suatu sesi meditasi, salah seorang teman dibuka penglihatan mata ke Tiga-nya. Teman ini kemudian disuruh untuk melihat sinar semua teman yang ikut meditasi. Ia melihat sinar pada Mata Ketiga teman-teman. Besar sinar sangat beragam dari yang hanya mempunyai sinar sekecil nyala ujung dupa sampai yang sudah sebesar lingkaran cd.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan teman ini akhirnya dihubung-hubungkan dengan kemajuan masing-masing. Apakah sudah melihat energi? Apakah sudah melewati masa-masa takut sebelum mata batin terbuka. Apakah disamping terbuka mata batin juga sudah bisa berkomunikasi dengan gaib. Ada juga yang mulai ke tahap melihat dengan mata lahir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut Pinisepuh, hal-hal kemajuan tidak perlu dibahas dan dibuktikan karena seiring dengan latihan dan meditasi yang benar kemajuan akan didapat. Spiritual memerlukan praktek yang terus menerus jangan pernah menunda. Lakukan rutin setiap hari dengan serius dan tulus, maka pencerahan akan menanti sebagai hadiah. Pencerahan berhubungan dengan banyak hal dan meditasi bukanlah satu-satunya metode. carilah pembimbing spiritual yang mengerti agar mendapat penjelasan yang benar dan bimbingan yang tepat. Lebih bagus lagi adalah seorang guru yang juga telah mengalami Pencerahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan Pencerahan manusia akan mengalami hidup lebih sehat. Tetapi sebelum mengalami Pencerahan maka orang harus sehat terlebih dahulu. Maka meditasi juga salah satu awal yang baik untuk menyehatkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; color: rgb(255, 102, 102);"&gt;Bersambung....&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Pinisepuh diganggu di Nusa Penida.... di sarangnya dunia mistis!&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-5664802964653418986?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/5664802964653418986/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-6-menggembleng-murid.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/5664802964653418986'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/5664802964653418986'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-6-menggembleng-murid.html' title='Pinisepuh 6 – Menggembleng Murid'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-3545631000146899724</id><published>2009-09-20T15:28:00.000-07:00</published><updated>2009-09-22T16:27:12.593-07:00</updated><title type='text'>Pinisepuh 5 – Menarik Mirah Delima</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Menarik Mirah Delima Dari Alam Gaib di UNHI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh adalah seorang mahasiswa di UNHI. Dalam keseharian terkadang Pinisepuh juga ingin melakukan kegiatan-kegiatan Budaya seperti mengupayakan pentas Drama Calon Arang di UNHI. Adalah sebenarnya suatu kegiatan yang sangat berani, mengingat selama kita tahu, Drama Calon Arang erat berkaitan dengan dunia undang-mengundang Leak. Ibaratnya pentas Drama Calon Arang merupakan arena pertarungan antara peyelenggara dengan Leak yang diundang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu hal yang menjadi perhatian bahwa dari pihak penyelenggara Drama Calon Arang yang diandalkan sebagai pelindung adalah Pinisepuh. Pada kenyataannya pentas pagelaran Drama tersebut sukses. Tidak ada korban yang jatuh seperti kekhawatiran teman-temannya saat itu. Dan tentu ini membuktikan bahwa Pinisepuh juga memahami hal-hal mistis yang berbau aliran kiri dan cara memberikan perlindungan kepada pregina atau penari kalau ada hal-hal berbau mistis seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bukan tujuan mencari sensasi tetapi lebih kepada melestarikan budaya yang sudah ada. Karena dalam pandangan Pinisepuh, Bali terkenal karena Budaya. Memang mempertahankan Budaya adalah salah satu misi yang selalu diucapkan Pinisepuh kepada murid-muridnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mirah Delima di UNHI&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu kesempatan, Pinisepuh mengutarakan suatu petunjuk kepada segenap pengurus Universitas bahwa pererai suci yang berada di lingkungan kampus menginginkan sebuah permata Mirah Delima untuk dapat lebih sempurna sebagai simbol niskala  kejayaan kampus UNHI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja hal ini merupakan hal yang sangat tidak mungkin dilakukan karena siapapun tahu bahwa harga dari Mirah Delima adalah milyaran. Yang pernah saya dengar adalah 2,5 milyar. Itupun kalau benar-benar ada yang asli. Dan kalau mencari barang seperti ini tentu sangat susah kemana mencarinya karena di dunia barang antik-pun barang seperti ini sangat susah untuk ditemukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Pinisepuh mengatakan bahwa untuk mencari barang tersebut tidak usah jauh-jauh karena Pusaka Mirah Delima berada pada lingkungan kampus UNHI. Pihak pemilik dan pengelola kampus hanya tinggal memberi ijin kepada Pinisepuh untuk mengupayakan menarik Pusaka tersebut. Tetapi dengan syarat bahwa Pusaka tersebut nantinya tidak boleh dijual karena sangat membahayakan. Penempatan Pusaka Mirah Delima ini harus dipasang pada pererai yaitu di antara ke dua alis. Atau pada posisi mata ke tiga dari pererai yang menyimbolkan maha tahu atau lebih kepada ilmu pengetahuan yang sujati. Sebagai simbol bahwa UNHI mengajarkan ilmu yang sujati. Demikian barangkali makna dari keberadaan Pusaka dan pererai suci tersebut nantinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberadaan Pusaka Mirah Delima di lingkungan kampus UNHI adalah pada alam Niskala. Pinisepuh sudah mengetahui lokasi dari Mirah Delima tersebut serta sudah pula berkomunikasi dengan penjaga dari Pusaka tersebut. Beberapa syarat juga diajukan oleh penjaga dari Pusaka Mirah tersebut diantaranya seperti Pinisepuh sudah utarakan yaitu jangan dijual dan juga mesti ditempatkan pada mata ke tiga pererai suci. Syarat lainnya adalah sarana Yadnya yang harus dipenuhi agar Pusaka bisa keluar dari Niskala ke Skala. Pinisepuh sudah mendapat semua petunjuk Yadnya yang diperlukan. Akhirnya pihak kampus setuju dengan maksud dari Pinisepuh Agung Yudistira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari baik sudah ditentukan oleh Pinisepuh. Lokasi tempat menarik Pusaka dari Niskala ke Skala sudah dipagari skala dan niskala sejak beberapa hari sebelumnya. Murid-murid unggulan Paguyuban Dharma Giri Utama yang ikut membantu sudah dihubungi. Panitia dari drama Calon Arang juga ikut. Mereka dianjurkan untuk puasa mutih pada hari H untuk kelancaran proses penarikan Pusaka. Sarana yang lain sudah disiapkan oleh Pinisepuh dan tinggal menunggu hari H. Segenap komponen kampus yang mendengar perihal ini sangat penasaran dengan apa yang akan diakukan oleh Pinisepuh. Mahasiswa yang tidak berkepentingan tidak ada yang diberi tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya hari H sudah tiba. Semua sarana sudah siap. Yadnya sudah digelar dan dilaksanakan. Murid-murid dan panitia yang mendampingi acara sudah juga bersiap menerima perintah tugas dari Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Pinisepuh memerintahkan salah seorang murid untuk menyalakan dupa dengan jumlah tertentu. Setiap pojok dari lokasi yang sudah dipagari secara gaib dari jauh hari, ditancapi dupa-dupa yang menyala. Yang tidak terlibat secara lansung hanya bisa menyaksikan dari luar areal yang sudah dipagari saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian murid-murid dan panitia duduk melingkar di pusat areal upacara. Di tengah areal kemudian di gelar kain putih dengan ukuran kira-kira 40x40 centimeter. Berbagai macam kembang ditaburkan di atas kain tersebut. Setiap ujung kain ditancapkan dupa dengan jumlah tertentu. Yang terakhir adalah Pusaka uang kepeng yang dirahasiakan terikat pada benang tridatu (merah, putih dan hitam), ujung benang yang satunya diikatkan pada dupa yang tidak dinyalakan dengan jarak tidak terlalu panjang, kemudian ujung dupa ditancapkan di tanah agak miring sehingga uang kepeng tampak menggantung dan berayun-ayun di atas kain putih, seperti pada posisi orang memancing di kolam. Uang kepeng dipegangi agar tidak bergoyang atau berputar. Setelah uang kepeng diam dan tidak bergerak, Pinisepuh menyuruh semua untuk duduk tenang dan mengambil sikap meditasi. Semua membawa dupa yang dinyalakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segenap yang hadir duduk dengan tenang. Pinisepuh mulai melakukan meditasi dan mengucapkan mantra-mantra dengan suara mendesis. Anggota Paguyuban dan panitia disuruh untuk memperhatikan dengan sikap tenang. Uang kepeng mulai bergoyang-goyang dengan sendirinya. Tidak lama kemudian ujung-ujung kain putih bergerak-gerak naik turun serta seluruh kain tampak bergetar. Uang kepeng mulai berputar dengan cukup cepat di atas kain putih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh bermeditasi semakin dalam dengan segenap mantranya. Uang kepeng putarannya melambat akan tetapi kain di tengah areal sudah terbang di atas tanah kira-kira setinggi 10 centimeter. Kain tersebut ujung-ujungnya bergerak dan juga seluruh kain bergerak-gerak seperti irama ombak laut dari berbagai arah. Suasana menjadi mencekam dan sebenarnya menciptakan perasaan takut bagi anggota Paguyuban dan panitia yang berada dalam areal pagar gaib. Bunga-bunga yang berada di tengah kain banyak yang sudah berjatuhan ke tanah sementara kain putih masih mengambang di udara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Angin di sekitar tempat penarikan Pusaka Mirah Delima sangat dingin dan membawa suasana yang sangat mencekam. Jam sudah menunjukkan hampir pukul 00 tetapi Pinisepuh belum memberi tanda-tanda kapan dan di mana sebenarnya Mirah Delima akan muncul. Uang kepeng kembali bergoyang dengan cepat. Pinisepuh memerintahkan untuk menyalakan dupa lagi kepada anggota Paguyuban. Pada saat dupa ditancapkan ke tanah, tiba-tiba kain tersebut jatuh ke tanah karena ada sesuatu jatuh di atasnya dan membuat kain tersebut tidak bisa terbang lagi. Diberati oleh sebuah benda. Salah seorang anggota Paguyuban yang kebetulan melihat , mengatakan bahwa benda tersebut memang tampak seperti jatuh dari langit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh berhenti melakukan meditasi. Tetapi tampak mulutnya seperti komat-kamit berbicara dengan sesuatu yang tidak kelihatan. Uang kepeng diambil dan ditaruh pada tempatnya. Kemudian kain tersebut dilipat serta membungkus benda yang muncul tersebut. Pembersihan dan pencabutan pagar gaib pada lokasi penarikan pusaka dilakukan dengan upacara yang semestinya. Setelah itu Pinisepuh dan yang lainnya ke tempat suci melakukan persembahyangan yang semestinya sampai selesai. Semua yang hadir dalam prosesi tidak dapat menyembunyikan rasa penasaran yang sangat tinggi serta pandangan mata, semua menuju pada Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, kain pembungkus benda Pusaka itu dibuka dihadapan semua yang hadir. Isinya adalah sebuah benda mirip cangklong tembakau jaman dulu. Pinisepuh melihat-lihat benda tersebut dan akhirnya menemukan sebuah biji berwarna merah di dalam cangklong tersebut. Tidak bisa dikeluarkan begitu saja dengan tangan. Pinisepuh mengorek-ngorek biji tersebut dengan tangkai lidi hingga jatuh ke kain di bawahnya. Setelah dipegang ternyata biji tersebut adalah lembek seperti jeli atau agar-agar. Tetapi kalau dijatuhkan mengeluarkan bunyi ‘tuk’ seperti benda logam yang jatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Pinisepuh memerintahkan seseorang untuk mengambil air kemasan dalam gelas. Setelah air tiba, dikeluarkan seluruhnya dari kotak, ditata sedemikian rupa agar berdekatan letaknya. Pinisepuh mengambil salah satu gelas dan merobek plastik tutupnya lalu memasukkan biji merah tersebut ke dalam gelas. Beberapa saat kemudian air dalam gelas menjadi merah dan diikuti oleh gelas-gelas yang lainnya. Biji diambil dari gelas tetapi air masih tetap merah. Pinisepuh sedikit tersenyum barangkali memberi tanda baik. Biji dimasukkan kembali untuk beberapa lama. Pinisepuh memberitahu pihak kampus UNHI yang tampak bersuka cita, bahwa akan ada semacam tes untuk meyakinkan bahwa biji ini benar-benar adalah Mirah Delima asli serta dengan kualitas yang sangat tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengambil biji dari dalam gelas Pinisepuh memerintahkan seseorang untuk mencari silet. Pinisepuh mengambil biji dari dalam air yang masih merah. Pinisepuh memerintahkan anggota Paguyuban dan yang lain kalau berminat untuk meminum air merah tersebut. Dalam sekejap air habis diminum. Pinisepuh kemudian mencoba memotong rambut anggota Paguyuban yang meminum air dari hasil rendaman dan ternyata rambutnya tidak bisa dipotong. Demikian juga dengan anggota Paguyuban dan yang lain semua mencoba memotong rambutnya tetapi tidak ada yang berhasil memotong. Kemudian Pinisepuh mencoba melukai dengan silet pada tangan salah seorang anggota Paguyuban tetapi ia menjadi kebal. Akhirnya semua yang minum air tersebut menjadi kebal. Sorak sorai dari yang hadir menyibak suasana mencekam beberapa jam yang lalu. Pinisepuh mengatakan bahwa yang meminum air tersebut akan kebal dari senjata tajam selama 21 hari. Memang kenyataannya di hari ke 22 rambut bisa dipotong dengan gunting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tes berikutnya yang akan dilakukan untuk mengetahui Mirah Delima tersebut benar-benar berkualitas adalah dengan memanggilnya pulang dari rumahnya, yaitu cangklong. Seseorang dipanggil oleh Pinisepuh dan diberi Mirah tersebut, kemudian Mirah dimasukkan ke dalam saku orang tadi lalu disuruh untuk keluar dari areal kampus sampai ke jalan raya. Setelah lewat hampir 30 menit, Pinisepuh membisikkan sesuatu ke mulut cangklong. Tidak lama kemudian Mirah Delima kembali ke rumahnya. Tiba-tiba berada dalam canklong. Suara gembira dan tepuk tangan mewarnai pagi di kampus UNHI pada saat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua yang hadir bergembira atas keberhasilan Pinisepuh menarik Pusaka Mirah Delima yang ada di Kampus UNHI, Denpasar. Mirah Delima tersebut sekarang terpasang di pererai sakral UNHI. Secara Niskala, penunggu atau yang menjaga Pusaka Mirah Delima tersebut masih menjaga di sana agar Mirah Delima tidak diambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0); font-style: italic;"&gt;Bersambung...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 102, 0);"&gt;...mahluk gaib tertentu mempunyai kemampuan untuk menutup jalan skala... bagi yg baru terbuka penglihatan mata ketiga hati-hati...&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-3545631000146899724?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/3545631000146899724/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-5-menarik-mirah-delima-di.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/3545631000146899724'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/3545631000146899724'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-5-menarik-mirah-delima-di.html' title='Pinisepuh 5 – Menarik Mirah Delima'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-7977264991909701153</id><published>2009-09-19T05:51:00.000-07:00</published><updated>2009-09-19T05:56:10.073-07:00</updated><title type='text'>Pinisepuh 4 – Pengalaman Magis</title><content type='html'>Saya kenal dengan Pinisepuh belum terlalu lama tetapi kesan yang saya dapat sebagai pencari kebenaran niskala, menempatkan Pinisepuh sebagai salah satu pelaku spiritual dengan kemampuan tinggi di Bali. Seperti telah saya tulis bahwa Pinisepuh adalah kaki tangan Awatara, menurut kami anggota Paguyuban Dharma Giri Utama.  Sebagai seorang manusia biasa tentulah penilaian adalah dasar untuk memutuskan. Bukti dan fakta adalah ukuran yang sangat diperlukan dalam mengambil keputusan. Di sisi ego terkadang memerlukan atraksi dan bukti untuk mengakui seseorang sebagai  yang patut ditempatkan sebagai guru penuntun. Terkadang saya dan teman-teman di Paguyuban, masih memerlukan bukti-bukti untuk mempercayai seseorang yang katanya wikan atau waskita. Saya akan menceritakan pengalaman orang-orang tentang Pinisepuh dan juga pengalaman saya bersama Pinisepuh, tentu yang sudah mendapat ijin dari Pinisepuh. Seperti saya katakan, banyak hal tidak bisa diungkapkan ke dunia skala karena terbentur ‘perjanjian suci’. Saya termasuk beruntung karena mendapat restu untuk mendengar dan beberapa mengalami cerita-cerita yang jauh dari pemikiran manusia biasa. Pengalaman-pengalaman tersebut membuat saya yakin bahwa Pinisepuh memang kaki tangan Awatara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Pratima muncul beberapa hari setelah Pinisepuh mengatakan hal tersebut...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kemunculan Pratima Ganesha Kala&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya mempunyai teman namanya Gung Aji Mangku dari Negara, Batuan, Gianyar. Beliau bercerita bahwa suatu hari di Pura Merajan Gung Aji muncul sinar terang dari angkasa dan ada banyak orang yang menyaksikan kejadian tersebut. Sinar tersebut tidak langsung menyentuh tanah tetapi tepat berhenti didepan rong atau cangkem atau mulut Pelinggih Rong Tiga kemudian sinarnya membias ke segala penjuru arah. Kejadian ini disaksikan oleh anggota keluarga Gung Aji. Dalam satu kesempatan Gung Aji bertanya kepada saya,  pertanda apakah sinar tersebut? Untuk mengetahui ini saya mengantarkan Gung Aji ke jeroan Pinisepuh lengkap dengan banten yang diperlukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah segala ritual sudah selesai, Pinisepuh berkata kepada Gung Aji Mangku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sinar tersebut ingin memberitahu bahwa Beliau Para Leluhur memang ada dan melinggih di Merajan. Tetapi saya ingin bertanya apakah ada paica dari Dalem, dan sekarang di mana paica tersebut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah tidak ada paica di Jero apalagi paica Dalem”, kata Gung Aji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pokoknya ada, dan bawa ke sini kalau sudah ketemu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kembali dari tempat Pinisepuh, Gung Aji mencari-cari dan akhirnya memang menemukan Keris yang diperoleh dari membeli tetapi memang penjual bilang itu adalah keris paica Dalem. Juga ada alat untuk mengambil Tirta, semacam sendok tirta yang terbuat dari bahan perak tetapi saat itu tidak bisa diambil karena ditaruh di sangku tempat tirta dan tirtanya membeku seperti dodol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian saya kembali mengantar Gung Aji ke jeroan Pinisepuh. Menunjukkan keris yang ditemukan. Ternyata keris itu memang benar seperti apa yang dimaksud oleh Pinisepuh. Kemudian Pinisepuh berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebentar lagi pasangan dari keris paica Dalem tersebut akan muncul dan datang ke jeroan Gung Aji. Silahkan amati kejadian-kejadian khusus barangkali membawa petunjuk tentang paica yang akan datang tersebut”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa sih paica bisa datang sendiri?, pikir kami saat itu penuh dengan tanda tanya. Tetapi akhirnya memang dalam dua minggu paica tersebut datang dibawa oleh seseorang yang mengaku panjak dari Bangli. Cerita orang tersebut, sejak memiliki Pratima tersebut selama sepuluh tahun hidupnya tidak karuan. Keluarga sakit-sakitan, pekerjaan sering gagal dan akhirnya hutang sana sini untuk biaya sakit dan biaya hidup. Sampai mendapat petunjuk untuk membawa paica tersebut ke jeroan Gung Aji Mangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali kami mengunjungi Pinisepuh dengan membawa paica tersebut. Sesampai di jeroan, Pinisepuh tertawa kecil bahwa itulah paica yang dimaksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paica ini adalah sebuah Pratima dan namanya adalah Ganesha Kala. Di muka perwujudannya adalah Ganesha dan di belakang adalah Kala. Sepanjang Pinisepuh mengetahui bahwa pratima seperti ini baru ada satu yang muncul yaitu sekarang ada di Puri Ibu Majapahit yaitu di Puri Gading Jimbaran, adalah Puri tempat Brahma Raja Hyang Suryo beristirahat kalau ke Bali. Dan sekarang Gung Aji Mangku mendapat satu lagi. Ini berarti baru ada dua di Bali. Kegunaan dari Pratima ini adalah untuk mengusir penyakit niskala atau non medis dan juga untuk meruwat atau buang sial. Bahkan tirta asuannya bisa untuk memagari rumah agar tidak mudah dimasuki oleh sakit-sakit kiriman atau sakit non medis. Pinisepuh meminta kepada Gung Aji Mangku bahwa kedua paica tersebut ditinggalkan dulu di jeroan Pinisepuh untuk di Pasupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami kembali ke Jeroan Gung Aji Mangku. Kemudian Gung Aji Mangku masuk ke dalam ruang suci dan mendapati bahwa tirta yang tadinya membeku seperti dodol, sekarang sudah cair seperti sediakala. Suatu keanehan sudah terjadi!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Keampuhan Ganesha Kala&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, salah satu kakak ipar bertanya, apakah saya ada mengetahui seorang Balian atau yang bisa mengobati sakit non medis karena Balian langganannya sedang tidak bisa... Akhirnya kembali saya mengantarkan kakak ini ke jeroan Pinisepuh. Sampai di sana ternyata kakak ini memang sakit dan sudah sangat parah karena kena ‘cetik ceroncong polo’. Keluhannya seperti migrain atau sakit kepala sebelah dan sering kumat. Kalau tidak diobati dengan serius sakit ini bisa membawa kematian. Itu kata Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sembahyang, Pinisepuh mengeluarkan keris dan pratima kepunyaan Gung Aji Mangku, memohon agar sakit kakak ini bisa disembuhkan. Dengan tirta dari asuan pratima Ganesha Kala dan keris tersebut sebagai media yang disentuhkan ke ubun-ubun kakak ipar, tak berapa lama kemudian kakak ini tidak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama.  Kemudian Pinisepuh mengambil tirta dan menyiratkannya ke seluruh tubuh kakak. Tidak lama setelah itu kakak bangun dan tentu kaget karena tidak menyadari kalau baru saja ia tidak sadarkan diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum pulang, Pinisepuh berkata kepada kakak ipar. Mudah-mudahan sembuh ya, nanti akan ada paica yang datang yang berguna untuk jaga diri. Dalam waktu dua minggu memang paica berbentuk batu perhiasan datang dan sekarang telah dipakai sebagai cincin. Sakit yang sama dan pernah diderita jarang datang mengganggu. Sakit tersebut tidak mau disembuhkan total oleh Pinisepuh karena masih ada rahasia keluarga yang tidak boleh diungkap karena ini semacam karma dari masing-masing yang harus dijalani dulu. Sakit akan sembuh sendiri sejalan dengan tingkatan pengabdian spiritual. Sejak itu kakak ipar ini disarankan untuk lebih sering melukat di mana saja untuk membersihkan diri skala niskala. Lebih rajin meningkatkan diri pada spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ada orang ngaku-ngaku keturunan Mpu Gandring&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari di Puri Ibu Majapahit datanglah dua orang pemuda dari Karangasem yang melihat-lihat Pusaka dari Majapahit yang dipajang dan dipamerkan untuk umum. Salah seorang dari pemuda tersebut sangat antusias dengan salah satu keris yaitu keris Mpu Gandring. Dari lagaknya ia adalah seorang yang tampak paham sekali dengan barang Pusaka. Orang yang sangat paham sekali dengan Keris Pusaka Mpu Gandring karena membicrakan bentuk dan rupa dari Keris Mpu Gandring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurutnya keris hasil karya dari Mpu Gandring adalah keris yang bentuknya sempurna karena dikerjakan oleh seorang Mpu yang khusus mengerjakan keris sepanjang hidupnya. Mungkin dalam pandangan pemuda tersebut, Mpu Gandring menciptakan keris untuk para Raja masa keris seperti ini dipajang di Puri Ibu dan disebut-sebut sebagai keris Mpu Gandring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda tersebut akhirnya mengaku bahwa Dia adalah salah satu keturunan dari Mpu Gandring di Bali dan mengatakan bahwa Pusaka Keris Mpu Gandring yang dipajang di sini adalah palsu. Masak barang palsu dipajang di sini, di Puri Ibu Majapahit. Pemuda yang mengaku keturunan dari Mpu Gandring tersebut mengatakan ciri-ciri keris Mpu Gandring harusnya pekerjaannya sangat halus dan indah tidak seperti Pusaka yang dipajang di sini jelek dan bentuknya biasa saja. Bahkan tidak ada Yoni-nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemuda tersebut berbicara keras-keras seolah mencari Perhatian. Pada saat itu di sana ada Hyang Suryo, Pinisepuh, pengempon Puri Ibu Majapahit dan beberapa anggota Paguyuban Dharma Giri Utama yang memperhatikan tingkah laku sang pemuda. Sebenarnya pemuda tersebut sangat kelewatan berbicara kurang halus seperti begitu. Jiwa muda Pinisepuh tidak suka mendengar lagak bicara yang menurutnya tidak sopan di tempat seperti di Puri. Apalagi di sana ada Hyang Suryo, Brahma Raja Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh mendatangi kedua Pemuda yang tampak semakin sombong tersebut. Menceritakan perihal dirinya yang keturunan langsung dari Mpu Gandring kepada Pinisepuh yang saat itu Agung Yudistira adalah seorang pemuda yang dalam pandangan awam adalah orang biasa dan sederhana. Tentu saja pemuda tersebut semakin angkuh saja tampaknya. Tetapi akhirnya Pinisepuh berkata:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa benar Anda ini adalah keturunan langsung dari Beliau Ida Mpu Gandring?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tadi kan saya sudah ceritakan siapa saya. Dan saya katakan Keris Mpu Gandring ini palsu,” kata pemuda tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Pinisepuh mengambil dua keris. Yang satu adalah Keris Pusaka Mpu Gandring dan diberikan kepada pemuda tersebut. Sedangkan keris yang satunya dipegang oleh Pinisepuh dan berkata kepada pemuda sombong tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Anda benar keturunan langsung dari Ida Mpu, maka harus mempunyai kemampuan Beliau juga. Salah satu kemampuan Beliau adalah menguasai logam dengan baik sehingga menciptakan keris tidak dengan api tetapi cukup seperti ini...” Pinisepuh membengkok-bengkokkan keris yang dipegangnya. Melihat besar dan tebalnya saja tidak mungkin melakukan itu dengan tangan kosong. Semua yang hadir menyaksikan kemarahan Pinisepuh. Kemudian keris yang sudah dibengkok-bengkokkan tersebut dikembalikan kembali utuh seperti sediakala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sekarang silahkan Anda lakukan dengan keris tersebut...” Pinisepuh mempersilahkan kepada pemuda tersebut yang telah memegang Keris Mpu Gandring. Tetapi pemuda itu hanyalah diam dan merasa sangat malu. Hyang Suryo berkata, bahwa sebenarnya tidak usah seperti itu mereka cumalah anak-anak yang cari sensasi dan tidak membahayakan Pusaka yang ada. Biar nanti pada saatnya mereka mengerti sendiri apa sujatinya Pusaka Majapahit. Tetapi dalam penilaian saya, Pinisepuh tidaklah salah karena jaman sekarang barangkali harus ada sedikit atraksi agar orang-orang percaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti sudah dijelaskan bahwa Pinisepuh adalah orang terpilih, Beliau terkadang diberi kuasa untuk memanfaatkan ilmu yang dimiliki Leluhurnya bilamana merasa perlu asal tidak melanggar ‘perjanjian suci’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Paica Meru Tumpang Selikur&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dari anggota Paguyuban menceritakan kepada saya bahwa sebelum bertemu dengan Pinisepuh kehidupannya sangatlah kacau. Kesehatannya sangat buruk dan Rumah Sakit seperti rumah keduanya. Disamping kesehatan yang buruk, teman ini juga merasa tidak disukai oleh saudara-saudara iparnya. Kalau pulang kampung selalu dimusuhi dan setelah kembali ke Denpasar maka sakitlah yang Dia bawa dari kampung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Dia dikenalkan oleh salah satu saudaranya yang lain kepada Pinisepuh. Alangkah kasihannya Pinisepuh dengan teman ini karena ternyata ia sakit-sakitan lantaran kena dikerjai oleh seseorang yang barangkali tidak suka dengannya. Akhirnya teman ini diobati dan sembuh kemudian tekun sekali mengikuti saran-saran Pinisepuh, hingga pada suatu hari mendapat petunjuk harus tangkil ke Pura Ulun Danu di Soongan, Kintamani. Di Pura Ulun Danu, melalui Pinisepuh bahwa teman ini akan mendapatkan Paica suatu hari nanti dan akan muncul di suatu tempat di rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan perasaan yang penuh dengan rasa penasaran, teman ini selalu mencari-cari dimana kiranya Paica tersebut akan muncul dan hingga pada suatu hari, teman ini mendapati sesuatu di atas canang di pelangkirannya. Setelah diperhatikan dengan baik ternyata Paica tersebut menyerupai bentuk Meru dengan tumpang 21 atau selikur. Kemudian menurut Pinisepuh, bahwa Paica tersebut merupakan anugrah yang sangat hebat. Dalam dunia Balian siapa yang tidak mengenal dengan istilah Balian Batur yang sangat sakti. Maka Paica Pratima Meru tumpang selikur adalah pelindung yang sangat hebat untuk menangkal mejik atau ilmu hitam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Seorang saudara mengaku bisa...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, sebelum pulang kampung teman ini memohon Tirta dari asuan Paica. Sesampainya di kampung Dia ditemui oleh seorang keluarga perempuan yang serta merta sangat hormat kepada teman ini dan mengaku bahwa ia bisa mejik dan lidahnya sudah dirajah... demikian seterusnya pengakuan dari saudara-saudara yang bisa lainnya tersebut. Bahkan di waktu-waktu berikutnya, teman ini hampir tidak pernah lagi mengalami gangguan kesehatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Mantra sakti&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh sering mengajak beberapa nggota Paguyuban untuk bersembahyang ke suatu pura di Bali. Terkadang hanya mengisi acara saja biar ada kegiatan. Tetapi lebih sering adalah merupakan suatu petunjuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kegiatan ke pura tersebut diperuntukkan lebih kepada anggota Paguyuban dan bukan untuk Pinisepuh. Juga sebenarnya Pinisepuh waktu di pura hanyalah duduk-duduk dan bercakap-cakap dengan penghuni Niskala pura dan Para Leluhur yang melinggih di sana. Saya menafsirkannya seperti begitu karena setiap kali habis mengunjungi sebuah pura sudah menjadi kebiasaan kami selalu bertanya: “Gung, ada apa tadi di sana?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah suatu hari kami ke pura Besakih malam hari dan bersembahyang di areal pelinggih Ida Bhatari Ratu Mas Magelung dan Ida Ratu Syahbandar. Setelah ditanya, apakah Beliau Ida melinggih, dijawab dengan tidak. Kalau tidak apakah kebaktian kita diketahui? Tentu saja karena Beliau maha tahu dan juga sudah ada ancangan atau semacam petugas Beliau yang menggantikan kalau Ida sedang me-Yoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah pada hari purnama, Pinisepuh memilih beberapa orang anggota Paguyuban untuk diajak tangkil ke pura Majapahit di GWK. Saat itu saya adalah anggota baru di Paguyuban. Kami bersembahyang sebagaimana seharusnya. Dan pada saat malam sudah pada puncaknya yaitu pada jam 00, Pinisepuh duduk dengan serius di Ajeng pelinggih. Semua yang hadir diminta untuk mengambil sikap sembahyang atau meditasi. Tak lama kemudian Pinisepuh mengucapkan mantra-mantra yang aneh dan tidak pernah saya dengar sebelumnya. Pada pertengahan mantra hampir semua yang hadir mengalami kerauhan. Dapat dihitung dengan jari yang tidak megalami kerauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;... yang menderita sakit berteriak ...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah fenomena mantra yang diucapkan oleh Pinisepuh. Dalam kerauhan tersebut ada beberapa jenis prilaku. Yang pertama ada yang menggelepar-gelepar, ada yang menari-nari, ada yang duduk tetapi cuma tangan yang bergerak-gerak membentuk sikap mudra sambil mulut mengeluarkan suara Omm..... Yang paling aneh adalah yang menangis meraung-raung, menjerit dan berguling-guling di lantai pura serta berteriak sakiiiit... sakiiiit....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anggota Paguyuban yang sadar diminta untuk mengawasi yang kerauhan. Setelah beberapa saat, Pinisepuh dan Bikuni menyiratkan Tirta untuk menyadarkan. Tetapi yang berteriak sakit, untuk sementara dibiarkan karena Bikuni dan Pinisepuh akan melukat orang sakit ini untuk dikeluarkan sakitnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir, salah satu anggota Paguyuban mempunyai masalah yang sangat berat. Mempunyai sakit bebainan dan diceritakan bahwa yang mengirim katanya adalah saudara ipar dan yang menyakiti masih nenek dari suaminya. Nenek tersebut sekarang berada dalam tubuh teman yang sakit ini dan ia sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Menurut pengakuan nenek tersebut, sebenarnya ia sudah tidak betah tinggal di tubuh teman ini karena sering mebakti ke pura-pura hingga nenek tersebut merasa panas. Tetapi tidak bisa keluar dan sudah seperti lengket di tubuh teman yang sakit ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertempuran yang sengit terjadi antara anggota Paguyuban yang sudah senior dengan nenek tersebut. Nenek tersebut malah makin menantang dan mengatakan bahwa dirinya adalah leak inan sakti dari Negara, ayo lawan... hihihi ayo lawan nira... hihihi.... jeritnya membuat bergidik yang berada di pura. Beberapa anggota Paguyuban memegangi nenek tersebut. Nenek tersebut tampak lemah, dan dengan maksud agar cepat keluar dari tubuh teman ini, anggota Paguyuban membopong ke tempat pelukatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi begitu dilukat dan Tirta mengenai kepala, kembali teman ini menjerit: “Ayo lawan nira... inan leak nenenan tusing taen ada ngalahang.... hihihihi..... “. (ayo lawan saya, leak ini belum ada yang bisa mengalahkan) ia merota-ronta, tangannya menuding-nuding anggota Paguyuban.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana benar-benar sangat mencekam saat itu karena di kejauhan terdengar suara anjing yang meraung ‘ngulun’ suara tertawa nenek ini bergema di antara bukit padas GWK. Kejadian ini berulang beberapa kali. Setiap dilukat menjerit lagi. Anggota Paguyuban seperti sudah kehilangan akal dengan ini sampai akhirnya ada juga yang kerauhan suaranya seperti raksasa “grehh....heheheh... “ bergetar. “Pesuang iban nyi... pesu... heheheh greheheh” seraya mencekik leher nenek tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi akhirnya, Pinisepuh berteriak dengan lantang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Manusa sakti, Nira Dalem Sidakarya, kenken lakar pesu apa tusing uli ditu?” (Manusia sakti, Saya adalah Dalem Sidakarya, bagaimana mau keluar apa tidak dari sana?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tulungin, tulungin tiang, sebenerne dot sajaan pesu uling pidan tapi ten mersidayang.” (Tolong, tolong saya, sebenarnya ingin sekali keluar tapi tidak bisa). Nenek itu tidak berani menatap Pinisepuh yang sudah kerasukan Ida Dalem Sidakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sudut lain, Bikuni juga mengalami kerauhan dan mengeluarkan suara anak-anak. “Enak ya, makanan di kampung, enak ya makanan di kampung. Kalau pulang lagi makan semua makanan, enak...” Kira-kira seperti itu kata-kata yang diucapkan Bikuni. Seperti memberi tahu bahwa sakit teman ini dikirim dari makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Cakupang tangane, ngacep ring Ida Bhatara!” (Cakupkan tangan dan nyembah ke Ida Bhatara). Kata Pinisepuh yang sudah dirasuki Ida Dalem Sidakarya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya nenek mengambil sikap menyembah, memohon: “Pakulun Ida Bhatara, ampurayang titiyang.... tiyang jagi mepamit....” (Mohon ampun Ida Bhatara, maafkanlah saya, saya mau pamit). Selesai berkata begitu, maka teman ini jatuh lunglai tak sadarkan diri lebih dari setengah jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Pinisepuh dan Bikuni sadar dengan sendirinya. Saat dibopong ke tempat melukat kembali kami was-was jangan-jangan menjerit lagi. Bikuni mengambil tirta dan menyiramkannya ke kepala teman ini. Aman tidak terjadi apa-apa dan malah teman ini bertanya: “Nak engken nenenan?” (apa-apaan ini), merasa dikerubuti dan dipegangi rame-rame teman ini merasa aneh dan ternyata dari tadi Dia tidak sadarkan diri sama sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang saya bertanya kepada Pinisepuh perihal sakit tadi di pura. Memang sakit seperti teman itu akan sangat sulit kalau diobati oleh manusia sakti biasa karena nenek tersebut orang sakti dan juga sudah meninggal serta sakitnya masih berada pada tubuh seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bersambung...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh menarik Pusaka Mirah Delima dari alam Niskala di UNHI&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-7977264991909701153?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/7977264991909701153/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-pengalaman-magis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/7977264991909701153'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/7977264991909701153'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-pengalaman-magis.html' title='Pinisepuh 4 – Pengalaman Magis'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-577533709072426330</id><published>2009-09-16T03:19:00.000-07:00</published><updated>2009-11-28T08:00:29.603-08:00</updated><title type='text'>Pinisepuh 3 - Keris berloncatan</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Perjalanan Pratima dan Pusaka Majapahit ke Bali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;SKB mentri telah menutup kegiatan ritual di Pusat Majapahit di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur. Ini berarti umat Ciwa Budha tidak bisa menghormati Leluhur mereka di Pusat Majapahit. Oleh karena ini, Brahma Raja Hyang Suryo sudah memikirkan tindakan selanjutnya guna melestarikan Budaya Leluhur yaitu dengan memindahkan Pratima dan Pusaka ke Bali, karena Bali adalah pusat Leluhur serta dalam pandangan Niskala, Bali adalah pusat Niskala Dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas dasar perkenan dari Leluhur, kemudian Hyang Suryo melaksanakan petunjuk memindahkan Pratima dan Pusaka Majapahit tersebut ke Bali. Pemindahan Pratima dan Pusaka Majapahit ke Bali dilakukan dengan dua cara: yang pertama lewat darat dan yang kedua lewat udara. Karena Pinisepuh adalah salah satu dari umat yang mendapat titah dari para Leluhur maka mendapat tugas untuk ikut dalam prosesi pemindahan Pratima Leluhur dan Pusaka Majapahit ke Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hyang Suryo dan Pinisepuh yang membawa Pratima serta Pusaka berikut lewat darat:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pratima Ibu Tribuwana Tungga Dewi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pratima Hyang Wisesa atau Prabu Jayasabha&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pratima Gajah Mada&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pratima Raden Wijaya atau Prabu Jayabaya&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pratima Ibu Dewi Gayatri&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pratima Ibu Dewi tangan seribu yang berkaki ikan sebagai simbol dari Ibu Dewi Gangga.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keris Mpu Gandring&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Keris Gajah Mada&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Tidak ada halangan dalam perjalanan dari Mojokerto ke Banyuwangi. Setelah sampai di ketapang, atas petunjuk, Beliau para Leluhur Pratima dan Pusaka tidak boleh disebrangkan dengan menggunakan kapal laut. Akhirnya Hyang Suryo dan Pinisepuh menyebrang dengan Perahu dari Ketapang ke Gilimanuk Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keris Mpu Gandring dan Keris Gajah Mada dibawa oleh Pinisepuh. Sedangkan Pratima dibawa oleh Beliau Hyang Suryo. Yang sering menyebrang dari Bali ke Jawa tentu tahu,  bahwa, Selat Bali adalah selat berarus deras. Ombak yang kecil adalah ombak yang lumayan besar bagi sebuah perahu kecil. Akan tetapi air laut bagai air danau saat tersebut karena menurut Pinisepuh, salah satu keris diacungkan ke angkasa untuk menenangkan ombak sehingga ombak menjadi sangat tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sama halnya dengan Pratima dan Pusaka yang lewat udara yang terdiri dari 50 tombak, 30 Pedang diantaranya Pedang Arya Damar, Pedang Ganesha, 25 Keris beserta bermacam-macam Pratima lainnya, sampai di Denpasar tanpa masalah sedikitpun. Kemudian semua Pratima dan Pusaka yang melalui udara atau naik pesawat setelah sampai di Denpasar, dibawa ke Gilimanuk untuk dipersatukan bersama Pratima dan Pusaka yang lewat darat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Pratima ke Negara&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari Gilimanuk rombongan pembawa Pratima dan Pusaka menuju ke Pura Majapahit Negara. Di Pura Majapahit Negara, Pinisepuh mendapat petunjuk dari Ratu Gede Dalem Majapahit untuk memberikan keris Sapu Jagat ke Pura Majapahit Negara. Sekarang Keris Sapu jagat menjadi Pajenengan dan disungsung oleh segenap lapisan masyarakat Negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pratima ke Buleleng&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari Negara, rombongan kemudian menuju Pura Majapahit Sukasada, Buleleng. Hyang Suryo mendapat petunjuk untuk menaruh Pratima Ganesha, Keris Ganesha dan Pratima Budha. Karena selama ini diketahui dalam pelaksanaan upcara di Pura tersebut hanya menggunakan kober dan umbul-umbul saja untuk mengenang dan memuja Leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Pratima Ganesha, Keris Ganesha dan Pratima Budha ini harus diberikan ke Pura Majapahit, Sukasada, karena berkenaan dengan lambang Kabupaten Buleleng yaitu Singa Ambara Raja, di mana Singa Ambara Raja adalah kendaraan dari Sakyamuni atau Sang Budha. Juga karena ajaran yang berkembang di Buleleng pada masa-masa lalu lebih kepada Budha. Sebagai bukti bahwa di Buleleng tidak ada Petapakan Barong sebagai ciri khas dari ajaran Ciwa. Serta bukti lainnya adalah dengan ditemukannya Tapak Kaki Buda di Buleleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pratima Ke Pura Jagatnatha Denpasar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari Buleleng, Pratima dan Pusaka menuju ke Pura Jagatnatha Denpasar. Setelah sampai di Pura Jagatnatha rombongan disambut oleh World Hindu Youth Organisation (WHYO) yang dipimpin oleh Dr Shri Arya Vedakarna, Juga dari Puri, termasuk Ida Cokorde Jambe Pemucutan yaitu Raja Denpasar, banyak Sulinggih juga Barongsai dari Konco Dwipayana Tanah Kilap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Pratima dan Pusaka nyejer di Pura Jagatnatha. Pada saat nyejer tersebut terjadi keanehan, yaitu, Pratima Ganesha Kala (depan adalah rupa Ganesha dan bagian belakang adalah rupa Kala) didatangi oleh Keris dan Tombak yang muncul sendiri dari alam niskala. Hyang Suryo mendapat petunjuk bahwa keris dan tombak tersebut adalah pasangan dari Ganesha Kala yang berguna untuk melakukan peruwatan. Membersihkan dan melukat manusia maupun jagat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian umat yang hadir ada seorang wanita bernama Ibu Eka yang mengalami kerauhan dan mendapat petunjuk untuk ngaturang Pakelem di Sanur. Hyang Suryo setuju untuk ngaturang Pakelem akan tetapi harus naik Dokar ke Sanur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Keanehan yang terjadi saat upacara pakelem&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah segala keperluan Yadnya siap, rombongan berangkat ke Sanur. Pinisepuh berada di salah satu Delman. Entah petunjuk dari mana tiba-tiba sebuah keris yang dipegangnya ditarik dari sarungnya dan dhunuskan ke udara. Saat itu juga secara serentak semua rombongan yang mebawa keris mencabut keris dari sarungnya dan menghunuskannya ke udara. Termasuk Hyang Suryo. Yang tidak membawa keris dupa pun jadi. Pokoknya semua berpose seperti menghunuskan keris ke udara. Kaki kuda bagian depan semua naik ke udara dan membuat heboh suasana. Kejadian ini terjadi beberapa menit seperti kerauhan bersama tetapi hanya mengacung-acungkan keris saja sampai akhirnya harus dihentikan oleh Hyang Suryo. Setelah suasana kembali normal, perjalanan ke Sanur dilanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di Sanur, sampan sudah siap membawa banten pakelem ke tengah laut. Pratima Ganesha yang akan dipersembahkan sudah pula siap. Tetapi setelah di tengah laut Ibu Eka kembali mengalami kerauhan dan berkata jangan Pratima Ganesha yang dipersembahkan untuk pakelem. Karena tidak ada petunjuk lain maka akhirnya hanya banten saja yang di persembahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upacara penyambutan Pratima dan Pusaka di Pura Jagarnatha sudah berjalan baik dan sukses. Pratima Ganesha yang sedianya dihaturkan untuk Pakelem akhirnya dilinggihkan di puncak candi atau angkul-angkul di Puri Ibu Majapahit, di Puri Gading Jimbaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Pratima dan Pusaka tiba di Puri Ibu Majapahit, semua dilinggihkan dan ditempatkan di tempat semestinya. Tak lama kemudian diadakan Piodalan di Puri Ibu Majapahit, Puri Gading Jimbaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Keris berloncatan dan bergetar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SrHlF9YJOdI/AAAAAAAAACc/i99IGrlHHKg/s1600-h/01.pinisepuh-purigading.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 239px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SrHlF9YJOdI/AAAAAAAAACc/i99IGrlHHKg/s400/01.pinisepuh-purigading.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382334920222390738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pinisepuh di depan Ruko Purigading Jimbaran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat Piodalan di Puri Ibu Majapahit, Pratima Ibu Dewi Kwan Im dan Pedang Naga yang melinggih di Jeroan Pinisepuh dipendak atau lunga ke Puri Ibu Majapahit. Sesampainya Pratima dan Pedang Naga di Puri Ibu Majapahit, terjadi keanehan, yaitu semua keris kecil sampai sedang yang berada di tempat penyimpanan Pusaka berloncat-loncatan setinggi lebih kurang 20 centimeter. Sehingga Pak Ketut salah satu juru sapuh di Puri Ibu Majapahit harus mengikat keris-keris kecil tersebut agar tidak berloncatan. Sedang keris dan pedang yang berukuran besar semua bergetar menimbulkan suara ribut. Akhirnya upacara besar yang dihadiri Sulinggih dan Raja Denpasar berjalan sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pratima yang disakralkan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pratima dari Majapahit Trowulan beberapa disakralkan dan tidak boleh ditunjukkan ke masyarakat luas dan disimpan di tempat yang sangat rahasia oleh Brahma Raja Hyang Suryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang Pratima Ibu Tribuwana Tungga Dewi dan Hyang Wisesa atau Prabu Jayasabha dilinggihkan di Jeroan Pinisepuh. Akan tetapi saat saya ingin melihat Pratima tersebut Pinisepuh tidak dapat menunjukkan Pratima Beliau karena sangat sakral. Bahkan, Istri Beliau juga tidak tahu di bagian rumah yang mana Pratima tersebut disimpan. Pada akhirnya Pinisepuh memberitahu bahwa saat ini Pratima dilinggihkan di Niskala atau di alam gaib dan sewaktu-waktu kalau perlu petunjuk dan berkomunikasi baru diwujudkan ke skala atau ke dunia nyata. Sebenarnya ada beberapa Pratima yang di-Niskala-kan oleh Pinisepuh tetapi biarpun cuma nama, Pinisepuh sangat merahasiakan. Pada saatnya nanti akan diberitahu, demikian katanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung........&lt;br /&gt;Pengalaman magis: Keris Mpu Gandring dibengkokkan dengan tangan... Pinisepuh juga mendapat Penugrahan kemampuan Mpu Gandring.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-577533709072426330?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/577533709072426330/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-3-pratima-dan-pusaka.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/577533709072426330'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/577533709072426330'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-3-pratima-dan-pusaka.html' title='Pinisepuh 3 - Keris berloncatan'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SrHlF9YJOdI/AAAAAAAAACc/i99IGrlHHKg/s72-c/01.pinisepuh-purigading.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-443081751244753659</id><published>2009-09-15T22:14:00.000-07:00</published><updated>2009-09-17T01:11:58.151-07:00</updated><title type='text'>Pinisepuh 2 – Kaki Tangan Awatara</title><content type='html'>Dalam perjalanan mencari pembimbing spiritual, banyak sekali mengunjungi para Penekun. Beliau-beliau adalah orang-orang hebat dan juga sangat menyenangkan. Terkadang saya juga menemukan bahwa Beliau para Penekun ngiring Sesuhunan tertentu atau Ida Bhatara. Kebanyakan yang mereka iring adalah Tabik Kulun, Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped atau Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling yang melinggih di Pura Dalem Ped, Nusa Penida. Jarang sekali saya menemukan bahwa seorang Dasaran ngiring sesuhunan lebih dari satu Ida Bhatara. Tetapi Pinisepuh adalah ‘ngiringan’ banyak sekali Ida Bhatara. Mengapa? Karena Pinisepuh adalah seorang keturunan Raja yang terpilih untuk mengemban suatu tugas di Bumi Nusantara bersama-sama dengan Brahma Raja Hyang Suryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raja-raja jaman Majapahit adalah Awatara dari para Dewa. Agung Yudistira adalah salah satu keturunan dari Beliau-beliau dan telah terpilih untuk mengemban suatu tugas dan misi kebangkitan Ciwa Budha. Pinisepuh berkomunikasi dan bisa melihat Beliau. Apakah Pinisepuh adalah salah satu dari kaki tangan Awatara yang ada di Bumi Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh sebenarnya tidak ingin menjadi orang yang terkenal atau dikagumi. Tetapi saya sebagai umat, yang bertemu Beliau karena sakit niskala menahun, dan sembuh, ingin juga kewikanan Beliau diketahui umum karena banyaknya masalah kesehatan dan niskala yang sangat rumit di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya, maaf, merayu Beliau untuk mau diekpos ke dunia luar. Akhirnya Beliau setuju bahwa saya menulis semacam biographi singkat untuk Pinisepuh dengan harapan masyarakat Bali pada khususnya memahami bahwa di Bali ada manusia wikan salah satunya Pinisepuh yang barangkali setara dengan kemampuan Dalai Lama di Tibet yang mampu berkomunikasi dengan Dewata dan meneropong. Kenapa aset sedemikian berharga ini tidak dilibatkan dalam urusan skala dan niskala di Bali dalam skup lebih luas dan bukan segelintir individu? Selama ini teman dekat saja yang minta tolong kepada Pinisepuh karena diibaratkan dokter, Pinisepuh tidak buka Praktek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah hal yang sangat menarik untuk menceritakan siapa sesungguhnya Pinisepuh. Kisah Beliau akan saya ceritakan sebatas yang boleh diceritakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kisah pertemuan dengan Brahma Raja Hyang Suryo&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari Ida Bhatari Ratu Niang Sakti memberi petunjuk kepada Pinisepuh untuk tangkil ke Pura Majapahit di Imam Bonjol, Denpasar. Setelah tangkil ke Pura Majapahit, di sana Pinisepuh mendapat petunjuk untuk tangkil ke Pura Luhur Sandat yang masih di kawasan Imam Bonjol di mana di Pura tersebut ada petapakan Tapel Barong milik dari Prabu Jayasabha atau Ida Hyang Wisesa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SrEIGq1AtII/AAAAAAAAACU/TXw5fMc-zlk/s1600-h/01.-pinisepuh-hsuryo.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 282px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SrEIGq1AtII/AAAAAAAAACU/TXw5fMc-zlk/s400/01.-pinisepuh-hsuryo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5382091940353324162" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh dan Hyang Suryo&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Pura tersebutlah Pinisepuh bertemu dengan Brahma Raja Hyang Suryo. Sebelumnya secara gaib, Ida Bhatari Ratu Niang Sakti sudah menceritakan siapa sejatinya Beliau Hyang Suryo. Setelah tiba di pura, Pinisepuh didekati oleh Hyang Suryo, seperti sudah saling mengenal. Mereka ngobrol dan mengisahkan tentang Majapahit sampai jam 12.30 malam. Sampai diujung pertemuan pertama Hyang Suryo berpesan kepada Pinisepuh bahwa nanti pada Purnama Kapat 2004 akan muncul Pratima-pratima satu persatu yang datang dari Beliau para Leluhur dan harus diempon oleh Pinisepuh Agung Yudistira di Jeroan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sejarah singkat Leluhur Pinisepuh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mpu Bradah -&gt; mempunyai anak Mpu Bahula -&gt; menurunkan Mpu Tantular (pencipta Pancasila) -&gt; menurunkan Mpu Soma Kepakisan -&gt; menurunkan Sri Aji Dalem Kresna Kepakisan -&gt; menurunkan Satria-satria Dalem dan salah satunya adalah Tegeh Kori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena melakukan kesalahan Tegeh Kori dibuang dari Puri yang kemudian dipungut oleh Arya Kenceng (Raja Tabanan) dan menjadi anak angkat Sang Prabu. Saking sayangnya dengan ayah angkatnya Arya Kenceng, Tegeh Kori sering memakai nama Arya Kenceng Tegeh Kori.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum Tegeh Kori dibuang, Ayahandanya berpesan, kelak keturunan dari Tegeh Kori boleh memakai gelar Dalem yaitu Dalem Benculuk. Melihat ini berarti Pinisepuh mempunyai darah Brahmana dari Sri Aji Dalem Kresna Kepakisan dan darah satria dari Arya Kenceng. Dalam arti didikan ayahanda angkatnya yang seorang Arya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewikanan dari Kedua Leluhur sepertinya mengalir ke dalam diri Pinisepuh. Tidak bisa saya ceritakan pengalaman-pengalaman Beliau di sini karena tidak sembarang orang boleh tahu karena juga terbentur ‘perjanjian suci’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kemunculan Pratima&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pratima adalah manifestasi Beliau Ida Bhatara. Bentuk Pratima adalah patung kecil, yang sebenarnya adalah sebuah potret 3 dimensi Beliau. Atau wujud Beliau berupa patung yang terbuat dari macam-macam bahan. Bisa batu dan terkadang juga keramik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu Pratima terkadang juga dihuni oleh beberapa Roh Leluhur. Pengertian ini baru saya dapatkan waktu napak tilas ke Puri Majapahit di Trowulan. Di saat kembali dari Trowulan saya merasakan bahwa Pratima yang kami bawa ‘lunga’ waktu kembali tidak dihuni oleh Satu Roh Beliau. Dengan demikian Pratima bisa diartikan juga sebagai sebuah kendaraan yang bisa dimuati beberapa orang. Pinisepuh mengatakan bahwa bisa memang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari saya mengajukan pertanyaan bodoh. “Gung, kok pelinggih itu kecil apa Ida Bhatara rumahnya di sana?” Pinisepuh ketawa. “Bli, ibaratnya pelinggih itu tempat duduk Pejabat. Kalau Bli menghadap pejabat ia duduk di sana. Juga kalau Bli maturan ibaratnya Beliau datang dari kahyangan dan duduk di pelinggih tersebut.” Menurut Pinisepuh, Pratima juga hampir seperti itu cuma Pratima berbentuk patung perwujudan dari Beliau Ida Bhatara, dan terkadang, Beliau yang lain bisa ikut, atau numpang di Pratima tertentu kalau belum memiliki Pratima sendiri untuk bisa ‘lunga’ pada saat di-pendak ke suatu Pura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, saat-saat yang dinanti penuh antusias dan penasaran, sesuai dengan petunjuk langsung yang diberikan oleh Brahma Raja Hyang Suryo, bahwa pada Purnama kapat tahun 2004 Pratima-pratima, katanya akan segera mulai berdatangan. Pertanyaan Pinisepuh waktu itu, karena belum pernah tahu, bagaimana cara Pratima tersebut datang ke Jeroan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pratima Ida Bhatari Ratu Mas Magelung&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini adalah Pratima yang pertama datang. Pratima Ida Bhatari Ratu Mas Magelung diantarkan sendiri olah Brahma Raja Hyang Suryo secara niskala atau gaib bersama seorang biksu yang juga gaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah pengalaman yang sangat mengesankan karena Hyang Suryo adalah manusia yang masih hidup di dunia tetapi mengapa bisa datang dalam bentuk gaib. Tetapi bagi Agung Yudistira, ini semacam pertanda bahwa Sesuhunan-nya, Hyang Suryo ingin menunjukkan bahwa Beliau adalah bukanlah manusia kebanyakan. Beliau adalah seorang titisan Dewata juga seperti Raja-raja Majapahit lainnya. Pernah ditanyakan kepada Beliau namun jawabnya sangat sederhana, hanya sebuah senyuman arif menyejukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ida Bhatari Ratu Mas Magelung, di Besakih sering disebut Ida Bhatari Ratu Ayu Mas Magelung. Perwujudan Beliau sangatlah banyak. Kalau di Batur Beliau adalah Dewi Ulun Dhanu atau juga sering disebut Dewi Dhanu. Dalam Budha Beliau adalah Ibu Dewi Kwan Im yang welas asih dan maha penyayang, Beliau mempunyai 33 perwujudan yang akan diceritakan dalam kesempatan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pratima Ibu Dewi Yulan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari Pinisepuh bertemu dengan pak Iwan di pura Majapahit Iman Bonjol dan seorang Pemangku yang nyunsung Ibu Dewi Kwan Im. Atas petunjuk Ida Bhatari Ratu Mas Magelung, Pinisepuh diperintahkan untuk mengambil Pratima Ibu Dewi Yulan dari rumah pak Iwan. Begitu diutarakan kepada pak Iwan, diijinkan begitu saja walau itu sudah disungsung turun temurun oleh keluarganya. Pak Iwan dari dinasti Li keturunan dari Dara Jingga, Eyangnya dulu merantau ke Buleleng Bali, dan juga Eyangnya masih ada hubungan dengan Hyang Suryo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pratima Ida Bhatara Mpu Kuturan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh mendapat petunjuk untuk mendak Ibu Dewi Yulan ke Pura Silayukti. Pratima dilinggihkan di sebuah ‘plangkiran’ dan sesampai di Pura Silayukti Pratima dilinggihkan. Tetapi pada saat mau pulang, di plangkiran ada 2 Pratima yaitu Pratima Ibu Dewi Yulan dan Pratima Ida Bhatara Mpu Kuturan yang baru muncul di Pura Perhyangan Beliau Ida Mpu Kuturan sendiri dan sejak saat itu Pinisepuh berkomunikasi dengan Beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tapel Sidakarya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari, seseorang bernama Wayan Suta yang sedang sakit niskala datang minta tolong kepada Pinisepuh dan akhirnya memang sembuh. Dalam prosesi pengobatan itu Wayan Suta bertanya kepada Pinisepuh: “Agung, senang dengan tapel?” Pinisepuh menjawab “Ya tentu saja suka”. “Ya suatu saat nanti saya akan matur”, kata Wayan Suta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kemudian, Wayan Suta ada upacara potong gigi dan mengundang Pinisepuh yang akhirnya datang juga ke tempat upacara. Pada saat upacara tersebut Pinisepuh bertanya perihal tapel yang dulu sempat dikatakan oleh Wayan Suta, dan serta merta Pinisepuh diajak masuk ke kamar suci Wayan Suta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa tapel di sana dan Pinisepuh memilih satu topeng yang bagus. Akan tetapi tidak diijinkan karena tapel tersebut  masih sering dipakai untuk menari. Kemudian tangan Pinisepuh menggapai tapel yang sudah agak tua. Tetapi Pak Wayan Suta sangat kaget, sebab yang dipilih adalah Tapel Sidakarya yang tidak boleh dimiliki oleh sembarangan orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Wayan Suta menceritakan perihal bagaimana asal muasal tapel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapel tersebut dulunya disungsung oleh Ratu Peranda di Grya Babakan. Tetapi tapel ini hilang dari Grya sudah beberapa tahun. Suatu hari Wayan Suta tangkil ke Grya dan melihat tapel di bawah pelangkiran dan kemudian ditunjukkan kepada Ratu Peranda yang kemudian kaget bahwa tapel tersebut adalah tapel yang hilang dulu. Karena sudah petunjuk bahwa tapel tersebut harus diberikan kepada yang menemukan, maka tapel memang diberikan ke Wayan Suta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wayan Suta membersihkan tapel tersebut tetapi pada saat membersihkan jari-jarinya terkena sesuatu dan luka. Setetes darah jatuh ke muka tapel. Ratu Peranda kemudian memberitahu Wayan Suta bahwa Ida memang sudah berkemauan atau mapikayun seperti itu. Wayan Suta kemudian diperintahkan untuk meneteskan darah tersebut sebanyak 11 kali sesuai petunjuk Ida. Tapel kemudian dicuci dengan air kembang serta beberapa hari kemudian dipasupati kembali oleh Ratu Peranda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum membawa pulang Wayan Suta diberitahu kesakralan Tapel Sidakarya. Salah satunya adalah hanya pergina atau penari yang boleh memiliki tapel tersebut. Setiba di rumah, adik pak Wayan Suta sedang sakit dan menggigil. Iseng-iseng Wayan Suta ‘nunas asuan’ dari tapel Sidakarya dan ternyata sembuh. Tetapi adiknya beberapa hari kemudian sakit aneh dan setelah ditunaskan raos ternyata karena keberadaan tapel tersebut di rumah. Selain itu, Wayan Suta mendapat petunjuk raos bahwa harus ada upacara dan membuat kamar suci untuk menempatkan tapel tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah beberapa tahun kemudian ternyata pak Wayan Suta menjadi seoarng pergina atau penari Topeng Sidakarya!.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar cerita dari Wayan Suta, Pinisepuh tidak mengurungkan niatnya untuk meminta tapel Sidakarya tersebut. Akhirnya tapel Sidakrya dibawa ke Jeroan Pinisepuh. Sebelumnya sudah diwanti-wanti agar hati-hati merawat tapel karena sangat disakralkan. Tetapi karena Agung tidak mengenal siapa itu Dalem Sidakarya, tapel tersebut diperlakukan sebagai topeng pajangan dan ditaruh seperti meletakkan tapel sovenir dari Sukawati. Namun pada suatu hari Pinisepuh didatangi sosok yang mengaku Dalem Sidakarya dengan berkata:”...Nira Ratu Dalem...”. Tapi Pinisepuh tidak memperhatikan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari datanglah seorang saudara dari Singaraja dan minta tolong untuk diobati. Tetapi kemudian ia kerauhan dan memberitahu Pinisepuh bahwa tapel tersebut adalah Tapel Sidakarya dan nanti kalau odalan di Pura Tenget Pedungan, Tapel harus ‘lunga’ kesana. Pada saat itu Pinisepuh bilang, bahwa kalau memang benar ini adalah Ida Bhatara, tolong kalau odalan nanti biar banyak yang datang menolong karena dimana nyari biaya kalau harus dikerjakan sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataannya waktu odalan banyak sekali orang yang datang dan mau menolong membuat bermacam-macam banten, dan Beliau lunga ke Pura Tenget. Akhirnya tapel sudah melinggih di tempatnya, serta Jero Pemangku sudah mulai memantra. Suara bajra berdentingan. Tiba-tiba angin menjadi keras. Awan mendung. Dari atas langit secara niskala Pinisepuh melihat putaran angin pekat seperti tornado datang. Ujung angin yang berpusar tersebut menyentuh Tapel Sidakarya. Saat bersamaan ujung angin puting beliung itu menyentuh Tapel, Jero mangku membanting bajra yang tengah dipegang ‘ngeleneng’ dan Jero Mangku kerauhan. Lampu mati tiba-tiba. Langit mendung besuara gemuruh. Bunga api petir di angkasa tampak mencekam ditambah dengan suara prepet prepetnya. Suara anjing meraung-raung ngulun. Jero mangku dalam kerauhannya berkata: “Kenapa baru sekarang ke sini...”, setelah Jero Mangku berbicara begitu pemedek hampir semua kerauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kerauhan tersebut, Jero Mangku bilang bahwa tapel harus lunga juga ke Pura Dalem Sidakarya. Setelah selesai odalan di Pura Tenget, tapel kembali ke Jeroan. Beberapa hari kemudian Jero Mangku dan beberapa pengempon pura datang ke Jeroan. Pinisepuh akhirnya mengatakan bahwa sebaiknya Tapel Sidakarya ditempatkan di Pura saja. Semua setuju dan lalu Pinisepuh menyerahkan secara simbolis tapel kepada Jero Mangku. Tetapi kemudian Jero Mangku kerauahan dan berkata: “Nira sing nyak ditu melinggih. Nira nak kayun dini melinggih. Kadong sing baange ape. Kadong aturine canang dogen.” (Saya tidak mau tinggal di sana. Saya ingin tinggal di sini. Biarpun tidak mendapat persembahan, biarpun cuma mendapat persembahan canang). Akhirnya Tapel sampai sekarang berada dan melinggih di Jeroan Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian suatu hari dalam piodalan tapel berkesempatan tangkil ke Dalem Sidakarya. Setelah ditanya oleh Jero Mangku Dalem dari mana asal Pinisepuh yang dijawab dari Jero Agung Pengastulan, maka terjadilah cerita yang panjang. Diantaranya bahwa Pura Dalem Sidakarya dulu waktu dalam pembangunan Leluhur Tegeh Kori yang ikut membangun. Itulah barangkali alasan mengapa tapel Sidakarya ingin tetap dilinggihkan di Jeroan. Karena Leluhur dahulu saling berhubungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pratima Ibu Dewi Kwan Im dan Dewa Bumi&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pratima Ibu Dewi Kwan Im muncul dengan sendirinya di Jeroan akan tetapi jauh hari sebelum kemunculan Pratima Beliau, Pinisepuh sudah diberi petunjuk. Karena diberi petunjuk, Pinisepuh menyiapkan tempat untuk menyambut kedatangan Beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya Ibu Dewi Kwan Im datang dan muncul di tempat yang telah disediakan. Kedatangannya disertai dengan Pedang Naga yang kemudian diketahui adalah milik dari Dewa Bumi. Dan beberapa bulan kemudian Beliau Dewa Bumi juga muncul di Jeroan juga di tempat yang sudah disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ratu Syahbandar&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ibu Dewi Kwan Im memberi petunjuk kepada Pinisepuh bahwa kalau ada odalan di Pura Dalem Pengembak Sanur agar dipendak Kim Sin Ibu Dewi Kwan Im atau Pratima Beliau ke Pura.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada bagian ini saya sudah menjadi angota Paguyuban. Saya ikut dalam prosesi mendak  Ibu Dewi Kwan Im ke Pura Dalem Pengembak dan mendak Beliau Ibu Dewi  ke Pelinggih Ratu Tuan di Pura Dalem Pengembak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya setelah odalan di Pura Dalem Pengembak, Ratu Syahbandar muncul sendiri di Jeroan. Demikianlah untuk pertama kali saya menyaksikan sendiri kemunculan Pratima yang seolah-olah datang tiba-tiba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Pratima Prabu Airlangga dan Cerita Pura Majapahit di Areal Wisata Garuda Wisnu Kencana (GWK)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh sebagai kaki tangan Awatara yang dianugrahi penglihatan dan kemampuan berkomunikasi dengan Beliau Ida Bhatara, juga menerima beban tugas yang salah satu tugas Pinisepuh  adalah mewujudkan cita-cita Ciwa Budha dan Budaya agar lestari. Akhirnya Pinisepuh mewujudkan pura Majapahit di GWK, yaitu ceritanya sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu waktu, Hyang Suryo mendak Pratima Prabu Airlangga ke salah satu Ruko di GWK. Saat itu Hyang Suryo mendapat ijin untuk menempati salah satu Ruko di GWK. Pinisepuh saat tersebut juga berada di ruko GWK dan mendapat petunjuk untuk melakukan meditasi di belakang ruko di tempat pura Majapahit sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh bermeditasi bersama 3 orang lainnya di padang ilalang belakang ruko atas petunjuk Ibu Dewi Kwan Im. Pada saat meditasi tersebut Hyang Suryo dan orang lainnya yang berada di ruko menyaksikan ada api yang menyala sebesar drum minyak tanah. Pada saat yang sama Pinisepuh mendapat perintah untuk membuka mata dari Ibu Dewi Kwan Im dan begitu membuka mata, di hadapannya, yaitu di tempat api menyala menurut kesaksian dari teman-teman di ruko ada Pratima Prabu Airlangga muncul. Ukurannya lebih kecil dari yang dipendak Hyang Suryo di ruko. Pratima ini kemudian dibawa dan dilinggihkan di Jeroan sampai dengan sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat kemunculan Pratima Prabu Airlangga tersebutlah sekarang didirikan candi pemujaan ke Majapahit. Juga menjadi Pura Ciwa Budha yang dipimpin Bikuni dan seorang Pemangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Pratima Ganesha&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pratima Ganesha muncul secara gaib di Jeroan Pinisepuh. Pada saat bersamaan dengan kemunculan Pratima Ganesha, Hyang Suryo mendapat petunjuk untuk nedunkan Pratima dan Pusaka Majapahit Trowulan ke Bali karena pada saat tersebut Puri Ibu Majapahit Bali di Puri Gading Jimbaran sudah hampir selesai dikerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, bahwa Pusat Majapahit Trowulan ditutup oleh SKB Mentri dan umat Hindu atau Ciwa Budha tidak diperkenankan melakukan kegiatan ritual dalam bentuk apapun di sana. Ini membuat umat Ciwa Budha terpukul karena tidak boleh bersembahyang memuja Leluhur di sana. Akhirnya Hyang Suryo memindahkan semua Pratima dan Pusaka penting ke Bali dengan membangun Puri Ibu Majapahit di Jimbaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung ....... Pinisepuh 3 - Keris-keris berloncatan setinggi +/- 20 cm dengan sendirinya...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-443081751244753659?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/443081751244753659/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-kaki-tangan-awatara.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/443081751244753659'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/443081751244753659'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-kaki-tangan-awatara.html' title='Pinisepuh 2 – Kaki Tangan Awatara'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SrEIGq1AtII/AAAAAAAAACU/TXw5fMc-zlk/s72-c/01.-pinisepuh-hsuryo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-5739683123960914485</id><published>2009-09-09T19:38:00.000-07:00</published><updated>2009-09-17T00:41:16.059-07:00</updated><title type='text'>Pinisepuh 1 – Kisah Pencerahan</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:arial;font-size:100%;"  &gt;Pinisepuh adalah sebutan saya untuk orang yang saya tuakan di lingkungan Paguyuban Dharma Giri Utama. Berasal dari kata sepuh atau tua. Tua yang lebih tua adalah pinisepuh dan yang mengerti hakekat Leluhur yang melinggih di Majapahit Nusantara. Pinisepuh adalah keturunan langsung dari sejarah raja-raja Majapahit yang akhirnya menerima titah dan kacunduk untuk melestarikan budaya Kerajaan Majapahit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh bernama Gusti Agung Yudistira adalah keturunan Arya Kenceng Tegeh Kori berasal dari Jero Agung Pengastulan, Seririt, Buleleng, tetapi sekarang ini berdiam di Denpasar. Jero Agung Pengastulan adalah resmi keturunan langsung dari silsilah raja-raja, sesuai dengan prasasti yang ada di Jero Agung Pengastulan yang juga sudah diakui oleh Puri Pemecutan dan dibenarkan serta disahkan oleh Kerajaan Belanda yang banyak mengetahui silsilah raja-raja di Nusantara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SqhpJ2VrELI/AAAAAAAAACM/p7oIZrn2QiA/s1600-h/pinisepuh.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SqhpJ2VrELI/AAAAAAAAACM/p7oIZrn2QiA/s400/pinisepuh.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5379665372820213938" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Awal Mula Pengabdian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Agung Yudistira menerima pencerahan sejak lahir, dianugrahi kemampuan melihat gaib alam bawah dan alam Dewa-dewa semenjak kecil. Banyak sekali pengalaman melihat gaib yang dialami semasa kecilnya. Juga Ia sering sekali didatangi oleh wujud niskala yang mengaku bahwa Beliau adalah Kompyangnya. Termasuk terganggu dengan penglihatan-penglihatan sehingga pernah waktu ujian SD, orang tua mengusahakan untuk menutup penglihatannya, dengan mendatangi Pelaku Spiritual yang ngiring Ida Bhatara Peranda Sakti Wau Rauh, yang kemudian diberi kuncup bunga kembang sepatu untuk dimakan. Akhirnya penglihatan mata ke tiga Agung kecil tertutup. Tetapi tiga hari kemudian terbuka lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa dewasa setelah lulus SMA, Agung Yudistira adalah seorang DJ di suatu klub malam di Kuta. Kehidupan malam dijalaninya dengan ringan dan santai. Bir dan asap rokok adalah kebiasaan yang menyenangkannya pada saat-saat itu. Akrab juga dengan dunia premanisme walau hanya sekedar bergaul di lingkungan tersebut hingga pada suatu hari Agung harus melakukan pelukatan di Pura, karena sering sekali kecelakaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah lulus SMA Agung juga sering sekali didatangi oleh sosok Niskala berwujud nenek-nenek. Mulanya Agung mengira nenek-nenek tersebut hanyalah gaib yang menunggu tempat tersebut. Nenek tersebut sering memanggil seperti: ...Rah... Rah... maksudnya Tu Rah Agung panggilan Agung kecil. Nenek tersebut juga sering berkata: Rah... Nira Ratu Niang... Tapi Agung memang tidak mengetahui siapa sebenarnya Beliau, Ida Bhatari Ratu Niang. Berceritapun Agung tidak pernah kepada orang tuanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena Agung sering kecelakaan akhirnya orang tua  Agung bertanya kepada pelaku spiritual yang kemudian jawabannya Agung harus melakukan pelukatan di Pura Dalem Pengembak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agung harus tangkil dan melukat sebanyak tiga kali di campuan Pura Dalem Pengembak. Kenapa di Pura Dalem, ini karena Agung juga adalah seorang keturunan Dalem. Akhirnya Agung dengan terpaksa memenuhi dan mengikuti perintah untuk melukat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka pada hari tersebut duduklah Ia dan keluarga di hadapan pelinggih Ida Bhatari Ratu Niang Ayu (Anak angkat dari Ida Bhatari Ratu Niang Sakti) yang terletak di campuhan Pura Dalem Pengembak dituntun oleh Jero Pemangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah semua duduk dengan tenang, Jero Mangku Gede Pura Dalem Pengembak tiba-tiba kerauhan. Percakapan yang panjang terjadi antara Agung dan Jero Mangku yang sedang kerauhan akan tetapi tidak semua diingat oleh Agung. Sampai akhirnya Agung berkata dengan sangat tegas dan berkesan menantang:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau memang benar ini adalah petunjuk dari Ida Bhatara, coba tunjukkan kepada saya darah Ida Bhatara!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suasana menjadi sunyi senyap dengan perkataan Agung yang agak keras dan juga makna dari kata-kata tersebut. Semua orang saling pandang dan Pengayah Jero Mangku yang bernama I Modes, juga tampak terkejut dengan perkataan Agung. Tidak menyalahkan kalau Agung memang ingin bukti. Suasana semakin sunyi karena tidak tahu harus memberi pernyataan apa dan bagaimana atas kata-kata dan ucapan permintaan Agung tersebut. Semua yang hadir adalah manusia biasa dan tak mampu berbuat banyak selain nunas kepada beliau Ida Bhatara. Sementara Jero Mangku masih kerauhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian terjadi keanehan. Ada darah berceceran di Daksina yang dilinggihkan. Darah tersebut darah segar. Semua yang hadir saat itu menyaksikan tetesan-tetesan darah tersebut dan berebut ingin memegang Daksina tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Agung masih belum percaya dan serta merta berkata: “Kalau memang benar ini adalah Ida Bhatara tunjukkan kepada saya dua buah keris sekarang juga.” Kemudian pintu pelinggih dibuka, maka tampaklah sepasang keris sesuai dengan yang diminta oleh Agung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu keajaiban telah meluluhkan hati Gusti Agung Yudistira. Ia harus mempercayai kenyataan yang ada dihadapan matanya. Benaknya mulai membayangkan masa depannya yang akan sama sekali berbeda dengan kehidupannya sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Paica&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Permintaan yang terakhir kalinya Agung meminta ‘Paica’ atau hadiah dari Ida Bhatara. Permintaan Agung disanggupi tetapi Agung harus melukat terlebih dahulu kemudian kalau pulang membawa Tirta atau air suci.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Besoknya, kepala pembantu Agung kejatuhan batu dari langit ketika sedang nyapu di halaman. Batu itu kemudian diberikan kepada Agung. Agung tidak percaya batu itu adalah paica, kemudian batu tersebut dibuang ke sungai kecil di depan rumah. Tetapi anehnya batu itu kembali lagi keesokan harinya tetapi masuk ke dalam tempat tirta bahkan sekarang menjadi dua. Besoknya muncul ‘batu caling’ atau batu berbentuk taring. Kemudian muncul ‘pis bolong jaring’ atau uang kepeng bergambar jaring, keris gambar tualen atau semar, keris bergambar Dewa-dewa, tombak kecil. Sampai dengan sekarang paica-paica itu terus bermunculan dan jumlahnya sudah banyak sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Pelinggih Ida Bhatari Ratu Niang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, pada hari-hari selanjutnya, Agung diminta membuat pelinggih untuk Beliau Ida Bhatari Ratu Niang Sakti. Tetapi Ibunya tidak setuju dengan alasan takut. Ibunya adalah aktif juga menjalankan bisnis sampingan yang akhirnya pada suatu waktu disarankan untuk mendak Daksina mepayas ke Grya Tanah Kilap, mohon kepada Beliau Ida Bhatari Ratu Niang Sakti. Demikianlah akhirnya dengan tidak disadari, Ida Bhatari Ratu Niang sudah melinggih atau sudah dilinggihkan di Jeroan Agung Yudistira.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Pelinggih Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk berikutnya yaitu Agung harus membuat pelinggih Ratu Gede Dalem Ped atau Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling. Tetapi sekali lagi ibunya menolak dengan alasan takut. Tetapi akhirnya Ibu menderita sakit aneh dan akhirnya mengunjungi seorang penekun spiritual atau Balian ngiring yaitu ngiring Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped. Waktu pulang dari tempat Balian mendapat paica Tirta yang harus dilinggihkan. Maka singkat cerita, melinggihlah pelinggih Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Pelinggih,  Pakulun, Ida Bhatara Lingsir Hyang Pasupati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Petunjuk berikutnya, Ida Bhatari Ratu Niang Sakti memberi petunjuk kepada Pinipsepuh bahwa Pakulun, Ida Bhatara Lingsir Hyang Pasupati juga berkehendak untuk dilinggihkan di Jeroan. Singkat cerita, Pinisepuh mendapat petunjuk dari cucu Ida Bhatari Ratu Niang Sakti yaitu Ida Bhatara Ratu Bagus bahwa pedagingan untuk melinggihkan Ida Bhatara Lingsir, sudah diantarkan ke Jeroan dan Pinisepuh diminta untuk menggali di halaman rumah. Setelah digali sesuai petunjuk, maka memang ada Giok sebesar piring, dan dari komunikasi Pinisepuh dengan Beliau para Ida Bhatara, memang Giok tersebutlah Pedagingan untuk dipendem waktu melinggihkan Beliau Ida Bhatara Lingsir Hyang Pasupati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Pelinggih Ida Bhatara Ratu Bagus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesuai petunjuk Beliau, Ida Bhatara Ratu Bagus tidak dilinggihkan, tetapi tanah tempat galian Pedagingan yang Beliau antarkan disakralkan untuk menghormati Beliau Ida Bhatara Ratu Bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersambung.......&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:times new roman;font-size:100%;"  &gt; &lt;span style="font-family:arial;"&gt;&lt;br /&gt;Pinisepuh 2 - Pinisepuh adalah Kaki tangan awatara, melihat dan berkomunikasi dengan para Leluhurnya...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-5739683123960914485?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/5739683123960914485/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-kisah-pencerahan.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/5739683123960914485'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/5739683123960914485'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/09/pinisepuh-kisah-pencerahan.html' title='Pinisepuh 1 – Kisah Pencerahan'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SqhpJ2VrELI/AAAAAAAAACM/p7oIZrn2QiA/s72-c/pinisepuh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-6043271541236561406</id><published>2009-08-23T07:15:00.000-07:00</published><updated>2009-08-24T08:21:31.027-07:00</updated><title type='text'>Kacunduk – Mangkir... Celaka!</title><content type='html'>Sebagai seorang pemeluk Hindu Dharma atau Ciwa Budha yang kemudian mendapat titah untuk menjadi abdi Ida Bhatara Kawitan dan kacunduk atau ‘kesenengan’, di saat tengah menikmati sebagai manusia modern, awalnya adalah hal yang sangat susah diterima karena ruang gerak sudah pasti akan sangat terbatas. Tidak semua tempat membuat nyaman dan boleh untuk dikunjungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menulis ini, saya tengah menjalani tirta yatra dan melukat di banyak pura. Tengah menanti saat yang tepat untuk melakukan upacara Pawintenan sebagai abdi Beliau Ida Bhatara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Mangkir... Celaka!&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Maunya, saya ingin menghindari ini sebagai sesuatu yang harus dilakukan dan dijalani karena saya masih sibuk menjalankan usaha serta kesibukan lain yang mungkin akan mengganggu kegiatan sebagai seorang pelaku spiritual. Tetapi banyak sekali saya ditunjukkan kejadian-kejadian aneh dan sangat buruk atas fakta penolakan sebagai orang yang terpilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seseorang yang rumahnya terbakar karena kompor meledak, istrinya masuk rumah sakit dan sampai saat saya tulis ini, keadaan keluarga tersebut masih kacau, ini karena sang bapak menolak untuk ‘ngiring’. Ada teman lain yang mempunyai penyakit aneh seperti gatal di sekujur tubuh yang tak tersembuhkan obat dokter serta kebotakan yang dialami oleh anggota keluarga wanita, di mana sebenarnya karena sang Ibu menolak untuk menerima titah ‘ngiring’. Ada juga kematian-kematian yang tidak wajar. Tentu saja ini diketahui setelah mereka-mereka yang kena musibah menanyakan kepada sesepuh yang tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:180%;"  &gt;Gejala sebelum kacunduk&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bulan kebelakang hidup saya terganggu dengan penyakit mag. Semakin hari rasa sakitnya tambah parah. Karena asam lambung sudah sangat tinggi ada gas yang balik ke dada dari perut. Kata dokter langganan gas lambung saya sudah reflux ke dada. Kalau sakit mag sudah sampai ketahapan ini maka irama jantung seperti orang mengalami keadaan terkejut. Karena cemas mengira ini sakit jantung saya periksa ke dokter akhli jantung tetapi dokter bilang saya baik-baik saja. Tetapi saya merasa tetap tidak sehat dan detak jantung iramanya tidak baraturan yang tentu saja membuat saya takut dan panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Istri saya jauh hari berpikir bahwa saya ini kena sakit nonmedis. Istri saya adalah seorang dokter umum tentu saja paham dengan hasil pemeriksaan medis para dokter akhli. Sebagai orang Bali istri saya menyarankan menempuh jalan alternatif. Tetapi saya juga sangat yakin ini bukan sakit nonmedis karena setiap kali saya bercermin aura saya tampak bagus dan baik-baik saja. Tidak ada warna ciri dasar orang sakit nonmedis. Nonmedis saya artikan sebagai kena ‘black magic’. Hawa di sekitar saya juga tidak terasa ada hawa gaib yang jahat. Mata batin juga tidak menangkap sinyal mahluk gaib yang jahat. Kemampuan-kemampuan ini saya dapat karena saya rajin meditasi Gayatri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya dalam meditasi saya sering menyalurkan energi kesehatan. Beberapa saat memang terasa baikan tetapi tidak lama. Dalam meditasi yang lain saya memohon petunjuk kepada Beliau Sang Hyang Paramakawi dan Ida Bhatara Kawitan, kemana seharusnya saya berobat untuk menyembuhkan sakit saya ini. Yang aneh dari sakit ini adalah kalau saya melakukan meditasi, sakit ini tidak pernah muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Bertemu dengan Pinisepuh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya menerima saran istri untuk mengunjungi salah satu balian ngiring untuk mengobati saya. Tetapi waktu saya berkunjung ke tempat beliau adalah kejadiannya sangat aneh. Beliau juga sedang sakit dan tidak bisa ‘ngunggahang banten’. Istri saya menelepon seorang teman yang kebetulan juga mempunyai saudara penekun spiritual yang katanya sangat baik dan ngiring banyak sekali Ida Bhatara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya kami meneruskan perjalanan ke rumah teman, setelah sampai dan menunggu beberapa saat akhirnya ada seorang pemuda tanggung mengetuk pintu yang kemudian masuk sendiri tanpa menunggu tuan rumah membukakan pintu. Dalam bayangan saya Pinisepuh pasti seorang yang sudah tua sehingga saya tidak memperhatikan kedatangan pemuda ini. Tetapi teman bilang bahwa itulah adiknya, sang penekun spiritual. Kemudian pemuda belia tersebut bertanya: “Bli yang sakit ya? Tetapi saya tidak bisa memberi petunjuk di sini karena ini ada hubungannya dengan Leluhur Bli. Saya ingin mempertemukan Leluluhur Bli dengan Leluhur saya. Nanti malam saja di Jeroan ya, ini bukan sakit black magic kok.” Rasanya senang mendengar bahwa saya tidak kena sakit nonmedis seperti dugaan istri saya akan tetapi penuh dengan tanda tanya besar bahwa ini ada hubungannya dengan Leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, malam hari itu saya mengunjungi rumah saudara teman ini, yang kemudian saya sebut sebagai Pinisepuh, membawa banten yang diperlukan.  Setelah melakukan ritual akhirnya Pinisepuh memberitahu bahwa saya sudah ‘kesenengan’ dari dulu. Memang seingat saya waktu remaja pernah sakit alasannya sama yaitu akan ‘kacunduk’. Dan pada hari itu Pinisepuh memberitahukan bahwa saya harus ngiring Ida Bhatara Lingsir di Pura Kawitan, maka sakit ini bisa sembuh! “Bagaimana Bli, apa siap ngiringan Ida Bhatara?” Tanya Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya antara senang dan ragu perasaan saya saat itu. Senang karena menganggap hal tersebut sebagai bonus dari keseriusan saya melakoni spiritual selama ini. Tetapi ada keraguan, apakah seorang pemangku bisa juga melakoni kehidupan sebagai seorang pengusaha secara bersama-sama. Tetapi Pinisepuh bilang tidak ada apa-apa. Dalam artikel ‘spiritual dan kekayaan’ saya sudah menceritakan ini panjang lebar. Tidak ada yang salah apalagi melarang karena roda ekonomi tetap harus berputar. Kalau seratus persen orang melakoni kehidupan spiritual dan tidak boleh melakukan usaha, lalu makan apa manusia-manusia ini? Kata Pinisepuh dengan mimik meyakinkan. Tetapi tentu saja harus tahu diri usaha apa yang boleh agar kesucian terjaga. Pinisepuh menunjukkan bahwa ada beberapa pemangku yang punya hotel, tetapi mereka tidak aktif lagi secara langsung mengurus bisnis tetapi mendelegasikan wewenang ke manajer-manajernya. Pinisepuh menunjukkan banyak contoh lainnya yang ternyata banyak sekali pengusaha yang tetap berhasil juga melakoni ‘ngayah’ atau berbakti sebagai pemangku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tirta Yatra&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setelah penjelasan yang sederhana dari Pinisepuh, saya menerima ‘kacunduk’ dengan perasaan lega. Dan penyakit yang saya derita entah raib kemana menghilang sampai sekarang. Beberapa hari kemudian saya mengunjungi salah satu pelingsir saya di Seririt, Buleleng. Beliau adalah juga pelaku spiritual tetapi berjalan atas petunjuk sastra lontar. Setelah saya mengutarakan bahwa saya akan mewinten Beliau memberi panduan khusus sesuai dengan Tastra Lontar yaitu ada syarat yang harus dilakukan agar benar-benar mendapat restu dari Beliau Ida Bhatara. Sebelum syarat umum ada syarat lain yang  harus dilakukan yaitu melukat di beberapa tempat dan melakukan kunjungan dan bersembahyang ke pura tertentu, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Melukat di Segara memohon berkat ke Beliau Ida Bhatara Putering Jagat, Ida Bhatara Baruna dan Ida Bhatara Wisnu.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Melukat di Pura yang ada Tirta Pingit. Saya melukat di beberapa tempat salah satunya adalah di Pura Petirtan, Ulun Dhanu, di Songan, Batur.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersembahyang di pura Besakih. Mohonlah restu kepada Beliau para Leluhur. Lihat artikel ‘Pelinggih Leluhur di Pura Besakih’ sebagai panduan pemujaan. Beruntung saya bertemu dengan Pinisepuh yang menjelaskan Beliau para Leluhur yang harus di sembah di pura Besakih.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bersembahyang di pura Sakenan. Ini syarat yang terakhir di luar syarat umum pewintenan.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Syarat lain yang umum tentu adalah mapiuning di pura dalem, desa, puseh dan tentu pura kawitan. Serta syarat umum yang Ida para sulinggih sudah ketahui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menanyakan 4 syarat tersebut kepada Pinisepuh, dan walaupun Pinisepuh tidak mengetahui persis sebagai syarat sebelum pawintenan, tetapi sebagai seorang pelaku spiritual Pinisepuh menjelaskan bahwa sesungguhnya 4 syarat tersebut adalah jalur Tirtayatra yang sangat bagus bahkan untuk orang umum yang tidak melakukan pawintenan tetapi hanya ingin rohaninya bersih atau tengah mengejar pencerahan spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Ciri-ciri Kacunduk dan Situasi Alam Jiwa &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ciri-ciri sebelum kacunduk berbeda untuk setiap orang tetapi kalau tiba saatnya kita seperti tergerak untuk cari tahu dan mengunjungi penekun spiritual. Saran saya selain berobat ke Balian kalau sakitnya aneh juga lakukan ‘mepeluasang atau nunas raos’, karena terkadang Balian tidak bisa melacak Leluhur karena tergantung tingkatan Balian. Ada Balian ngiring ke Ida Bhatara, ini yang bagus, ada Balian yang ngiring ke bawah misalnya Gamang atau Samar ini mungkin susah melacak tergantung dari tingkatan bawah yang di-iring. Satu lagi adalah Balian Usadha yaitu yang mempelajari ramu-ramuan dari Ayurweda belum tentu ia penekun spiritual yang mendapat pencerahan dan mungkin tidak akan bisa mendeteksi sebab-sebab sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah ‘kacunduk’ bisa ditolak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya bertanya kepada Pinisepuh tentang ini dan jawabannya adalah ‘TIDAK’. Kalau sudah kacunduk, siapapun orangnya atau latar belakang kehidupannya ia haruslah tetap melaksanakan titah tersebut atau berakibat celaka seperti telah dijelaskan. Kacunduk adalah Takdir yang harus dijalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, akhirnya, seperti sudah saya jelaskan bahwa selama ini saya menekuni meditasi dan sekarang adalah menjadi orang terpilih maka saya menganggap kacunduk ini sebagai bonus dari kedisiplinan saya menekuni spiritual selama waktu yang lalu. Sering saya menyatakan hal-hal yang berbau suka cita ini dengan istri bahwa kehidupan di dunia sekarang sudah menyenangkan, diberkahi dengan banyak kemudahan, mungkin dengan melakoni kewajiban sebagai seorang pemangku setelah mati juga akan menikmati alam jiwa yang menyenangkan! Setidaknya jiwa ini tidak terbelenggu di gua dan ngayah ngangkut-ngangkut bangkai anjing yang sudah membusuk atau mungkin akan lahir di alam bawah yaitu di bangsa wong samar dan yang terburuk dihukum di Pura Kerangkeng! Setidaknya penjelasan Pinsepuh tentang situasi di alam jiwa membuat saya lebih senang menjadi penekun spiritual dan pemangku.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-6043271541236561406?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/6043271541236561406/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/kacunduk-mangkir-celaka.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/6043271541236561406'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/6043271541236561406'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/kacunduk-mangkir-celaka.html' title='Kacunduk – Mangkir... Celaka!'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-8037457575528368408</id><published>2009-08-19T17:44:00.000-07:00</published><updated>2009-08-19T18:00:50.134-07:00</updated><title type='text'>Perjanjian Suci</title><content type='html'>Suasana sore di Pura Silayukti sangat cerah. Matahari sore menerangi pelabuhan Padangbai yang tampak dari Pura Silayukti. Saya dan Pinisepuh mencari tempat duduk di depan warung yang sudah tutup. Menunggu jam menunjukkan pukul enam sore saat saya buka puasa karena hari itu kebetulan saya puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah buka puasa hari mulai gelap dan kami turun ke arah laut menuju gua untuk menghaturkan banten. Menurut Pinisepuh gua tersebut salah satu petilasan Mpu Kuturan dan Beliau yang melinggih di Gua adalah ancangan Ida Bhatara Mpu Kuturan yang menjaga laut Padangbai. Saya merasakan hawa gaib yang lumayan di gua tersebut. Dari sebelum berangkat saya diberitahu jangan coba-coba melihat dengan batin karena hawa akan sangat kuat dan banyak gaib. Saya bertanya kepada Pinisepuh apakah benar perasaan saya tersebut, yang dijawab dengan senyum dan anggukan. Pinisepuh menjelaskan siapa yang melinggih di sana  sambil berjalan menaiki tangga ke arah Pura di atas tebing. Yang melinggih yaitu seekor ular raksasa, setidaknya berukuran sebesar pohon kelapa. Bagi yang sering menyebarang melalui pelabuhan ini sangat baik kalau tangkil maturan di Pelinggih Gua tersebut agar mendapat perlindungan kalau ada musibah di laut selat Bali Lombok ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami sampai di atas tebing dan kemudian kami masuk ke Pura Kahyangan Mpu Bradah, bermeditasi sebentar dan kemudian melanjutkan ke Pura Perhyangan Mpu Kuturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:courier new;font-size:180%;"  &gt;Ida Bhatara Mpu Kuturan Mengawasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di Pura Kahyangan Mpu Kuturan, langit sudah semakin malam. Saya menghaturkan semua banten dan canang sari ke semua pelinggih yang ada. Setelah selesai dan harum dupa mulai mewarnai malam, saya memohon ijin untuk menyapu di pelataran pura sama Pinisepuh yang kemudian diijinkan oleh Pinisepuh. Memang pelataran pura tidak terlalu bersih waktu kami tiba karena ada upacara kemarinnya dan belum sempat dibersihkan oleh juru sapuh. Waktu saya menyapu saya merasakan ada hawa yang sejuk disekitar saya. Saya yakin Beliau Ida Bhatara Mpu Kuturan menyaksikan saya ngaturang ayah menyapu pelataran tempat duduk mebakti. Walaupun saya tidak dapat melihat dan tidak berani mencoba melihat dengan batin karena dilarang oleh Pinisepuh tetapi saya yakin Beliau Ida Mpu memang ada dan mengawasi saya. Hawa sekitar saya terasa berbeda, dingin sejuk tetapi terasa sangat nyaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah selesai membersihkan pelataran pura, malam sudah cukup larut. Saya dan Pinisepuh menikmati makan malam tipat yang telah disiapkan oleh istri saya dari rumah. Wah ini ‘spiritual picnic’ namanya kata saya dalam hati. Diantara keasikan menikmati makan malam saya bertanya kepada Pinisepuh: “Gung, apakah Beliau menyaksikan saya menyapu tadi?” Pinisepuh hanya tersenyum. Umur Pinisepuh memang sangat belia dan hampir setengahnya dari saya sehingga saya memanggilnya hanya dengan sebutan Gung saja. “Kalau ya memangnya kenapa, Bli?”, Pinisepuh memang tidak menjawab ‘ya’ tetapi saya berkeyakinan itu jawaban yang menyenangkan saya. Kemudian kami sibuk dengan tipat yang dimakan dengan saur dan gorengan kacang serta lain-lainnya. Sementara udara semakin dingin. Tiba-tiba Pinisepuh membuat sesajian sederhana seperti tipat yang kami makan lalu dihaturkan di suatu tempat, di bawah,  lengkap dengan air mineral dalam gelas. Ini sudah sering terjadi kalau mengikuti Pinisepuh bersembahyang kemana-mana. Pasti ada sesuatu atau sosok gaib yang sedang mendapat perhatian Pinisepuh lalu menghaturkan apa saja yang ada di dekatnya. “Ramai di sini Gung?” tanya saya dan dijawab hanya dengan tersenyum sambil mengangguk. Saya tidak mau merasakan sensasi apapun di areal Pura ini karena sudah di wanti-wanti dari rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:courier new;font-size:180%;"  &gt;Perjanjian Suci&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terkadang lupa dan ingin tahu apa yang sedang terjadi di saat-saat seperti tersebut. Terkadang saya bisa melihat mereka dengan mata batin dan terkadang hanya bisa merasakan hawa mereka. Ada yang sangat menyenangkan dan ada yang sangat tidak menyenangkan. Yang tidak menyenangkan, kuping rasanya panas. Sekujur tubuh rasanya panas. Yang lebih buruk terkadang jantung ini rasanya melemah dan tiba-tiba merasa takut. Tenaga seperti disedot dan rasanya lemah kurang tenaga. Kalau sudah peka kira-kira seperti itu perasaan kalau kebetulan sedang dikunjungi gaib yang agak kasar dan pemarah. Mental kita dijatuhkan agar merasa takut. Dan saya sering mendesak Pinisepuh untuk diceritakan hal-hal seperti itu kalau kebetulan merasakan hawa buruk seperti tersebut di suatu tempat. Tetapi Pinisepuh mengatakan bahwa tidak semua bisa diungkapkan dan dibocorkan ke dunia nyata. Ada ‘perjanjian suci’ yang harus benar-benar dihormati serta tidak boleh dilanggar. Kalau dilanggar membahayakan umat manusia itu sendiri. Bisa membahayakan tatanan dunia gaib dan dunia manusia. Resiko terburuk akan dialami oleh yang terikat ke dalam ‘perjanjian suci’ tersebut seperti misalnya Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mengenal Pinisepuh dalam waktu yang tidak terlalu lama dan akan saya ceritakan dalam artikel yang berjudul ‘Kacunduk’. Namun dalam waktu yang sedemikian pendek saya telah dapat membayangkan bahwa Pinisepuh bukanlah manusia biasa dengan pengetahuan yang didapat dengan belajar. Beliau termasuk sebagai manusia pilihan di Gumi Bali ini. Banyak hal-hal yang tidak logis terjadi kalau bersama Pinisepuh. Saya sendiri mengalami ini beberapa kali saat saya sedang mengunjungi Pura bersama Pinisepuh. Salah satu pengalaman saya yaitu saya dipanggil duduk besama oleh Pemangku di Pura Petirtan di Songan, Batur. Duduk bersama di atas genah atau tempat Jero Mangku nganteb banten sementara Jero Mangku ‘melaksane’ ngayabang banten. Ini adalah hal yang sangat tidak lazim sepanjang pengetahuan saya. Tidak pernah seseorang duduk bersama-sama di atas tempat Jero Pemangku nganteb banten, kecuali sesama Pemangku dan sedang sama-sama ‘melaksane’. Pinisepuh bilang bahwa itu suatu kehormatan bahwa orang seperti saya bisa diangkat derajatnya oleh Beliau Ida Bhatara kalau benar-benar mengejar kemuliaan dengan serius. Dan memang Beliau sedang menunjukkan kepada saya bahwa derajat saya sedang diangkat, ingin menunjukkan bahwa agar saya jangan lagi goyah menekuni pengejaran spiritual ke arah lebih serius, kata Pinisepuh. Sebenarnya keyakinan hati saya mengatakan bahwa ini tentu juga atas campur tangan Pinisepuh yang sudah memohonkan kepada Beliau Ida Bhatara agar saya dinaikan derajatnya. Agar orang lain menyaksikan bahwa kalau Beliau menghendaki dan merestui semua menjadi mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya menyadari bahwa mengapa seseorang memerlukan sosok yang lebih mengerti kalau sedang serius menekuni spiritual. Karena dalam tingkatan tertentu keraguan bisa muncul. Merasa tidak mengalami kemajuan. Atau setelah level ini apalagi yang harus dilakukan. Dan saya telah menemukan seorang Pinisepuh yang mendampingi perjalanan saya dan tempat untuk bertanya sudah sampai di mana sebenarnya saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;&lt;span style="font-family:courier new;"&gt;Misi Ke Pura Silayukti&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam semakin larut di Pura Silayukti dan sudah beberapa lama bel kapal tidak terdengar lagi dari pelabuhan. Kami masih mengobrol tentang spiritual. Sebenarnya saya bingung kenapa dari tadi cuma duduk-duduk dan ngobrol saja. Sembahyang cuma sebentar dan tidak ada meditasinya karena ada gangguan hama kelapa yang begitu banyak berterbangan. Pinisepuh bilang bahwa kedatangan kami ke Pura memang atas petunjuk Beliau. Tetapi misinya tidak jelas karena Pinisepuh bilang rahasia. Nah kalau rahasia kenapa ngajak-ngajak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ada malah Pinisepuh menceritakan siapa sesungguhnya Beliau Mpu Kuturan dan kiprah Beliau di Bali. Sebelumnya saya sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya Beliau ini. Namun kini pemahaman saya terbuka bahwa saya telah mendapat Pencerahan. Beliau adalah Mpu yang paling berjasa menyatukan umat Ciwa Budha di Bali. Membuat konsep pemujaan yang lestari sampai dengan sekarang. Saya telah menceritakan ini di artikel Ciwa Budha – Konsep dasar dan Ciwa Budha – Mpu Kuturan. Silahkan dibaca karena sangat berguna untuk pengetahuan dasar pemujaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/Soycu1mMXeI/AAAAAAAAAB0/ZWLO5dO7xdk/s1600-h/ajigitar.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 400px; height: 216px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/Soycu1mMXeI/AAAAAAAAAB0/ZWLO5dO7xdk/s400/ajigitar.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5371840784021347810" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah banyak menceritakan perihal Beliau, dan saya mengejar dengan banyak sekali pertanyaan serta menambahkan satu lagi Bhatara favorit ke dalam benak saya yaitu Mpu Kuturan, akhirnya Pinisepuh terdiam. Matanya yang besar dan tajam mengawasi alam sekitar. Tambah malam kok semakin banyak saja, seperti di pasar, gumannya. Tetapi sedikitpun saya tidak merasakan hawa panas apalagi kuping panas. Berarti mereka, gaib yang hadir, adalah dari kalangan yang baik-baik semua pikir saya dalam hati. “Gimana Bli, takut?” Ngapain takut kalau sudah sama Pinisepuh, kata saya. Setelah beberapa lama, dan dini hari sudah menjelang, akhirnya Pinisepuh memutuskan untuk kembali ke Denpasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan pulang saya bertanya-tanya sebenarnya misi ke Pura Silayukti itu apa? Apakah cuma memberi tahu saya bahwa kalau ingin benar-benar mengetahui seluk-beluk spiritual jangan sampai melupakan jasa Beliau Ida Bhatara Mpu Kuturan. Akhirnya saya mengambil kesimpulan tersebut sendiri karena beberapa hari berikutnya Pinisepuh cuma tersenyum dan tertawa kecil saja setiap kali saya bertanya hal yang sama tentang perjalanan ke Silayukti. Keyakinan saya beralasan karena Pinisepuh berkata:  “Ngapain tiang ke Silayukti kalau di jeroan sudah ada Pratima Beliau. Kan cukup memohon di Jeroan saja. Yah, namanya perjalan, Bli harus pikirkan sendiri misi ke sana. Ini bukan Tiang, tapi Bli...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah kembali ke ‘perjanjian suci’, saya sudah mendesak berlebihan tentang ini. Walau tidak etis sebenarnya ya penasaran juga tapi ya akhirnya saya harus menghormati ‘perjanjian suci, tersebut. Namun saya merengek-rengek, mengemis untuk dimohonkan mantra-mantra bahasa kawi kepada Beliau Mpu Kuturan, kelak kalau saya benar-benar menjadi seorang pemangku agar persembahan banten benar-benar menjadi momen yang menjembatani dua alam. Menyenangkan dua alam yaitu manusia dan gaib.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-8037457575528368408?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/8037457575528368408/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/perjanjian-suci.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/8037457575528368408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/8037457575528368408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/perjanjian-suci.html' title='Perjanjian Suci'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/Soycu1mMXeI/AAAAAAAAAB0/ZWLO5dO7xdk/s72-c/ajigitar.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-4181685684830802538</id><published>2009-08-16T20:59:00.000-07:00</published><updated>2009-09-19T02:28:27.718-07:00</updated><title type='text'>Ciwa Budha - Mpu Kuturan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Adu Kesaktian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Suatu hari saya mendapat telepon dari Pinisepuh bahwa nanti malam harus berkunjung ke Silayukti, Padangbai, Karangasem, Bali. Pinisepuh memerlukan  tangkil ke Pura Perhyangan Silayukti karena atas petunjuk Beliau Ida Bhatara Mpu Kuturan juga disebut Mpu Rajakretha. Saya tidak berani bertanya apa-apa selain duduk menemani Pinisepuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya dan Pinisepuh Agung Yudistira yang saya hormati melewatkan malam yang indah di atas tebing dan sekali-sekali dihibur oleh bel kapal laut dari pelabuhan Padangbai. Sebelumnya sedikitpun saya tidak paham tentang siapa sebenarnya Beliau Mpu Kuturan. Tetapi karena rasa penasaran, saya bertanya siapa sejatinya Beliau ini. Dengan sabar Pinisepuh bercerita sepatah-sepatah karena saya sangat awam dengan nama-nama Ida Bhatara. Saya menyerap pengetahuan ini dengan senang hati dan seperti ada rasa rindu untuk lebih banyak lagi mendengar cerita tentang Beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau Mpu Kuturan adalah seorang penasehat raja di Jawa yang setelah pensiun menjadi Senopati dan penasehat raja-raja di Bali. Di sela-sela waktu sebagai petinggi Beliau bersemedhi di Silayukti. Di antara penjelasan tersebut saya bertanya kepada Pinisepuh, tadi sebelum tangkil ke Perhyangan Mpu Kuturan kami tangkil ke pura Perhyangan Mpu Bradah. Saya bertanya siapa Mpu Bradah dan kenapa Beliau juga mempunyai Pura Perhyangan di Silayukti ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mpu Bradah adalah salah satu saudara dari Mpu Kuturan yang menggantikan sebagai penasehat raja di Jawa setelah Mpu Kuturan pensiun. Mpu Kuturan mempunyai istri bernama Ratna Manggali yang mempelajari ilmu yang disebut Tantrayana yang jalannya adalah aliran kiri. Ratna Manggali kemudian dikenal juga dengan Calon Arang atau Walu Nateng Dirah atau Rondo Nateng Dirah. Rondo Nateng Dirah kalau sedang merapalkan ilmunya dan mereh menjadi bentuk lain disebut Calon Arang yang berwujud sangat seram dan menakutkan. Kalau di Bali seperti Rangda. Dan sebenarnya kata rangda ini berasal dari kata rondo bahasa Jawa atau artinya adalah janda. Karena Mpu Kuturan meninggalkan Ratna Manggali ke Bali maka dia menjadi seorang janda. Dalam perkembangannya menjadi rongdo dan terdengar sebagai ‘rangda’ di Bali yang kemudian kata rangda ini seolah mewakili sesuatu yang menyeramkan. Akhirnya sosok Rondo Nateng Dirah atau Rangda Calon Arang ini mengganggu kerajaan dengan menyebarkan sakit grubug di wilayah kerajaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua punggawa dan kesatria kerajaan tidak ada yang bisa menandingi ilmu Rangda Calon Arang. Termasuk Mpu Bradah. Tetapi kemudian, Mpu Bradah mempunyai anak yang bernama Mpu Bahula yang dikawinkan dengan anak dari Calon Arang yang bernama Diah Ratna Manggali. Kemudian Mpu Bahula berhasil mencuri kitab Tantrayana yang kemudian diserahkan kepada ayahandanya Mpu Bradah dan serta merta mempelajarinya hingga  pada suatu waktu bisa mengalahkan kesaktian Rangda Calon Arang. Mpu Bradah akhirnya mendapat gelar Inan Liak Lembah Tulis. Liak berarti: Linggih Ulian Aksara dan kemudian dikenal dengan kata Leak di Bali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, Mpu Bradah yang sakti mandraguna berkunjung ke Bali. Ia ingin menguji kesaktian Mpu Kuturan kakaknya. Pertempuran adu kesaktian berjalan berhari-hari akan tetapi tak kunjung ada yang kalah sampai akhirnya Mpu Bradah memutuskan untuk berhenti dan kembali ke Jawa. Mpu Bradah dalam perjalanan pulang ke Jawa, setelah lewat di lautan luas selalu dihadang ombak yang sangat besar dan akhirnya selalu kembali terdampar ke pesisir Silayukti. Beliau menyerah dan akhirnya mengakui bahwa kakaknya Mpu Kuturan lebih sakti darinya. Juga memutuskan untuk menemani kakaknya di Silayukti. Beliau berdua akhirnya Moksha di Silayukti dan masing-masing telah mempunyai Pura Perhyangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Silsilah Mpu Kuturan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ida Bhatara Lingsir Hyang Pasupati menurunkan Sang Hyang Putranjaya, Sang Hyang Dewi Dhanu dan Sang Hyang Genijaya. Sang Hyang Genijaya (melinggih di Pura Lempuyang Luhur) menurunkan Panca Dewata, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Mpu Gnijaya&lt;br /&gt;2. Mpu Semeru&lt;br /&gt;3. Mpu Ghana&lt;br /&gt;4. Mpu Kuturan&lt;br /&gt;5. Mpu Bradah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;sumber: pinisepuh&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:180%;"&gt;Pemujaan horisontal dan vertikal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Horisontal – Budha - Perdhana&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mpu Kuturan, meringkas sekte pemujaan menjadi Trimurti: Brahma, Wisnu dan Ciwa yang akhirnya dalam desa pekraman menciptakan 3 soroh pura:&lt;br /&gt;1. Pura Desa : Sthana Ida Bhatara Brahma&lt;br /&gt;2. Pura Puseh: Sthana Ida Bhatara Wisnu&lt;br /&gt;3. Pura Dalem: Sthana Ida Bhatara Ciwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ida Bhatara Brahma&lt;br /&gt;Menitis ke Hyang Genijaya yang bersthana di Pura Lempuyang Luhur, Beliau dianggap yang menguasai hal-hal spiritual beserta sub-subnya termasuk usadha (balian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ida Bhatara Wisnu&lt;br /&gt;Menitis ke Ida Bhatara Dewi Dhanu, Beliau Bersthana di Pura Batur, Ulun Danu. Beliau dianggap yang menguasai hal-hal kesuburan, kesejahteraan, kekayaan dan welas asih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ida Bhatara Ciwa&lt;br /&gt;Beliau menitis ke Hyang Putranjaya, menurut penuturan Pinisepuh, Beliau belum bersthana di mana-mana tetapi sementara ini Beliau melinggih di Gunung Agung dan beliau juga dianggap yang berkuasa atas ha-hal kepemerintahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekte-sekte yang dimaksud:&lt;br /&gt;1. Bairawa:  Bhatara Durga yg di Tuhan kan&lt;br /&gt;2. Ganaphati: Bhatara Ganesha di Tuhan kan&lt;br /&gt;3. Ciwa: Bhatara Ciwa di Tuhan kan&lt;br /&gt;4. Waisnawa:  Bhatara Wisnu di Tuhan kan&lt;br /&gt;5. Budha Mahayana:  sekte yang dianut Mpu Kuturan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya ada banyak sekali sekte namun sekte ini adalah sekte-sekte yang dianggap besar pada jaman tersebut seperti sekte yang menyembah: Bhatara Bayu, Bhatara Indra, Bhatara Kala, Sambu yang menyembah arca. Sekte ini mengadakan paruman atau pesamuan atas pimpinan Mpu Kuturan yang saat itu menjabat sebagai Senopati Raja di Bali dan tempat pertemuan tersebut kemudian dibangun Pura Samuan Tiga yang terletak di desa Bedulu, Gianyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Vertikal – Ciwa – Purusha&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mpu Kuturan juga melahirkan konsep pemujaan ke atas yang di wujudkan dengan Tri Purusha yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Ciwa&lt;br /&gt;2. Sadaciwa&lt;br /&gt;3. Paramaciwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ciwa&lt;br /&gt;Disimbolkan dengan keberadaan gunung karena merupakan Sthana Dewata tertinggi di alam Bali dan gunung tersebut adalah gunung Agung yang disimbolkan sebagai Ciwa di mana pura Kahyangan Jagat Besakih didirikan sebagai pusat Leluhur Nusantara sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sadaciwa&lt;br /&gt;Adalah manifestasi dari Ida Bhatara Sang Hyang Ismaya atau dikenal dengan Sabda Palon atau dikenal juga sebagai Semar atau Tualen di Bali. Beliau adalah pengemong atau yang menjaga dan penasehat para Leluhur dari jaman ke jaman. Dikhabarkan bahwa sebelum Kerajaan Majapahit runtuh Sabda Palon berjanji untuk kembali lagi 500 tahun kemudian untuk membangkitkan kembali ajaran Ciwa Budha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paramaciwa&lt;br /&gt;Beliau adalah Ida Betara Lingsir Hyang Pacupati sendiri yang menurunkan umat manusia. Adalah tingkatan tertinggi dari tatanan Dewata dan yang mengadakan kehidupan manusia di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perpaduan konsep horisontal (mendatar) dan vertikal (atas bawah) kalau digabungkan adalah Tapak dara, Purusha Pradhana, Rwabhineda yang disebut dengan Ardhanareswari yaitu Bapak dan Ibu atau Ciwa (bapak) dan Budha (ibu), Padamasana adalah Ciwa dan Rong Tiga adalah Budha, menjadi satu disebut Hyang Tunggal, Beliau Hyang Widhi Wasa dan sebutan Beliau yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Karya Spiritual Mpu Kuturan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh kemampuan yang sangat luar biasa yang dimiliki oleh Beliau Mpu Kuturan. Peninggalannya tentang konsep pemujaan Ciwa Budha adalah karya spiritual yang sungguh hebat karena menyatukan kerumitan silsilah Dewata menjadi konsep sederhana yang sangat mudah untuk dipahami dan lestari sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah karya spiritual Mpu Kuturan:&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Konsep Ciwa Budha adalah yang terbesar seperti dijelaskan di atas karena menjadi acuan pemujaan seluruh umat Hindu Dharma di Nusantara.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Konsep Desa Dalem Puseh sebagai lanjutan penerapan konsep Ciwa Budha.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Konsep Catur Loka yaitu konsep mendirikan pura pemujaan pada masing-masing maksud yang terdiri dari:&lt;br /&gt;a). Pura Kawitan&lt;br /&gt;b). Pura Dhang Kahyangan&lt;br /&gt;c). Pura Sad Kahyangan atau Perhyangan Jagat&lt;br /&gt;d). Kahyangan Jagat.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Bentuk pelinggih seperti meru dan lain-lainnya adalah hasil dari penciptaan Beliau yang menunjukkan Beliau juga adalah seorang seniman yang memberi inspirasi masyarakat Bali. Namun Padmasana disempurnakan lagi bentuknya oleh  Dhang Hyang Niratha salah satu dari keturunan Beliau juga.&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Pura-pura Karya Mpu Kuturan&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Pura Besakih bersama dengan Rsi Markandya&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pura Silayukti di Padangbai, Karangasem adalah tempat Beliau bersemedhi dan Moksha.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pura Batu Pageh, Desa Ungasan, Badung adalah pura yang disebut sebagai pagar Niskala  alam Bali diatur dari pura ini.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pura Samuan Tiga, adalah pura bersejarah waktu mempersatukan sekte-sekte di Bali.&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pura Sakenan, di Serangan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pura Watu Klotok, di Klungkung&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pura Uluwatu, di Ungasan&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pura Menjangan, di Buleleng barat&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pura Ponjok Batu, di Buleleng timur&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pura Pejeng di Pejeng Gianyar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pura Kebo Edan di Pejeng, Gianyar&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pura Pusering Jagat di Gianyar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Pura Gunung Kawi di Tampak Siring, Gianyar&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;br /&gt;Menurut penuturan Pinisepuh masih banyak pura-pura bersejarah dan berhubungan dengan Beliau. Pinisepuh tengah melakukan perenungan dan semedhi untuk memohon petunjuk selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Note:&lt;br /&gt;Tulisan ini disusun dari hasil percakapan saya dengan Pinisepuh. Walaupun ada beberapa buku pegangan sebagai bantuan akan tetapi saran Pinisepuh lebih baik ditulis sesuai dengan apa-apa yang Pinisepuh ungkapkan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-4181685684830802538?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/4181685684830802538/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/ciwa-budha-mpu-kuturan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/4181685684830802538'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/4181685684830802538'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/ciwa-budha-mpu-kuturan.html' title='Ciwa Budha - Mpu Kuturan'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-7989932765197316197</id><published>2009-08-14T16:21:00.000-07:00</published><updated>2009-08-16T03:48:08.021-07:00</updated><title type='text'>Ciwa Budha - Konsep Dasar</title><content type='html'>Mpu Tantular yang hidup pada masa pemerintahan Hayam Wuruk membuat satu karya sastra yang disebut Kakawin Sutasoma yang mana telah digali isinya sebagai dasar perkembangan rasa persatuan umat Budha dan umat Ciwa. Juga adalah kakawin yang baitnya diambil sebagai motto negara Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bait bertuah Kakawin Sutasoma:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hyang Budha tampahi Ciwa raja dewa&lt;br /&gt;Rwaneka dhatu winuwus, wara Budha wecwa&lt;br /&gt;Bheneki rakwa ring apan keno parwanosen&lt;br /&gt;Mangka jinatwa  lawan Ciwatatwa tunggal&lt;br /&gt;Bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ini hasil perenungan pinisepuh. Isi mohon jangan dibandingkan dengan sumber lain karena saya sendiri kaget bahwa bait ini hampir seratus persen sama dengan sumber lain. Yang beredar di umum tanpa baris pertama. Bagi saya ini satu ke ajaiban, bahwa pinisepuh yang masih belia bisa mendiktekan bait ini!)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ardhanareswari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ciwa diwujudkan dengan lambang Ongkara&lt;br /&gt;Sedang Budha dilambangkan dengan Hrih.&lt;br /&gt;Hyang Tunggal, Zat yang Satu terjadi dari dua senyawa yaitu Purusha (laki-laki) dan Pradhana (wanita) yang dapat mati, terjadi dari ruang dan zat materi. Dua senyawa ini disebut Rwabhineda. Dalam ajaran Ciwa dinamai Ciwa – Parwati (Uma) sedangkan dalam ajaran Budha dinamai Adwaya – Prajnyamitha. Rwabhineda itu disebut dengan Ardhanareswari yaitu Bapak dan Ibu atau Ciwa (bapak) dan Budha (ibu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mpu Prapanca dalam karyanya Negara Kertagama mengungkapkan bahwa Raja Kertanegara (Raja Singosari) pada saat mangkat atau meninggal dimakamkan dalam bentuk patung J’na yang sangat indah yang kemudian juga dikenal dengan Ardhanareswari yaitu Ardana dengan Iswari, Raja dengan Tara-nya yang tiada lain adalah patung Ciwa-Budha, patung J’na yang menggambarkan seorang Ardhanari sebagai Dwi tunggal Wairocana Locana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Acintya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SoXyk7qD4BI/AAAAAAAAABs/qrWX0ZhWisI/s1600-h/acintya_01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 120px; height: 170px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SoXyk7qD4BI/AAAAAAAAABs/qrWX0ZhWisI/s400/acintya_01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5369964847012503570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Kemudian, Ardhanareswari Murti adalah wujud dari Bhatara Ciwa dan Dewi Parwati yang berbadan setengah pria (ardha) dan setengah wanita (nari) juga berwujud Acintya yang menyatakan tidak laki-laki dan juga tidak perempuan yang juga disebut Ana Tan Hana yang ada tetapi tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dewa Kemakmuran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam ikonografi klasik patung Ardhanareswari disebut juga Harihara. Hari sebagai unsur pria (Purusha) dan Hara sebagai unsur wanita (Pradhana) dan persatuan dari Purusha dan Pradhana ini terwujud sebagai Hyang Tunggal. Dan dalam wujud yang lain yang akhirnya dalam masyarakat Bali, penyatuan Sri dan Sedhana dikenal sebagai Bhatara Rambut Sedana (Dewa Kemakmuran) yang sering juga disimbolkan dengan patung-patung atau archa atau pratima kecil yang terbuat dari uang kepeng dengan muka (pererai) terbuat dari kayu cendana yang dilinggihkan di pura merajan sebagai patung-patung Leluhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat Ardhanari memegang peranan penting dalam Kala Cakra Tantra sebagai Adhi Budha Wajra Dhara yang artinya sebagai pembawa Lingga-Budhis dalam mana kedudukannya di alam Adhi Budha di Sunyaparamananda yakni Ketiadaan yang nyata adalah kebahagiaan yang tertinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mpu Kuturan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam perkembangan berikutnya Mpu Kuturan membuat konsep pemujaan kepada Hyang Tunggal yang akhirnya dipakai sebagai pakem pemujaan Hindu Dharma atau Ciwa Budha di Bali yaitu dengan membuat simbol Tapak Dara, garis horisontal (mendatar) dan garis vertikal (atas bawah) yang bergabung atau tanda ‘+’.  Simbol dari Lingga dan Yoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Horisontal adalah Budha dan Vertikal adalah Ciwa. Horisontal dikenal dengan Tri Murti dan Vertikal dikenal dengan Tri Purusha.&lt;br /&gt;Tri Murti: yaitu Brahma Wisnu Iswara – Budha – Rong tiga&lt;br /&gt;Tri Purusha: Ciwa, Sadaciwa, Paramaciwa – Ciwa – Padmasana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan dijelaskan lagi dalam tulisan lainnya yang membahas Mpu Kuturan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gambar kredit: japasemadi.files.wordpress.com&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-7989932765197316197?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/7989932765197316197/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/ciwa-budha-konsep-dasar.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/7989932765197316197'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/7989932765197316197'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/ciwa-budha-konsep-dasar.html' title='Ciwa Budha - Konsep Dasar'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SoXyk7qD4BI/AAAAAAAAABs/qrWX0ZhWisI/s72-c/acintya_01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-3317205882205427780</id><published>2009-08-10T08:33:00.000-07:00</published><updated>2009-08-16T04:25:09.705-07:00</updated><title type='text'>Pelinggih Leluhur di Pura Besakih</title><content type='html'>Selama ini saya bersembahyang di pura kahyangan jagat Besakih adalah hanya di areal pura Pedharmaan, Penataran Agung dan di pelinggih Ida Betara Ratu Syahbandar saja. Namun ternyata ada beberapa Pelinggih yang sangat penting yang belum saya ketahui. Setelah saya bertemu dengan Pinisepuh Paguyuban Dharma Giri Utama, yang kebetulan pada suatu waktu kami tangkil ke pura Besakih malam hari, di sana saya minta dijelaskan siapa saja para Leluhur yang melinggih di Pura Besakih ini, dan pelinggih mana yang orang umum boleh sembahyang. Walau tidak sempurna saya menangkap penjelasan yang begitu detil, tetapi semoga penjelasan sederhana berikut bermanfaat untuk anda yang belum tahu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang ada tanda adalah pelinggih-pelinggih umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SoA_3QBomqI/AAAAAAAAABk/58APBtez26U/s1600-h/besakih.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 318px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SoA_3QBomqI/AAAAAAAAABk/58APBtez26U/s400/besakih.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5368360974252808866" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan gambar:&lt;br /&gt;A. Ida Betara Prabu Jayabaya bergelar juga Ratu Dalem Majapahit.&lt;br /&gt;B. Bambu yang sangat dikeramatkan&lt;br /&gt;C. Ida Betari Maheswari&lt;br /&gt;D. Ida Betari Ratu Mas Magelung&lt;br /&gt;E. Ida Betara Prabu Jayasabha&lt;br /&gt;F. Ida Betara Ratu Syahbandar&lt;br /&gt;G. Areal pelinggih Pratima Majapahit&lt;br /&gt;H. Penataran Agung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Asal Muasal Pedharmaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pedharmaan adalah pelinggih Leluhur dari masing-masing soroh atau pelinggih dari masing-masing Kawitan. Akan tetapi tidak semua soroh Kawitan mempunyai tempat di areal Pedharmaan. Pedharmaan ini ada di areal Pura Besakih karena waktu jaman pembangunan Pura Besakih, para Leluhur matur ayahan atau bekerja gotong royong untuk membangun Pura Besakih. Masing-masing Pedharmaan yang ada sekarang tersebut dulunya adalah tempat mondok atau tempat tinggal waktu ngaturang ayah. Setelah masa pembangunan pura selesai maka tempat mondok tersebut dibangun pelinggih-pelinggih untuk Soroh atau Kawitan masing-masing sebagai penghargaan telah ikut ngaturang bakti membangun pura Besakih pada saat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Penjelasan Denah Pura&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ciwa-Budha sebagai suatu keyakinan dan kepercayaan atau isme yang kemudian pada tahun 1961 kita kenal sebagai Hindu-Budha yang diresmikan sebagai Agama oleh pmerintah yang berkuasa pada waktu itu, mempunyai konsep pemujaan terhadap Leluhur. Singkat kata, karena Majapahit adalah Leluhur tertua manusia Bali, di luar Bali Aga, seperti telah disimbolkan dengan adanya Sanggah Seluwang di Mrajan masing-masing, maka, pelinggih Ida Prabu Jayabaya atau Ratu Dalem Majapahit adalah satu Pelinggih yang semestinya umat boleh ngaturan sesajen atau banten. Ngaturang banten atau sekedar ngaturang canang dalam pengertian bahwa, sama halnya dengan hormat kita dengan Ida Betara Kawitan. Dan Beliau adalah juga Ida Betara Kawitan kita sebagai umat Ciwa Budha di Bali. Dan Ida Betara Maheswari adalah permaisuri dari Ida Betara Prabu Jayabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara kedua pelinggih tersebut ada &lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Bambu yang dikeramatkan&lt;/span&gt; karena pada waktu-waktu tertentu bambu tersebut mengeluarkan sinar. Menurut Pinisepuh, Agung Yudistira, Bambu keramat ini adalah tempat yang sangat baik untuk melakukan permohonan atau nunas ice. Tidak ada keterangan lebih jelas dari Bambu tersebut tapi boleh untuk nunas ica. Jangan lupa sandal dibuka waktu naik areal tersebut karena tanahnya sangat suci dan berenergi sangat bagus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Ida Betari Ratu Mas Magelung&lt;/span&gt; Beliau mempunyai banyak nama. Beliau ini menurut Pinisepuh adalah Ida Betari yang sangat welas asih dan mempunyai banyak perwujudan. Beliau kalau melinggih di danau disebut juga Ibu Dewi Ulun Danu dan Kalau di pantai selatan wujudnya adalah Ratu Roro Kidul kalau dalam Budha Beliau adalah Ibu Dewi Kwan Im yang melindungi umat manusia. Dalam sejarah Budha, Ibu Dewi Kwan Im dianggap belum mencapai mokhsa menjadi Budha karena ingin memperhatikan umat manusia terlebih dahulu. Juga diberitahukan oleh Pinisepuh kalau maturan di Pelinggih Ida Betari Ratu Mas Magelung yaitu aturan vegetarian, tanpa daging, ikan dan telor atau kue-kue yang tidak mengandung bahan tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Ida Prabu Jayasabha&lt;/span&gt; adalah saudara dari Ida Prabu Jayabaya. Ida Prabu Jayasabha disebut juga Sang Hyang Wisesa. Beliau juga adalah Avatara dari Dewa Indra atau titisan dari Dewa Indra. Tidak banyak penjelasan yang diberikan mengenai Beliau ini akan tetapi dalam sejarah Kerajaan dari keturunan Beliau, Majapahit dianggap belum runtuh yang mana menurunkan Brahmaraja Hyang Suryo Wilatikta yang masih ada sampai sekarang dan tinggal di Puri Majapahit Trowulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Ida Betara Ratu Syahbandar&lt;/span&gt; adalah perwujudan Budha yang melinggih di Besakih. Beliau dikenal sebagai Ida Betara yang menguasai ekonomi, perdagangan dan kekayaan sehingga menjadi tempat pavorit saya juga kalau maturan di pura Besakih. Persembahan kepada Beliau adalah banten vegetarian, tanpa daging, ikan dan telor atau kue-kue tidak mengandung bahan tersebut. Jadi umat silahkan juga untuk mulai maturan di Pelinggihan Beliau Ida Betara Ratu Syahbandar kalau belum pernah. Sebagai umat pastilah kemajuan ekonomi adalah menjadi prioritas dan sebagai saran mohonlah juga restu pada Beliau Ida Betara Ratu Syahbandar dan Juga Ida Betari Ratu Mas Magelung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Areal pelinggih Pratima Majapahit&lt;/span&gt;, adalah gedong simpen untuk pratima yang disakralkan oleh umat Hindu-Budha. Adalah salah satu bukti bahwa umat Siwa-Budha berasal dari Kawitan Majapahit. Karena tempat ini sangat sakral dan mempunyai vibrasi prana yang sangat besar mohon umat bertanya pada pemangku sebelum ngaturang canang raka di areal pelinggih ini. Jangan sampai kena sisip atau apa yang disebut dengan tulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 102, 255);"&gt;Di Penataran Agung&lt;/span&gt;, di areal ini melinggih Ida Betara Lingsir Sang Hyang Pasupati, yang merupakan manifestasi dari Brahma, Wisnu dan Iswara. Pengayatan juga ke pura Semeru, Lumajang, Jawa Timur, di mana Ida Betara Lingsir Sang Hyang Pasupati yang berstana atau melinggih di sana. Sang Hyang Pasupati adalah Beliau Yang Maha Tinggi Ciwa Raditya, Acintya dan sebutan lain Ida Sang Hyang Widi Wasa, Sang Hyang Peramakawi dan lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulisan ini hanyalah gambaran umum saja dan merupakan salah satu bagian dari perjalanan spiritual saya dalam lingkup mengenal asal-usul dan sejarah Para Leluhur. Tulisan ini saya anggap yang paling berguna karena merupakan pengetahuan Pura Terbesar yang di sungsung oleh masyarakat Bali dan umat dunia karena merupakan Pura Kahyangan Jagat.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-3317205882205427780?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/3317205882205427780/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/pelinggih-leluhur-di-pura-besakih.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/3317205882205427780'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/3317205882205427780'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/pelinggih-leluhur-di-pura-besakih.html' title='Pelinggih Leluhur di Pura Besakih'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SoA_3QBomqI/AAAAAAAAABk/58APBtez26U/s72-c/besakih.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-3352657329104286932</id><published>2009-08-09T08:03:00.000-07:00</published><updated>2009-10-22T21:24:09.913-07:00</updated><title type='text'>Bisama Ida Betara</title><content type='html'>Dalam percakapan saya bersama pinisepuh Paguyuban Dharma Giri Utama, saya bertanya tentang jalan spiritual yang sebenarnya. Seperti dalam tulisan saya yang lain saya telah menyinggung bahwa salah satu jalan spiritual adalah dengan meditasi. Benar. Namun dalam cara berbeda untuk mencapai jalan spiritual adalah dengan melakukan yoga. Dalam konsep ini, yoga memberi aturan-aturan diantaranya adalah cara mengelola pikiran dan yang digaris bawahi juga adalah kesehatan. Untuk mencapai spiritual yang tinggi seseorang haruslah sehat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yoga adalah cara-cara melatih pikiran agar selaras dengan tubuh atau tingkah laku. Sesuai dengan ajaran Bhagawad Gita. Namun sekarang ini banyak sekali berkembang teknik yoga seiring dengan perkembangan jaman karena banyak kreator menciptakan gerakan-gerakan baru. Digabungkan dengan nuansa seni gerak oleh orang-orang dari dunia modern. Yang sebenarnya bagus tetapi masih diragukan kegunaannya kalau sudah bicara dengan spiritual. Sebab pada jaman dulu, yoga ini diciptakan sebagai penunjang pencapaian pencerahan spiritual. Yoga diciptakan oleh tokoh spiritual bernama Patanjali, pada tahun 2.500 SM. Yoga yang diciptakan terkenal dengan nama: Asthanga, atau 8 tingkatan yoga yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Yama: menjaga etika dan pikiran dalam lingkungan eksternal&lt;br /&gt;2. Niyama: penghormatan kepada sesama makhluk hidup&lt;br /&gt;3. Asana: latihan gerak tubuh&lt;br /&gt;4. Pranayama: mengatur nafas atau olah nafas&lt;br /&gt;5. Pratyahara: pengendalian diri secara internal&lt;br /&gt;6. Dharana: konsentrasi atau fokus terhadap pengendalian diri tadi&lt;br /&gt;7. Dhyana: fokus no 5 dan 6 yang sudah otomatis dengan perasaan yang nyaman&lt;br /&gt;8. Semedhi: adalah tingkatan terakhir dimana penyatuan semua tingkatan yoga sudah    terpenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan melatih yoga tersebut maka kesehatan pikiran dan kesehatan jasmani dapat terbentuk dengan baik. Kesehatan jasmani dan rohani yang baik adalah modal awal untuk mencapai jalan spiritual yang benar. Spiritual yang benar ditunjukkan pertama kali dengan adanya pencerahan-pencerahan. Pencerahan-pencerahan adalah sebagai akibat dari bersihnya cakra-cakra. Cakra-cakra yang bersih sebagai tanda bahwa Kundalini sudah mulai bangkit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cepat atau lambat bangkitnya Kundalini tergantung dari karma. Latihan Asthanga Yoga tersebut diciptakan untuk kebangkitan spiritual. Berarti juga bisa menghapus karma sesuai dengan intensitas latihan dan sikap penyerahan diri kepada Ida Betara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(204, 0, 0);"&gt;Sedangkan bagi umat Hindu Budha atau Ciwa Budha Bali ada hal lain yang harus dilakukan. Petunjuk Ida Betara yang melinggih di Bali, atau Bisama Ida Betara mengingatkan umat Hindu Dharma di Bali melalui Pinisepuh Paguyuban Dharma Giri Utama, Agung Yudistira, yaitu:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(51, 0, 153);"&gt;Untuk mencapai tingkat spiritual yang tinggi bagi umat yang berada di Bali, haruslah pernah mencapai terlebih dahulu Puncak Lempuyang Luhur dimana disana Melinggih Beliau Yang Maha Mulia Hyang Genijaya. Atau dengan kata lain, tidak akan pernah mencapai tingkatan tertinggi dalam latihan spiritual kalau belum pernah mencapai Puncak Lempuyang Luhur. Atau tidak pernah akan mencapai sorga kalau belum pernah mencapai Puncak Lempuyang Luhur.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalimat-kalimat diatas cuma memberi pengertian agar petunjuk sampai ke umat dan bukan seperti aslinya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun setelah direnungkan maksud dari wangsit yang diterima oleh Pinisepuh Paguyuban Dharma Giri Utama, bahwa ternyata proses tangkil ke Puncak Lempuyang Luhur adalah hampir mirip dengan Asthanga Yoga. Saking tingginya puncak tersebut kita sering berpikir takut tidak akan sampai ke atas sana. Akan tetapi tutur kata tetua dulu mengingatkan bahwa jangan memikirkan beratnya medan ke sana, tetapi satukan pikiran dengan benar bahwa pikirkan saja kita bisa sampai ke sana maka kita akan bisa mencapai Puncak Lempuyang Luhur. Jadi kalau benar-benar kita melakoni pendakian tersebut secara otomatis tingkat 1 sampai dengan tingkat 7 dari Asthanga Yoga telah dapat dilalui. Sedang tingkat 8 yaitu Semedhi akan dilakukan setelah sampai di puncak yaitu saat persembahyangan kepada beliau Ida Betara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold; color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Note:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Janganlah tulisan seperti ini menjadi polemik mempersoalkan benar dan salah dari wangsit yang diterima. Yang terpenting bagi saya adalah menyampaikan sesuatu pengetahuan yang barangkali berguna. Sebelum menulis ini saya sudah konsultasikan kepada Beliau Pinisepuh Paguyuban Dharma Giri Utama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-3352657329104286932?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/3352657329104286932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/bisama-ida-betara.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/3352657329104286932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/3352657329104286932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/bisama-ida-betara.html' title='Bisama Ida Betara'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-5175996680987726997</id><published>2009-08-06T17:24:00.000-07:00</published><updated>2009-08-09T08:03:01.409-07:00</updated><title type='text'>Ini kenangan pahit atau manis?</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Saya senang sekali kalau membicarakan soal kaya. Waktu kuliah dulu hidup pas-pasan, mi lagi mi lagi. Bukan rahasia lagi kalau anak kos doyan mi. Ini yang paling murah dan gampang. Ada pengalaman mengesankan juga, terkadang pada waktu-waktu tertentu saat mana kehabisan uang, kalau sudah jam makan siang, saya menyingkir dari gerombolan teman-teman. "Mana De?" tanya mereka. "Makan dulu...", maksudnya makan angin! Kadang pernah mengalami masa-masa makan satu kali sehari. Saya tak pernah menyesal atau panik dengan situasi seperti itu. Rasanya tetap bisa bergembira dan bersenang-senang dengan teman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang ini baru menyadari bahwa sebenarnya hidup saya tidak susah waktu itu. Itu hanyalah kecil dibandingkan seorang teman yang kaya dan sama-sama merantau. Hidupnya selalu panik dan bicaranya uang dan uang. Bekalnya empat kali lipat dari saya waktu itu atau bahkan delapan kali lipat dari teman yang lain. Manakala bekalnya sudah tipis, dan hari tanggung untuk pulang kampung kelihatan sekali wajahnya tertekan. Apalagi pacarnya sudah menunggu di mobil siap dibawa kemana saja, maka ia akan pinjam uang ke teman yang lain. Saya tidak sedang mengadili teman tersebut sekarang ini tetapi memberi sedikit perbandingan akan sebuah nilai kenyataan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akhirnya telah melalui masa-masa indah dan susah tetapi dengan tetap bersukur masih mendapat jatah kuliah sementara banyak teman yang lain tidak bisa melanjutkan kuliah. Saya melaluinya dengan perasaan tanpa beban tetapi sarat dengan angan-angan. Angan-angan saya waktu itu ingin punya uang 10.000 rupiah setiap hari dan berani membelanjakan uang itu tanpa mikir apa-apa. Biar kalau duduk di warung makan, pelayan warung nanya, isi apa Gus? Biar bisa jawab, satenya 2, atinya 2, lawarnya dan kulitnya tambah ya... waktu itu nasi babi guling di Pengadangan, Abian kapas, Denpasar, masih 500 rupiah sepiring. Keinginan ini sangat kuat disertai dengan permohonan dan do'a setiap kali bersembahyang di mana saja. Dua tahun kemudian yaitu tahun 1988 setelah bebas kuliah dan KKN, sambil menyusun skripsi saya punya usaha sablon. Angan-angan saya tercapai bahkan lebih dari yang diharapkan. Usaha sablon ini terus berkembang menjadi usaha percetakan dan hidup sampai sekarang serta dikelola oleh seorang saudara. Setamat kuliah saya bekerja di satu kantor akuntan. Gajinya lebih kecil dari bekal saya waktu kuliah. Tetapi saya memerlukan pengalaman itu karena jurusan saya akuntansi. Pengalaman ini yang mengantarkan saya sebagai seorang desainer perhiasan perak di kemudian hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malang benar nasib teman kuliah yang kaya ini. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Suatu hari, delapan tahun kemudian saya bertemu di sebuah warung langganan waktu kuliah. Ini nostalgia, kebetulan lewat depan warung makan langganan dulu waktu kuliah, saya kemudian mampir. Tak dinyana saya bertemu dengan teman yang kaya itu, yang malu-malu menjawab sapaan saya. Ia akhirnya menceritakan hidupnya tidak lagi menyenangkan. Ia orang baik dan akrab dengan banyak teman termasuk saya dulu. Juga ia cerita bahwa tidak ada lagi fasilitas karena usaha slep orang tua di kampung tergilas perubahan peta pertanian Bali Utara. Orang tidak lagi menanam padi tetapi menanam anggur jadi order slep padi berkurang drastis. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Selesai kuliah, teman ini bekerja, tetapi tidak pernah menetap lebih dari tiga bulan di satu perusahaan. Menjadi kutu loncat. Gaji yang diterima sebagai karyawan baru sangat jauh dari bekal yang diberi orang tua waktu kuliah dulu. Jadi terus berusaha mencari perusahaan-perusahaan yang menurutnya lebih baik dan lebih baik lagi. Akhirnya kehilangan waktu pengabdian selama sekian tahun lalu, kelelahan dan menyerah sementara teman-teman seangkatan sudah pada menjabat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Raut mukanya tampak jauh lebih tua dari umurnya. Sekarang bekerja di satu tempat yang sebenarnya dia tidak sukai. Dengan gaji yang sebenarnya kurang dari pas-pasan untuk hidup layak bersama istri dan satu anak. Istrinya bukan pacarnya yang dulu, jadi nggak malu lagi kalo membantu suami cari duit dengan cara mencuci baju tetangga, terkadang jadi tempat penitipan anak, ya lumayan untuk nambah-nambah biaya hidup. Banyak cerita tentang nasibnya yang diceritakan. Semua tentang nasib buruknya, menurut pandangan dia sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut pandangan saya, sebenarnya hal-hal demikian bukanlah suatu masalah seandainya menyadari bahwa setiap kehidupan tidak selalu dihargai berdasarkan kaya. Dinilai dengan uang dan didramatisir oleh pikiran yang sudah dicekoki oleh kata-kata gengsi dan malu. Malu ketemu teman kalau tidak lagi naik mobil. Sebenarnya dia tidak punya masalah karena dia tetap masih hidup sampai sekarang. Yang salah dia menempatkan perasaannya masih seperti dulu tetapi kenyataannya dia hidup dengan keadaannya seperti sekarang. Sama sekali tidak ada keselarasan pikiran dan kenyataan sekarang. Sehingga dia merasakan hidupnya seperti di awang-awang. Saya ini dulu kaya, punya rumah dan mobil. Hal-hal seperti itu sering dia ceritakan kepada orang-orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Tidak salah kalau sastra suci memberitahukan bahwa janganlah memamerkan kekayaan. Mungkin maksudnya memberitahu kalau satu saat tidak kaya agar tidak gengsi dan terobsesi terus sepanjang sisa hidup serta tidak bisa bangkit lagi karena terbelenggu oleh masa lalu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Saya akhirnya menyarankan untuk merubah pola pikir 'menderita' tersebut ke yang lebih kenyataan. Yang hilang hanyalah harta. Hidup kamu kan tidak jahat. Jadi masih bisa lebih bagus lagi kalau kamu mau. Berhentilah menyalahkan keadaan karena setiap detik jaman dan keadaan berubah. Dalam pandangan spiritual kalau jahat kan kamu dihukum jadi lama bisa bangkit karena kamu menjalani hukuman. Ya anggap saja seperti itu, karena penafsiran saya tentang  Panca Pandawa yang baik-baik kemudian berjudi lalu kalah dan kemudian harus menjalani hukuman. Sedang Kurawa yang hidupnya jahat terus akhirnya mati semua di akhir perang Mahabratha.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah kenangan ini memberi banyak hal-hal baru tentang ujian spiritual. Bagaimana menyikapi satu keadaan. Kenyataan tidak seburuk dalam pikiran. Capailah keadaan dimana kita bisa mengontrol pikiran tersebut. Dalam tingkatan spiritual yang lebih tinggi, seseorang bisa mengontrol pikirannya. Lebih tinggi lagi, Ia akan tahu sebelum pikiran itu ada dan muncul di kepala. Lebih tinggi lagi, Ia akan memerintahkan pikiran itu. Lebih tinggi lagi, manunggal dengan Brahman atau Mokhsa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hasil dari perenunngan dan percakapan bersama Gung Yudistira, Pinisepuh Paguyuban Dharma Giri Utama, dengan mengambil contoh nyata dari perjalanan seorang teman.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-5175996680987726997?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/5175996680987726997/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/ini-kenangan-pahit-atau-manis.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/5175996680987726997'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/5175996680987726997'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/ini-kenangan-pahit-atau-manis.html' title='Ini kenangan pahit atau manis?'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-6546589161392601790</id><published>2009-08-03T01:04:00.000-07:00</published><updated>2009-09-24T20:15:13.866-07:00</updated><title type='text'>Konsep dasar pemujaan di pura-pura</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Tak disangka bahwa selama ini saya begitu tidak mengetahui perihal Ida Betara yang melinggih di pura-pura. Baik di pura merajan maupun pura Dhang Kahyangan atau pura &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Kahyangan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jagat. Saking kurangnya pengetahuan, menjadi merasa takut kalau melakukan kebaktian pada pura-pura tersebut. Apalagi di malam hari yang sepi dan pada dina kliwon.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Setelah mengetahui sedikit demi sedikit bahwa sebenarnya yang melinggih atau berstana di pura-pura adalah para Leluhur manusia Bali dan Nusantara, maka ketakutan tersebut berubah menjadi semacam kedekatan. Merasa ada hubungan darah sehingga kebaktian atau pemujaan bukan lagi kepada sesuatu yang sama sekali tidak diketahui. Beliau para Leluhur adalah Bapak dan Ibu manusia Bali yang telah di-Linggihkan pada pura-pura Perhyangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SnauXNHPAMI/AAAAAAAAABM/oTvvbiRCRVE/s1600-h/03.pura-smeru.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 5px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 500px; height: 546px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SnauXNHPAMI/AAAAAAAAABM/oTvvbiRCRVE/s320/03.pura-smeru.jpg" alt="pura smeru di lumajang" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365667719738753218" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Konsep pura dalam hal ini bisa dikatakan sebagai konsep makam para Leluhur. Konsep ini dimulai dengan adanya candi-candi yang berkembang sejak jaman Kerajaan Majapahit. Raja yang mangkat atau meninggal pada jaman majapahit diperabukan atau dilakukan ritual pelebon kemudian roh Beliau di-Enteg Linggihkan di Candi-candi. Dalam waktu berikutnya, keturunan daripada Raja-raja yang telah meninggal tersebut akan membuat persembahan pada candi-candi tempat para Leluhur di-Linggihkan. Akhirnya di Bali sendiri membuat pura-pura dan bentuk pelinggih tertentu yang merupakan manifestasi dari para Leluhur tersebut. Atau pelinggih yang merupakan simbol dari para Leluhur di mana pada hari-hari tertentu umat Bali melakukan persembahyangan atau persembahan atau dalam konsep yang lebih mendasar yaitu konsep nyekar ke makam. Dalam nyekar yang digunakan adalah sekar atau bunga. Sedangkan dalam konsep pemujaan kepada Leluhur digunakan banten. Banten yang beraneka macam adalah bahasa atau jembatan atau sarana komunikasi kepada Beliau para Leluhur tergantung dari maksud persembahan atau nyekar tersebut. Banten juga adalah wakil dari pada mantra. Dalam sastra banten juga sering disebut sebagai weda tanpa mantra.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Dengan konsep perabuan atau pelebon atau kremasi yang kemudian di-Linggihkan dalam candi atau pura maka ini berarti para Leluhur kita umat Ciwa-Buddha atau Hindu-Dharma akan dengan mudah kita kenali yaitu dengan menemukan situs para Leluhur, yaitu dari keberadaan pura atau candi dan bukan dari makam.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Konsep pemujaan kepada Leluhur ini di Bali masih lestari sampai sekarang. Begitu ada orang meninggal dilakukanlah upacara pengabenan yang kemudian diikuti acara ngelinggihang pada akhir prosesi. Dikemudian hari anak cucu akan melakukan persembahan pada hari-hari piodalan. Sedangkan di Jawa sejak kerajaan Majapahit runtuh, konsep me-Linggihkan pada candi tidak lagi dilakukan karena masyarakat telah memeluk agama Islam yang berkonsep makam dan nyekarnya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Jadi sebagai umat Ciwa-Buddha, mengenali dan mengetahui Leluhur yang melinggih pada pura-pura yang dikunjungi adalah sangat penting karena tujuan dari persembahyangan adalah memuja Beliau yang melinggih pada pura tersebut. Juga dalam situasi khusus, menurut para pendamping spiritual saya terkadang mengetahui kesenangan Ida Betara yang kita kunjungi dan melinggih di satu pura adalah hal yang sangat penting. Untuk mengetahui kesenangan-kesenangan Ida Betara biasanya bisa ditanyakan kepada para pengempon atau pemangku pura yang bersangkutan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;Sebagai contoh: kalau melakukan persembahan di pura Besakih di pelinggih Ida Betara Ratu Syahbandar maka persembahan kepada Beliau adalah Vegetarian. Tidak ada persembahan dalam bentuk daging. Jadi cukup kue-kue yang dibuat juga tanpa daging atau telor dan buah-buahan. Bunga yang baik adalah bunga teratai.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-6546589161392601790?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/6546589161392601790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/konsep-dasar-pemujaan-di-pura-pura.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/6546589161392601790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/6546589161392601790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/konsep-dasar-pemujaan-di-pura-pura.html' title='Konsep dasar pemujaan di pura-pura'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SnauXNHPAMI/AAAAAAAAABM/oTvvbiRCRVE/s72-c/03.pura-smeru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-2855353422529947631</id><published>2009-08-02T17:29:00.000-07:00</published><updated>2009-08-16T04:06:30.202-07:00</updated><title type='text'>Spiritual dan Kekayaan</title><content type='html'>Saya bertanya pada orang-orang yang menyebut dirinya adalah pelaku spiritual atau kepada orang-orang yang dalam kesehariannya sering dikunjungi oleh orang yang ingin bertanya tentang spiritual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah pelaku spiritual bisa kaya? Ada dua jawaban yaitu 'Ya' dan 'Tidak'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan, yang pertama dihadapi sebagai manusia dalam kesehariannya adalah masalah ekonomi. Adalah sesuatu yang wajar bahwa setiap orang menginginkan menjadi orang yang kaya dalam kehidupannya. Sebelum mengenal kata spiritual itu sendiri saya merasa takut sebagai pelaku atau penekun spiritual karena alasan takut tidak bisa menjadi kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Spiritual dalam kontek saya adalah penekun spiritual. Seseorang yang rajin ke pura-pura, baik pada waktu piodalan ataupun di luar waktu piodalan yang masih dalam cakupan sembahyang atau melakukan permohonan atau ‘mapinunasan’ adalah bukanlah yang disebut sebagai penekun spiritual. Ia hanyalah seseorang yang rajin menjalankan kewajibannya sebagai umat beragama. Jadi Ia bukanlah seseorang yang disebut penekun spiritual atau dengan bahasa sehari-hari orang sering mengatakan sebagai ‘orang spiritual’. Jadi orang yang rajin bersembahyang itu adalah belum bisa dikatakan sebagai ‘orang spiritual’. Yang dikatakan sebagai penekun spiritual atau orang spiritual adalah orang yang rajin melakukan ‘meditasi’ disamping melakukan kewajiban bersembahyang. Yang dikatakan sebagai penekun spiritual juga adalah beliau-beliau yang sudah ‘melinggih’ mulai dari Pemangku atas dasar kemauan sendiri ingin menjadi pemangku maupun pemangku atas dasar titah atau kajumput atau dikehendaki oleh Beliau sampai pada tingkatan pinandita lebih tinggi seperti Peranda dan tingkatan tinggi lain-lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pemahaman umum bahwa pelaku spiritual adalah orang-orang yang sudah tidak terikat oleh benda-benda duniawi. Harta adalah benda-benda duniawi. Kekayaan adalah benda-benda duniawi. Para pelaku spiritual dikatakan memang tidak terikat oleh benda-benda duniawi. Tidak terikat bukan berarti tidak membutuhkan benda-benda tersebut, masih membutuhkan pakaian dan makanan. Pakaian dan makanan adalah benda. Sekecil apapun benda-benda duniawi adalah kekayaan. Seorang penekun spiritual kalau tidak kaya mungkin juga akan susah mencapai tingkatan sampai ke status Peranda. Biaya yang diperlukan untuk melinggih tidak sedikit. Ada yang bisa mencapainya ada yang tidak bisa mencapai tingkatan ‘melinggih’ tersebut karena masalah ketiadaan kekayaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya mencoba membuka sedikit polemik yang ada di masyarakat Bali agar tidak takut menjadi pelaku spiritual karena takut kehilangan kekayaan yang sudah dicari dan dikumpulkan sepanjang hidup. Bhagawad Gita telah mengatakan dengan jelas bahwa apabila seseorang ber-bhakti dengan tulus ikhlas dan sesuai dengan cara-caranya apapun yang diinginkan akan dapat dicapai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SnZO9JBPMhI/AAAAAAAAAAw/aq6lf0bTiWc/s1600-h/01.-bersama-Hyang-Suryo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 162px; height: 221px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SnZO9JBPMhI/AAAAAAAAAAw/aq6lf0bTiWc/s320/01.-bersama-Hyang-Suryo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5365562818358620690" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Saya dalam keseharian adalah pelaku spiritual dan pengusaha. Melakukan meditasi sehari sekali. Sering melakukan persembahyangan ke pura-pura. Melakukan acara pelukatan di pura-pura. Memohon Restu dari beliau-beliau Ida Batara yang melinggih di Kahyangan Jagat Bali. Pada tahun 2009 mencanangkan pada diri sendiri untuk melakoni kehidupan spiritual. Dalam meditasi saya memohon seorang pendamping yang memahami spiritual secara utuh yang mana sangat sulit ditemukan di Bali. Akhirnya bertemu dengan pelaku spiritual yang sanggup berkomunikasi dengan beliau-beliau Para Leluhur. Ia juga yang menunjukkan kepada saya bahwa saya harus ngiring (mendapat titah mengabdi) di pura Kawitan saya. Dalam tahun yang sama juga mempunyai rejeki berlebih sehingga bisa membangun usaha baru yang juga untung pada operasional bulan pertama. Jadi tidak ada yang harus ditakutkan untuk menempuh kehidupan bernuansa spiritual. Kekayaan akan tetap bisa diraih bersamaan dengan pengabdian kita kepada Beliau Ida Batara.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-2855353422529947631?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/2855353422529947631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/spiritual-dan-kekayaan.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/2855353422529947631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/2855353422529947631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/spiritual-dan-kekayaan.html' title='Spiritual dan Kekayaan'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_3tIlKgMsNNA/SnZO9JBPMhI/AAAAAAAAAAw/aq6lf0bTiWc/s72-c/01.-bersama-Hyang-Suryo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6806057187396795949.post-3275770710444936702</id><published>2009-08-02T06:14:00.000-07:00</published><updated>2009-08-02T22:21:01.451-07:00</updated><title type='text'>Perjalanan mencapai nasib baik</title><content type='html'>&lt;span style=";font-family:verdana;font-size:100%;"  &gt;Entah semua orang memiliki sifat dan keinginan memperbaiki akhlak dalam hidupnya seiring berjalannya waktu. Apakah setiap orang menginginkan mengalami kebaikan-kebaikan dalam hidupnya? Terkadang dalam perenungan, di saat sore hari setelah lelah menempuh perjalanan pada hari itu saya bertanya tentang hal-hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di umur yang tidak lagi ABG, terkadang ingin rasanya menjadi seseorang. Seseorang itu misal saja Bakrie kalau tengah menginginkan harta kekayaan yang melimpah. Membayangkan bagaimana rasanya mengenyam kehidupan glamor kalau mempunyai harta sebanyak harta keluarga Bakrie Brothers. Pikiran terombang ambing tidak tentu arah ibarat kapal kecil di dalam samudra luas kalau sudah membayangkan harta kekayaan. Banyak rencana mulia yang tersirat tetapi dipenuhi kebodohan. Keinginan membantu keluarga, menyumbang ke yayasan-yayasan sosial yang memerlukan, membangun atau memperbaiki tempat-tempat suci yang membutuhkan pembangunan. Itulah sebagian rencana-rencana mulia yang ada dibalik kebodohan pikiran kalau saja sekarang memiliki harta kekayaan yang melimpah. Padahal sebenarnya rencana mulia itu hanyalah untuk menutupi sifat pemenuhan ego saja. Suatu kebodohan yang tak pernah pergi selama masih belum diusir. Tentu yang diutamakan saat punya harta sebanyak itu yaitu beli rumah mewah dulu, mobil mewah, karyawan yang cantik yang mau diajak tidak senonoh. Pamer ke saudara atau teman-teman. Mementingkan memuaskan panca indra yang akan dilakukan pertama kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya setelah sekian tahun menjalani hidup yang hampir sama, menyadari kebodohan-kebodohan dan kebohongan-kebohongan tersebut, yang walau hanya terjadi dalam perenungan, tetap disebut sebagai sebuah kesalahan yang fatal. Satu surat tidak akan mungkin ditujukan ke dua alamat berbeda. Kemuliaan tak akan bisa murni kalau masih bercampur ego pribadi. Akhirnya secara terpaksa memilih sebagai diri sendiri seperti sekarang ini dan memulai mengerjakan hal-hal kecil yang berguna bagi orang sekitar. Tidak menunggu harta kekayaan sebanyak itu untuk menolong orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akhirnya kerap mempelajari sejarah perjalanan saya sendiri pada tahun-tahun sebelumnya. Banyak sekali yang sudah terjadi tanpa disadari kalau tidak direnungkan. Ada yang sangat memberi kegembiraan ada juga yang sangat menakutkan. Yang memberi kegembiraan adalah saat mana telah mendapat pujian dan pengakuan dari orang-orang karena berhasil mencapai sesuatu yang mereka belum bisa capai. Namun setelah mendapat pujian tersebut, beberapa saat kemudian saya mengalami ketakutan yang sangat menyiksa lubuk hati yang paling dalam. Mampukah mempertahankan pencapaian tersebut?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengenang kata 'perjalanan' adalah membayangkan seseorang berjalan di atas jalan raya. Tidak selamanya jalan tersebut lurus. Tidak selamanya jalan tersebut menanjak. Tidak selamanya jalan tersebut datar. Tidak akan pernah pada situasi yang sama walau waktu perjalanan hanya berjalan satu detik. Bahwa dalam perjalanan tidak juga sendirian. Ada pemakai jalan lain dengan tujuan belum tentu sama. Dengan kepasrahan, welas asih yang terus dikembangkan akan mampu menghibur diri di saat-saat jalanan turun dan tidak sombong di saat mampu melewati jalanan yang menanjak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketenangan diri dan sifat welas asih sangat disenangi oleh Sang Hyang Pramakawi atau Ida Sang Hyang Widi Wasa dalam berbagai wujud manifestasinya. Pencapaian tertinggi akan banyak godaannya kalau tidak didampingi oleh sifat-sifat yang disenangi oleh Beliau Ida Betara. Perjalanan manusia adalah atas dasar restu Beliau.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6806057187396795949-3275770710444936702?l=satwic-spiritual.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/feeds/3275770710444936702/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/perjalanan.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/3275770710444936702'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6806057187396795949/posts/default/3275770710444936702'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://satwic-spiritual.blogspot.com/2009/08/perjalanan.html' title='Perjalanan mencapai nasib baik'/><author><name>Made Sandiago</name><uri>http://www.blogger.com/profile/09159399678410481133</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='29' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/-TsrZktadurk/TpD3IAbhDLI/AAAAAAAAAFI/OvTrLBQ-GwA/s220/tongkat.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
