Rabu, 18 November 2009

Durga Dewi 2 - Moksha

Dasar-dasar paham Tantra timbul sebelum bangsa Arya datang di India dan merupakan kepercayaan India kuno. Pada peradaban lembah sungai Sindhu, dasar-dasar paham Tantra ini telah terlihat, yaitu dalam bentuk pemujaan Dewi Ibu atau Dewi Kemakmuran. Pada salah satu sloka lagu pujaan, sakti digambarkan sebagai penjelmaan kekuatan, penyokong alam semesta, sehingga dengan demikian ‘Saktiisme” sama dengan ‘Kalaisme’.

Hubungan antara konsepsi dewi dari dewi itu munculah saktiisme, yaitu suatu paham yang mengkhususkan pemujaan kepada sakti, yang merupakan suatu kekuatan dari para dewa. Pemuja sakti ini disebut dengan sakta atau sekte. Turunnya Dewi Durga ke bumi pada jaman kali untuk menyelamatkan dunia dari kehancuran moral dan prilaku. Dalam masa peperangan antara suku bangsa arya dan non arya, lahirlah seorang Agung bernama Sadashiva, artinya dia yang selalu terserap dalam kesadaran dan dia yang bersumpah satu-satunya, dengan kehadirannya bahwa misinya hanyalah untuk memajukan kesejahteraan menyeluruh semua kehidupan. Sadashiva dikenal juga sebagai Shiva, adalah seorang guru rohani yang istimewa. Meskipun ajaran Tantra sudah dipraktekan sejak sebelum kelahirannya, namun beliaulah yang pertama kali mengungkapkan perkara rohani secara sistimatis bagi umat manusia.

Bukan saja Beliau adalah seorang guru spiritual, namun Beliau juga pelopor sistim musik dan tari-tarian. Oleh karena itu Beliau terkadang dikenal pula sebagai Nataraja (Tuhan penata tari). Sumbangan terbesar dari Shiva adalah pada kelahiran peradaban yang baru, juga pengenalan konsep dharma. Dharma adalah suatu kata sangsekerta yang berarti; sifat dari sananya, milik sesuatu hal.

Apakah yang menjadi sifat alamiah dan kekhasan manusia?

Shiva menerangkan, bahwa manusia selalu menginginkan lebih, lebih daripada kenikmatan yang diperoleh dari kepuasan indrawi. Beliau mengatakan bahwa manusia berbeda dengan tanaman dan binatang karena apa yang sangat diinginkan oleh manusia adalah kedamaian mutlak. Itu adalah tujuan manusia, dan ajaran Shiva ditujukan untuk memberdayakan manusia untuk mencapai tujuan itu. Ajaran Shiva disampaikan dari mulut ke mulut, dan baru dikemudian waktu dituliskan ke dalam bentuk buku.

Istri Shiva adalah Parvati, sering bertanya pada Beliau mengenai berbagai pengetahuan rohani. Shiva memberikan jawabannya sebagian dalam buku-buku kuno dan itu telah hilang serta sebagian lagi ada di dalam dharma itu sendiri sehingga nilai kebenaran yang ada dalam dharma disebut dengan dharma tanpa sastra.

Di dalam ajaran Tantra satra, salah satu unsur utama dalam Tantra adalah hubungan guru dan murid. Guru adalah, atau berarti seseorang yang dapat menyingkirkan kegelapan dan Shiva menjelaskan bahwa agar diperolehnya keberhasilan rohani harus ada guru yang baik dan murid yang baik.

Shiva menjelaskan, bahwa ada tiga jenis guru:

Pertama, adalah guru yang memberikan sedikit pengetahuan namun tidak menindak lanjuti pengajarannya. Jadi sang guru pergi dan meninggalkan sang murid. Kedua, adalah sang guru mengajarkan dan mengarahkan para muridnya sebentar namun tidak selama masa yang diperlukan si murid untuk mencapai tujuan akhir. Ketiga, dalam ajaran Tantra, guru ini adalah guru terbaik yang memberikan pengajaran dan kemudian mengupayakan terus menerus agar si murid mengikuti semua petunjuk dan sampai menyadari tujuan akhir kesempurnaan manusia.

Ciri guru yang istimewa menurut petunjuk yang saya peroleh dari dewa Shiva adalah: Guru yang tenang, dapat mengendalikan pikirannya, rendah hati dan berpakain sederhana, dia memperoleh penghidupannya secara layak dan berkeluarga. Dia ahli dalam filsafat metafisik dan matang dalam seni meditasi. Dia juga tahu praktek teori pengajaran meditasi. Dia mencintai dan menuntun para muridnya. Guru yang seperti demikian disebut atau akan diberi gelar oleh Shiva yaitu; Mahakoala.

Namun meskipun ada seorang guru yang hebat, tetap saja harus ada yang dapat menyerap pelajarannya.

Dewa Shiva mengatakan kepada saya, ada tiga jenis murid:

Pertama seorang murid yang berlaku baik di depan gurunya, namun begitu gurunya pergi, murid itu tidak melanjutkan latihannya dan tidak dapat menerapkan pelajarannya dalam kesehariannya. Yang kedua, murid seperti ini adalah yang tekun saat kehadiran gurunya namun perlahan-lahan akan berkurang bahkan meninggalkan latihannya sama sekali. Dan yang ketiga, adalah murid yang paling mulia dan sempurna yang dikatakan oleh Dewa Shiva, murid seperti ini, tekun berlatih di hadirat gurunya dan terus tekun biarpun secara fisik terpisah jauh dari gurunya.

Hubungan antara guru dan murid sangatlah penting dan merupakan ciri kunci dalam mencapai moksha atau kesempurnaan. Jalan rohani sering disamakan dengan sisi tajam pisau cukur. Mudah sekali keluar dari jalur dan dengan demikian memang sulit memperoleh pembebasan. Sang guru selalu hadir untuk mencintai dan menuntun si murid pada setiap tahap upayanya untuk mencapai kesempurnaan atau moksha.

Ada empat jenis moksha yang diharapkan dalam setiap bentuk jalan rohani atau jalan spiritual:

Samipya moksha yaitu kebebasan yang dicapai pada saat semasih hidup yang dibantu oleh para rsi atau sang guru dan mampu memberikan pencerahan itu kepada umat lainnya dan mampu menerima petunjuk-petunjuk, wahyu, atau pawisik dari Tuhan dalam segala bentuk perwujudannya.

Sadarmmya moksha yaitu kebebasan yang diperoleh dari kelahirannya kembali atau reinkarnasi dari para Dewata atau Awatara wisnu seperti Awatara Krisnha, Awatara Budha Gautama, dan lain lain.

Karma mukti yaitu kebebasan yang dicapai oleh Atman itu sendiri yang telah berada dalam posisi hampir sama dengan Samipya dan Sadarmmya moksha tetapi belum dapat bersatu dengan Tuhan dalam arti belum menerima petunjuk-petunjuk, wahyu atau pawisik. Cara ini biasanya dilakukan dengan cara menggumpulkan karma-karma positip dan tekun mejalankan dharma serta tekun menjalankan meditasi dan yoga.

Purna mukti yaitu kebebasan yang tertinggi dan sempurna sehingga dapat menyatu dengan Tuhan. Dalam tahapan Purna Mukti, ada tiga jenis moksha, yaitu:

  • Nista moksha, yaitu seseorang tahu kapan akan meninggal dunia sesuai dengan aturan langit atau aturan maha suci.
  • Madya moksa, yaitu badan kita bersatu dengan Tuhan/Brahman tetapi masih menyisakan pakaian dan atribut-atribut lainnya yang berunsur duniawi.
  • Utama moksha, yaitu moksha yang paling sempurna dalam tahapan moksha yaitu bersatunya kita dengan Tuhan/Brahman dari badan sampai pakaian yang digunakan oleh yang mengalami moksha.

Dalam kesempatan berbeda Pinisepuh juga menjelaskan bahwa kejadian Utama Moksha adalah kejadian semesta. Saat mana seseorang mengalami moksha utama maka semua komponen alam menjadi aktif. Akan ada hujan mendadak dari terang menjadi mendung yang sangat pekat dan gelap. Petir dan halilintar bergemuruh dan bersahut-sahutan. Angin bertiup sangat kencang bagai badai yang sangat hebat. Pertanda alam ini adalah sangatlah khas dan tidak menjadikan bencana bagi umat manusia namun bagi manusia wikan akan sangat paham dan berkata: “Ada seseorang tengah mencapai kesempurnaan dalam hidupnya dan menyatu dengan Brahman. Ada seseorang yang mengalami Moksha”.

Pada kesempatan lainnya juga saya bertanya kepada Pinisepuh, bagaimana sebenarnya proses moksha utama tersebut. Diterangkan bahwa, proses moksha yang diketahui adalah seseorang dalam meditasinya akan mengalami tubuh yang mengecil dan terus mengecil sampai badan kasar dari manusia tersebut hilang dari pandangan mata biasa. Namun diceritakan pula bahwa, jaman dahulu ada banyak juga dari aliran kiri yang mencapai tingkatan tinggi dalam pengetahuannya melakukan meditasi dan mencapai moksha. Tetapi dari aliran kiri, pada proses pengecilan raga ada yang gagal menyatu dengan Brahman. Pada proses moksha tersebut berhenti pada ukuran tubuh tertentu, seperti yang pernah saya lihat di pameran yaitu sepanjang lebih kurang 10 centimeter. Badan kasar atau raga menjadi berwarna hitam. Jaman sekarang banyak terdengar istilah seperti ‘Jenglot’ atau sebagian dikenal juga dengan nama ‘Bhatara Karang’. Sebenarnya, Jenglot dan Bhatara Karang adalah manusia yang gagal dalam proses mencapai moksha. Dipercaya juga kalau benar cara memperlakukan Jenglot ini, maka akan bisa melindungi yang memilikinya.

Kembali kepada ajaran Tantra, bahwa dalam Tantra dinyatakan, menghadapi kemelutnya hidup di jaman kali yuga ini adalah dengan memprioritaskan pemujaan sakti sebagai manifestasi Tuhan. Sakti adalah Tuhan. Karena pada jaman kali ini semakin kuat sinergi antara guna rajas dan guna tamas. Hal ini menyebabkan manusia itu hidup dengan gaya ingin hidup enak dan bersenang-senang, tetapi dengan bermalas-malasan. Dalam Tantra mengajarkan hidup enak itu baik tapi jangan seenaknya. Capailah hidup enak dengan cara bekerja keras. Seseorang bisa bekerja keras apabila potensi yang ada dalam dirinya benar-benar bangkit. Dewi Durga adalah simbul semua kekuatan penciptaan. Kekuatan gabungan akan muncul jika kekuatan jahat mengancam keberadaan ciptaan-Nya. Jadi Dewi Durga akan menghancurkan ketidakharmonisan atau kejahatan serta akan menciptakan kembali keadaan yang harmoni karena keberadaan Dewi Durga adalah untuk menciptakan dharma.

Jadi petunjuk-petunjuk yang saya peroleh hanya sebatas menuntun dan memperingatkan umat manusia agar tetap ingat dan tetap melaksanakan ajaran dharma karena beliau Sang Hyang Sadashiva sudah menjelaskan kepada saya bahwasanya di jaman Kali Yuga ini, manusia sudah melupakan sifat dharma di dalam kehidupan kesehariannya. Sebagai contoh, di dalam dharma, dijelaskan ada tiga dasar dharma dalam kehidupan manusia yang harus dilaksanakan, yaitu : Filsafat, Etika dan Ritual. Jaman sekarang, manusia sudah banyak melupakan tiga dasar dharma itu.

Sumber: Pinisepuh Agung

Minggu, 15 November 2009

Durga Dewi 1 - Trisakti

Idha Bhatari Durga adalah perwujudan dewi kasih sayang yang melindungi alam semesta. Idha Bhatari Durga adalah perpaduan Siwa-Parwati, akan tetapi lebih condong menonjolkan sifat keibuannya atau kewanitaanya yang diperlihatkan, karena hanya ibu yang dapat memberikan kasih sayang kepada seluruh alam semesta ini.

Peran ibu di dalam kehidupan sehari-sehari sangatlah penting karena dalam tatanan kehidupan keluarga dan dalam kehidupan manusia, ibu adalah segala-galanya. Karena sosok wanita adalah sedemikian mulianya dalam tatanan manusia dan juga alam Dewa sehingga Shakti daripada para Dewa adalah istri dari para Dewa itu sendiri.

Sebagai contoh:
1. Sakti dari pada Dewa Brahma adalah Dewi Saraswati
2. Sakti dari pada Dewa Wisnu adalah Dewi Laksmi
3. Sakti dari pada Dewa Siwa adalah Dewi Parwati/Dewi Uma

Sakti-sakti para Dewa itu di atas disebut dengan Tri Sakti. Mengapa harus istri-istri para Dewa disebut sakti karena sakti yang paling tinggi atau yang paling mulia di alam semesta ini adalah kasih sayang. Karena kasih sayanglah alam semesta ini dapat terjaga dari kemurkaan dan ego dari energi-energi negatif alam semesta. Ketiga Dewi atau Sakti dari tiga Dewa atau Trimurti disebut Trisakti atau Gayatri Dewi, karena Sakti atau ketiga Dewi adalah yang memegang dan menguasai ketiga alam semesta, yaitu; Bhur, Bhuwah, Swah.

Penguasaan alam:

  • Bhur, dikuasai oleh Dewi Parwati yang disimbolkan sebagai Dewi yang menguasai budaya dan kesenian.
  • Bwah, dikuasai oleh Dewi Laksmi yang disimbolkan sebagai Dewi yang menguasai hal-hal yang berhubungan dengan kesuburan.
  • Swah, dikuasai oleh Dewi Saraswati yang disimbolkan sebagai Dewi yang menguasai hal-hal yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan.


Peran Gayatri Dewi dalam kehidupan manusia dan alam semesta ini sangatlah penting oleh karena itu para Dewi ini harus sangat dihormati dan disembah karena para Dewi inilah yang menyeimbangkan alam semesta.

Akan tetapi, khususnya di Bali kata ‘sakti’ diidentikan dengan yang berbau mistik atau mejik atau seseorang yang mempunyai kemampuan mistik disebut sebagai ‘sakti’. Padahal dalam sastra dan kitab sutra mengatakan, sakti adalah ilmu pengetahuan yang paling tinggi dan sakti yang paling tinggi dan yang paling mulia adalah kasih sayang. Maka pada hakikatnya, kita sebagai manusia agar bisa memberikan kasih sayang kepada umat manusia lainnya dan juga alam semesta ini agar mendapat kedamaian dan ketentraman di bumi. Kita sebagai umat manusia hendaklah bisa berpikir positip selalu karena dari berpikir positip, kita, manusia, bisa memberikan kasih sayang kepada seluruh alam semesta ini. Pencerahan ini adalah sangatlah penting untuk umat, karena sesungguhnya Idha Bhatari Durga Dewi adalah yangg melindungi kita dari kematian dan kehancuran.

Perwujudan Idha Bhatari Durga adalah kesempurnaan perwujudan kasih sayang karena dari perwujudan Gayatri Dewi atau perpaduan ketiga Dewi (Sakti). Perwujudan Idha Bhatari Durga adalah yang paling sempurna, karena mempunyai kewenangan melindungi marcapada dari segala marabahaya dan kematian. Idha Bhatari Durga salahsatunya diwujudkan sebagai Dewi yang sangat cantik bernama Dewi Bertangan Seribu serta duduk di atas Singa. Di Bali, perwujudan tersebut dikenal dengan sebutan Dewi Durga Nawa Ratri, yaitu kemenangan dharma melawan adharma, yang dalam tatanan hari suci sering disebut dengan Hari Raya Galungan dan Kuningan. Pada hari raya tersebut Dewi Durga Nawa Ratri sedang memenangkan dharma atau kebaikan dari sifat adharma atau kejahatan yang terjadi di alam semesta ini. Dan tepat di Hari Raya Kuningan adalah hari kebahagian untuk alam semesta karena Idha Bhatari Durga Dewi sedang turun ke bumi untuk melindungi para umatnya yang berbakti kepada Beliau serta menganugrahkan kasih sayang kepada seluruh alam mercapada dan isinya.

Idha Bhatari Durga disebut juga sebagai Candi, dari sinilah pada mulanya timbul istilah Candi (Candikagrha) untuk menamai bangunan suci sebagai tempat memuja para Dewa dan roh yang dianggap suci. Serta, peran Idha Bhatari Durga dalam menyelamatkan dunia dari ambang kehancuran baik moral dan perilaku disebut dengan KALIMOSADA (kali-Maha-Husada) yang artinya Dewi Durga adalah obat yang paling mujarab dalam Zaman kekacuan moral, pikiran dan perilaku. Misi Beliau turun ke bumi disebut KALIKA DHARMA.

Dewi Durga dalam ajaran Tantra adalah Ibu kebajikan, dipuja tidak saja oleh para Dewa tetapi juga Iblis dan Setan. Sedangkan pada kisah Ramayana, juga diceritakan bahwa Rama memuja Dewi Durga untuk dapat membunuh Rahwana. Kemudian dalam kisah besar Mahabrata, Kresna memuja Dewi Durga untuk dapat mengalahkan Kurawa. Sedangkan Dewa Wisnu sendiri memuja Dewi Durga sebagai Yoga Maya-nya Wisnu. Dewi Durga juga dipercaya sebagai Mahamaya, akar sebab dan bentuk dunia, serta dalam Durga Saptathi, Durga memiliki 108 nama yang diyakini sebagai Ibu Pencipta.

bersambung... Durga Dewi 2 - Moksha

Sabtu, 07 November 2009

Ida Bhatara Jogor Manik

Di Nusa Penida ada sebuah pura dengan nama pura Puncak Mundhi dan yang berstana adalah Ratu Ayu sebutan dari Ibu Durga Dewi yang menguasai kematian. Di sebelah pura Puncak Mundhi adalah pura Dalem yang bernama Pura Dalen Kerangkeng. Menurut Pinisepuh, Pura Dalem Kerangkeng adalah semacam penjara atau kerangkeng yang diperuntukkan bagi roh-roh manusia yang semasa hidupnya melakukan kejahatan atau untuk manusia yang berbuat jahat melebihi dari jahatnya para bebutan-bebutan atau buta kala.

Yang melinggih di pura Dalem Kerangkeng adalah Ida Bhatara Jogor Manik. Ida mempunyai alat yang super canggih yang tidak dimiliki oleh manusia. Ida bisa melihat siapa dan dimana manusia itu berada serta apa yang dilakukannya. Ida Bhatara Jogor Manik juga adalah yang bertugas mencatat kapan waktu kematian seseorang di muka bumi ini. Dalam melaksanakan tatanan kewenangannya, Ida mempunyai empat pengawal yang akan bertugas menjemput dan mengantar roh-roh manusia.

Ida Bhatara jogor manik juga berstana di pura Dalem Puri, Besakih. Karena Ida mengetahui perbuatan-perbuatan manusia semasa hidup di bumi dan apabila waktu hidup dulu pernah membuat kejahatan melibihi kejamnya para bebutan-bebutan yang dikuasai oleh Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling maka roh manusia tersebut dari pura Dalem Puri langsung di antar ke pura Dalem Kerangkeng untuk menjalani sebuah hukuman tergantung dari berapa besar karma buruk yang diperbuat semasa hidupnya. Kalau roh manusia sudah sampai masuk ke dalam pura Dalem Kerangkeng maka manusia tersebut akan sulit untuk bereinkarnasi atau lahir kembali ke dunia.

Semoga pengetahuan ini tidak menjadi polemik, karena Sang Hyang Widhi Wasa dalam agama Hindu menurunkan berbagai macam manifestasi dan bermacam tugas jadi hormati dan hargailah Beliau sebagai penguasa kematian di jagat raya ini.

Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling

Dari perkawinan I Renggan dengan Ni Merahim, lahirlah dua orang anak, satu laki-laki, yang satunya adalah perempuan. Yang laki-laki bernama I Gede Mecaling dan yang perempuan di beri nama Ni Tole, dan Ni Tole kemudian menjadi permaisuri Dalem Sawang yang menjadi raja di Nusa Penida. Sedang I Gede Mecaling mempunyai seorang istri yang bernama Sang Ayu Mas Rajeg Bumi.

I Gede Mecaling sangat senang melakukan tapa brata yoga semadhi di Ped, pengastawaanya ditujukan kepada Ida Bhatara Ciwa dan karena ketekunannya Ida Bhatara Ciwa berkenan turun ke bumi untuk memberikan panugrahan berupa Kanda Sanga. Kemudian, setelah mendapat panugrahan kanda sanga phisik I Gede Mecaling menjadi berubah. Badannya menjadi besar, mukanya menjadi menyeramkan, taringnya menjadi panjang, suaranya menggetarkan seisi jagat raya. Sedemikian hebat dan sangat menyeramkan, maka seketika itu juga jagat raya menjadi guncang. Kegaduhan, ketakutan, kengerian yang disebabkan oleh rupa, bentuk dan suara yang meraung-raung siang dan malam dari I Gede Mecaling membuat gempar di mercapada.

Melihat dan mendengar yang demikian, para dewa pun ikut menjadi bingung karena tidak ada satu orang pun yang bisa menandingi kesaktian I Gede Mecaling. Bahkan sesungguhnya para dewa tidak ada yang bisa menandingi, tidak ada yang bisa mengalahkan kesaktian I Gede Mecaling yang bersumber pada kedua taringnya yang telah dianugrahkan oleh Ida Bhatara Ciwa. Akhirnya turunlah Ida Bhatara Indra untuk berusaha memotong taring I Gede Mecaling. Setelah taring I Gede Mecaling berhasil dipotong barulah I Gede Mecaling berhenti menggemparkan jagat raya. Setelah itu I Gede Mecaling kembali melakukan tapa brata yoga semadhi, pengastawanya di tujukan kepada Ida Bhatara Rudra dan Ida Bhatara Rudra pun berkenan turun ke bumi untuk memberikan panugrahan kepada I Gede Mecaling berupa panca taksu, yaitu:

1. Taksu balian,
2. Taksu penolak grubug,
3. Taksu kemeranan,
4. Taksu kesaktian,
5. Taksu penggeger.

I Gede Mecaling menjadi raja setelah Dalem Sawang wafat karena berperang dengan Dalem Dukut. Dengan demikian I Gede Mecaling memimpin semua wong samar dan bebutan-bebutan yang ada di bumi. Juga pada akhirnya I Gede Mecaling diberi wewenang oleh Ida Bhatari Durga Dewi untuk mencabut nyawa manusia yang ada di bumi.

I Gede Mecaling juga diberikan wewenang sebagai penguasa samudra. Karena menguasai samudra sering juga disebut Ratu Gede Samudra. Gelar I Gede Mecaling yang diberikan oleh Ibu Durga Dewi yaitu Papak Poleng dan permaisurinya Sang Ayu Mas Rajeg Bumi diberi gelar Papak Selem. I Gede Mecaling moksha di Ped dan istrinya moksha di Bias Muntig. Keduanya sekarang sebagai penguasa di bumi Nusa Penida dan mendapat wewenang sebagai penguasa kematian. Maka bagi umat yang ingin umurnya panjang, sehat, selamat dan lain-lain memohonlah kepada Beliau I Gede Mecaling yang akhirnya bergelar Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling.

Akan tetapi karena sering ke Bali dan bertemu dengan Ida Bhatari Ratu Niang Sakti, akhirnya Ida Bhatara Ratu Gede Dalem Ped juga menjadi Pengabih Ida Bhatari Ratu Niang Sakti. Tidak dapat dijelaskan pada tulisan ini alasan-alasan yang lebih khusus karena etika suci.

Silsilah Nusa Penida



  • Ki Dukuh Jumpungan >Melinggih: Pura Pucak Mundi >Gelar: Bhatara Siwa
  • Ni Luh Puri >Melinggih: Goa giri putri, Pura Batu Melawang dan Pura Pucak Mundi >Gelar: Durga Dewi, Dewi Parwati, dll.
  • Dewi Rohini >Melinggih: Pura Goa Lawah
  • I Merja >Melinggih: Batu Bueya
  • Ni Luna >Melinggih: Pura Batu Banglas
  • I Renggan >Pura Bakung >Gelar: Ratu Gede Pengrurah
  • Ni Merahim >Melinggih: Pura Dalem Bungkut
  • I Mecaling >Melinggih: Pura Dalem Ped >Gelar: Papak Poleng, Ratu Gede Samudra, Ratu Gede Mas Mecaling
  • Sang Ayu Mas Rajeg Bumi >Melinggih: Pura Dalem Bias Muntig >Gelar: Papak Selem
  • Ni Tole >Melinggih: Pura Penataran Agung, Padang bai >Gelar: Ratu Ayu Mas Maketel
  • Dalem Sawang >Melinggih: Pura Penataran Agung Padang Soma
  • I Gotra >Melinggih: Pura Manik Mas
  • Ni Lumi >Melinggih: Pura Manik Mas
  • I Undur >Melinggih: Pura Buhu
  • I Darmain >Melinggih: Pura Sakenan >Gelar: Papak Selem
  • Ni Diah Ranggaeni >Melinggih: Pura Sakenan >Gelar: Papak Selem
  • Ni Luh Nanda >Melinggih: Pura Penida >Gelar: Mas Manik Maketel
  • I Bangsul >Melinggih: Perempatan bingin Lembongan
  • Ni Ratmaya >Melinggih: Pura Ancak Sari
  • Dewi Rohini >Melinggih: Pura Goa Lawah

Di Nusa Penida, masih banyak yang melinggih, diantaranya adalah:
  • Ida Bhatara Jogor Manik
  • Ida Bhatari Ratu Niang Sakti
  • Ida Bhatara Ratu Bagus Ketut
  • Ratu Gede Dalem Bungkut

Selasa, 27 Oktober 2009

Kisah Dalem

Kisah ini menceritakan konsep kehidupan manusia dan prilaku persembahyangan sehari-hari serta adanya konsep Dalem dalam tatanan kehidupan manusia. Perenungan dan komunikasi yang diterima oleh Pinisepuh adalah sangat rumit untuk dijelaskan dan penyajian ini disederhanakan untuk memudahkan pemahaman.

Kisah Dewata Nawasanga
Ida Bhatara Lingsir Hyang Pasupati atau Acintya atau Hyang Tunggal serta sebutan Hyang Widhi yang lain --> dikenal juga dengan Ardhanareswari atau Ciwa Budha atau dwi tunggal.

Dari dwi tunggal kemudian tercipta Trimurti yaitu: Hyang Gnijaya (Brahma), Dewi Dhanu (Wisnu) dan Ida Putranjaya (Ciwa). Trimurti ini adalah Leluhur manusia Bali (mengingat Trimurti ini berstana di Bali).

Dari Trimurti kemudian berkembang kehidupan manusia di Bali oleh karena Hyang Gnijaya yang berstana di Lempuynag Luhur menurunkan Panca Tirtha atau Panca Dewata yaitu: Mpu Gnijaya, Mpu Semeru, Mpu Ghana, Mpu Kuturan dan Mpu Bradah.

Salah satu dari keturunan Mpu Bradah yang melanjutkan konsep Ciwa Budha yang telah digubah dan diciptakan oleh Mpu Kuturan adalah Ida Pedanda Sakti Wau Rauh atau Dhang Hyang Niratha yang kemudian menyusun konsep Dewata Nawasanga yaitu:

Wisnu – penguasa arah utara – Pura Batur
Sambhu – penguasa arah timur laut – Pura Besakih
Iswara – penguasa arah timur – Pura Lempuyang.
Maheswara – penguasa arah tenggara – Pura Goa Lawah.
Brahma – penguasa arah selatan – Pura Andakasa.
Rudra – penguasa arah barat daya – Pura Uluwatu.
Mahadewa – penguasa arah barat – Pura Batukaru.
Sangkara – penguasa arah barat laut – Pura Puncak Mangu.
Siwa – penguasa arah tengah – Pura Besakih.

Konsep Dewata Nawasanga ini adalah merupakan konsep pemujaan yang tertinggi dalam tatanan atau prilaku persembahyangan pada kehidupan sehari-hari. Tetapi konsep ini lebih diarahkan secara umum hanya dalam hal bagaimana manusia menjalani kehidupannya agar mendapat restu pada semua bidang seperti hubungan kemasyarakatan atau pergaulan sosial, pencapaian-pencapaian kekayaan, kebendaan, hal-hal yang berbau materi dan kemakmuran, serta semua yang berhubungan dengan keduniawian, keselamatan manusia secara umum atau yang bersifat alam skala atau nyata pada kehidupan manusia.

Kisah Dalem
Di sisi lain yaitu di Nusa Penida, Hyang Pasupati kemudian menciptakan konsep pengaturan alam niskala manusia yang berhubungan dengan nyawa, kematian, kesehatan, sakit, obat, hidup setelah mati, penguasaan buta kala, wong gamang, wong samar dan lain-lain. Konsep inilah yang kita kenal sebagai Dalem. Atau sederhananya keseharian manusia dinamakan sebagai di luar diri manusia atau bisa dikatakan sebagai skala, sedang niskala dari manusia itu adanya di dalam atau Dalem.

Untuk menegaskan konsep skala dan niskala, Ida Mpu Kuturan telah membuat satu karya yang disebut Triloka yaitu Pura Dalem, Pura Desa dan Pura Puseh.

Pura Dalem adalah konsep pemujaan yang berhubungan dengan niskala manusia atau yang berada di dalam, sedang Pura Desa dan Puseh adalah konsep yang disebut sebagai di luar atau yang berhubungan dengan keseharian.

Proses penciptaan konsep Dalem ini dimulai dengan turunnya Ida Bhatara Hyang Pasupati dengan wujud Siwa dan menitis kepada manusia yang bernama Ki Dukuh Jumpungan serta turunnya Dewi Parwati dengan menitis kepada Ni Luh Puri yang merupakan istri dari Ki Dukuh Jumpungan. Keturunan dari Siwa-Parwati ini disebut dengan Dalem serta pada saat yang sama diakui pula bahwa siapapun yang mempunyai garis keturunan dari Ida Bhatara Siwa adalah dikatakan sebagai keturunan Dalem.

Singkat cerita, salah satu dari keturunan Dalem yang sangat berjasa dalam mengembangkan konsep Dewata Nawasanga adalah Ratu Gede Dalem Ped yang menjadi raja pada masanya setelah Dalem Sawang wafat. Dewata Nawasanga ini dikembangkan lagi menjadi yang disebut dengan Dasa Mantra yang sangat terkenal, yaitu:

Sang, Bang, Tang, Ang, Ing, Nang, Mang, Sing, Wang, Yang atau sering juga disingkat menjadi Sa Ba Ta A I Na Ma Si Wa Ya. Dasa Mantra ini adalah pengayatan atau pengastawaan kepada Ida Bhatara Siwa atau Dalem.

Kemudian keturunan dari Mpu Soma Kepakisan yaitu Sri Aji Dalem Kresnha Kepakisan yang disebut-sebut sebagai yang mempunyai darah Satria dan darah Dalem atau sering dikenal sebagai keturunan Satria Dalem pada saat sebagai Raja Klungkung mengembangkan lagi konsep yang mencirikan keturunan Satria Dalem. Pengembangan tersebut datang dari konsep Dewata Nawasanga ditambahkan dengan konsep Trimurti. Ciri-ciri dapat ditemukan pada keberadaan meru tumpang sebelas di suatu pura atau Merajan Agung suatu puri.

Tetapi yang aneh dari konsep ini, sepanjang pengamatan seputar puri-puri, yang mempunyai meru tumpang sebelas di Merajan Agung ini hanya ditemukan di Jeroan Agung Pengastulan, Seririt, Buleleng yaitu asal dari Pinisepuh Agung Yudistira. Ada satu puri pada masa lalu mencoba membangun dan mendirikan meru tumpang sebelas tetapi setelah jadi disambar petir. Kemudian diketahui bahwa tidak boleh mendirikan meru tumpang sebelas kalau bukan dari keturunan Satria Dalem yang sesungguhnya.

Seperti yang diketahui oleh umum bahwa yang berstana dan yang paling berwenang dalam konsep Dalem adalah Dewi Durga atau Ida Bhatari Durga. Penyatuan dari Siwa-Parwati adalah Dewi Durga. Konsep Dalem lebih mengedepankan sosok seorang wanita atau Ibu karena Ibu adalah sosok yang dianggap lebih penyayang, sangat adil sehingga setiap permintaan dari anak akan bisa dikabulkan serta mempunyai sifat welas asih dan sifat welas asih ini adalah sifat Budha.

Untuk menjalankan kewenangan dan tata laksana Dalem, Ida Bhatari Durga mempunyai pengabih utama adalah Ratu Gede Dalem Ped atau Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling, Ida Bhatari Ratu Mas Maketel (adik dari Ratu Gede Dalem Ped), Ida Bhatara Ratu Bagus Ketut dan Ida Bhatara Jogor Manik.

Wewenang Ida Bhatara Ratu Gede Mas Mecaling adalah diantaranya mencabut nyawa manusia. Wewenang dari Ida Bhatari Ratu Ayu Mas Maketel adalah memberi restu kepada yang mengejar ilmu hitam seperti ilmu leak/liak (linggih ulian aksara) dan ilmu pengiwa. Wewenang dari Ida Bhatara Ratu Bagus Ketut adalah sebagai Dewa Rare Angon dan juga mencabut nyawa anak-anak. Wewenang dari Ida Bhatara Jogor Manik adalah yang menentukan waktu kematian dan menempatkan roh di mana menetap nantinya.

Demikian pengetahuan ini saya ceritakan dengan sangat singkat dari penuturan Pinisepuh dengan harapan umat Ciwa Budha paham sejatinya tatanan dan konsep pemujaan di Dalem yang telah disusun oleh Beliau Ida Mpu Kuturan pada karya nyata yaitu konsep Triloka. Dengan pengetahuan ini kita menjadi tahu bahwa, misalnya kalau memohon keselamatan dan umur panjang untuk anak-anak mestilah ‘ngayat’ Ida Bhatara Ratu Bagus Ketut, dan lain lainnya.

Dalam artikel lain akan lebih dijelaskan lagi mengenai Beliau-Beliau Ida Bhatara yang berwenang dalam konsep Dalem ini.

Catatan:
Ida Bhatara Jogor Manik dan Ida Bhatara Ratu Bagus Ketut adalah Bhatara yang benar-benar hanya terwujud di Niskala dan tidak pernah menitis kepada manusia. Juga, pada kenyataan kehidupan manusia, semua Ida Bhatara memiliki kemampuan Trimurti dalam arti sempit yaitu kita boleh memohon apa saja kepada Ida yang mana saja. Dua konsep ini hanyalah memberi pengetahuan bagaimana sebenarnya kehidupan manusia ini diatur oleh alam niskala.

Kamis, 22 Oktober 2009

Bhisama Ida Bhatara Gunung Agung

Bhisama ini di tulis untuk mengingatkan kepada warih-warih dari Ida Bhatara Hyang Pasupati yang ada di Bali agar tetap menjaga banten sebagai upacara yadnya dan tetap menjaga upacara Panca Wali Krama di Besakih agar Bali tetap di jaga oleh para Dewata.
Isi daripada Bhisama tersebut:

Hana ling Bhatara Putranjaya ring Basukih, uduh sang Aji Bali, prayatna sira ngemit praja mandala. Bakti ring sang sarwa dewa ring negara krama. Yan hana wwang ring panegara krama kena cukilan daki, gring tan wenang sinambat reh jadma kena sapadrawaning Dewata. Aywa ring desa pakraman genahning. Yan sang ratu tan mituhu ring pawarahku, Aku mulih ring Mahameru ring Jawi, angadagakan sasab merana ring sarwa jagat. Mangkana ling bhatara mungguing Widhi Sastra.

Mwah yan sira punggawa ratu ring Bali Rajya yang sira nora ngawe pada tawur agung ring panguluning jagat ring Basukih. Ngalimang tahun panca wali krama, wastu gumi nira kali tan pegat idepku anaut uriping manusa angadakang gring tatumpur sasab merana tekaning dipania majengilan ring kadang tunggalannia masatru-satru lawan kadangnia yadian hana mangarcana aku, tan mantuk Aku maring basukih, Aku matilar maring giri Bali mantuk ring giri Mahameru. Tan kayun malih kasungsung dening manusa loka, apan manusa loka apa jadma sang kala katung.

Arti dari Bhisama:
Nira Bhatara Putranjaya di Besakih, yang menjaga bumi Bali, yang menjaga jagat Bali. Kalau berbakti masalah-masalah kenegaraan berbaktilah kepada-Ku. Kalau negara kena kekotoran seperti grubug, sakit, kena susah atau kena masalah-masalah seperti tersebut berarti manusia kurang bakti kepada Nira Bhatara Putranjaya. Nira, Bhatara Putranjaya juga ada di desa Pekraman. Siapapun pemimpin Bali yang tidak mendengarkan arah-arah, Nira, Bhatara Putranjaya akan kembali ke Mahameru di Jawa. Kemudian jagat Bali akan merana, baik manusia yang tidak salah apalagi yang salah semua akan kena akibatnya. Ini semua sudah ada di dalam Widhi Sastra.

Siapapun pemimpin atau wakil-wakil Bali yang mau membuat upakara Tawur Agung, bebantenan, mecaru di Besakih setiap lima tahun sekali atau Manca Wali Krama di bumi Bali, maka Nira Bhatara Putranjaya tidak akan pernah berhenti menjaga kehidupan manusia dari sakit, hidup merana dan bencana. Menjaga bumi Bali ini dari musuh-musuh manusia, segala bencana atau musibah. Nira Bhatara Putranjaya yang berwenang menjaga gumi Bali dan tidak akan pergi meninggalkan Bali. Tetapi manakala semua upakara, yadnya, Tawur Agung serta bebantenan tidak dilaksanakan lagi di Bali, Nira Bhatara Gunung Agung akan kembali ke Mahameru. Tidak akan mau lagi disungsung oleh manusia. Maka semua manusia di Bali akan dimakan sang kala Katung.

Sumber Dharma tanpa sastra: dari perenungan dan komunikasi Pinisepuh dengan Ida Bhatara Gunung Agung.

Pinisepuh mengatakan, kita di Bali kepercayaan atau ajaran adalah berasaskan sastra yang digubah atau disempurnakan dari kitab Weda (Hindu) dan kitab Sutra (Budha). Ajaran-ajaran ini digubah oleh para Mpu-mpu kita yang sangat sakti menjadi Ciwa Budha serta sudah terbukti di Bali, Beliau-beliau banyak yang menjadi moksha. Bukankah moksha ini yang dikejar dalam melakukan olah spiritual dan merupakan bagian paling tinggi dari mempercayai Panca Sradha.

Panca Sradha:
1. Brahman: Keyakinan terhadap adanya buana agung
2. Atman: Keyakinan terhadap buana alit
3. Karmaphala: Keyakinan pada hukum sebab akibat
4. Samsara: Keyakinan pada kelahiran kembali atau reinkarnasi
5. Moksha: Keyakinan akan bersatunya Atman dengan Brahman

Tetapi dalam proses pencapaian itu, khususnya di alam Bali sudah ada Widhi Sastra yang harus dipenuhi salah satunya yaitu adanya persembahan-persembahan yadnya dengan banten, tujuannya tak lain adalah untuk menjaga keseimbangan alam Niskala itu sendiri. Kalau alam Niskala sudah seimbang maka pencapaian spiritual yang tertinggi pun mendapat restu. Maka dari itu, salah satu kesadaran yang harus dipupuk oleh setiap individu terutama umat Hindu Dharma di Bali adalah menjaga dan melaksanakan Bhisama Ida Bhatara Gunung Agung. Dunia boleh modern tetapi prilaku spiritual di Bali tetap diatur oleh Bhisama Ida Bhatara. Kalau ditinggalkan hancurlah bumi Bali ini.

Seruan bagi pelaku spiritual
Selain adanya Bhisama Ida Bhatara Gunung Agung untuk umat Bali pada umumnya, masih ada Bhisama Ida Bhatara yang melinggih di Pura Lempuyang Luhur bagi umat secara khusus, yang mengejar pencerahan dalam spiritual. Silahkan dibaca Bhisama Ida Bhatara Lempuyang Luhur agar usaha Anda tidak sia-sia melakoni spiritual atau menjadi penekun spiritual dengan tujuan untuk mencapai pencerahan.