Minggu, 24 Januari 2010

Cerita Singkat Semar

Semar adalah punakawan dari Ida Bhatara Hyang Siwa Pasupati, yang diciptakan pada jaman Pandawa. Hyang Siwa Pasupati mempunyai 4 punakawan yaitu Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. Semar di Bali dikenal bernama Tualen, Petruk adalah merdah, Gareng adalah Sangut dan Bagong adalah Delem.

Pada saat Panca Pandawa mengasingkan diri ke alas, alas yang dicapai adalah alas Jawa, karena diceritakan pada saat itu semua pulau masih bersatu. Bukti dari Panca Pandawa datang ke alas Jawa yaitu Bima kawin dengan seorang raksasa bernama Diyah Dimbi dan lahirlah Gatot Kaca. Juga Arjuna bertapa di gunung yang sekarang dikenal dengan gunung Arjuna di Jawa, serta karena pada saat itu banyak sekali raksasa-raksasa yang mengganggu Arjuna dalam tapanya, maka diturunkanlah 4 punakawan oleh Ida Bhatara Hyang Siwa Pasupati untuk menjaga Arjuna. Dalam pertapaannya Arjuna diberi sebuah panah sakti oleh Hyang Siwa Pasupati.

Tak dapat dipungkiri bahwa dari kisah Arjuna bersemedi di tanah Jawa kemudian muncul Semar di dunia ini sebagai pamong para raja-raja atau pemimpin seluruh dunia. Semar kemudian diberi gelar Sada Siwa oleh Hyang Siwa Pasupati, atau dalam Hindu Dharma dikenal juga sebagai Sang Hyang Ismaya dan Manik Maya. Sebutan Beliau yang lain adalah Sabda Palon.

Semar adalah juga merupakan Dewa yang mengatasi semua Dewa dan Dewa yang menjelma menjadi manusia. Semar juga kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatrya utama lainnya yang tidak terkalahkan.

Semar merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe. Sepi akan maksud, rajin dalam bekerja. Semar mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Hyang Widi demi kesejahteraan umat manusia di jagat raya ini. Beliau seorang punakawan yang disegani dan disenangi oleh banyak raja dan para Dewata. Beliau berpenampilan sederhana sebagaimana rakyat biasa, walau sebagai abdi raja karena Beliau adalah pelayan umat manusia untuk mencapai keadilan dan kebenaran di muka bumi.

Beliau di Nusantara adalah sebagai Dang Hyang-nya Nusantara (nenek moyang Nusantara). Beliau berumur jutaan tahun dan hidup abadi atau moksa. Sekali beliau tidur adalah 500 tahun lamanya dan setiap Beliau terbangun pasti ada suatu kerajaan atau keyakinan yang sedang berselisih.

Beliau juga sebagai lurah karang dempel. Karang artinya gersang, dempel artinya keteguhan jiwa. Rambut beliau menguncung, rambutnya memberi tahukan kepada umat manusia; akuning sang kuncung artinya adalah, akulah sebagai kepribadian pelayan umat manusia. Kain beliau bernama parangkusumorojo yang artinya perwujudan dewonggowantah. Dewonggowantah artinya, menuntun umat manusia agar mencapai memayuhayuning bawono yang artinya, terjadinya keadilan dan kebenaran di muka bumi.

Jadi sesunguhnya Semar itu hampir sama tugasnya dengan Ibu Dewi Kwan Im, yaitu bilamana umat manusia belum mencapai kebahagaian maka Beliau tidak akan pergi ke alam nirwana atau alam Siwa Budha.

Semar mengatakan kepada saya bahwa Beliau-lah yang bertugas memberikan ilmu pengetahuan kepada umat manusia agar umat manusia terlepas dari segala penderitaan dan mencapai moksa.

Semar berkata; bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur kamurkan mardik, yang artinya, merdekanya jiwa dan sukma. Jadi umat manusia dituntun oleh Beliau agar terlepas dari segala penderitaan dan mencapai moksa. Semar sebagai pralambang ngelmu gaib atau simbulnya alam gaib. Kasampurnaning pati. Beliau tidak akan pernah mati karena Beliau sudah mencapai kesempurnaan.

Jadi singkat cerita Hyang Semar atau nenek moyang Nusantara atau Dhang Hyang-nya Nusantara adalah yang mengemban tugas untuk mempersatukan umat dari masalah-masalah kerohanian.

Om wilaheng astu namo sidyam, luputo salah lan sandi luputo denane tawang towang jagat dewa bhotoro jagat hyang pramuditya bhuwana langgeng rahayu rahayu rahayu sagung dumadi.

Rabu, 20 Januari 2010

Bhisama Leluhur Majapahit - Yadnya di Besakih

Gaweakna yajna aneng bhasakih, ersyaning tapakan bhatara wawu dateng saking wilwatikta majapahit. yan sira lupa bhakti ring manira kadi kocaping prakempa ametu satengahing mulih warsaning bhuwana rwa. yan sire neher bhakti, wetu 150 warna, warsa ning yusaning bhuwana rwa, mwa akadi nguni, tan hana alanya. yan teher tan tihana mwah segara mabuat, kumedeng tangbhwana rwa.

Artinya :
Laksanakanlah yadnya di Besakih, di bagian timur laut di tempat pertama kali Bhatara dari Wilwatikta Majapahit menginjakkan kaki. Jika kalian melupakan yadnya sebagaimana terdapat dalam lontar prekempa ini, umur manusia tidak akan panjang, jika kalian selalu beryadnya umur manusia bisa mencapai 150 tahun, sesuai dengan usia biasanya, bahkan tetap seperti sedia kala tidak akan terjadi bencana. Jika selamanya tidak melaksanakan yadnya, orang tidak akan mengenal tata krama, akan terjadilah badai laut yang akan menghancurkan gunung Agung.

Saya bertanya kepada Ida Mpu Kuturan, kenapa kita harus beryadnya dan kenapa bumi ini harus marah kepada umat manusia. Terus terang saya sangatlah sedih sebagai pelindung umat manusia karena sedemikian besar pengetahuan saya di dunia ini tapi tetaplah tiada artinya. Karena begitu banyaknya para Dewata yang saya kenal, tapi tidak ada satu pun para Dewata yang mau menyadarkan umat manusia untuk beryadnya dan menghentikan bumi ini untuk marah kepada umat manusia. Sungguh saya teramat sedih hati mendengar kehendak langit yang begitu sangat marah kepada umat manusia.

Ida Mpu Kuturan berbicara; Ada yang saling melengkapi dan ada yang saling menghancurkan. Ida Mpu Kuturan juga mengatakan kepada saya tujuan orang melaksanakan yadnya adalah mengangkat derajat makhluk alam semesta agar menghasilkan manusia-manusia sejati melalui jnana yadnya, bukan untuk memenuhi keinginan pribadi yang terbatas. Tujuan yadnya untuk kepentingan seluruh makhluk, bukan untuk kepentingan individu manusianya. Yadnya adalah akar paling mendasar bagi makhluk alam semesta. Yadnya adalah berarti pengorbanan. Prinsip mulia dari pelaksanaan yadnya adalah tidak mementingkan diri sendiri dan melayaninya dengan kasih sayang. Hal terpenting dari kata kunci sebuah yadnya yang terlupakan saat ini adalah pelayanan dan kasih sayang. Lewat pengorbanan yang timbul dari tali kasih, dasarnya adalah pelayanan. Semua bentuk yadnya pada intinya adalah pengorbanan secara fisik dan mental. Dengan kata lain yadnya itu adalah bentuk kebahagian spiritual yang membuang semua buah karma masa lalu. Sekian yang saya beritahukan kepada umat manusia agar ingat selalu pesan-pesan beliau. Rahayu rahayu rahayu, sagung dumadi.

Sumber: Pinisepuh Agung Yudistira

Sejarah Ciwa Budha di Bali

Di Bali Siwa, Budha dan Waisnawa dilebur menjadi agama Hindu Dharma yang ada sekarang di Bali oleh Mpu Kuturan.

Sementara sejarah keagamaan orang Bali sama dengan orang Tibet. Sebelum masuk agama Budha orang Tibet memiliki agama Bon. Agama Budha dan Bon, akhirnya menyatu seperti Siwa Budha di Bali.

Penyatuan itu terjadi pada masa pemerintahan raja suami istri Gunaprya Dharmapatni/ Udayana Warmadewa yang bertahta di Bali. Pada masa itu penduduk pulau Bali adalah mayoritas orang Bali Aga/ orang Bali asli, selanjutnya pendatang dari Jawa disebut orang Bali. Jadi ada orang Bali Aga dan orang Bali. Banyak sekali sekte-sekte yang ada pada saat itu yang dalam pelaksanaan pemujaan terdapat perbedaan-perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan itu akhirnya menimbulkan pertentangan antara satu sekte dengan sekte yang lainnya sehingga menyebabkan timbulnya ketegangan dan sengketa di dalam tubuh masyarakat Bali aga.

Inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat yang membawa dampak negatif pada hampir seluruh aspek kehidupan bermasyarakat. akibat yang bersifat negatif ini bukan saja menimpa desa bersangkutan, tetapi meluas sampai pada pemerintahan kerajaan sehingga roda pemerintahan menjadi kurang lancar dan terganggu. Dalam kondisi seperti itu, Raja Gunaprya Dharmapatni/ Udayana Warmadewa perlu mendatangkan rohaniawan dari Jawa Timur. Kemudian sepakat untuk mendatangkan Panca Dewata ini atau lima orang Brahmana suci keturunan Hyang Bhatara Guru Geni Jaya Sakti atau Hyang Geni Jaya, yaitu: Mpu Semeru, Mpu Gni Jaya, Mpu Ghana, Mpu Kuturan dan Mpu Bradah.

Kelima Brahmana ini lazim disebut Panca Dewata, Panca Tirta, Panca Pandita karena Beliau telah melaksanakan upacara wijati yaitu menjalankan dharma kebrahmanan. Dari kelima Mpu di atas Mpu kuturan adalah yang paling berjasa dalam menata pemerintahan pulau Bali pada khususnya dan Nusantara pada umumnya.

Tentang adanya Mpu Kuturan di Bali dapat di ketahui dari 7 prasasti peninggalan purbakala, dimana disebutkan bahwa Mpu kuturan di Bali berpangkat Senopati dan prasasti itu kini berada di:
  1. Di desa Srai, kecamatan Kintamani.
  2. Di desa Batur, kecamatan Kintamani
  3. Di desa Sambiran, kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng
  4. Di desa Bbatuan, kecamatan Sukawati
  5. Di desa Ujung, Kabupaten Karangasem
  6. Di desa Kehen Bangli, Kabupaten Bangli
  7. Di desa Buahan, Kecamatan Kintamani.

Sekian banyaknya prasasti sebagai fakta sejarah yang mencantumkan nama Mpu Kuturan sebagai senopati di Bali. Dalam isi prasasti-prasasti tersebut adalah sabda raja-raja yang berkuasa pada saat itu dan memberi tahukan kepada masyarakat luas bahwa Ida Mpu Kuturan adalah yang berjasa di bumi Bali ini dalam mempersatukan sekte-sekte yang ada di Bali. Raja-raja yangg bertahta di Bali pada saat itu:

  • Raja Gunaprya Dharmapatni/ Udayana Warmadewa yang menerbitkan prasasti pertama dan kedua.
  • Sri Adnyadani yang menerbitkan prasasti ketiga
  • - Sri Dharmawangsa Wardhana Marakatopangkaja Stano Tunggadewa, yang menerbitkan prasasti keempat sampai ketujuh.
Ida Mpu Kuturan mengatakan kepada saya ada 3 sebab Beliau menetap di Bali.
  • Memenuhi permintaan raja suami istri yang disebut di atas, yang memerlukan keahlian Beliau dalam bidang adat dan agama, untuk merehabilitasi dan mestabilisasi timbulnya ketegangan-ketegangan dalam tubuh masyarakat Bali Aga.
  • Karena bertentangan dengan istri Beliau yang menguasai black magic dan oleh sebab itu istri Beliau ditinggalkan di Jawa yang kemudian dijuluki Walu Nateng Girah atau Rangda Nateng Girah (jandanya raja girah)
  • Sebagai bhiksuka atau sanyasa, Beliau lebih mengutamakan ajaran dharma dari pada kepentingan pribadi.
Kesempatan yang baik itu Beliau pergunakan untuk datang ke Bali, juga karena dorongan kewajiban menyebarkan dharma. Selain menjadi senopati, Beliau juga diangkat sebagai Ketua Majelis dan diberi gelar; Pakira kiran i jero makabehan. Dalam suatu rapat majelis yang diadakan di bataanyar yang dihadiri oleh unsur tiga kekuatan pada saat itu yaitu:
  • Dari pihak Budha diwakili oleh Mpu Kuturan yang juga sebagai ketua sidang
  • Dari pihak Siwa diwakili oleh pemuka Siwa dari Jawa
  • Dari pihak 6 sekte yang pemukanya adalah orang Bali Aga.
Dalam rapat majelis tersebut Mpu Kuturan membahas bagaimana menyederhanakan keagamaan di Bali yang terdiri dari berbagai aliran. Tatkala itu, semua hadirin setuju untuk menegakkan paham Tri Murti untuk menjadi inti keagamaan di Bali dan layak dianggap sebagai perwujudan atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Kesepakatan yang tercapai pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah kerajaan, di mana ditetapkan bahwa semua aliran di Bali ditampung dalam satu wadah yang disebut Siwa Budha sebagai persenyawaan Siwa dan Budha. Semenjak itu penganut Siwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya masing-masing yang bernama:

- Pura Desa Bale Agung untuk memuja kemuliaan Bhatara Brahma.
- Pura Puseh untuk memuja kemuliaan Bhatara Wisnu.
- Pura Dalem untuk memuja kemuliaan Bhatari Siwa.

Ketiga pura tersebut disebut pura Khayangan Tiga yang menjadi lambang persatuan umat Siwa Budha di Bali. Dalam samuan tiga juga dilahirkan suatu organisasi desa pakraman yang lebih dikenal sebagai desa adat dan sejak saat itu berbagai perubahan diciptakan oleh Mpu Kuturan, baik dalam bidang politik, sosial dan spiritual.

Mpu kuturan berkata kepada saya di Bali, salah satu nama Tuhan adalah Sang Hyang Mbang atau Mahasunyi yang dalam agama Budha ada istilah Sunyata. Tahun baru di Bali (hari raya nyepi) dirayakan dengan sunyi (sunyata). Di Bali selatan, ada pura Sakenan, sementara Sakenan berasal dari kata Sakyamuni/ Buddha. Sakyamuni nama asli Sidartha Gautama. Jadi kebanyakan konsep-konsep pemujaan di Bali diambil dari Budha. Suatu contoh, bentuk meru, Mpu Kuturan mengambilnya dari bentuk pagoda Cina yang umum sebagai bentuk bangunan pemujaan agama Budha.

Dan Ida Mpu Kuturan sendiri menjelaskan bahwa konsep padmasana diambil dari Buddha Mahayana, padmasana berarti padma: bunga padma, sana: sikap duduk. Jadi padmasana berarti duduk di atas bunga padma. Sang Budha-lah yang duduk di atas bunga padma karena sang Budha adalah Awatara Wisnu yang sempurna dan yang tidak membunuh. Yang hanya memberikan kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Kenapa harus Sang Budha ? Karena di Nusantara ini konteksnya adalah Siwa Budha, Jadi Budha bisa juga diartikan sebagai ibu/predhana.jadi pada hakekatnya Siwa Budha adalah: Sama satu manunggal.
Ida Mpu Kuturan memberikan sebuah bait suci dimana kegaiban dan keajaiban adalah sifat wujud Tuhan yang kasat mata.

Ya iku senguh tanakku sira ta nunggalaken bhuwana ngarania, nihan ta upamanta sira waneh, kalinganya kadyangganing manuk sang manon, mur tan pahelar, meleset tan pacikara, manon ndatanpamata, mangrengo tan patalingan, mangambu tan pagrana, magamelan tan patangan, lumaku tan pasuku, rumasa rasa tan paiden tan paparus ya jana prawriti, tatan panak yaya wrddhi, tan paweteng yaya membekan, tatan pecangkem yaya amangan, tatan pailat yaya mangrasani.

Artinya:
Tuhan bagaikan burung terbang dengan tiada bersayap, kian kemari dengan tiada berkepala, melihat tiada dengan bermata, mendengar dengan tiada bertelinga, membaui dengan tiada berhidung, memegang dengan tiada bertangan, bergerak dengan tiada berkaki, merasakan rasa dengan tiada berperasaan, melahirkan dengan tiada bertanda jantan atau betina, tiada bermulut namun ia dapat menikmati, tidak berlidah tetapi dapat merasakan.
Jadi semua sifat Tuhan tiada batasnya.
Om santi santi santi om.

Sumber: Pinisepuh Agung

Jumat, 18 Desember 2009

Kalki Awatara

Hikmah dari cerita Sang Budha Gautama agar manusia menyadari hakekat kehidupan

Budha adalah perwujudan Awatara Wisnu yang kesembilan dan di antara perwujudan awatara Wisnu awatara Budha adalah yang sempurna di mana umat manusia diajarkan tentang dharma dan kebahagiaan yang mutlak.

Di jaman kerajaan Kapilavastu dengan rajanya Suddhodana dan ratunya Mahamaya. Di mana sang ratu kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan yang mereka beri nama Siddhartha, akan tetapi sungguhlah sayang tujuh hari kemudian, sang ratu Mahamaya meninggal dunia.

Seorang Rsi bijaksana/penasehat raja pada saat itu yang bernama Kala Devala memberi tahu sang raja bahwa ketika pangeran Siddhartha beranjak dewasa ia akan melihat hal-hal yang akan membuatnya sedih dan pergi menuju hutan. Mendengar hal itu raja tidak memperbolehkan Siddhartha untuk pergi melewati gerbang istana.

Siddhartha merupakan anak pintar, berbahagia dan juga amat penyayang serta lembut. Pada suatu hari Siddhartha dan sepupunya Devadatta sedang berjalan-jalan. Devadatta tiba-tiba melihat seekor angsa dan memanahnya sehingga angsa tersebut terjatuh. Siddhartha amat terkejut melihat burung yang terluka tersebut, Devadatta bersikeras untuk memiliki burung angsa tersebut karena ia yang memanahnya. Akan tetapi Siddharta mengatakan itu adalah miliknya. Akhirnya mereka pergi ke Rsi Kala Devala sang penasehat raja di mana kemudian Rsi itu mengatakan angsa tersebut menjadi milik orang yang menyelamatkannya bukan orang yang berusaha membunuhnya.

Siddhartha tumbuh dewasa dan menjadi seorang pria muda. Raja Suddhodana menikahkannya dengan seorang putri cantik yang bernama Yashodhara. Raja berharap agar Siddhartha tidak akan pernah meninggalkan istana. Tapi Siddhartha tidak merasa bahagia di dalam istana. Ia memerintahkan pelayannya yang setia Channa untuk menemaninya berjalan-jalan keluar istana. Dalam perjalanannya Siddhartha melihat orang yang sudah tua yang bungkuk dimana Siddhartha tidak pernah melihatnya di dalam istana. Melihat orang yang sedang sakit keras dan melihat orang meninggal. Siddartha menyadari bahwa ayahnya mengungkungnya di dalam istana, untuk melindunginya agar ia tidak melihat hal-hal semacam itu.

Siddartha keluar lagi dan kali ini ia melihat seorang pria dengan kepala gundul. Ia bertanya pada pelayannya dan pelayannya berkata itu adalah seorang bijak yang meninggalkan segalanya serta pergi ke hutan untuk mencari kebahagiaan.

Pada suatu kesempatan Siddharta berpikir untuk meninggalkan Istana dan mencari kebahagiaan. Akhirnya pada suatu malam, ketika istri dan anaknya Rahula sedang tertidur, Siddartha bersama pelayannya yang setia Channa dengan diam-diam pergi meninggalkan istana. Mereka menyeberangi sungai Anoma, disana Siddartha melepaskan jubah kerajaanya dan memberikannya kepada Channa untuk mengembalikannya ke istana. Kemudian Siddartha menggunakan jubah oranye serta memotong rambut panjangnya. Siddartha pergi menemui satu guru ke guru yang lain menanyakan; Apakah Anda tahu jalan untuk mencapai kebahagian?

Tapi tidak ada seorang pun bisa memberitahunya. Akhirnya ia duduk di bawah pohon Bodhi dan berusaha menemukan jawabannya sendiri. Beberapa hari kemudian ia menjadi seorang yang bijak dan orang-orang menyebutnya Gautama Budha. Budha mencintai seluruh binatang dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang.

Pada suatu hari Dewa Siwa menguji Sang Budha karena Siwa tahu Awatara ini yang akan membawa umat dunia untuk mencari jalan kebahagian karena mempunyai jiwa kasih sayang terhadap semua makhluk.

Dewa Siwa mengirim binatang buas yaitu gajah liar dan harimau liar nan ganas. Tetapi yang terjadi pada binatang-binatang tersebut setelah melihat cahaya kasih sayang yang dipancarkan oleh Sang Budha binatang-binatang tersebut langsung tunduk hormat dan bersimpuh di bawah kaki Sang Budha. Akhirnya Sang Budha mempunyai pengikut yang sangat banyak dan pengikutnya tinggal di dalam sebuah grup yang di sebut Sangha.

Sang Budha mengajarkan bahwa seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan dengan merasa puas akan apa yang dimilikinya dan menunjukkan kasih sayang pada semua mahluk. Pada akhirnya di sebuah tempat yang bernama Kusinara, Sang Budha berbaring di bawah pohon Sala dan menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Maka sesuai petunjuk dari Sakyamuni yang diperoleh oleh Ida Mpu Kuturan, Sang Budha Gautama akan bereinkarnasi kembali karena di jaman Kali Sang Budha akan berkhotbah kembali sebagai Awatara yang terakhir agar dunia ini bisa tentram dan damai. Dengan alasan tersebut Sang Budha tidak moksha atau kembali ke Nirwana di jaman itu karena Sang Budha akan bereinkarnasi kembali dengan Awataranya yang terakhir yaitu Kalki Awatara.

Sumber: Komunikasi Pinisepuh dengan Ida Bhatara Mpu Kuturan

Rabu, 09 Desember 2009

Sejarah Ciwa Budha di Nusantara

Awal mula perpaduan agama Ciwa Budha tidak lepas dari sejarah kerajaan Mataram kuno yang terdiri dari dua dinasti, yakni kerajaan Sanjaya dan kerajaan Syailendara . Kerajaan Sanjaya yang bercorak Hindu didirikan oleh Raja Sanjaya. Beberapa saat kemudian, kerajaan Syailendra yang bercorak Budha Mahayana didirikan oleh Raja Bhanu. Kedua raja ini berkuasa berdampingan secara damai. Nama Mataram sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis di masa Raja Balitung.

Raja Syailendara

Raja Syailendra berasal dari daratan Indocina (sekarang Thailand dan Kamboja). Pada awal era Mataram kuno, raja Syailendra cukup dominan dibanding Raja Sanjaya. Pada masa pemerintahan Raja Indra, Syailendra mengadakan ekspedisi perdagangan ke Sriwijaya. Beliau juga melakukan perkawinan politik: Puteranya yang bernama Samaratungga, dinikahkan dengan putri raja Sriwijaya yaitu Dewi Tara. Kemudian Raja Syailendra menyerang dan mengalahkan Chenlan (Kamboja) dan sempat berkuasa disana selama beberapa tahun. Peninggalan terbesar Raja Syailendra adalah Candi Borobudur yang selesai dibangun pada pemerintahan Raja Samaratungga.

Raja Sanjaya
Kerajaan Sanjaya didirikan oleh Raja Sanjaya/Rakeyan Jamri/Prabu Harisdama, cicit Wretikandayun, Raja kerajaan Galuh pertama. Pada saat menjadi penguasa kerajaan Sunda ia dikenal dengan nama Prabu Harisdarma dan kemudian setelah menguasai kerajaan Galuh ia lebih dikenal dengan Sanjaya. Ibu dari Sanjaya adalah Sahana, cucu Maharani Sima dari Kalingga di Jepara.

Ayahanda dari Sanjaya adalah Bratasena/Sena/Sanna, raja Galuh ketiga. Sena adalah cucu Wretikandayun dari putra bungsunya, Mandiminyak, raja Galuh kedua. Sena dilengserkan dari tahta kerajaan Galuh oleh Purbasora.

Purbasora dan Sena adalah saudara satu ibu, tapi lain ayah. Sena dan keluarganya menyelamatkan diri ke Pakuan, Pusat kerajaan Sunda dan meminta pertolongan kepada raja Tarusbawa. Ironis sekali, Wretikandayun, kakek Sena, sebelumnya menuntut Tarusbawa untuk memisahkan kerajaan Galuh dari Tarumanegara, sehingga kerajaan Tarumanegara terpecah menjadi dua kerajaan yaitu Sunda dan kerajaan Galuh.

Sanjaya yang merupakan penerus kerajaan Galuh yang sah, menyerang kerajaan Galuh dengan bantuan Tarusbawa untuk melengserkan Purbasora. Setelah itu Sanjaya menjadi raja di kerajaan Sunda dan kerajaan Galuh, sehingga bekas kerajaan Tarumanegara dapat disatukan lagi dalam satu kerajaan yaitu kerajaan Sunda Galuh.

Sebagai ahli waris Kalingga, Sanjaya kemudian menjadi penguasa Kalingga utara yang disebut Mataram, dengan kata lain, Sanjaya adalah penguasa Sunda Galuh dan Kalingga/Mataram (Hindu). Dalam masa itu dan masa-masa selanjutnya telah terbentuk semacam ikatan politik (seperti saat Majapahit mempersatukan Nusantara).

Kekuasaan di Jawa Barat kemudian diserahkan kepada putera Sanjaya dari Tejakencana, putri raja Tarusbawa dari kerajaan Sunda yaitu Tamperan atau Rakeyan Panaraban. Sedangkan penerus Sanjaya di kerajaan Mataram adalah Rakai Panangkaran, putera Sanjaya dari Sudiwara, puteri Dewasinga raja Kalingga selatan/Bumi Sambara. Jadi Rakai Panangkaran dan Rakeyan Panaraban/Tamperan adalah saudara seayah tapi lain ibu.

Pemimpin Mataram selanjutnya adalah, Rakai Panunggalan, Rakai Warak dan Rakai Garung. Rakai Garung mempunyai anak yaitu Rakai Pikatan. Rakai Pikatan yaitu menjadi pangeran kerajaan Sanjaya, menikah dengan putri raja Samaratungga yaitu Pramodhawardhani. Sejak itu pengaruh kerajaan Sanjaya yang bercorak Hindu mulai menggantikan menjadi agama Budha dan menjadikan penyatuaan Ciwa Budha. Rakai Pikatan bahkan menyerang raja Balaputradewa (putera Samaratungga dan Dewi Tara) dari kerajaan Syailendari dan berakhir ditandai dengan larinya Balaputradewa ke Sriwijaya. Karena Balaputradewa tidak menyetujui konsep tentang pemahaman Ciwa Budha tersebut.

Kemudian raja Tulodong adalah yang mendirikan Candi Prambanan. Merupakan komplek candi Hindu terbesar di Asia Ttenggara. Pada masa ini ditulis sastra Ramayana dalam bahasa kawi.
Pada Jaman pemerintahan raja Kertanagara, raja Singasari terakhir, penyatuan Ciwa dan Budha karena toleransinya yang sangat besar dan juga alasan yang bersifat politik, yaitu untuk memperkuat diri dalam menghadapi musuh dari Kubilai Khan. untuk mempertemukan kedua agama itu, Kertanagara membuat Candi Ciwa Budha yaitu candi Ciwa di Prigen dan Candi Singasari di dekat kota Malang.

Pembaruan Ciwa Budha pada jaman Majapahit antara lain terlihat pada cara mendharmakan raja dan keluarganya yang wafat pada 2 candi yang berbeda sifat keagamaannya. Hal ini dapat dilihat pada raja Majapahit yaitu Kertarajasa yang didharmakan di candi Sumberjati (Simping Blitar) sebagai wujud Ciwa (Ciwawimbha) dan di Antahpura sebagai Budha. Hal ini memperlihatkan suatu kepercayaan dimana kenyataan tertinggi dalam agama Ciwa maupun Budha tidak berbeda.

Agama Ciwa yang berkembang dan dipeluk oleh raja-raja Majapahit adalah Ciwa Siddhanta yang mulai berkembang di Jawa Timur pada masa kerajaan Mataram. Ajaran agama ini sangat dipengaruhi oleh Saiwa Upanisad, Wedanta dan Samkya. Kenyataan tertinggi agama ini disebut Parama Ciwa yang disamakan dengan suku kata suci OM. Dalam pakem berikutnya dikenalkan pengertian sebagai berikut oleh Ida Mpu Kuturan:
  • Parama Ciwa yang bersifat tak terwujud ( niskala)
  • Sada Ciwa yang bersifat berwujud-tak terwujud (sanakala-niskala)
  • Ciwa yang bersifat berwujud (skala)
Selain agama Ciwa Siddhanta dikenal pula aliran Ciwa Bhairawa yang muncul pada pemerintahan Jayabaya. Agama ini adalah aliran yang memuja Ciwa sebagai Bhairawa. Raja-raja Majapahit pada umumnya beragama Ciwa Siddhanta kecuali Tribuwana Tungadewi (raja Majapahit ke 3) yang beragama Budha Mahayana. Walaupun begitu agama Ciwa dan Budha tetap menjadi agama resmi kerajaan dan pada akhirnya dijadikan satu yaitu Ciwa Budha. Pada masa pemerintahan Raden Wijaya (Kertarajasa) ada 2 pejabat tinggi Ciwa dan Budha, yaitu Dharmadyaksa Ring Kasaiwan dan Dharmadyaksa Ring Kasogatan.

Selain itu terdapat pula para agamawan yang mempunyai peranan penting di lingkungan istana yang disebut Tripaksa yaitu Rsi-Saiwa-Sogata berkelompok 3 dan berkelompok 4 disebut catur Dwija yaitu Mahabrahmana (Wipra) – Rsi – Saiwa – Sogata.

Tidak banyak yang mengetahui bahwa saat itu masyarakat Majapahit sudah amat bahagia gemah limpah loh jinawi. Hindu sendiri dari tiga agama besar, Brahma, Wisnu, Ciwa, lalu ada Budha Tantrayana dan Saiwa Bhairawa serta semua ajaran tersebut dijadikan satu dalam wadah spiritual yaitu Ciwa Budha. Semua mendapat tempat di Majapahit tanpa di-diskriminasi.
Penganut animisme juga banyak dan oleh pemeluk ajaran yang lain, mereka tidak dianggap kafir sebab inilah agama asli nenek moyang. Kerajaan besar ini sangatlah toleran terhadap aliran kepercayaaan karena Majapahit belajar dari kekonyolan kerajaan terdahulu. Pelajaran dari masa lalu adalah yang membuat Majapahit menjadi kerajaan besar, terbuka dan toleran terhadap semua ideologi, bahkan terhadap ajaran yang amat baru dan aneh pun Majapahit sangat toleran, padahal di dalam kerajaan sudah ada pakem yaitu Ciwa Budha tetapi sungguh luar biasa tolerannya terhadap keyakinan.

Mari kita bangsa Indonesia yang katanya sudah maju, berpikir yang sangat positif bahwa tidak ada suatu keyakinan yang membenarkan dirinya yang paling benar, karena di setiap keyakinan ada Tuhan dan di setiap keyakinan Tuhan, ada kebenaran dan ada kesalahan. Jadi semua yang benar maupun yang salah sudah dikehendaki oleh Tuhan itu sendiri. Jadi janganlah saling mendiskriminasikan ajaran/agama orang lain. Kita hidup dalam wadah spiritual Ciwa Budha.

Note:
Kata agama dipakai untuk memudahkan pengertian. Sebenarnya saat tersebut kata agama belum dikenal.

Sumber: Pinisepuh

akan datang: sejarah Ciwa Budha di Bali...

Sabtu, 05 Desember 2009

Karya Para Mpu Nusantara

Beberapa Mpu di Nusantara dan Karyanya

Mpu Gandring (warga Pande),
Mpu Gnijaya (warga Pasek),
Mpu Bradah (warga Brahmana, Treh Dalem),
Mpu Tantular (kekawin Sutasoma)
Mpu Sedah/Mpu Panuluh (kekawin Bharatayuda),
Mpu Tanakung (kekawin Siwa Ratri Kalpa),
Mpu Kanwa (kekawin Arjuna Wiwaha),
Mpu Prapanca (kekawin Negara Kertagama)

Karya Mpu Kuturan Dalam Menata Perhyangan di Bali Dwipa
Mpu Kuturan adalah seorang pendeta suci dari warih Ida Bhatara Hyang Genijaya yaitu cucu dari Ida Bhatara Lingsir Hyang Pasupati saking Giri Mahameru (Jambu Dwipa).

Karya Mpu Kuturan di Bali:
Konsep Siwa Budha
Konsep Tri Murti
Tripurusha
Padma Tiga di Penataran Besakih
Kahyangan Tiga (Pura Desa, Dalem, Puseh)
Meru
Gedong
Konseptor seni arsitektur Bali
Konsep Menjangan Seluwang (konsep ini ada di lontar Kusumadewa)

Beberapa jenis padma menurut lokasinya, yaitu:
Timur (padmakencana),
Selatan (padmasana),
Barat (padmasari),
Utara (padmalingga),
Tengah (padmakurung),
Tenggara (padma astadana),
Barat Daya (padmanoja),
Barat laut (padma karo),
Timurlaut (padmasaji)

Beberapa jenis candi yaitu candi ibu, candi tikus, candi bajang ratu, candi raden wijaya, candi semar, candi arjuna, candi bimasena, dll.

Salah satu lontar Bali sendiri mengatakan:
Sira empu Kuturan, ingaranan empu Raja Kertha, mahyunta anggawe perhyangan kabeh sane ke gawe wit Majapahit, kaunggahan ring Bali kabeh.

Ida empukuturan, bergelar Mpu Raja Kertha, membawa konsep-konsep perhyangan yang dibawanya dari majapahit, yang diletakkan di seluruh pulau bali.

Jadi pada intinya semua tata letak, konsep, keyakinan maupun budaya, sastra, dll., kebanyakan dibuat oleh Mpu Kuturan, karena itu pulau Bali dikenal dengan pulau seribu pura. Karena karya-karyanya yang banyak, Mpu Kuturan mendapat gelar begitu banyaknya dari masayarakat maupun dari kerajaan. Yang sering dikenal di Bali yaitu Dhang Hyang Dwi Jendra yang berarti ‘pandita raja’. Setelah Mpu Kuturan moksha di Sila Yukti, kemudian karya-karya beliau digali lagi pada masanya Dang Hyang Niratha (Ida Pedanda Sakti Wau Rauh). Akhirnya karena jasanya bisa menentramkan umat Bali pada saat itu, Beliau, Dang Hyang Niratha, juga diberi gelar Dang Hyang Dwi Jendra.

note:
Yang mendapat gelar Dhang Hyang Dwi Jendra adalah:
1. Rsi Markandheya
2. Mpu Kuturan
3. Dhang Hyang Niratha

Mpu kuturan moksa di Sila Yukti. Sila berarti; ajeg, teguh, kuat, paham dalam kehidupan ini dengan cara menegakkan dharma. Yukti berarti; benar-benar terjadi.

Konsep tersebut diambil dari Siwa Budha. Budha berarti; budi pekerti, tatwa, susila, dharma, dll. Siwa berarti Tuhan itu sendiri. Jadi sebelum badan ini bersatu pada alam Siwa temui dulu Tuhan di dalam diri setiap manusia atau capailah dharma tersebut, baru manusia bisa mencapai alam Siwa dan menyatu pada Siwa atau moksha. Kalau Sila atau Budha kita sudah kuat, teguh, ajeg dengan cara menjalankan dharma, pasti benar-benar terjadi yang namanya menyatu pada alam Siwa tersebut. Jadi demikian pokok dasar pengertian dari Siwa Budha.

Bukti dalam sastra adalah:
Siwa tidak mengakui Budha bukan Siwa. Budha tidak mau mengakui Siwa bukan Budha. Bhineka tunggal ika tan hana dharma mangrwa.

Pada hakekatnya Siwa Budha itu satu tidak bisa dipisahkan.

Pesan Ida Mpu Kuturan kepada saya pada beberapa waktu lalu adalah; Jagalah karya-karya Beliau, jangan sampai orang Bali lupa dan meninggalkannya, karena dari karya Beliau tersirat ilmu-ilmu kasunyatan yang akan mengantar umat Bali pada khususnya untuk mencapai alam Siwa Budha. Agar Bali menjadi pusat dunia dalam waktu dekat ini.

Itu pesan singkat Beliau agar budaya Bali selalu senantiasa dilestarikan agar umat dunia bisa banyak belajar dari kedamaian Siwa Budha di Bali yang berdasarkan budaya.

Weda dan Karya Mpu Nusantara
Weda dibuat berdasarkan perenungan-perenungan dari orang-orang suci di India. Kekawin dan Lontar di Nusantara ini dibuat oleh perenungan-perenungan para mpu kita, jadi banggakanlah karya para mpu kita yang sangat luar biasa ini.

Apapun karya yang bisa membantu umat agar bisa lebih mengerti memahami konsep Tuhan itu maka karya itu akan masuk ke dalam Weda, karena Weda berarti juga connect (terhubung) dengan Tuhan itu sendiri. Weda tidak akan pernah habis semasih bumi ini terus berputar. Jadi pemahaman tentang Weda sangatlah luas, karena Weda terus berkolaborasi tergantung pada jamannya. Semoga pemahaman ini berguna dan lebih mengerti tentang karya-karya mpu serta Weda itu sendiri.

Sumber: Komunikasi Pinisepuh pada bulan November 2009 dengan Ida Bhtarara Mpu Kuturan.

Kamis, 03 Desember 2009

Sejarah Weda Di Indonesia

Ada tujuh maha rsi yaitu; Grtsamada, Wiswamitra, Wamadewa, Atri, Bharadwaja, Wasista dan Kanwa. Para Rsi inilah yang menerima wahyu Weda di India. Mereka mengembangkan agama Hindu masing-masing menurut bagian-bagian Weda tertentu. Kemudian para pengikutnya mengembangkan ajaran yang diterima dari guru mereka sehingga lama kelamaan terbentuklah sekte-sekte yang jumlahnya ratusan.

Sekte Siwa Sidhanta dipimpin oleh Maha Rsi Agastya, kemudian disebarkan ke Indonesia. Di Indonesia seorang Maha Rsi pengembang sekte ini yang berasal dari pesraman Agastya Madyapradesh dikenal dengan berbagai nama antara lain : Kumbhayoni, Hari Candana, Kalasaja dan Trinawindu. Trinawindu di Bali disebut dengan Bhatara Guru, tapi ini hanya sebuah gelar Rsi Agastya di Bali.

Ajaran Siwa Sidhanta mempunyai ciri-ciri khas yang berbeda dengan sekte Siwa yang lain. Sidhanta yang artinya kesimpulan sehingga Siwa Sidhanta artinya kesimpulan dari Siwaisme.

Kenapa di buat kesimpulan ajaran Siwa ?

Karena Maha Rsi Agastya merasa sangat sulit untuk menyampaikan pemahaman kepada para pengikutnya tentang ajaran Siwa yang mencakup bidang sangat luas sekali.

Karena itu bagi penganut Siwa, kitab suci Weda pun hanya pokok-pokok atau inti-intinya saja yang dipelajari, dan kitab suci Weda pun dinamai Weda sirah oleh penganut Siwaisme. Weda sirah, atau sirah artinya kepala atau pokok-pokok jadi hanya inti-inti dari Weda saja yang dipelajari, karena kitab suci Weda sangatlah luas. Jadi pengetahuan tentang Weda hanya inti-intinya saja yang dipelajari umat Hindu dunia, karena seperti cerita di atas Maha Rsi Agastya sangatlah sulit untuk memberikan pengetahuan Weda itu karena mencakup bidang yang sangat luas sekali.

Salah satu murid Maha Rsi Agastya adalah Maha Rsi Markandeya yang membawa ajaran Weda/Siwa di Indonesia. Pada saat ke Indonesia Maha Rsi Markandeya mendapatkan pencerahan di gunung Di Hyang (sekarang disebut dengan gunung Dieng) di gunung Dieng Beliau Rsi Markandeya mendapatkan pawisik agar membuat pelinggih di Tohlangkir (sekarang disebut Besakih) dan harus ditanami panca datu yang terdiri dari unsur emas, perak, tembaga, besi dan permata mirah delima.

Setelah itu Maha Rsi Markandeya menetap di Taro (Tegal Lalang, Gianyar). Dari pencerahan-pencerahan yang di dapat di gunung Dieng dan di Tohlangkir (Besakih) beliau memantapkan ajaran Siwa kepada para pengikutnya dalam bentuk ritual: Surya Sewana, Bebali (banten) dan pecaruan.

Karena semua ritual menggunakan banten atau bebali dan ketika itu agama ini dinamakan Agama Bali. Daerah tempat tinggal Beliau dinamakan Bali. Jadi yang bernama Bali mula-mula hanya daerah Taro saja, namun kemudian pulau ini dinamakan Bali karena penduduk di seluruh pulau melaksanakan ajaran Siwa menurut petunjuk-petunjuk maha Rsi Markandeya yang menggunakan bebali atau banten. Karena sedemikian luasnya isi dari Weda dan terbentur bahasa dari mantram-mantram Weda maka diciptakanlah banten sebagai simbolisme dari mantram-mantram yang ada dalam Weda. Sebagai contoh:

Banten Daksina adalah simbolis dari Mantram Gayatri, yaitu:

Om Bhur Bhuvah Svah
Tat Savitur varenyam
Bhargo devasya dimahi
Dhiyo yo nah pracodayat

Oleh karena itu janganlah fanatik dengan berpatokan kepada kitab Weda saja, karena Weda sendiri pengertiannya sangat luas. Ajaran Rsi Markandeya kemudian disempurnakan lagi oleh Ida Mpu Kuturan, karena di jaman Rsi Markandeya keberadaan sekte-sekte jumlahnya sangat banyak dan dari sekte-sekte tersebut selalu ada saja yang dipertentangkan dan pada akhirnya timbul dampak-dampak yang negatif di Bali. Ida Mpu Kuturan yang pada saat itu ajarannya adalah Budha Mahayana dipilih oleh raja Udayana untuk mempersatukan sekte-sekte karena dipercaya ajaran Budha adalah yang bisa mempersatukan sekte-sekte tersebut selain Ida Mpu Kuturan juga ahli di bidang politik, sastra, filsafat, arsitek, spiritual, seni, dll.

Jadi pesan Ida Mpu Kuturan kepada saya janganlah pernah berhenti berjuang untuk mempersatukan umat dalam perbedaan keyakinan melalui ajaran Budha, karena ajaran Budha yang bisa menengahi masalah-masalah keyakinan di muka bumi ini, karena ajarannya mengajarkan kita untuk bijak dalam melakukan tindakan dan mengedepankan ajaran budi luhur.

Demikian itulah pesan Beliau Ida Mpu Kuturan yang sudah meraga/berwujud Sang Budha Amitofo.

Sumber: Pinisepuh