Rabu, 17 Agustus 2011

Bhatara Bhatari Yang Disungsung

Pinisepuh adalah Guru Suci/Wikan yang mendapat pencerahan dari lahir yang telah dijelaskan dalam kisah Pinisepuh.

Kemudian mengangkat saya sebagai salah satu murid utama. Hal ini bermula pada tahun 2009, setelah saya disembuhkan oleh Pinisepuh yang akhirnya nyungsung Ida Bhatara Lingsir Pasek Gelgel. Melalui bimbingan Pinisepuh, saya dititipkan untuk belajar sastra kepada sesuhunan yang saya sebut sekarang sebagai Hyang Maha Guru Bhatara Agung Mpu Kuturan.

Pada tahun 2009, sebelum mewinten sebagai pemangku, saya sudah mendapat amanah untuk melakukan Surya Sewana setiap pagi, di mana dalam aturan sastra hanya Sulinggih yang sudah medwijati yang boleh melakukan Surya Sewana.

Pada suatu Purnama, tahun 2009 mendapat restu dari Ida Bhatara Lingsir Hyang Pasupati atau Sang Hyang Paramaciwa melalui Pinisepuh dan mendapat paica pusaka Genetri yang tedun dari angkasa disaksikan Jero Sandat istri saya dan Ibu Marna yaitu salah satu pengayah di Puri.

Pada suatu malam dalam meditasi, menyaksikan sinar kuning emas dengan mata bhatin, sangat menarik dan akhirnya secara tidak sengaja telah masuk/tersedot ke dalam sinar tersebut. Setelah beberapa saat, Ida Bhatarai Ratu Niang Sakti menarik tangan saya keluar dari pusaran sinar tersebut seraya berkata: "Belum saatnya cening masuk ke sini". Kurang lebih demikian sabda Ida Bhatari.

Beberapa hari kemudian, Pinisepuh datang secara gaib dalam meditasi mengantarkan Ida Bhatari Durga dengan perwujudannya yang sangat seram. Tetapi Ida kemudian bersabda, diantaranya yang masih ingat: "... mulai sekarang ke pura manapun cening tangkil jangan takut, Nira melindungi...", besok saat bangun pagi, di cermin tampak wajah saya bersinar kuning tipis.

Setelah mendapat restu dari Ida di atas, banyak Ida Bhatara yang akhirnya juga merestui. Yang saya anggap merestui yaitu karena Ida sudah pernah 'ngeraosin'/bersabda atau beberapa kali ngeraosin'. Saat ini Sesuhunan yang saya sungsung adalah:

  1. Ida Bhatara Lingsir Hyang Pasupati/Hyang Paramasiwa (mepaica Genetri)
  2. Ida Bhatari Durga
  3. Ida Sang Hyang Sabdapalon/Hyang Sadasiwa
  4. Ida Mpu Kuturan (nedunang Amanah untuk menulis Ilmu Sangkan Paraning Dumadi/Rahasia Leluhur mencapai Moksha, buku sedang ditulis)
  5. Ida Mpu Bharadah
  6. Ida Mpu Gnijaya
  7. Ida Dalem Sidakarya
  8. Ida Bhatara Lingsir Kawitan Pasek Gelgel
  9. Ida Ratu Gede Dalem Ped
  10. Sang Ayu Mas Ajeg Bumi (Sakti dari Ratu Gede Dalem Ped)
  11. Ida Dalem Sida Karya
  12. Ida Bhatari Ratu Niang Suwabawa (Dewa Ayu Mas Melanting)
  13. Ratu Peranda Sakti Wau Rauh
  14. Ida Bhatara Indra
  15. Ida Bhatari Ratu Mas Magelung/Ibu Indraswari (Sakti dari Hyang Wisesa/Jayasabha)
  16. Ibu Dewi Yulan Manifestasi dari Ida Bhatari Ratu Mas Magelung
  17. Ibu Dewi Maheswari/Sakti dari Ida Prabu Jayabaya
  18. Ibu Dewi Kwan Im (mepaica Uang Kepeng Simbol Feng Shui)
  19. Ida Ratu Subandar (mepaica Tongkat Rejeki)
  20. Ida Dewa Bumi (Nedunang Amanah untuk menulis Ilmu Kaweruh Astha Bumi yaitu pengetahuan 8 arah yang membuat masnusia hidupnya gemah limpah loh jinawi, menunggu waktu untuk menulis).
  21. Ida Dewa Kwankong
  22. Ida Dewa Ganesha
  23. Ida Naga Basuki
  24. Ibu Dewi Rohini (Goa Lawah)
  25. Ida Bhatari Hyang Giriputri
  26. Ida Bhatari Ratu Niang Ayu (Okan Ida Ratu Niang Sakti ring Pura Dalem Pengembak Sanur)
  27. Ida Ratu Bagus Ketut (Dewa Rare Angon)
Sebenarnya di hampir setiap pura yang dikunjungi mendapat restu dengan selalu memberi pesan, agar selalu menuntun umat agar rajin ngaturang bakti, memuja para Leluhur atau manifestasi-manifestasi Tuhan/Siwa.

Pada tahap-tahap awal, tidak mempercayai bahwa sudah mendapat anugrah mampu mendengar pawisik Ida di bhatin hingga diberi kesempatan untuk menjadi semacam Balian di Puri selama enam bulan pada tahun 2010. Setiap yang tangkil, membawa pejati dan setelah dilukat, orang yang sakit mendapat petunjuk yang tertentu, dan yang masih lekat dalam ingatan adalah:

Seorang Ibu dari Tabanan datang dan mengeluh bahwa sudah lama sakit dan sudah ke dokter atau ke balian, tetapi sakitnya tidak kunjung sembuh. Setelah melukat, salah satu Ida Bhatara, karena belum bisa melihat, belum tahu Ida mana yang ngeraosin, dan ternyata Ibu tersebut sakit dikarenakan pernah keguguran tetapi tidak melakukan upacara tertentu. Karena tidak PD, ia kalau benar begitu pikir saya waktu itu, akhirnya saya bertanya: "Ibu sudah punya anak?" Ibu itu menjawab sudah. "Waktu punya anak lancar?". Anak pertama saya keguguran pada umur tujuh bulan dan tidak ada upacara apa-apa, katanya. Ibu tersebut akhirnya sembuh.

Satu lagi yang berkesan dalam ingatan, seorang bapak datang menyeret-nyeret kakinya dan tampak sakit sekali. Setelah pelukatan, mendapat raos: "Ning, Nira Ratu Niang, Ia ngelinggihang Nira tapi sing seken...", masih dengan keraguan saya bertanya: "Pak punya warung ya?", "Ndak...", jawabnya. waduh!! malu saya. Pada umumnya yang ngelinggihang Ida Bhatari Ratu Niang Sakti adalah yang punya warung atau usaha. Bapak ini pensiunan! "Katanya Bapak pernah ngelinggihang Ratu Niang Sakti tapi tidak diperlakukan dengan benar.", harap-harap cemas akhirnya Ia menjawab: "Oh iya dulu saya punya warung betutu, tapi tutup, sekarang dikontrakkan kepada londry." Akhirnya, saya jujur katakan, saya ini pemangku baru dan tidak ngerti hal banten lalu disarankan untuk bertanya ke Grya Anyar Tanah Kilap, Perhyangan Ida. Untuk saat sekarang ngaku agem/janji saja dulu mau urus, kata saya waktu itu.

Besoknya, saking gembiranya, Bapak tersebut datang sama keluarganya dan sudah berjalan dengan normal seraya tersenyum. Saat ini, karena sudah sembuh, satu keluarga menjadi pengayah di Puri.

Banyak pengalaman seperti di atas pada saat-saat latihan komunikasi. Setelah dianggap lulus oleh Pinisepuh, saya tidak lagi boleh melakukan kegiatan sebagai balian dan meneropong. Dalam amanah Pinisepuh mengatakan bahwa pada Jaman Kali, manusia harus menghindari tenung sebab akan mengganggu alam semesta.






Meditasi Brahma Chakra

Blog Spiritual ini dikelola oleh
PURI AGUNG DHARMA GIRI UTAMA
Jl. Tegal Harum No. 14, Biaung Chandra Asri, Denpasar Bali

Di bawah naungan Pinisepuh/Guru Suci, keturunan Majapahit dari Trah Prabu Jayasabha

Kami mengajarkan Meditasi anugrah dari Hyang Maha Guru Bhatara Agung Mpu Kuturan yang disebut Meditasi Brahma Chakra, bagian dari Ilmu Sangkan Paraning Dumadi (Rahasia Leluhur Mencapai Moksha).

Bukunya sedang ditulis oleh Jero Mangku Pasek Mukti Murwo Kuncoro, di mana atas Restu Hyang Maha Guru, Mangku Mukti telah menerima anugrah Kesidhian Dewata untuk dapat berkomunikasi dengan Hyang Maha Guru Bhatara Agung Mpu Kuturan dan menjalankan amanah-Nya.

Bagi masyarakat luas yang ingin meningkatkan diri sebagai Spiritualis sejati silahkan berkunjung ke Puri Agung Dharma Giri Utama.


Bagian awal dari Ilmu Sangkan Paraning Dumadi telah dipraktekkan dan para murid telah banyak terbuka inti daripada chakra Sahasrara (mahkota). Terbukanya inti chakra Sahasrara akan membesarkan jalur sinar suci Antahkarana. Jalur sinar suci Antahkarana terletak di nadi Utama Shusumna. Shusumna adalah jalur Ibu Dewi Kundalini pada saat kebangkitannya.

Sebenarnya inisiasi yang dilakukan dengan iklan oleh praktisi meditasi agar HEBOH yang berembel-embel membangkitkan Kundalini adalah inisiasi inti chakra Sahasrara. Sebab dalam aturan niskala hanya yang pencerahan sempurna yang mampu melakukan pembangkitan Kundalini. Inipun kalau nadi Shusumna sudah besar. Dan yang sudah bangkit Kundalini-nya/pencerahan sempurna tidak akan melakukan pembangkitan Kundalini orang lain secara sembarangan sebab harus ada kebijaksanaan khusus. Orang dengan pencerahan sempurna sudah mewarisi kebijaksanaan para Dewata Agung. Paham dengan karma manusia dan sedang menunggu saat yang tepat untuk moksha.

Sebenarnya Kundalini akan bangkit dengan sendirinya apabila semua jalur dan chakra sudah siap.

Bersama Ilmu Sangkan Paraning Dumadi telah pula diturunkan simbol Surya Sudhanalaya sebagai penyerap Prana yang besar dan pelindung dari gangguan black magic serta mahluk gaib negatif yang dipakai sehari-hari. Sebab praktisi/spiritualis yang telah meningkat memancarkan energi sehingga kerap mendapat gangguan dari praktisi black magic, mungkin melakukan semacam tes. Sedang gangguan mahluk gaib biasanya karena mereka terganggu dengan energi yang dipancarkan atau bahkan ingin mendapat pertolongan dari pelaku spiritual untuk tujuan peningkatan tertentu dari mahluk tersebut.

Untuk membesarkan inti chakra Sahasrara, dalam Ilmu Sangkan Paraning Dumadi dilakukan dengan restu Guru/inisiasi dan latihan meditasi Brahma Chakra pembangkitan jalur Antahkarana. Guru yang sudah mampu merestui adalah yang sudah mendapat amanah dari Dewata. Dalam hal ini dari Hyang Maha Guru Bhatara Agung Mpu Kuturan.

Simbol Surya Sudhanalaya bisa dibeli di Puri Agung Dharma Giri Utama.

Selasa, 02 Februari 2010

Canang Sari Jelih

Om Swastyastu,

Entah di mana nama ‘Canang Sari Jelih’ kami peroleh, sehingga istilah atau penamaan ini kami pakai sehari-hari. Kalau ada yang kebetulan memahami penamaan ini mohon urung pendapat.

Sebelum saya ceritakan mengenai Canang Sari Jelih, adalah satu dua orang yang mengusulkan hal-hal yang berhubungan Kepemangkuan, misalnya:

  1. Bagaimana meningkatkan pemahaman Weda kepada Jero Pemangku.
  2. Apakah Jero Mangku sudah mempunyai Askes?
  3. Ada yang menyarankan agar Jero Pemangku mendapat pelatihan ulang agar bisa melantunkan Tri Sandya dengan hafal dan benar.
  4. Juga ada pula yang mengusulkan agar di Pura ada tempat untuk ‘curhat’.

Banyak saran yang masuk dan semuanya tentu bertujuan meningkatkan banyak hal yang memang sebenarnya positif. Forum ini hanyalah bisa menyikapi saja dan sejujurnya tidak ada actions yang bisa dilakukan secara massal dan serempak. Tetapi setidaknya kita sudah tahu hal-hal demikian banyak yang setuju yang penting dengan tujuan meningkatkan kemampuan Jero Mangku baik dalam tugas maupun kesejahteraannya. Walau masih berupa wacana bagi kita di forum ini.

Sekedar berbagi kepada kawan-kawan umat sedharma apa yang sudah Paguyuban Dharma Giri Utama sebagai team HD lakukan selama ini dan tentu banyak umat sedharma juga yang sudah melakukannya. Dalam persembahyangan ke pura mana saja, kita selalu menghaturkan sedikit rupiah pada banten yang disebut sesari. Berapapun sesari tersebut tentulah sangat berarti bagi pura tersebut. Sesari ini kemudian diambil oleh pengayah pura untuk dikumpulkan. Di luar sesari juga telah disiapkan ‘genah dana punia’. Semua rupiah tersebut tentulah sangat berguna untuk biaya perawatan pura tersebut.

Apakah dari kita pernah bertanya: “Berapa besar nantinya Jero Pemangku akan menikmati rupiah tersebut?”. Melihat pengabdiannya yang sungguh berat, terkadang kami sering membicarakan ini di lingkungan Paguyuban. Sungguh asik dan menyenangkan kita datang, duduk sembahyang, nunas tirta lalu pulang dan bergembira karena sudah tangkil di pura. Sementara Jero Mangku, dengan pakaiannya yang kadang sudah kumal karena usia, kembali duduk menghantarkan yadnya pemedek lain. Betapa miris hati kami menyaksikan hal demikian.

Karena Paguyuban sangat sering mengunjungi pura, nurani kami terenyuh menyaksikan kondisi demikian sehingga saat ini kami menghaturkan Canang Sari Jelih ke hadapan Jero Pemangku yang memuput yadnya saat kebaktian tersebut. Canang Sari Jelih ini kami sertakan juga sejumlah kecil rupiah dengan harapan bahwa sesari tersebut adalah hak pribadi dari Jero Pemangku. Entah ini dibenarkan atau sudah ada aturannya, sejujurnya kami tidak mengetahui. Namun atas dasar kasih sayang kami begitu saja melakukannya. Mudah-mudahan kami mengetuk hati umat sedharma sekalian untuk memulai melakukan Haturan Canang Sari Jelih dan tidak menjadikan hal-hal seperti ini jadi polemik dan masalah di masa-masa yang akan datang. Sekecil apapun rupiah yang kita haturkan tentulah menjadi sangat berguna bagi Beliau para pengabdi Tuhan seperti Jero Pemangku.

Silahkan umat sedharma urung pendapat, tambah dan kurangi.

Suksma
Om Shanti Shanti Shanti Om....
MS

Minggu, 24 Januari 2010

Cerita Singkat Semar

Semar adalah punakawan dari Ida Bhatara Hyang Siwa Pasupati, yang diciptakan pada jaman Pandawa. Hyang Siwa Pasupati mempunyai 4 punakawan yaitu Semar, Petruk, Gareng dan Bagong. Semar di Bali dikenal bernama Tualen, Petruk adalah merdah, Gareng adalah Sangut dan Bagong adalah Delem.

Pada saat Panca Pandawa mengasingkan diri ke alas, alas yang dicapai adalah alas Jawa, karena diceritakan pada saat itu semua pulau masih bersatu. Bukti dari Panca Pandawa datang ke alas Jawa yaitu Bima kawin dengan seorang raksasa bernama Diyah Dimbi dan lahirlah Gatot Kaca. Juga Arjuna bertapa di gunung yang sekarang dikenal dengan gunung Arjuna di Jawa, serta karena pada saat itu banyak sekali raksasa-raksasa yang mengganggu Arjuna dalam tapanya, maka diturunkanlah 4 punakawan oleh Ida Bhatara Hyang Siwa Pasupati untuk menjaga Arjuna. Dalam pertapaannya Arjuna diberi sebuah panah sakti oleh Hyang Siwa Pasupati.

Tak dapat dipungkiri bahwa dari kisah Arjuna bersemedi di tanah Jawa kemudian muncul Semar di dunia ini sebagai pamong para raja-raja atau pemimpin seluruh dunia. Semar kemudian diberi gelar Sada Siwa oleh Hyang Siwa Pasupati, atau dalam Hindu Dharma dikenal juga sebagai Sang Hyang Ismaya dan Manik Maya. Sebutan Beliau yang lain adalah Sabda Palon.

Semar adalah juga merupakan Dewa yang mengatasi semua Dewa dan Dewa yang menjelma menjadi manusia. Semar juga kemudian menjadi pamong para Pandawa dan ksatrya utama lainnya yang tidak terkalahkan.

Semar merupakan pamong yang sepi ing pamrih, rame ing ngawe. Sepi akan maksud, rajin dalam bekerja. Semar mengembani sifat membangun dan melaksanakan perintah Hyang Widi demi kesejahteraan umat manusia di jagat raya ini. Beliau seorang punakawan yang disegani dan disenangi oleh banyak raja dan para Dewata. Beliau berpenampilan sederhana sebagaimana rakyat biasa, walau sebagai abdi raja karena Beliau adalah pelayan umat manusia untuk mencapai keadilan dan kebenaran di muka bumi.

Beliau di Nusantara adalah sebagai Dang Hyang-nya Nusantara (nenek moyang Nusantara). Beliau berumur jutaan tahun dan hidup abadi atau moksa. Sekali beliau tidur adalah 500 tahun lamanya dan setiap Beliau terbangun pasti ada suatu kerajaan atau keyakinan yang sedang berselisih.

Beliau juga sebagai lurah karang dempel. Karang artinya gersang, dempel artinya keteguhan jiwa. Rambut beliau menguncung, rambutnya memberi tahukan kepada umat manusia; akuning sang kuncung artinya adalah, akulah sebagai kepribadian pelayan umat manusia. Kain beliau bernama parangkusumorojo yang artinya perwujudan dewonggowantah. Dewonggowantah artinya, menuntun umat manusia agar mencapai memayuhayuning bawono yang artinya, terjadinya keadilan dan kebenaran di muka bumi.

Jadi sesunguhnya Semar itu hampir sama tugasnya dengan Ibu Dewi Kwan Im, yaitu bilamana umat manusia belum mencapai kebahagaian maka Beliau tidak akan pergi ke alam nirwana atau alam Siwa Budha.

Semar mengatakan kepada saya bahwa Beliau-lah yang bertugas memberikan ilmu pengetahuan kepada umat manusia agar umat manusia terlepas dari segala penderitaan dan mencapai moksa.

Semar berkata; bojo sira arsa mardi kamardikan, ajwa samar sumingkiring dur kamurkan mardik, yang artinya, merdekanya jiwa dan sukma. Jadi umat manusia dituntun oleh Beliau agar terlepas dari segala penderitaan dan mencapai moksa. Semar sebagai pralambang ngelmu gaib atau simbulnya alam gaib. Kasampurnaning pati. Beliau tidak akan pernah mati karena Beliau sudah mencapai kesempurnaan.

Jadi singkat cerita Hyang Semar atau nenek moyang Nusantara atau Dhang Hyang-nya Nusantara adalah yang mengemban tugas untuk mempersatukan umat dari masalah-masalah kerohanian.

Om wilaheng astu namo sidyam, luputo salah lan sandi luputo denane tawang towang jagat dewa bhotoro jagat hyang pramuditya bhuwana langgeng rahayu rahayu rahayu sagung dumadi.

Rabu, 20 Januari 2010

Bhisama Leluhur Majapahit - Yadnya di Besakih

Gaweakna yajna aneng bhasakih, ersyaning tapakan bhatara wawu dateng saking wilwatikta majapahit. yan sira lupa bhakti ring manira kadi kocaping prakempa ametu satengahing mulih warsaning bhuwana rwa. yan sire neher bhakti, wetu 150 warna, warsa ning yusaning bhuwana rwa, mwa akadi nguni, tan hana alanya. yan teher tan tihana mwah segara mabuat, kumedeng tangbhwana rwa.

Artinya :
Laksanakanlah yadnya di Besakih, di bagian timur laut di tempat pertama kali Bhatara dari Wilwatikta Majapahit menginjakkan kaki. Jika kalian melupakan yadnya sebagaimana terdapat dalam lontar prekempa ini, umur manusia tidak akan panjang, jika kalian selalu beryadnya umur manusia bisa mencapai 150 tahun, sesuai dengan usia biasanya, bahkan tetap seperti sedia kala tidak akan terjadi bencana. Jika selamanya tidak melaksanakan yadnya, orang tidak akan mengenal tata krama, akan terjadilah badai laut yang akan menghancurkan gunung Agung.

Saya bertanya kepada Ida Mpu Kuturan, kenapa kita harus beryadnya dan kenapa bumi ini harus marah kepada umat manusia. Terus terang saya sangatlah sedih sebagai pelindung umat manusia karena sedemikian besar pengetahuan saya di dunia ini tapi tetaplah tiada artinya. Karena begitu banyaknya para Dewata yang saya kenal, tapi tidak ada satu pun para Dewata yang mau menyadarkan umat manusia untuk beryadnya dan menghentikan bumi ini untuk marah kepada umat manusia. Sungguh saya teramat sedih hati mendengar kehendak langit yang begitu sangat marah kepada umat manusia.

Ida Mpu Kuturan berbicara; Ada yang saling melengkapi dan ada yang saling menghancurkan. Ida Mpu Kuturan juga mengatakan kepada saya tujuan orang melaksanakan yadnya adalah mengangkat derajat makhluk alam semesta agar menghasilkan manusia-manusia sejati melalui jnana yadnya, bukan untuk memenuhi keinginan pribadi yang terbatas. Tujuan yadnya untuk kepentingan seluruh makhluk, bukan untuk kepentingan individu manusianya. Yadnya adalah akar paling mendasar bagi makhluk alam semesta. Yadnya adalah berarti pengorbanan. Prinsip mulia dari pelaksanaan yadnya adalah tidak mementingkan diri sendiri dan melayaninya dengan kasih sayang. Hal terpenting dari kata kunci sebuah yadnya yang terlupakan saat ini adalah pelayanan dan kasih sayang. Lewat pengorbanan yang timbul dari tali kasih, dasarnya adalah pelayanan. Semua bentuk yadnya pada intinya adalah pengorbanan secara fisik dan mental. Dengan kata lain yadnya itu adalah bentuk kebahagian spiritual yang membuang semua buah karma masa lalu. Sekian yang saya beritahukan kepada umat manusia agar ingat selalu pesan-pesan beliau. Rahayu rahayu rahayu, sagung dumadi.

Sumber: Pinisepuh Agung Yudistira

Sejarah Ciwa Budha di Bali

Di Bali Siwa, Budha dan Waisnawa dilebur menjadi agama Hindu Dharma yang ada sekarang di Bali oleh Mpu Kuturan.

Sementara sejarah keagamaan orang Bali sama dengan orang Tibet. Sebelum masuk agama Budha orang Tibet memiliki agama Bon. Agama Budha dan Bon, akhirnya menyatu seperti Siwa Budha di Bali.

Penyatuan itu terjadi pada masa pemerintahan raja suami istri Gunaprya Dharmapatni/ Udayana Warmadewa yang bertahta di Bali. Pada masa itu penduduk pulau Bali adalah mayoritas orang Bali Aga/ orang Bali asli, selanjutnya pendatang dari Jawa disebut orang Bali. Jadi ada orang Bali Aga dan orang Bali. Banyak sekali sekte-sekte yang ada pada saat itu yang dalam pelaksanaan pemujaan terdapat perbedaan-perbedaan satu dengan yang lainnya. Perbedaan-perbedaan itu akhirnya menimbulkan pertentangan antara satu sekte dengan sekte yang lainnya sehingga menyebabkan timbulnya ketegangan dan sengketa di dalam tubuh masyarakat Bali aga.

Inilah yang merupakan salah satu faktor penyebab terjadinya gangguan keamanan dan ketertiban di masyarakat yang membawa dampak negatif pada hampir seluruh aspek kehidupan bermasyarakat. akibat yang bersifat negatif ini bukan saja menimpa desa bersangkutan, tetapi meluas sampai pada pemerintahan kerajaan sehingga roda pemerintahan menjadi kurang lancar dan terganggu. Dalam kondisi seperti itu, Raja Gunaprya Dharmapatni/ Udayana Warmadewa perlu mendatangkan rohaniawan dari Jawa Timur. Kemudian sepakat untuk mendatangkan Panca Dewata ini atau lima orang Brahmana suci keturunan Hyang Bhatara Guru Geni Jaya Sakti atau Hyang Geni Jaya, yaitu: Mpu Semeru, Mpu Gni Jaya, Mpu Ghana, Mpu Kuturan dan Mpu Bradah.

Kelima Brahmana ini lazim disebut Panca Dewata, Panca Tirta, Panca Pandita karena Beliau telah melaksanakan upacara wijati yaitu menjalankan dharma kebrahmanan. Dari kelima Mpu di atas Mpu kuturan adalah yang paling berjasa dalam menata pemerintahan pulau Bali pada khususnya dan Nusantara pada umumnya.

Tentang adanya Mpu Kuturan di Bali dapat di ketahui dari 7 prasasti peninggalan purbakala, dimana disebutkan bahwa Mpu kuturan di Bali berpangkat Senopati dan prasasti itu kini berada di:
  1. Di desa Srai, kecamatan Kintamani.
  2. Di desa Batur, kecamatan Kintamani
  3. Di desa Sambiran, kecamatan Tejakula Kabupaten Buleleng
  4. Di desa Bbatuan, kecamatan Sukawati
  5. Di desa Ujung, Kabupaten Karangasem
  6. Di desa Kehen Bangli, Kabupaten Bangli
  7. Di desa Buahan, Kecamatan Kintamani.

Sekian banyaknya prasasti sebagai fakta sejarah yang mencantumkan nama Mpu Kuturan sebagai senopati di Bali. Dalam isi prasasti-prasasti tersebut adalah sabda raja-raja yang berkuasa pada saat itu dan memberi tahukan kepada masyarakat luas bahwa Ida Mpu Kuturan adalah yang berjasa di bumi Bali ini dalam mempersatukan sekte-sekte yang ada di Bali. Raja-raja yangg bertahta di Bali pada saat itu:

  • Raja Gunaprya Dharmapatni/ Udayana Warmadewa yang menerbitkan prasasti pertama dan kedua.
  • Sri Adnyadani yang menerbitkan prasasti ketiga
  • - Sri Dharmawangsa Wardhana Marakatopangkaja Stano Tunggadewa, yang menerbitkan prasasti keempat sampai ketujuh.
Ida Mpu Kuturan mengatakan kepada saya ada 3 sebab Beliau menetap di Bali.
  • Memenuhi permintaan raja suami istri yang disebut di atas, yang memerlukan keahlian Beliau dalam bidang adat dan agama, untuk merehabilitasi dan mestabilisasi timbulnya ketegangan-ketegangan dalam tubuh masyarakat Bali Aga.
  • Karena bertentangan dengan istri Beliau yang menguasai black magic dan oleh sebab itu istri Beliau ditinggalkan di Jawa yang kemudian dijuluki Walu Nateng Girah atau Rangda Nateng Girah (jandanya raja girah)
  • Sebagai bhiksuka atau sanyasa, Beliau lebih mengutamakan ajaran dharma dari pada kepentingan pribadi.
Kesempatan yang baik itu Beliau pergunakan untuk datang ke Bali, juga karena dorongan kewajiban menyebarkan dharma. Selain menjadi senopati, Beliau juga diangkat sebagai Ketua Majelis dan diberi gelar; Pakira kiran i jero makabehan. Dalam suatu rapat majelis yang diadakan di bataanyar yang dihadiri oleh unsur tiga kekuatan pada saat itu yaitu:
  • Dari pihak Budha diwakili oleh Mpu Kuturan yang juga sebagai ketua sidang
  • Dari pihak Siwa diwakili oleh pemuka Siwa dari Jawa
  • Dari pihak 6 sekte yang pemukanya adalah orang Bali Aga.
Dalam rapat majelis tersebut Mpu Kuturan membahas bagaimana menyederhanakan keagamaan di Bali yang terdiri dari berbagai aliran. Tatkala itu, semua hadirin setuju untuk menegakkan paham Tri Murti untuk menjadi inti keagamaan di Bali dan layak dianggap sebagai perwujudan atau manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Kesepakatan yang tercapai pada waktu itu menjadi keputusan pemerintah kerajaan, di mana ditetapkan bahwa semua aliran di Bali ditampung dalam satu wadah yang disebut Siwa Budha sebagai persenyawaan Siwa dan Budha. Semenjak itu penganut Siwa Budha harus mendirikan tiga buah bangunan suci (pura) untuk memuja Sang Hyang Widhi Wasa dalam perwujudannya masing-masing yang bernama:

- Pura Desa Bale Agung untuk memuja kemuliaan Bhatara Brahma.
- Pura Puseh untuk memuja kemuliaan Bhatara Wisnu.
- Pura Dalem untuk memuja kemuliaan Bhatari Siwa.

Ketiga pura tersebut disebut pura Khayangan Tiga yang menjadi lambang persatuan umat Siwa Budha di Bali. Dalam samuan tiga juga dilahirkan suatu organisasi desa pakraman yang lebih dikenal sebagai desa adat dan sejak saat itu berbagai perubahan diciptakan oleh Mpu Kuturan, baik dalam bidang politik, sosial dan spiritual.

Mpu kuturan berkata kepada saya di Bali, salah satu nama Tuhan adalah Sang Hyang Mbang atau Mahasunyi yang dalam agama Budha ada istilah Sunyata. Tahun baru di Bali (hari raya nyepi) dirayakan dengan sunyi (sunyata). Di Bali selatan, ada pura Sakenan, sementara Sakenan berasal dari kata Sakyamuni/ Buddha. Sakyamuni nama asli Sidartha Gautama. Jadi kebanyakan konsep-konsep pemujaan di Bali diambil dari Budha. Suatu contoh, bentuk meru, Mpu Kuturan mengambilnya dari bentuk pagoda Cina yang umum sebagai bentuk bangunan pemujaan agama Budha.

Dan Ida Mpu Kuturan sendiri menjelaskan bahwa konsep padmasana diambil dari Buddha Mahayana, padmasana berarti padma: bunga padma, sana: sikap duduk. Jadi padmasana berarti duduk di atas bunga padma. Sang Budha-lah yang duduk di atas bunga padma karena sang Budha adalah Awatara Wisnu yang sempurna dan yang tidak membunuh. Yang hanya memberikan kasih sayang kepada seluruh umat manusia. Kenapa harus Sang Budha ? Karena di Nusantara ini konteksnya adalah Siwa Budha, Jadi Budha bisa juga diartikan sebagai ibu/predhana.jadi pada hakekatnya Siwa Budha adalah: Sama satu manunggal.
Ida Mpu Kuturan memberikan sebuah bait suci dimana kegaiban dan keajaiban adalah sifat wujud Tuhan yang kasat mata.

Ya iku senguh tanakku sira ta nunggalaken bhuwana ngarania, nihan ta upamanta sira waneh, kalinganya kadyangganing manuk sang manon, mur tan pahelar, meleset tan pacikara, manon ndatanpamata, mangrengo tan patalingan, mangambu tan pagrana, magamelan tan patangan, lumaku tan pasuku, rumasa rasa tan paiden tan paparus ya jana prawriti, tatan panak yaya wrddhi, tan paweteng yaya membekan, tatan pecangkem yaya amangan, tatan pailat yaya mangrasani.

Artinya:
Tuhan bagaikan burung terbang dengan tiada bersayap, kian kemari dengan tiada berkepala, melihat tiada dengan bermata, mendengar dengan tiada bertelinga, membaui dengan tiada berhidung, memegang dengan tiada bertangan, bergerak dengan tiada berkaki, merasakan rasa dengan tiada berperasaan, melahirkan dengan tiada bertanda jantan atau betina, tiada bermulut namun ia dapat menikmati, tidak berlidah tetapi dapat merasakan.
Jadi semua sifat Tuhan tiada batasnya.
Om santi santi santi om.

Sumber: Pinisepuh Agung

Jumat, 18 Desember 2009

Kalki Awatara

Hikmah dari cerita Sang Budha Gautama agar manusia menyadari hakekat kehidupan

Budha adalah perwujudan Awatara Wisnu yang kesembilan dan di antara perwujudan awatara Wisnu awatara Budha adalah yang sempurna di mana umat manusia diajarkan tentang dharma dan kebahagiaan yang mutlak.

Di jaman kerajaan Kapilavastu dengan rajanya Suddhodana dan ratunya Mahamaya. Di mana sang ratu kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan yang mereka beri nama Siddhartha, akan tetapi sungguhlah sayang tujuh hari kemudian, sang ratu Mahamaya meninggal dunia.

Seorang Rsi bijaksana/penasehat raja pada saat itu yang bernama Kala Devala memberi tahu sang raja bahwa ketika pangeran Siddhartha beranjak dewasa ia akan melihat hal-hal yang akan membuatnya sedih dan pergi menuju hutan. Mendengar hal itu raja tidak memperbolehkan Siddhartha untuk pergi melewati gerbang istana.

Siddhartha merupakan anak pintar, berbahagia dan juga amat penyayang serta lembut. Pada suatu hari Siddhartha dan sepupunya Devadatta sedang berjalan-jalan. Devadatta tiba-tiba melihat seekor angsa dan memanahnya sehingga angsa tersebut terjatuh. Siddhartha amat terkejut melihat burung yang terluka tersebut, Devadatta bersikeras untuk memiliki burung angsa tersebut karena ia yang memanahnya. Akan tetapi Siddharta mengatakan itu adalah miliknya. Akhirnya mereka pergi ke Rsi Kala Devala sang penasehat raja di mana kemudian Rsi itu mengatakan angsa tersebut menjadi milik orang yang menyelamatkannya bukan orang yang berusaha membunuhnya.

Siddhartha tumbuh dewasa dan menjadi seorang pria muda. Raja Suddhodana menikahkannya dengan seorang putri cantik yang bernama Yashodhara. Raja berharap agar Siddhartha tidak akan pernah meninggalkan istana. Tapi Siddhartha tidak merasa bahagia di dalam istana. Ia memerintahkan pelayannya yang setia Channa untuk menemaninya berjalan-jalan keluar istana. Dalam perjalanannya Siddhartha melihat orang yang sudah tua yang bungkuk dimana Siddhartha tidak pernah melihatnya di dalam istana. Melihat orang yang sedang sakit keras dan melihat orang meninggal. Siddartha menyadari bahwa ayahnya mengungkungnya di dalam istana, untuk melindunginya agar ia tidak melihat hal-hal semacam itu.

Siddartha keluar lagi dan kali ini ia melihat seorang pria dengan kepala gundul. Ia bertanya pada pelayannya dan pelayannya berkata itu adalah seorang bijak yang meninggalkan segalanya serta pergi ke hutan untuk mencari kebahagiaan.

Pada suatu kesempatan Siddharta berpikir untuk meninggalkan Istana dan mencari kebahagiaan. Akhirnya pada suatu malam, ketika istri dan anaknya Rahula sedang tertidur, Siddartha bersama pelayannya yang setia Channa dengan diam-diam pergi meninggalkan istana. Mereka menyeberangi sungai Anoma, disana Siddartha melepaskan jubah kerajaanya dan memberikannya kepada Channa untuk mengembalikannya ke istana. Kemudian Siddartha menggunakan jubah oranye serta memotong rambut panjangnya. Siddartha pergi menemui satu guru ke guru yang lain menanyakan; Apakah Anda tahu jalan untuk mencapai kebahagian?

Tapi tidak ada seorang pun bisa memberitahunya. Akhirnya ia duduk di bawah pohon Bodhi dan berusaha menemukan jawabannya sendiri. Beberapa hari kemudian ia menjadi seorang yang bijak dan orang-orang menyebutnya Gautama Budha. Budha mencintai seluruh binatang dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih sayang.

Pada suatu hari Dewa Siwa menguji Sang Budha karena Siwa tahu Awatara ini yang akan membawa umat dunia untuk mencari jalan kebahagian karena mempunyai jiwa kasih sayang terhadap semua makhluk.

Dewa Siwa mengirim binatang buas yaitu gajah liar dan harimau liar nan ganas. Tetapi yang terjadi pada binatang-binatang tersebut setelah melihat cahaya kasih sayang yang dipancarkan oleh Sang Budha binatang-binatang tersebut langsung tunduk hormat dan bersimpuh di bawah kaki Sang Budha. Akhirnya Sang Budha mempunyai pengikut yang sangat banyak dan pengikutnya tinggal di dalam sebuah grup yang di sebut Sangha.

Sang Budha mengajarkan bahwa seseorang bisa mendapatkan kebahagiaan dengan merasa puas akan apa yang dimilikinya dan menunjukkan kasih sayang pada semua mahluk. Pada akhirnya di sebuah tempat yang bernama Kusinara, Sang Budha berbaring di bawah pohon Sala dan menghembuskan nafasnya yang terakhir.

Maka sesuai petunjuk dari Sakyamuni yang diperoleh oleh Ida Mpu Kuturan, Sang Budha Gautama akan bereinkarnasi kembali karena di jaman Kali Sang Budha akan berkhotbah kembali sebagai Awatara yang terakhir agar dunia ini bisa tentram dan damai. Dengan alasan tersebut Sang Budha tidak moksha atau kembali ke Nirwana di jaman itu karena Sang Budha akan bereinkarnasi kembali dengan Awataranya yang terakhir yaitu Kalki Awatara.

Sumber: Komunikasi Pinisepuh dengan Ida Bhatara Mpu Kuturan