Rabu, 19 Agustus 2009

Perjanjian Suci

Suasana sore di Pura Silayukti sangat cerah. Matahari sore menerangi pelabuhan Padangbai yang tampak dari Pura Silayukti. Saya dan Pinisepuh mencari tempat duduk di depan warung yang sudah tutup. Menunggu jam menunjukkan pukul enam sore saat saya buka puasa karena hari itu kebetulan saya puasa.

Setelah buka puasa hari mulai gelap dan kami turun ke arah laut menuju gua untuk menghaturkan banten. Menurut Pinisepuh gua tersebut salah satu petilasan Mpu Kuturan dan Beliau yang melinggih di Gua adalah ancangan Ida Bhatara Mpu Kuturan yang menjaga laut Padangbai. Saya merasakan hawa gaib yang lumayan di gua tersebut. Dari sebelum berangkat saya diberitahu jangan coba-coba melihat dengan batin karena hawa akan sangat kuat dan banyak gaib. Saya bertanya kepada Pinisepuh apakah benar perasaan saya tersebut, yang dijawab dengan senyum dan anggukan. Pinisepuh menjelaskan siapa yang melinggih di sana sambil berjalan menaiki tangga ke arah Pura di atas tebing. Yang melinggih yaitu seekor ular raksasa, setidaknya berukuran sebesar pohon kelapa. Bagi yang sering menyebarang melalui pelabuhan ini sangat baik kalau tangkil maturan di Pelinggih Gua tersebut agar mendapat perlindungan kalau ada musibah di laut selat Bali Lombok ini.

Kami sampai di atas tebing dan kemudian kami masuk ke Pura Kahyangan Mpu Bradah, bermeditasi sebentar dan kemudian melanjutkan ke Pura Perhyangan Mpu Kuturan.


Ida Bhatara Mpu Kuturan Mengawasi

Sesampai di Pura Kahyangan Mpu Kuturan, langit sudah semakin malam. Saya menghaturkan semua banten dan canang sari ke semua pelinggih yang ada. Setelah selesai dan harum dupa mulai mewarnai malam, saya memohon ijin untuk menyapu di pelataran pura sama Pinisepuh yang kemudian diijinkan oleh Pinisepuh. Memang pelataran pura tidak terlalu bersih waktu kami tiba karena ada upacara kemarinnya dan belum sempat dibersihkan oleh juru sapuh. Waktu saya menyapu saya merasakan ada hawa yang sejuk disekitar saya. Saya yakin Beliau Ida Bhatara Mpu Kuturan menyaksikan saya ngaturang ayah menyapu pelataran tempat duduk mebakti. Walaupun saya tidak dapat melihat dan tidak berani mencoba melihat dengan batin karena dilarang oleh Pinisepuh tetapi saya yakin Beliau Ida Mpu memang ada dan mengawasi saya. Hawa sekitar saya terasa berbeda, dingin sejuk tetapi terasa sangat nyaman.

Setelah selesai membersihkan pelataran pura, malam sudah cukup larut. Saya dan Pinisepuh menikmati makan malam tipat yang telah disiapkan oleh istri saya dari rumah. Wah ini ‘spiritual picnic’ namanya kata saya dalam hati. Diantara keasikan menikmati makan malam saya bertanya kepada Pinisepuh: “Gung, apakah Beliau menyaksikan saya menyapu tadi?” Pinisepuh hanya tersenyum. Umur Pinisepuh memang sangat belia dan hampir setengahnya dari saya sehingga saya memanggilnya hanya dengan sebutan Gung saja. “Kalau ya memangnya kenapa, Bli?”, Pinisepuh memang tidak menjawab ‘ya’ tetapi saya berkeyakinan itu jawaban yang menyenangkan saya. Kemudian kami sibuk dengan tipat yang dimakan dengan saur dan gorengan kacang serta lain-lainnya. Sementara udara semakin dingin. Tiba-tiba Pinisepuh membuat sesajian sederhana seperti tipat yang kami makan lalu dihaturkan di suatu tempat, di bawah, lengkap dengan air mineral dalam gelas. Ini sudah sering terjadi kalau mengikuti Pinisepuh bersembahyang kemana-mana. Pasti ada sesuatu atau sosok gaib yang sedang mendapat perhatian Pinisepuh lalu menghaturkan apa saja yang ada di dekatnya. “Ramai di sini Gung?” tanya saya dan dijawab hanya dengan tersenyum sambil mengangguk. Saya tidak mau merasakan sensasi apapun di areal Pura ini karena sudah di wanti-wanti dari rumah.


Perjanjian Suci

Saya terkadang lupa dan ingin tahu apa yang sedang terjadi di saat-saat seperti tersebut. Terkadang saya bisa melihat mereka dengan mata batin dan terkadang hanya bisa merasakan hawa mereka. Ada yang sangat menyenangkan dan ada yang sangat tidak menyenangkan. Yang tidak menyenangkan, kuping rasanya panas. Sekujur tubuh rasanya panas. Yang lebih buruk terkadang jantung ini rasanya melemah dan tiba-tiba merasa takut. Tenaga seperti disedot dan rasanya lemah kurang tenaga. Kalau sudah peka kira-kira seperti itu perasaan kalau kebetulan sedang dikunjungi gaib yang agak kasar dan pemarah. Mental kita dijatuhkan agar merasa takut. Dan saya sering mendesak Pinisepuh untuk diceritakan hal-hal seperti itu kalau kebetulan merasakan hawa buruk seperti tersebut di suatu tempat. Tetapi Pinisepuh mengatakan bahwa tidak semua bisa diungkapkan dan dibocorkan ke dunia nyata. Ada ‘perjanjian suci’ yang harus benar-benar dihormati serta tidak boleh dilanggar. Kalau dilanggar membahayakan umat manusia itu sendiri. Bisa membahayakan tatanan dunia gaib dan dunia manusia. Resiko terburuk akan dialami oleh yang terikat ke dalam ‘perjanjian suci’ tersebut seperti misalnya Pinisepuh.

Saya mengenal Pinisepuh dalam waktu yang tidak terlalu lama dan akan saya ceritakan dalam artikel yang berjudul ‘Kacunduk’. Namun dalam waktu yang sedemikian pendek saya telah dapat membayangkan bahwa Pinisepuh bukanlah manusia biasa dengan pengetahuan yang didapat dengan belajar. Beliau termasuk sebagai manusia pilihan di Gumi Bali ini. Banyak hal-hal yang tidak logis terjadi kalau bersama Pinisepuh. Saya sendiri mengalami ini beberapa kali saat saya sedang mengunjungi Pura bersama Pinisepuh. Salah satu pengalaman saya yaitu saya dipanggil duduk besama oleh Pemangku di Pura Petirtan di Songan, Batur. Duduk bersama di atas genah atau tempat Jero Mangku nganteb banten sementara Jero Mangku ‘melaksane’ ngayabang banten. Ini adalah hal yang sangat tidak lazim sepanjang pengetahuan saya. Tidak pernah seseorang duduk bersama-sama di atas tempat Jero Pemangku nganteb banten, kecuali sesama Pemangku dan sedang sama-sama ‘melaksane’. Pinisepuh bilang bahwa itu suatu kehormatan bahwa orang seperti saya bisa diangkat derajatnya oleh Beliau Ida Bhatara kalau benar-benar mengejar kemuliaan dengan serius. Dan memang Beliau sedang menunjukkan kepada saya bahwa derajat saya sedang diangkat, ingin menunjukkan bahwa agar saya jangan lagi goyah menekuni pengejaran spiritual ke arah lebih serius, kata Pinisepuh. Sebenarnya keyakinan hati saya mengatakan bahwa ini tentu juga atas campur tangan Pinisepuh yang sudah memohonkan kepada Beliau Ida Bhatara agar saya dinaikan derajatnya. Agar orang lain menyaksikan bahwa kalau Beliau menghendaki dan merestui semua menjadi mungkin.

Akhirnya saya menyadari bahwa mengapa seseorang memerlukan sosok yang lebih mengerti kalau sedang serius menekuni spiritual. Karena dalam tingkatan tertentu keraguan bisa muncul. Merasa tidak mengalami kemajuan. Atau setelah level ini apalagi yang harus dilakukan. Dan saya telah menemukan seorang Pinisepuh yang mendampingi perjalanan saya dan tempat untuk bertanya sudah sampai di mana sebenarnya saya ini.


Misi Ke Pura Silayukti

Malam semakin larut di Pura Silayukti dan sudah beberapa lama bel kapal tidak terdengar lagi dari pelabuhan. Kami masih mengobrol tentang spiritual. Sebenarnya saya bingung kenapa dari tadi cuma duduk-duduk dan ngobrol saja. Sembahyang cuma sebentar dan tidak ada meditasinya karena ada gangguan hama kelapa yang begitu banyak berterbangan. Pinisepuh bilang bahwa kedatangan kami ke Pura memang atas petunjuk Beliau. Tetapi misinya tidak jelas karena Pinisepuh bilang rahasia. Nah kalau rahasia kenapa ngajak-ngajak?

Yang ada malah Pinisepuh menceritakan siapa sesungguhnya Beliau Mpu Kuturan dan kiprah Beliau di Bali. Sebelumnya saya sama sekali tidak tahu siapa sebenarnya Beliau ini. Namun kini pemahaman saya terbuka bahwa saya telah mendapat Pencerahan. Beliau adalah Mpu yang paling berjasa menyatukan umat Ciwa Budha di Bali. Membuat konsep pemujaan yang lestari sampai dengan sekarang. Saya telah menceritakan ini di artikel Ciwa Budha – Konsep dasar dan Ciwa Budha – Mpu Kuturan. Silahkan dibaca karena sangat berguna untuk pengetahuan dasar pemujaan.



Setelah banyak menceritakan perihal Beliau, dan saya mengejar dengan banyak sekali pertanyaan serta menambahkan satu lagi Bhatara favorit ke dalam benak saya yaitu Mpu Kuturan, akhirnya Pinisepuh terdiam. Matanya yang besar dan tajam mengawasi alam sekitar. Tambah malam kok semakin banyak saja, seperti di pasar, gumannya. Tetapi sedikitpun saya tidak merasakan hawa panas apalagi kuping panas. Berarti mereka, gaib yang hadir, adalah dari kalangan yang baik-baik semua pikir saya dalam hati. “Gimana Bli, takut?” Ngapain takut kalau sudah sama Pinisepuh, kata saya. Setelah beberapa lama, dan dini hari sudah menjelang, akhirnya Pinisepuh memutuskan untuk kembali ke Denpasar.

Dalam perjalanan pulang saya bertanya-tanya sebenarnya misi ke Pura Silayukti itu apa? Apakah cuma memberi tahu saya bahwa kalau ingin benar-benar mengetahui seluk-beluk spiritual jangan sampai melupakan jasa Beliau Ida Bhatara Mpu Kuturan. Akhirnya saya mengambil kesimpulan tersebut sendiri karena beberapa hari berikutnya Pinisepuh cuma tersenyum dan tertawa kecil saja setiap kali saya bertanya hal yang sama tentang perjalanan ke Silayukti. Keyakinan saya beralasan karena Pinisepuh berkata: “Ngapain tiang ke Silayukti kalau di jeroan sudah ada Pratima Beliau. Kan cukup memohon di Jeroan saja. Yah, namanya perjalan, Bli harus pikirkan sendiri misi ke sana. Ini bukan Tiang, tapi Bli...”

Yah kembali ke ‘perjanjian suci’, saya sudah mendesak berlebihan tentang ini. Walau tidak etis sebenarnya ya penasaran juga tapi ya akhirnya saya harus menghormati ‘perjanjian suci, tersebut. Namun saya merengek-rengek, mengemis untuk dimohonkan mantra-mantra bahasa kawi kepada Beliau Mpu Kuturan, kelak kalau saya benar-benar menjadi seorang pemangku agar persembahan banten benar-benar menjadi momen yang menjembatani dua alam. Menyenangkan dua alam yaitu manusia dan gaib.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar